Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Just Vitamin)


__ADS_3

Mansion Evans.


Senyuman gadis itu jatuh, ia membuka ke arah pintu kandang kucing kesayangan nya dan melihat hewan kesayangan nya itu.


"Daisy? Daisy kenapa? Kenapa gini?" ucap nya yang panik melihat kucing cantik nya kini lemas dengan leher terkulai yang jatuh seakan sudah patah di dalam nya.


"Mah? Papah? Kakak?" panggil nya yang langsung memenuhi mansion megah itu.


Freya yang mendengar teriakan putri nya pun langsung mendekat ke arah sumber suara.


"Kenapa nak?" tanya nya pada gadis yang terlihat mulai terisak.


"Daisy Mah, Daisy..."


"Huhu..." tangis nya sembari memeluk peliharaan nya yang telah mati itu.


"Kenapa bisa begini?" tanya Freya yang bingung dan melihat kucing cantik itu.


"Gak tau..." ucap nya lirih pada sang ibu.


"Ini uda mati nak kucing nya," ucap wanita itu ketika memeriksa peliharaan putri nya.


Celine terperanjat mendengar nya, ia semakin menangis karna peliharaan pertama milik nya mati bahkan tak ia ketahui penyebab nya.


"Mah, hidupin lagi Daisy nya Mah..." tangis nya pada sang ibu.


"Mamah mana bisa hidupin yang sudah mati nak..." ucap Freya pada putri nya yang menangis tersedu.


Celine tak mendengarkan, ia menangis dan melewati sang ibu, "Yauda Celine minta kakak hidupin aja! Kakak kan pinter!" ucap nya dengan tangis dan berpikiran kekanakan.


Freya hanya membuang napas nya, umur putri nya sudah semakin dewasa namun pikiran dan sifat nya masih kekanakan.


Gadis itu menemui sang kakak, Steve terkejut melihat wajah merah dan mata sembab adik nya sembari menggendong peliharaan nya menggemaskan yang telah mati itu.


"Kak?" panggil nya lirih dengan suara serak.


"Hidupin lagi kak kucing ku..."


"Kakak kan pinter, Celine bakalan lebih nurut lagi sama kakak..." ucap nya memelas pada pria itu yang berpikir hewan mati pun bisa hidup lagi jika bersama dengan orang yang pintar.


"Kucing nya kenapa bisa mati?" tanya pria itu dengan wajah tak menunjukkan ekspresi walau ia yang paling tau alasan mengapa hewan lucu itu mati.


"Gak tau kak..." Celine menggeleng dengan wajah masih menangis.


"Kakak gak bisa hidupin kucing Celine, kamu aneh-aneh aja." ucap nya pada gadis itu.


"Kakak kan pinter! Masa gak bisa sih?" tanya nya yang semakin menangis.


"Yauda sini kakak kubur kucing nya," ucap pria itu tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Gak mau! Daisy bentar lagi hidup kok! Nanti Celine kasih makan juga bangun!" ucap nya yang semakin menangis dan membawa pergi kucing nya.


...


Gadis itu terus membawa peliharaan pertama nya itu dan menangis, tak mau makan ataupun tak bersemangat bercerita serta ceria seperti biasa nya.


Mike yang melihat putri nya terus menangis dan lesu sembari terus menggendong kucing mati membuat nya iba.


"Celine? Nanti Papa belikan kucing baru mau? Jangan nangis lagi dong anak Papa..." ucap nya sembari mengelus kepala gadis itu.


"Celine mau nya Daisy..." tangis nya lirih pada sang ayah.


"Kamu makan dulu gih, nanti kalau kamu udah makan Daisy nya hidup lagi." ucap Mike pada gadis itu karna tau putri tak memakan sarapan sejak pagi.


"Papa bohong! Dari tadi itu mulu yang di bilang, tapi Daisy gak bangun tuh..." tangis nya pada sang ayah.


Mike menarik napas nya, gadis manja itu tak mungkin dapat terbujuk saat masih kalut dan tenggelam dalam kesedihan nya.


Pria itu pun tak dapat mengatakan apapun lagi selain membiarkan putri nya menangis tersedu.


Pukul 02.46 pm


Steve melihat ke arah gadis yang sejak pagi menangis sembari menggendong kucing mati di tangan nya.


Gadis itu menatap ke arah balkon sedangkan pria yang memakai kemeja putih dan celana jeans itu menatap dan terkena sinar mentari siang yang cerah itu.



Rasa nya ia semakin kesal, sudah mati pun perhatian gadis itu masih tertuju pada hewan yang bukan apa-apa itu?


"Mau sampai kapan sih kamu nangis? Kamu sampai jamuran pun gak akan buat kucing kamu bangun lagi." ucap nya yang bercampur dengan kesal ingin mencampakkan kucing mati itu dari balkon.


"Kakak sih! Gak rasain, bukan kucing kakak makanya kakak bisa bilang gitu!" sahut gadis itu dengan masih menangis.


"Kamu gak lelah dari pagi nangis terus? Air mata mu juga udah kering itu," ucap Steve pada gadis itu.


"Kakak gak ngerti aku! Huhu..." tangis nya yang memarahi sang kakak.

__ADS_1


Steve semakin kesal, gadis kesayangan nya itu terus mengabaikan nya hanya karna kucing yang bahkan belum genap sebulan di pelihara.


"Ck! Harus nya tidak aku beli!" decak nya dengan kesal namun gadis itu tak mendengar nya sama sekali.


"Kamu belum makan juga kan? Sini, makan sama kakak." ucap nya sembari menarik tangan gadis itu.


"Gak mau..."


"Celine mau Daisy, kakak gak bisa ngertiin Celine..." tangis nya lirih sembari menolak tangan sang kakak.


"Kau mau terus seperti ini? Kucing nya juga gak bakal hidup lagi," ucap pria itu dengan kesal.


Celine tak menjawab, ia membuang wajah nya dengan kesal karna merasa sang kakak seperti tak mengerti kesedihan nya sama sekali.


Pria itu membuang napas nya, sekarang di mansion megah itu hanya ada dirinya dan gadis yang masih terus memegang kucing mati nya itu.


Para pelayan yang tak bisa naik ke lantai dua karna pria itu sudah memerintah nya demikian karna gadis itu akan semakin menangis dan merengek pada orang lain bercerita tentang kucing nya.


Greb!


"Kak, sakit!" ucap gadis itu saat tangan nya di tarik oleh sang kakak.


"Ini kenapa?" tanya Steve mengernyit melihat bekas cakaran di tangan gadis itu saat ia menarik nya.


Celine tak menjawab, ia hanya mengalihkan wajah nya ke arah lain.


"Lepas kak! Sakit!" ucap nya sembari memberontak pada pria itu.


Bruk!


Gadis itu terlempar ke atas sofa yang lebar dan empuk di mansion tersebut.


Kucing nya yang tak bernyawa itu mencelat dari gendongan nya dan belum lama ia ingin protes pria itu sudah berada di atas tubuh nya.


"Celine masih datang bulan kak! Celine gak mau!" ucap nya menolak pada sang kakak sembari berbohong tentang masa datang bulan nya.


Pria itu tak mengatakan apapun ia menahan dagu gadis itu agar menatap nya.


Celine diam sejenak ia menatap sang kakak sejenak saat mata nya saling mengunci.


"Kenapa kamu gak lihat kakak? Kamu itu milik kakak, kenapa kamu terus lihat hal lain? Hm?" tanya Steve dengan nada penuh penekanan dan menatap tajam ke arah gadis itu.


Celine terdiam, ia merasa tertekan dengan hawa sang kakak yang menyelimuti hingga membuat nya bungkam.


"Kamu mau jadi gadis nakal sekarang?" tanya Steve lagi dengan nada penuh penekanan dan tajam pada gadis itu.


"Tidak jawab? Mau kakak hukum?" tanya Steve lagi pada gadis itu.


"Celine masih datang bulan kak..." ucap nya lirih pada pria itu yang mulai bersuara karna sedang tak ingin melakukan hubungan yang biasa ia lakukan pada sang kakak.


"Sungguh? Kamu gak bohong? Kalau bohong hukuman kamu kakak tambah," ucap nya pada gadis itu.


"Celine gak mau kak! Celine mau sama Daisy aja! Daisy sam-"


Humph!


Pria itu semakin kesal, yang ada di pikiran gadis kesayangan nya hanya ada Daisy dan Daisy saja tanpa ada diri nya.


Gadis itu terperanjat, ia merasakan ciuman kasar dari pria itu dan tangan yang sudah mulai merasuk ke dalam pakaian nya.


Habis sudah!


Kali ini rasa lapar pria itu akan segera hilang, antara kesal, marah, dan rindu bercampur menjadi satu dan tersalurkan pada sentuhan yang ia layangkan.


Tubuh kecil itu tak bisa menolak, semua tenaga nya yang ia miliki tak bisa lagi melawan sang kakak yang tegap itu.


Sudah sejak pagi tak makan dan hanya menangis kini sudah di tambah oleh hukuman sang kakak yang akan membuat nya lemas.


Setelah beberapa saat.


Gadis itu mulai berkeringat, rambut nya basah begitu juga dengan tubuh nya.


"Kak..." panggil nya lirih agar pria itu berhenti bergerak di belakang tubuh nya.


"Udah kak, Celine gak nakal lagi..." ucap nya sembari memegang pegangan sofa tersebut dengan erat agar tubuh nya tak jatuh.


"Kamu lupa kalau lagi di hukum? Hm?" tanya Steve pada gadis itu sembari mencium lengkung leher gadis itu dari dalam.


"Tapi sakit kak..." keluh nya lirih karna mulai merasa berbeda ketika pria itu tak berhenti sama sekali ataupun memberi nya istirahat.


"Hukuman pasti sakit, kalau kamu suka berarti bukan hukuman..." ucap pria itu dengan napas semakin berat dan semakin menekan dengan dalam.


Gadis itu hampir jatuh namun tubuh nya langsung di tangkap.


"Kak, Celine gak kuat lagi..." ucap nya dengan sayup karna merasa benar-benar lelah akibat hukuman dari sang kakak.


Tenaga nya terasa habis tak tersisa, ia menatap sayup hingga kepala nya terasa berat dan pandangan yang berkunang lalu mulai gelap dengan sendiri nya.

__ADS_1


"Celine?" panggil Steve sembari melihat ke arah gadis itu, "Pingsan?" gumam nya lirih.


Pria yang terlalu bersemangat dalam memainkan tubuh kecil itu hingga lupa dengan batas kesanggupan gadis nya sendiri.


Ia pun menggendong gadis itu ke kamar setelah mengutip pakaian nya, memandikan nya lagi sejenak agar gadis itu tak rewel karna bangun dengan beberapa bagian tubuh yang terasa lengket.


...


Pukul 07.45 pm


Baru saja selesai pria itu membersihkan tubuh gadis nya dan menidurkan nya di kamar, kedua orang tua nya sudah kembali.


"Celine di mana nak?" tanya Freya saat melihat wajah Steve.


"Tidur, kelelahan." jawab pria itu dengan singkat.


Freya membuang napas nya lirih, ia merasa iba karna berpikir putri nya kelelahan menangis hingga kini tidur dengan nyenyak tanpa tau putra sambung nya lah yang membuat putri nya itu kelelahan.


"Papa udah bawa kucing baru buat Celine," ucap Mike sembari membawa anak kucing yang lucu.


Steve menatap tajam pada anak kucing yang menggemaskan itu, baru saja saingan nya hilang kini bertambah lagi?


"Celine tidak bisa punya peliharaan Pa, kalau peliharaan nya mati lagi dia akan seperti ini lagi. Apa Papa mau lihat dia terus nangis setiap kali peliharaan nya mati?" tanya nya pada sang ayah.


Mike tersentak, apa yang di katakan putra nya memang benar.


Kalau kali ini kucing nya mati lagi maka gadis itu akan menangis seharian lagi?


Ia pun mengurungkan niat nya, memberikan kucing manis itu pada pelayan nya dan nyuruh membawa keluar.


"Bangunkan dia, kita makan malam dulu." ucap Mike sembari membuang napas nya dan membawa makanan kesukaan putri sambung nya.


...


"Ini minum obat nya," ucap pria itu sembari memberikan pil kontrasepsi yang biasa ia berikan.


Gadis itu mengambil dengan wajah cemberut, ia menatap sang kakak dengan kesal namun tetap mengambil nya.


Melihat sang adik sudah mengambil pil yang ia berikan setelah makan malam ia pun beranjak mengambil es krim yang sudah ia siapkan untuk gadis itu.


Pluk


Celine tersentak, pil yang di berikan kakak nya jatuh di tangan nya sebelum sempat ia minum.


"Yah jatuh," ucap nya lirih.


Gadis itu mengambil kembali namun ia tak ingin meminum pil yang sudah jatuh itu, ia pun takut untuk mengatakan jika ia menjatuhkan pil nya pada sang kakak karna takut di hukum sampai membuat nya benar-benar kelelahan.


"Sekali gak minum gak apa-apa kan?" gumam nya lirih sembari membuang pil yang ia ketahui hanya vitamin biasa untuk nya.


......................


Keesokkan hari nya.


Gadis itu masih kesal pada sang kakak, ia ingin mengabaikan nya terus melingkar di atas sofa.



"Masih marah sama kakak?" tanya nya pada gadis yang memakai celana hot pants tersebut.


"Kakak tuh, sakit banget tau semalam." jawab Celine dengan kesal dan masih mengerucut sembari terus berpura-pura memainkan ponsel nya.


"Maka nya kamu harus lihat kakak, kamu gak boleh lupa kamu itu milik siapa?" tanya siapa Steve pada gadis itu sembari duduk di samping nya.


"Milik kakak, tapi masa kakak gak ngertiin Celine?" tanya gadis itu yang masih kesal.


Pria itu memeluk dengan lembut, dan merengkuh tubuh gadis itu.


"Mau keluar sama kakak? Shoping?" tanya nya pada gadis itu.


Celine menatap sang kakak sembari melihat wajah pria yang memeluk nya.


"Kak?" panggil gadis itu lirih.


"Kalau gak minum vitamin sekali boleh kan?" tanya nya saat ingat ia membuang pil yang di berikan pada nya terakhir kali kali terjatuh.


Steve mengernyit, "Kenapa?" tanya nya pada gadis itu.


"Celine gak suka..." jawab nya lirih dengan berbohong.


"Kakak bilang kan tunggu kamu sampai tamat sekolah baru gak minum vitamin lagi..." ucap nya pada gadis itu.


Celine diam sejenak dan tak jadi mengatakan nya karna takut sang kakak marah lagi pada nya dan menghukum nya.


"Gak tau deh! Kakak nyebelin!" ucap Celine yang juga ingat ia sedang marah pada sang kakak.


"Maka nya kakak bawa kamu shoping," ucap Steve mencium gemas gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2