Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Diary


__ADS_3

"Pah!" panggil gadis kecil itu pada sang Ayah, ia berlari mendekat dengan gaun yang ia pakai.


Mata yang berbinar serta wajah menggemaskan itu berlari ke arah nya dengan sejuta senyuman.


Pria itu tersentak, ia tau putri kecil nya ingin ia datang di hari ulang tahun ke sembilan.


"Aku sibuk, jangan mengganggu." ucap nya dingin sembari menepis tangan mungil yang tak sebanding dengan tangan kekar.


"Pah! Coba kue nya, enak!" ucap nya sembari menyodorkan sepotong kue yang sudah ia letakkan di piring kecil.


Gadis kecil itu bahkan menganggap kue tawar tanpa rasa itu adalah makanan terenak yang pernah ia coba, karna walaupun ia hidup di keluarga kaya namun semua yang terjadi padanya masih dikendalikan penuh oleh sang ibu.


"Aku sibuk, jangan berulah!" ucap Michele kesal karna gadis kecil itu terus mendekat ke arah nya.


Bruk!


Gadis kecil itu terjatuh, ia tak berani lagi mendekat saat tatapan tajam dan kesal menusuk ke arah nya.


Kue yang di tangan nya jatuh, bahkan sudah rusak karna tertimpa tubuh nya yang terjatuh.


"Nona!" panggil para pelayan yang langsung mendekat dan membantu gadis itu berdiri.


"Maaf menganggu Papah..." ucap nya lirih dengan mata yang berkaca dan berusaha menahan tangis nya.


Mata yang terlihat penuh akan sorot takut dan sedih namun tetap memaksa senyuman nya hanya karna takut sang ayah akan memarahinya lagi.


Gadis itu di bersihkan dan duduk di depan kue nya, tak ada orang tua ataupun teman yang datang, hanya para pelayan yang menyanyikan lagu dan tersenyum ke arah nya.


......................


Barang-barang ataupun potongan penggalan tubuh yang di temukan di bawa ke rumah sakit guna identifikasi.


"Kau sudah dapatkan informasi?" tanya Michele pada sekertaris nya.


"Korban 270 termasuk awak pesawat dan korban yang sudah di temukan serta di identifikasi masih 7 orang, tapi barang-barang nya sudah ada yang di temukan," jawab sekertaris Josh pada Michele.


"Ainsley? Dia sudah ada?" tanya Michele ragu yang masih ingin berharap jika gadis itu masih hidup.


Sekertaris Josh diam sejenak, ia berat mengatakan nya namu ia memang harus mengatakan nya.


"Mereka menemukan sisa dompet yang terbakar dan kartu identitas, mayat nona bel di temukan namun beberapa barang yang ia bawa sudah di temukan," jawab pria itu pada atasan nya.


Deg!


Michele terperanjat mendengarnya, ia langsung meminta sekertaris nya menunjuk jalan agar ia segera dapat melihat apa yang sudah di temukan.


"I-ini..." gumam nya terkejut.


Tangan nya bergetar, tubuh yang membatu serta lidah yang kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


"Anak ku tidak akan mati seperti ini kan?" gumam nya dengan suara bergetar.


Kartu identitas yang terbakar setengah nya yang sudah rusak serta barang-barang lain yang membuktikan dengan kuat jika gadis cantik itu berada dalam pesawat.


"Tuan? Anda baik-baik saja?" tanya sekertaris Josh pada Michele saat ia melihat pria itu terhuyung.


"Anak itu belum mati, dia tidak boleh mati!" gumam Michele menatap ke arah sekertaris nya.


Sekertaris Josh sempat terperanjat sejenak saat melihat mata yang seakan kehilangan akal tersebut saat melihat barang-barang putri nya yang tertinggal sedangkan jasad nya tak ada.


Proses penyelidikan pun sudah mengatakan jika kemungkinan besar akan ada beberapa jenazah yang tak akan kembali karna lingkungan dan tempat jatuh yang memiliki potensi besar untuk membuat para korban hilang lenyap tanpa tersisa.


......................


Mansion Zinchanko.


Prang!


Pria itu benar-benar frustasi, hilang tanpa jejak serta dan hanya barang-barang yang di temukan serta tersisa dari kecelakaan tersebut.


"Dia belum mati! Belum sampai aku melihat mayat nya!" ucap nya dengan sorot mata tajam bak elang yang siap menerkam.


Liam diam tak bisa menjawab sedikitpun, baru kali ini ia melihat pria berdarah dingin itu kehilangan kendali, sedangkan nona yang sebelum nya ia harapkan dapat hadir di tuan nya sudah tak memiliki kesempatan hidup jika berada di dalam pesawat yang hancur lebur tersebut.


Jangankan hanya untuk memiliki tubuh atau mayat nya secara utuh, menemukan potongan tubuh saja sudah sangat sulit di lakukan karna banyak penumpang lain yang belum di temukan karna tempat yang sangat sulit di jangkau oleh tim pencari.


"Tuan, tenanglah." ucap Liam pada Richard saat melihat pria itu seakan hilang akal mendengar jika barang-barang gadis itu sudah di temukan.


"Tenang?! Kau bilang pada ku untuk tenang?! Dia aku mau melihat bangkai nya kalaupun dia sudah mati!" bentak pria itu frustasi.


Liam hanya bisa menekan rasa khawatir nya karna saat ini tuan nya memang sedang di luar kendali.


"Saya akan mengabari lebih lanjut saat ada berita terbaru," ucap Liam dan menunduk lalu keluar dari ruangan tersebut.


Argh!


Richard benar-benar bingung dan frustasi di saat bersamaan, ia sangat menyesali keputusan bodoh nya untuk melepaskan gadis itu, keputusan nya yang menolak bawahan nya untuk menghentikan keberangkatan gadis itu keluar negeri.


"Tidak! Kau tidak bisa meninggalkan ku!" ucap nya sembari memegang dan menekan pecahan gelas kaca yang ia gunakan untuk meminum alkohol nya.


Kenapa kau mau langsung pergi?!


Padahal aku bisa memperlakukan mu dengan baik?


Pikiran nya kacau, ia tidak pernah menyukai seseorang dan tentu nya perasaan suka benar-benar menjadi kelemahan nya.


......................


Rumah sakit.


Suara monitoring alat terdengar berirama di sekujur tubuh pria itu, sang ayah yang terus menemani putra nya, ia tau jika ia bukanlah ayah yang baik.


Saat putra kesayangan nya tau tentang hubungan buruk antara ia dan ibu nya tentu membuat anak sekecil itu menghindar takut walaupun ia sudah mencoba mendekat.


Dan puncak nya saat wanita yang ia cintai meninggal membuat hubungan antara ayah dan anak tersebut semakin buruk, ia juga tak bisa terlalu menunjukkan kasih sayang nya agar putra nya lebih terlindungi, maka dari itu ia masih mengosongkan posisi pewaris hingga saat ini.


"Bangun, kau harus bangun dan mengambil semua yang ku persiapkan untuk mu...


Semua yang harus nya menjadi milik mu mutlak." ucap Daniel saat melihat ke arah putra nya yang masih penuh akan luka serta semua alat medis yang menempel pada nya.


"Dan aku juga tak akan membiarkan masalah ini berlalu seperti dulu lagi," sambung nya yang juga tau jika istrinya terlibat dalam kematian wanita yang ia cintai.


Dokter sudah menyimpulkan jika kondisi pria itu jatuh koma setelah masa kritis nya, namun bukan berarti sudah tak ada masalah sama sekali pada pria tampan itu.


Sean masih harus berjuang untuk kehidupan nya saat ini, masih belum bisa di pastikan kapan mata tersebut akan terbuka lagi, atau mungkin bahkan tak akan pernah kembali terbuka untuk selama nya.

__ADS_1


......................


8 Hari kemudian.


Setelah di temukan nya 7 potongan dari para korban kini jumlah bertambah sudah mencapai 33 korban terindentifikasi dari 270 korban.


Masih belum ada kemajuan tentang mayat gadis cantik itu, ia hilang dan lenyap bersama para korban lain nya yang belum bisa di temukan.


Beberapa dari keluarga korban pun sudah ada yang menabur bunga di laut lepas tempat pesawat tersebut jatuh untuk mengenang keluarga nya yang mungkin tak akan pernah di temukan bahkan jika hanya sepotong jari pun.


...


Kediaman Belen.


Fanny masih terguncang mendengar kabar yang di bawa suami nya, ia tak tau kenapa perasaan nya begitu hancur.


Wanita itu turun dari ranjang nya dan tanpa sadar ke kamar putri nya, dekorasi monoton karna ia lah yang membuat nya seperti itu walaupun putri manis nya sangat menyukai sesuatu yang imut seperti boneka.


Ia membuka laci belajar putri nya dan mata nya terkunci pada buku yang bertuliskan nama gadis itu.


Seperti buku harian yang di tulis dengan sepenuh hati dan mencurahkan perasaan nya ketika gadis itu beranjak dewasa.


~


15th Mei 2015.


Mereka menarik rambut ku kali ini, aku tidak salah apapun, tapi kenapa mereka membenci ku?


Mamah...


Ainsley takut, Ainsley mau pindah sekolah, semua nya jahat...


Tapi kenapa Mamah bilang Ainsley yang salah?


Mah...


Ainsley janji gak nakal lagi, tapi Ainsley ga mau sekolah di sana lagi Mah...


~


Deg!


Jantung wanita itu terasa ingin berhenti, ia ingat saat gadis itu pernah mengatakan tentang pembullyan yang terjadi pada nya.


Plak!


Jangan membuat urusan ku bertambah! Kalau mereka seperti itu pada mu, berarti kau yang salah!


Ia juga ingat dengan jelas apa yang ia katakan pada gadis cantik itu, bahkan tangan nya yang begitu ringan mendarat di pipi gadis itu.


Tangan bergetar namun ia membalik lembaran buku tersebut lagi.


~


23rd June 2015.


Hari Mamah janji bakal pergi ke restoran sama aku...


Rasa nya benar-benar senang, Papah juga katanya bakal pulang cepat hari ini!


Tapi kalau Papah pulang, nanti pasti bertengkar dengan Mamah...


Tapi gak apa-apa, karna Mamah janji ke restoran nya siang ini!


Kalau Papah pulang nya sore, aku kan di pukul nya malam, jadi masih bisa pergi sama Mamah!


Ainsley sayang Mamah...


Eh lupa, Ainsley juga sayang Papah...


Kapan-kapan kita makan di restoran bertiga yah...


~


Tangan wanita itu bergetar membuka lembaran kertas tersebut, dada nya terasa sesak membaca tiap tulisan singkat yang memperlihatkan dengan jelas rasa senang, rasa takut dan kesedihan di dalam nya.


Ia terus membuka nya hingga membaca semua curahan hati gadis itu.


~


21st August 2017.


Hari ini aku diet lagi, padahal Papah kata nya mau bawa aku ke pesta pertemuan perusahaan.


Apa aku makan diam-diam di sana saja yah?


Tapi kalau ketahuan Mamah, nanti di pukul lagi...


Memar yang di punggung kan belum hilang, kalau nanti semakin banyak bekas pukulan nya Mamah bakal semakin benci karna tubuh aku jadi kotor.


Tapi kenapa Mamah benci aku yah?


Apa karna aku nakal?


Apa kalau aku jadi anak yang lebih penurut lagi Mamah bakal sayang? Seperti Mamah yang lain...


Aduh!


Perut ku makin sakit, apa aku makan sedikit dulu yah? Tapi kan aku gak boleh apapun hari ini...


Mamah begini juga karna sayang sama aku kan?


Mungkin karna aku kurang penurut...


Aku masih kurang baik...


~


Air mata wanita itu mulai jatuh membasahi lembaran kertas yang berada di depan nya, terlihat jelas jika putri nya hanya ingin di sayangi.


Memiliki keluarga seperti anak lain, dan membangun kepercayaan kosong jika ia akan di sayang.


Dada nya semakin sesak tak tertahankan, air mata nya meluap membanjiri wajah cantik nya.


Ia membalik lagi lembaran kertas penuh torehan perasaan tersebut hingga ke halaman terakhir nya.

__ADS_1


~


20th March 2018


Hari ini kami baru dari pesta, Mamah Papah juga pergi bareng...


Terus tadi di pesta aku gak sengaja jatuhin minuman yang aku pegang...


Tapi itu kan bukan salah ku, dia yang datang terus pegang aku sembarangan...


Mamah marah besar...


Mamah bilang aku yang salah, tapi kan aku gak ada dekati dia!


Papah juga kelihatan marah, karna kerja sama nya gak jadi karna aku...


Apa aku memang anak sial?


Kenapa Papah Mamah benci aku...


Aku kan cuma mau di sayang...


Mungkin aku terlalu egois, tapi kenapa mereka gak pernah balik lihat ke aku?


Mah...


Pah...


Jangan benci Ainsley...


Ainsley gak mau di benci...


Ainsley sayang Mamah Papah...


Ainsley janji bakal jadi anak baik sama gak nakal lagi...


~


Fanny semakin bergetar, tinta yang tertulis terlihat beberapa pudar bekas tetasan air mata dan ia tau jika itu bukan air mata nya saat ini.


Air mata yang di keluarkan putri nya saat mencurahkan kesedihan mendalam nya.


"Hiks...


Maaf...


Maafin Mamah..." gumam nya yang penuh dengan rasa sesal dan air mata yang tak bisa ia hentikan.


Mah...


Maaf yah Mah...


Maaf karna Ainsley masih hidup...


Untuk kali ini aja Mah...


Ainsley mau ngelakuin yang Ainsley sukai...


Mah kalau nanti misal nya Ainsley beneran pergi mamah peluk Ainsley sekali aja yah Mah...


Ainsley gak tau kenapa bisa Mamah benci sama Ainsley...


Tapi Ainsley minta maaf yah Mah...


Udah buat Mamah hidup mamah berantakan...


Yaudah! Kalau mau mati jangan nyusahin orang!


Janji yah Mah...


Kalau nanti Ainsley yang pergi duluan suatu saat nanti Mamah bakal peluk Ainsley sekali aja...


Iya! Kalau kau nanti beneran mati, aku peluk! Dasar pencari perhatian!


Mamah udah janji kan? Jangan ingkar yah Mah...


Seketika putaran memori tentang janji yang ia buat terlintas dalam pikiran nya, ia ingat saat pertama kali gadis itu melakukan percobaan bunuh diri.


Ia bahkan tak bertanya alasan nya namun langsung menyalahkan, tangisan serta raut wajah putri nya yang tak bisa ia hilangkan saat ini.


Gadis cantik itu terus menerus meminta maaf untuk kehidupan nya, kehidupan yang bahkan tak bisa ia pilih.


Ucapan pedas nya yang membuat semangat hidup gadis itu runtuh.


Putri cantik nya yang malang itu hanya ingin mendapatkan pelukan nya, pelukan hangat yang harus nya bisa dengan mudah seorang ibu berikan.


Namun ia enggan dan bahkan gadis itu sampai meminta pelukan nya ketika ia sudah tidak ada. Walaupun ucapan yang ia lontarkan bagai kutukan kematian namun ia ingat jika gadis itu sekali lagi memberikan senyum nya di tengah raut sedih dan lelehan air mata.


Raut wajah yang tak dapat ia rasakan hingga membuat jantung nya seakan tertusuk tombak panas.


"Ainsley dimana? Kalau Ainsley pulang bakal Mamah peluk...


Maaf...


Huhuhu..." tangis nya yang semakin menjadi.


Ingatan berputar, tentang masa kanak-kanak gadis itu hingga beranjak dewasa.


Maafin Mamah...


Seharusnya Mamah peluk kamu...


Seharusnya Mamah gak pukul kamu waktu itu...


Maaf...


Ainsley pulang yah...


Ainsley bakal pulang kan?


Sekarang bahkan untuk memeluk tubuh putri manis nya saja ia sudah tak bisa karna bahkan potongan dan penggalan tubuh nya saja sudah hilang tanpa jejak dan sisa.


...****************...


__ADS_1



Ainsley Setya Belen


__ADS_2