Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Adukan pada ku


__ADS_3

Setelah kejadian di perpustakaan Ainsley sempat gelisah selama beberapa waktu namun semua nya begitu tenang seperti tak terjadi apapun.


PLAK!!!


Tamparan keras melayang di pipi gadis itu hingga membuat nya tersungkur, koridor yang sebelum nya tenang kini terdengar teriakan kecil dari mahasiswa yang terkejut.


"Apa yang-"


"Shut your mouth b*tch!" potong gadis itu cepat.


Ainsley terperangah, ia tak pernah membuat masalah namun tiba-tiba di tampar dan di maki tanpa sebab.


"Cat, bukan dia...


Yang di sebelah nya," bisik teman gadis itu menunjuk ke arah wanita yang sebelum nya di sebelah Ainsley.


Catthrina nama gadis yang baru saja menampar Ainsley pun langsung terkejut salah ia sasaran memukul wanita yang menjadi selingkuhan pacar nya.


"Maaf," ucap nya singkat dan berlalu pergi.


Ainsley terbelalak ia bangun dan menatap gadis itu, "Maaf? Kau baru saja memukul ku tanpa sebab lalu minta maaf begitu saja?!" ucap Ainsley yang bangun.


Pipi nya memerah dengan ujung bibir yang terluka terlihat jelas di wajah cantik itu.


"Lalu kau mau aku berlutut?!" tanya Catthrina dengan angkuh. Ia merasa walaupun berbuat salah tidak akan terjadi apapun.


"Kalau begitu lakukan, mungkin permintaan maaf mu akan terlihat tulus," jawab Ainsley, ia sudah merasa lelah akan semua perlakuan yang ia dapatkan.


Dulu ia memang berfikir jika kekerasan adalah hal yang wajar dan lumrah karna mendapatkan nya sejak kecil, namun setelah beberapa bulan konsultasi ia menyadari jika kekerasan yang ia alami bukanlah hal yang wajar.


Ia berhak marah saat mendapat kekerasan dari orang lain, ia berhak menolak dan membela diri nya, hal yang bahkan tak pernah di beri tau pada nya karena ia hanya diajari menjadi gadis penurut.


Catthrina tersentak ia tak menyukai pernyataan Ainsley namun semua memandang ke arah nya.


"Kau!" ucap nya tak suka dan pergi begitu saja, harga dirinya sangat tinggi hingga ia tak ingin mengakui kesalahan nya.


...


Setelah pembelajaran selesai Ainsley pun beranjak ke mobil nya namun sebelum ia masuk tangan nya di tarik oleh seseorang hingga membuat nya terkejut.


"Eh?! Kenapa?! Lepas!" ucap nya memberontak saat kedua pria tegap memegangi nya dan membawa nya ke mobil mereka dengan paksa.


Mobil tersebut pun melaju, tak ada pembicaraan sama sekali, 4 pria yang berada dalam satu mobil dengan mengapitkan dan meletakkan Ainsley di tengah.


Pria-pria yang bertubuh besar tersebut tak berbicara sama sekali, Ainsley bahkan tak tau kenapa ia di bawa secara paksa tanpa alasan.


Hari yang benar-benar sial bagi nya!


Jalan ini?


Batin nya berusaha mengingat karna seperti pernah melalui nya namun ia tak ingat secara pasti karna selalu di bius saat di bawa.


......................


Mansion Zinchanko.


Ainsley mulai mengenali halaman luas serta gerbang besar yang menyambut nya dengan megah.


Ini?


Batin nya saat melihat dimana ia berada, tempat tak asing karna ia juga pernah terkurung di sana.

__ADS_1


Auch!


Ringis Ainsley saat tangan nya di tarik paksa dan di bawa turun dan menemui pemilik dari mansion megah itu.


"Ke-kenapa?" tanya nya dengan terkejut ketika ia kembali di bawa ke mansion megah tersebut.


"Mereka memukul mu?" tanya Richard saat melihat luka di ujung bibir gadis itu dan bekas tamparan yang terlihat jelas.


"Bukan urusan paman! Kenapa membawa ku ke sini?!" tanya Ainsley dengan tatapan gemetar.


"Aku membawa mu kesini karna ada urusan, dan dari perkataan mu ada yang memukul mu?" tanya Richard sembari menyentuh luka di ujung bibir gadis itu.


"Tak apa, nanti akan ku singkirkan yang memukul mu..." ucap nya lirih sembari memandang ke wajah gadis itu.


Ainsley menepis tangan Richard, ia enggan untuk di sentuh dan mencoba menghindari sentuhan apapun dari tangan Richard.


"Bukan urusan paman! Sekarang paman menunjukkan sikap asli paman?" tanya Ainsley dengan suara gemetar.


"Itu urusan ku, yang boleh mengganggu mu kan cuma aku." jawab Richard dengan smirk nya.


Richard pun bangun dan memanggil bawahan nya yang tadi membawa Ainsley.


Ainsley melihat pria yang datang dan juga beberapa kamera, perasaan takut yang terulang sama seperti saat ia pertama kali di bawa ke tempat itu.


"Pa-paman..." gumam nya lirih saat mendapatkan perasaan dejavu.


"Kenapa? Kau bilang bisa nyaman dengan siapapun kan? Aku hanya ingin membuktikan kata-kata mu," ucap Richard dengan tersenyum licik yang membuat Ainsley tersentak.


Gadis itu menggeleng lirih dan menatap takut ke arah Richard, "Ja-jangan..." ucap nya lirih.


"Jangan? Bukan nya kau yang bilang? Hm?" tanya Richard sembari mengecup ringan bibir gadis itu.


Auch!


Ainsley tersentak saat ia di tarik paksa ke ranjang, tubuh nya di baringkan dengan kedua tangan yang di pegang erat.


Sedangkan Richard duduk melihat nya sembari meminum sampanye dengan santai, ia tau Ainsley akan meminta berhenti sebelum para bawahan nya berhasil benar-benar menyentuh nya.


Bahkan kalau gadis itu tak minta berhenti, ia sendiri yang akan menghentikan nya karna tak rela jika tubuh candu itu di campur dengan pria lain.


"Paman...


Maaf...


Aku tidak mau..." tangis nya segugukan saat pakaian nya di singkap ke atas serta merasakan tangan nya menjalar di paha nya.


Rasa jijik dan kotor kembali menjalar di tubuh nya lagi, berbeda dengan saat di sentuh oleh sang paman ataupun mantan kekasih nya.


Sentuhan kali ini benar-benar tak memberikan sedikitpun kenyamanan pada nya walau hanya setitik, yang tersisa hanya rasa takut dan jijik di saat bersamaan.


"Hentikan," ucap Richard saat melihat para bawahan nya tak lagi menyingkap namun ingin membuka pakaian gadis itu.


Ke empat pria itu bangun dan menunduk pada tuan nya lalu berlalu keluar.


Ainsley menarik selimut, tak ada bagian pakaian nya yang di robek ataupun di buka, ia hanya di pegang dan di berikan sapuan tangan di tubuh nya dan menyingkap pakaian nya.


Para bawahan Richard bahkan tak mencium bibir merah muda itu karna tak mendapat izin dari tuan nya selain hanya menakut-nakuti saja.


Tidak seperti pertama kali saat ia di culik dulu, pakaian nya di buka dan di sobek secara kasar serta di berikan ciuman dan tangan yang langsung menyentuh bagian privasi nya.


"Sekarang kau masih mau mengatakan yang sama?" tanya Richard sembari mengelus lembut kepala gadis yang menangis segugukan tersebut.

__ADS_1


Ainsley menggeleng pelan, ia masih menangis karna takut, takut akan dirinya yang benar-benar di g*lir oleh beberapa pria.


"A-aku mau pulang...." ucap nya lirih dengan air mata yang tak henti nya terjatuh dari mata sayup nya.


Richard menangkup wajah gadis itu yang terus tertunduk dan membuat Ainsley menatap nya.


Wajah yang memerah karna tangis serta pipi yang basah dan tubuh yang gemetaran, ia memang suka melihat tangisan namun saat dengan gadis itu ia suka melihat senyuman.


Humph!


Richard langsung memangut bibir merah muda yang lembut tersebut tanpa ragu, walaupun Ainsley mendorong nya agar melepaskan ciuman nya namun tangan kekar pria itu menahan tengkuk dan memeluk tubuh mungil itu.


Dorongan tangan Ainsley melemah, percuma saja ia berusaha melepaskan jika tenaga nya sama sekali tak sebanding dengan pria itu.


Gluk!


Gadis itu tak bisa bernapas sama sekali, ciuman yang terus membelit lidah dan membuat nya harus bertukar saliva agar tetap bisa menyalurkan udara dan bernapas sedikit.


Richard pun semakin mel*mat bibir lembut itu dengan frekuensi yang semakin agresif, namun ia sadar jika tak melepaskan ciuman nya gadis itu akan tersedak.


Hah...hah...hah...


Napas yang ingin habis karna tangis segugukan dan bahkan di cium hingga tak bisa merasakan oksigen yang masuk membuat Ainsley terus menghirup udara.


"Sekarang sudah tak menangis lagi kan?" ucap pria itu sembari menghapus air mata gadis cantik itu.


Ainsley diam, terkejut karna ciuman agresif tentu nya membuat tangis nya terhenti dan membuat nya diam.


"Sekarang sudah mau bilang siapa yang melukai mu?" tanya Richard sembari menyelipkan rambut di balik telinga gadis itu.


"Paman kan yang menyakiti ku, kenapa tanya orang lain?" jawab Ainsley menatap pria di depan nya.


"Apa aku memukul mu? Kau mau bercermin? Luka yang ada di tubuh mu hanya bekas pukulan di wajah," ucap Richard yang membuat gadis itu terdiam.


Ainsley diam tak lagi melanjutkan kata-kata nya, jika ada yang ingin ia singkirkan maka sang paman lah orang nya.


"Kau mau terus diam?" tanya Richard sekali lagi.


"Memang nya kalau aku bilang, paman mau marahin dia?" tanya Ainsley lagi dengan mata tak senang.


"Tentu saja, kau bisa mengadukan apa saja, aku akan membela mu," jawab Richard cepat, "Atau kau mau dia menghilang? Tidak menemui mu lagi?" tanya nya dengan nada berbisik.


Ainsley diam, ia memang tak ingin lagi bertemu dengan orang yang tiba-tiba memukul dan memaki nya tanpa alasan lalu berlalu begitu saja.


"Sepertinya benar," ucap Richard tersenyum sembari mencium puncak kepala gadis itu.


Bagi Ainsley menghilang dari hadapan nya adalah sebuah penghindaran agar tak bertemu namun bagi pria itu menghilang adalah kata lain dari membunuh.


...****************...




Richard Zinchanko




Ainsley Setya Bellen

__ADS_1


__ADS_2