
Prancis.
Kediaman Belen.
Michele sudah mulai jengah mendengar para petinggi lain nya yang meminta nya segera mengganti pewaris karna tak ada kabar apapun dari putri nya yang menghilang selama 4 tahun.
"Tidak bisa! Anda harus segera mengganti pewaris!" ucap salah satu petinggi.
"Benar, lagi pula tidak ada yang mungkin selamat dalam kecelakaan seperti itu, anda harus merelakan putri anda!" sambung yang lain nya.
"B'One grup tidak bisa hancur karna masalah seperti ini!" ucapan yang saling bersahutan mendesak pria itu untuk mengubah pewaris nya.
Para petinggi bukan memperdulikan tentang B'One grup melainkan mereka ingin menguasai semua yang di kelola oleh keluarga Belen lalu membuat anak-anak mereka sebagai pewaris selanjutnya.
"Putri ku belum mati! Dia masih dalam tahap perawatan!" ucap Michele dengan kebohongan yang sama di tahun lalu untuk menenangkan para petinggi lain nya.
"Jangan berbohong! Dua tahun yang lalu anda juga mengatakan hal yang sama tapi putri anda masih belum ada kabar sampai saat ini," bantah salah satu nya.
Michele mengernyit, ia memang tak tau apa putri nya masih ada atau tidak namun ia tak ingin memberikan hasil kerja nya pada orang lain selain keturunan nya.
...
Ainsley tiba di kediaman mewah nya, Richard mengantar nya tepat di depan pintu gerbang dengan tinggi tiga meter tersebut.
"Kenapa menarik napas? Kau tidak suka karna aku yang antar bukan pria yang kau mau?" tanya pria itu sarkas saat melihat gadis yang akan ia nikahi sebentar lagi menarik napas.
Ainsley menoleh, "Tidak! Aku hanya..." ucap nya yang tak bisa mengatakan bagaimana perasaan nya.
Sean juga kembali di hari yang sama namun ia tak bisa berbarengan dengan gadis itu karna Richard juga sekalian kembali dan membawa putra nya sekalian.
"Mau ku antar sekalian?" tanya Richard saat ia merasa gadis itu seperti gugup.
"Tidak apa, aku bisa sendiri." ucap nya pada pria itu.
"Jam 7 malam akan ku jemput lagi," ucap nya ketika gadis itu sudah keluar.
Ainsley mengangguk dan pria itu pun menaikkan kaca mobil nya.
Kaki nya entah kenapa terasa enggan, ia hidup selama 22 tahun menjadi putri tunggal kelurga kaya itu namun tak pernah merasakan kenyamanan ataupun kehangatan.
"Iya! Setelah ini gak akan ada masalah buat Mamah!" ucap nya yang mengambil napas dalam.
Ia kembali hanya untuk mengindari masalah yang nanti nya akan datang pada ibu angkat nya, walaupun Clarinda mengatakan akan mengurus nya namun ia yang tak ingin hanya menerima dari wanita yang sangat baik pada nya itu.
Walau ia tak bisa memberi namun setidak nya ia tak ingin wanita yang menjadi ibu angkat nya itu terkena masalah karna nya.
Gadis itu bisa masuk tanpa harus melewati akses dari penjaga karna ia tau sandi nya.
"No-nona Ainsley?" ucap salah satu penjaga yang terkejut melihat gadis itu.
"Papah ada di dalam? Seperti nya banyak tamu hari ini?" tanya nya saat melihat banyak mobil yang terparkir di kediaman mewah nya.
Ia pun berjalan masuk, semua pengawal, penjaga, dan pelayan di kediaman itu yang melihat nya menjadi sangat terkejut bagai melihat hantu yang berjalan di siang bolong.
"Papah di mana?" tanya pada saah satu pelayan di kediaman mewah itu.
Pelayan itu masih terdiam dan mematung berusaha membedakan kenyataan dan tidak dengan apa yang ada di depan nya.
"Tu-tuan besar di ruang kerja..." jawab nya lirih sembari tak bisa melepas pandang nya.
Ainsley tersenyum, ia menyentuh pundak pelayan wanita yang sudah mulai berumur itu, "Aku bukan hantu, aku masih hidup..." ucap nya.
Pelayan tersebut tanpa sadar meneteskan air mata nya, walaupun ia bukan siapa-siapa namun ia sudah bekerja cukup lama di kediaman mewah itu dan bahkan tau jika gadis itu tumbuh dengan semua siksaan ibu nya.
"Nona masih hidup?" tanya nya lirih.
"Iya, sekarang aku mau bertemu Papah dulu yah..." jawab nya dengan senyuman nya.
Ia pun mulai berjalan ke ruangan kerja sang ayah.
Suara yang tengah bising berdebat terdengar dari luar, gadis itu mengernyit ia berpikir mungkin sang ayah tak akan suka jika ia ganggu, oleh sebab itu ia ingin kembali ke kamar nya lebih dulu namun telinga nya mendengar nama nya di sebut walau tak jelas.
"Kenapa mereka bilang nama ku?" gumam nya dan mulai membuka pintu ruangan kerja ayah nya.
Deg!
Semua bibir yang tadi nya sibuk berargumen langsung terdiam seketika dengan mata membulat dan menatap seakan melihat hantu.
"Seperti nya tadi ada di sebutkan nama ku? Apa aku mengganggu?" tanya nya lirih sembari menatap sang ayah.
Michele sempat membatu sejenak namun oa langsung mengusir semua petinggi B'One grup.
Hening...
Selama 15 menit sang ayah hanya melihat nya diam yang duduk di sofa ruangan kerja itu, hanya dia dan pria yang menjadi ayah biologis yang berada di sana.
"Kalau anda ingin marah karna saya mengacaukan pekerjaan anda lebih baik katakan langsung dari pada terus diam seperti in-"
Ucapan nya terhenti, ia melihat ekspresi wajah sang ayah yang selama hidup nya tak pernah ia lihat.
__ADS_1
Ekspresi lega, senang, sedih, gembira dan mata yang menampilkan sorot kerinduan.
Awalnya ia pikir sang ayah ingin memarahi nya karna sudah mengganggu waktu berharga milik pria itu.
Ia bahkan tak pernah berpikir jika orang tua nya akan sedih jika ia tidak ada, karna bagi nya orang tua yang menghadirkan dirinya di dunia tak pernah menyayangi nya dan ia pun sudah lelah untuk mencari kasih sayang itu.
"Ini Ainsley? Kau benar-benar masih hidup kan?" tanya Michele yang mulai membuka suara parau nya dan mendekat ke arah putri nya.
Ainsley bangun dari duduk nya dan melihat pria itu yang menghampiri nya, tangan pria itu bergetar dan ia bisa melihat sang ayah yang lebih kurus dari terakhir kali ia bertemu.
Walau otot-otot pria itu masih ada namun tak sebagus 4 tahun yang lalu.
Greb!
Michele menarik tubuh putri nya perlahan, mungkin ini yang kedua kali nya ia memeluk putri tunggal nya.
Pertama saat putri nya baru saja di lahirkan dan yang kedua saat putri nya kembali saat harapan nya hampir pupus.
Tangan nya bergetar mengusap rambut panjang gadis itu, Ainsley diam tak mengatakan apapun sedangkan terdengar suara lirihan yang ayah yang seperti menangis.
Namun perasaan nya?
Ia tak merasa senang, haru, sedih atau pun gembira.
Perasaan nya kosong tak merasakan apapun, seperti rasa hambar saat ketika semua harapan sudah hilang.
Ia pun melepaskan pelukan sang ayah perlahan, "Kenapa anda menangis?" tanya nya yang bingung.
"Aku Orang tua mu, Aku Papa mu, kenapa bicara formal dengan ku?" tanya Michele dengan suara serak sembari menatap dan berusaha yakin jika apa yang ia lihat adalah nyata.
"Anda adalah ayah biologis saya tapi apa saya harus mengganggap anda orang tua saya?" tanya nya dengan datar.
Entah mengapa ia tak bisa merasakan apapun selain rasa bingung.
Langkah nya memundur kebelakang dan mulai menjauh.
Tubuh nya menunduk memberi hormat dan salam formal pada sang ayah, tidak seperti anak dan ayah pada umum nya.
"Selamat siang? Bagaimana kabar anda?" tanya nya setelah menundukkan kepala nya setelah memberi salam dengan formal.
Dada Michele tergelitik melihat nya, napas nya serasa sedang di ikat hingga membuat nya merasa sesak, putri kandung nya bersikap layak nya orang lain yang datang menyapanya.
Ainsley kembali bingung melihat sang ayah semakin menampilkan sorot sedih dan air mata yang jatuh.
Bukan tanpa alasan ia memberi salam dengan cara formal seperti itu pada sang ayah, ia hanya bersikap bagaimana dulu sang ayah yang selalu memarahi nya dan mengatakan ia tak memiliki etika jika bersikap dan berbicara sembarangan.
"Apa saya melalukan kesalahan?" tanya nya dengan wajah bingung.
"Kenapa anda menangis? Saya tidak mengerti?" tanya nya dengan bingung.
Ayah yang bahkan tak pernah memandang nya ataupun berbalik melihat nya saat ia tengah sangat membutuhkan sosok orang tua kini melihat nya dengan sorot yang seperti itu.
"Papah senang Ainsley kembali, Maaf..." ucap Michele yang tercekat pada putri nya.
Ainsley diam dengan wajah yang tak bisa memberi eskpresi apapun, perasaan nya sudah terlalu hambar untuk sang ayah, ia sudah tak mengharapkan apapun lagi pada pria itu.
Tidak marah, tidak kecewa, tidak sedih dan juga tidak senang. Hanya perasaan yang kosong.
"Karna saya kembali? Saya pikir anda akan marah karna saya kembali seperti ini, sepertinya saya yang harus minta maaf karna membuat anda menunggu," ucap nya sembari menundukkan kembali pada sang ayah untuk meminta maaf secara formal.
"Sekarang saya sudah kembali dan saya akan melakukan kewajiban saya sebagai pewaris anda, jadi saya akan keluar, Terimakasih untuk waktu anda." ucap nya pada sang ayah.
Sejak kecil pria yang menjadi ayah nya hanya menekankan kewajiban sebagai anak yang harus ia tanggung sejak lahir namun ia sama sekali tak pernah di berikan hak seorang anak membuat nya tak pernah menuntut hak yang harus nya ia miliki.
Ia pun berbalik, kembali nya ia hari ini hanya untuk memberi tau ia masih hidup.
"Ainsley! Tunggu! Kau mau kembali?" tanya nya segera.
"Benar," jawab Ainsley sembari menatap sang ayah.
"Makan malam dulu sebelum kembali," ucap Michele pada gadis itu karna ia ingin memiliki lebih banyak waktu bersama putri nya.
Ainsley mengernyit, lagi-lagi ia bingung kenapa sang ayah yang super sibuk bisa memiliki waktu untuk nya.
"Bukankah Anda sedang sibuk? Kenapa anda mengajak saya makan malam?" tanya nya tak mengerti.
"Tentu saja karna kau putri ku! Kita bisa makan malam bersama, dulu kau selalu minta makan malam bersama kan?" tanya Michele pada putri nya.
"Dan anda mengatakan karna saya putri anda jadi saya harus bisa mengerti, itu yang anda katakan dulu."
"Saya tidak mau menunggu lagi untuk orang tidak bisa menepati janji nya, jadi saya akan makan malam di luar," jawab nya dengan nada sopan.
Ia ingat dulu selalu meminta agar bisa makan malam bersama kedua orang tua nya, namun apa?
Ia menunggu semalaman namun kedua orang tua nya tak pernah datang, tidak sekali dua kali namun berkali-kali terjadi.
Dan ia selalu dengan semangat dan senyuman menanti Ibu dan Ayah nya datang hingga makanan nya dingin dan tertidur di meja makan.
Michele tersentak, ia memang dulu tak pernah peduli dengan permintaan sederhana putri nya, dan ia baru sadar jika waktu bersama dengan anaknya adalah waktu yang berharga.
__ADS_1
"Kau sudah bertemu Mama mu?" tanya Michele mencegah putri nya dengan alasan lain.
Perasaan nya memang terasa sesak melihat sikap dingin nya, sikap yang bahkan tak mengerti seberapa bahagia dirinya namun gadis itu terlihat hambar tak bisa merasakan apapun.
"Mamah?" gumam nya sembari mengingat sang ibu.
Semua ucapan yang bahkan lebih menyakitkan di bandingkan siksaan nya dulu kembali berputar.
Ia ingat sang ibu yang sering mengatakan jika ia harus nya mati saja agar tak mengganggu hidup wanita itu.
"Tidak, Dia tidak akan senang jika melihat saya." ucap nya dengan senyuman tipis.
Michele menggeleng, "Tidak! Dia akan senang! Kau tau? Dia mencari mu selama 4 tahun! Dia merindukan mu!" jawab Michele pada gadis itu.
Aianley tersenyum tipis mendengar nya, ia hanya menganggap sang ayah ingin menghibur nya saja.
Tidak mungkin wanita yang mengutuk hidup nya selama 22 tahun merasa sedih akan kematian dan kehilangan nya?
"Saya akan kembali saja sekarang," ucap nya menolak ajakan sang ayah untuk bertemu ibu nya.
Michele terdiam, entah kenapa ia merasa sangat tak bisa bernapas melihat sikap dingin putri nya yang seperti orang lain.
Langkah kaki yang tergesa itu dengan cepat berlari.
Fanny yang sudah tak pernah keluar kamar nya selama hampir dua tahun ini kini seperti memiliki semua tenaga dalam tubuh nya.
"Ainsley!" panggil nya dan langsung meraih tubuh gadis itu.
Ainsley tersentak, wanita yang dulu sangat ia inginkan pelukan nya kini memeluk nya erat.
"Kau masih hidup kan? Anak ku masih hidup kan?" tanya nya yang seakan tak percaya.
Ia melihat dan menyentuh wajah gadis itu, Aianley mengernyit, wajah yang dulu nya cantik kini terlihat pucat dan kurus.
"Maaf..." ucap Aianley tanpa sadar.
Fanny tak bisa mengerti kenapa gadis itu meminta maaf, namun ia bisa merasakan pelukan nya yang perlahan di lepaskan.
"Maaf untuk apa? Ainsley sini peluk Mamah sayang..." tanya Fanny tersendat dengan tangis nya.
"Karna saya masih hidup, dan anda tidak mengharapkan ini kan?" jawab nya yang langsung memundur.
Deg!
Dada nya terasa di hujani tombak panas yang meleleh mendengar ucapan putri nya.
"Tidak! Mamah mau Ainsley hidup! Maaf..."
"Maafkan Mamah..." ucap nya yang langsung memohon untuk pengampunan putri nya.
Aianley menggeleng, ia tak percaya akan ucapan wanita itu, bahkan hati nya tidak bergetar sama sekali melihat air mata orang tua nya.
Mungkin ia sudah terlalu lelah mengharapkan kasih sayang orang tua nya hingga membuat nya tak bisa merasakan apapun bahkan saat kasih sayang itu sudah datang pada nya.
"Anda mengharapkan kematian saya, anda selalu mengatakan nya dulu." jawab Aianley dengan wajah datar.
"Tidak..."
"Maafkan Mamah..." jawab Fanny menggeleng sembari terus menjatuhkan air mata nya.
"Saya tidak marah, jadi saya mohon berhenti meminta maaf." ucap Ainsley pada ibunya.
Kemarahan, kekecewaan, dan rasa sakit yang di berikan ibu nya memang sudah hilang, benar-benar hilang hingga membuat nya tak lagi merasakan apapun.
"Ainsley..." panggil Fanny lirih menatap putri nya yang menjauh dari nya.
Ainsley menoleh pada ibu nya.
"Peluk Mamah sayang..." ucap Fanny sembari mendekat ingin memeluk putri nya.
Ainsley menghindar, "Kenapa sekarang anda ingin memeluk saya?" tanya nya dengan datar.
"Mamah kangen Ainsley..." jawab Fanny dengan lelehan air mata nya.
Aianley diam dengan wajah yang tak menampilkan ekspresi apapun, "Anda tidak pernah memberikan nya saat saya sangat membutuhkan nya, sekarang masa saya membutuhkan pelukan anda sudah habis."
Fanny tersentak, ia hanya bisa menangis mendengar ucapan putri nya, tangan nya tak bisa menggapai putri kecil yang menghindar dari nya.
Senyuman hangat dan cerah dari gadis kecil yang dulu selalu datang pada nya kini membuat rasa sesak nya semakin menjadi.
"Maaf..." tangis nya yang tak bisa di hentikan.
Aianley menunduk, "Saya harap anda bisa hidup bahagia." ucap nya memberi salam dan kemudian keluar.
Michele dan Fanny tak bisa mencegah nya, mereka sudah kehilangan hak sebagai orang tua untuk gadis itu.
Ainsley membuang napas nya lirih, ia tak bisa merasakan apapun untuk kesedihan orang tua nya.
Harapan yang dulu ia bangun untuk mendapatkan kasih sayang kedua orang tua nya sudah lama hilang, dan saat ia tidak mengharapkan serta merasakan apapun lagi kedua orang tua nya baru menyadari atas perlakukan nya dulu.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa merasakan apapun? Perasaan ku kosong..." gumam nya yang tak nyaman namun ia bisa merasakan sedih, senang, marah, ataupun kecewa pada kedua orang tua nya.