
Hening...
Tak ada gerak ataupun suara sama sekali walaupun masih terasa degup dan juga nadi yang masih hangat dari tubuh mungil tersebut.
Tangan nya bergetar, padahal hanya menggendong satu makhluk lemah yang bahkan masih belum bisa bicara saat ia merasakan sakit.
Namun kenapa ia merasa sangat kacau?
Tubuh nya berbalik sembari membawa bayi mungil itu, "Dimana yang masih hidup?"
Liam menoleh, rasa nya semua hawa yang berada di dekat nya menekan nya dan memberikan warna gelap yang begitu pekat.
"Hanya tersisa 5 orang tuan," ucap Liam saat mengetahui raut yang begitu murka saat bertatapan mata dengan tuan nya.
"Bungkus mereka dengan selotip lalu seret dengan mobil di jalan berbatu, setelah itu gantung kepala nya dan berikan tubuh nya untuk makanan anjing!" perintah pria itu dengan mata tajam nya.
"Baik tuan," jawab Liam patuh dan langsung melakukan sesuai dengan perintah tuan nya.
Sedangkan Richard lebih memilih untuk langsung membawa putra nya untuk mendapatkan perawatan.
...
Tabung kaca yang kecil berisi dengan makhluk yang rapuh itu di dalam nya dengan penuh selang yang mengelilingi tubuh nya.
Satu jam yang lalu bayi mungil itu mulai bergerak namun bukan pergerakan yang di nantikan melainkan kejang hebat yang membuat pria itu terkejut.
Ia sudah menyewa rumah sakit ternama itu untuk putra nya, merahasiakan tempat dan mendapatkan perawatan yang terbaik.
"Kalian masih ingat kan? Apa yang ku katakan tadi?" tanya nya dengan tatapan tajam nya yang penuh dengan hawa mengancam.
Dehidrasi, Terluka, Infeksi, dan beberapa hal lain nya membuat bayi mungil itu tak tersadar hingga sekarang.
Bahkan saat ini suhu tubuh Baby Axel masih sangat tinggi dan tentu nya hal itu sangat berbahaya.
Dalam hal tersebut tentu nya sangat membahayakan karna dapat menimbulkan kerusakan otak.
"Ka-kami akan lakukan yang terbaik," jawab salah satu dokter yang mewakili dengan suara gemetar.
Bagaimana tidak?
Pria itu mengancam akan merubuhkan satu rumah sakit beserta dengan isi nya jika putra nya tak selamat dan tentu nya bahkan pemilik rumah sakit itu juga patuh karna ia tau siapa yang sedang berhadapan dengan nya.
Ponsel nya berdering, istri nya yang sudah ia tinggal selama beberapa hari ini kembali menelpon nya.
"Dimana? Aku mau keluar," suara lemah yang langsung terdengar saat ia menjawab panggilan tersebut.
"Kau mau kemana? Sudah ku bilang di sana saja kan?" tanya Richard yang masih keras tak membolehkan wanita itu keluar.
"Kepala ku terasa sakit sekali tapi mereka tidak bilang apapun," ucap Ainsley dari telpon.
"Kau harus istirahat, ini terjadi karena kau kurang istirahat." ucap Richard yang berdalih.
"Sudah, kalau aku mau tidur aku minum teh sakit kepala ku reda tapi waktu bangun sakit sekali..." ucap Ainsley lirih dari telpon.
"Tidak! Aku panggil dokter, kau disana saja sampai aku kembali!" ucap nya tegas dan mematikan ponsel nya.
Richard mengusap wajah nya, dan berdecak. Ia masih merasa begitu kesal dan bahkan masih tak merasa cukup dengan kematian orang-orang yang membuat putra nya berada dalam situasi yang menyedihkan tersebut.
Tanpa ia tau apa yang telah ia lakukan pada istri nya melemahkan tubuh yang sebelum nya pernah mengalami kecelakaan besar tersebut.
......................
Giethoorn, Overijssel.
__ADS_1
Ainsley melihat ponsel nya, ia memejam sembari menahan napas nya.
Sakit di kepala nya benar-benar menganggu namun semua dokter yang di kirim oleh suami nya hanya memberikan jawaban yang sama.
Namun ia tau karna ia lah yang memiliki tubuh dan merasakan rasa sakit nya, sakit kepala nya seperti bukan sakit kepala biasa.
"Kenapa tidak di angkat lagi?" gumam nya saat panggilan kedua nya di tolak.
Ia memejam, kini semua pikiran dan mimpi buruk nya mulai datang.
"Dia sudah memiliki yang lain?" ucap nya lirih.
Wajar baginya jika ia memikirkan hal itu karna pria yang baru menikah dengan nya kini pergi tanpa alasan dan bahkan seakan tak perduli dengan kondisi nya, sedangkan tak ada siapapun yang menjelaskan seperti apa yang sedang terjadi saat ini.
Rasa takut dan gelisah nya semakin besar, memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi pada nya dan juga putra nya jika rasa cinta pria itu sudah memudar.
Mungkin ini termasuk dalam efek narkotika yang ia konsumsi sehingga ia semakin sering gelisah dan takut lalu tenang saat kembali meminum teh nya.
"Nyonya?" panggil salah satu pengawal yang bahkan ia lupa jika saat ini ia juga bahkan masih di awasi.
"Saya akan ambil ponsel nya dan setelah itu nyonya bisa beristirahat," ucap nya dengan nada sopan sembari mengambil ponsel di tangan wanita itu perlahan.
Ainsley diam, lamunan nya buyar seketika.
"Kalian bisa panggil dokter yang baru? Tidak ada yang berubah, kepala ku masih sangat sakit..." ucap nya dengan suara lemah.
Wajah nya putih memucat dan terlihat tak bercahaya sama sekali, ia sering mengernyit saat merasakan denyut di kepala nya yang tak tertahankan dan ingin pecah.
"Baik, kami akan panggilkan dokter baru." jawab salah satu pengawal.
Siapapun dokter yang di bawa ke tempat itu pasti akan memberikan jawaban yang sama karna mereka masih menyayangi nyawa mereka.
Satu pengawal itu pun keluar dan membiarkan wanita itu sendirian di kamar nya.
Nyut...
Ia kembali mengernyit, rasa yang seperti di ikat kuat di kepala nya membuat nya tersentak.
"Sakit sekali..." gumam nya lirih.
...
Dua hari kemudian.
"Nyonya? Tuan sudah kembali," ucap salah satu pengawal sembari membangunkan wanita yang masih tertidur tersebut.
Ainsley tersentak, ia terbangun dan mendengar apa yang di katakan pengawal yang berada di samping nya dan segera bergegas menemui pria yang bahkan tak pulang dalam beberapa waktu terakhir ini.
Richard mengernyit melihat nya, baru beberapa hari namun wajah wanita itu sudah terlihat sangat berbeda.
Masih cantik sama seperti sebelum nya namun dengan wajah yang teramat pucat.
"Kau sud-" ucap Ainsley yang tak bisa melanjutkan kalimat nya.
Ia memejam sembari menyentuh kepala nya yang kembali terasa sakit.
"Ainsley?" ucap pria itu yang langsung meraih dan membawa wanita itu di dalam rangkulan nya.
Ia tau karna setiap istri nya menelpon selalu mengeluhkan hal yang sama.
Sakit kepala yang teramat sangat!
Namun ia tak tau jika akan separah ini dalam beberapa hari.
__ADS_1
"Kita kapan kembali? Seperti nya kita sudah lama pergi, aku mau menemui Axel..." ucap Ainsley lirih dengan tatapan sayu nya.
Ia takut dan gelisah jika pria itu sudah menemukan wanita baru lagi dan tak lagi menyukai nya maka dari itu bersikap tak perduli sama sekali.
Dan hal yang terpenting dalam pikiran nya adalah membawa putra nya pergi karna ia takut jika mungkin pria itu akan menghabisi putra nya seperti anak yang pernah di miliki pria itu sebelum nya.
"Liburan kita belum selesai, kita tidak bisa pulang." ucap Richard beralasan sembari mulai menggendong tubuh yang hampir ambruk tersebut.
Aianley diam, ia melihat ke arah pria yang menggendong nya saat ini.
"Paman membunuh nya?" tanya nya lirih dengan suara serak dan gemetar.
Richard mengernyit, ia mengira jika wanita itu sudah tau apa yang terjadi.
"Axel..." sambung Ainsley lirih.
"Kalau bosan dengan ku jangan bunuh dia, kalau ada wanita yang lain aku bisa pergi, jangan bunuh dia..." ucap nya yang mulai melantur dengan isakan kecil.
"Kau ini bicara apa?!" tanya Richard yang bingung dengan apa yang di maksud oleh wanita itu.
"Axel, Jangan bunuh Axel..."
"Aku akan jadi istri yang baik, jangan bunuh dia..."
"Jangan di tembak..." jawab nya yang semakin melantur, dengan dosis narkotika yang selalu di berikan padanya dengan di campur zat lain tentu mengambil kesadaran akal nya sedikit demi sedikit.
"Untuk apa aku membunuh nya, kau ini sed-" ucapan nya terhenti saat melihat tangis di wajah cantik yang memucat tersebut.
Ia tersadar sejenak, jika ini mungkin adalah efek dari narkotika yang ia berikan.
"Kalau begitu lakukan tugas mu sebagai istri ku," ucap nya sembari menatap lurus ke arah mata yang terlihat gelisah tersebut.
Putra kecil nya masih di tangani dan ia juga. membutuhkan ketenangan dan rasa rindu yang meluap melihat wanita yang ia cintai.
Tangan yang kecil dan lentik itu perlahan mendekat sembari menyentuh rahang kekar pria yang kini menjadi suami nya.
Ia tak bisa berpikir dengan jernih, di pikiran nya hanya bagaimana cara agar pria itu tak menyakiti putra nya.
Rasa gelisah yang sia-sia karna pria itu juga sebenarnya sangat menyayangi putra mereka, namun dengan semua kejadian yang terjadi membuat nya merasa takut.
Humph!
Ciuman yang saling bertaut namun pria itu langsung mel*mat dan merebahkan tubuh kecil itu ke atas ranjang dan menindih nya.
Sentuhan yang berjalan dengan suasana lalu mulai membakar semangat yang tersimpan dalam hasrat pria itu.
Suara hentakan terakhir terdengar bersamaan dengan lenguhan lirih dari suara berat pria itu.
Sedangkan wanita yang berada dalam kungkungan nya mengernyit, ia tak bisa menikmati apa yang terjadi namun ia juga tak bisa merasakan perasaan apapun.
Richard berguling ke samping tubuh kecil itu, ia langsung melepaskan semua rindu dengan menyalurkan semua sentuhan yang tertahan.
Sejenak ia tenang tanpa meminum obat apapun saat bersama dengan wanita itu.
Ia perlahan memeluk dan meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukan nya sejenak setelah permainan yang ia lakukan di atas ranjang dengan istri nya.
Ia mengecup dan melihat wajah pucat wanita itu yang bahkan masih melayani hasrat nya saat tengah merasakan sakit di kepala nya.
"Aku akan kurangi dosis nya perlahan..." ucap nya lirih sembari mengecup wajah yang tengah terpejam tersebut.
"Ini semua demi kau, jadi harusnya kau mengerti..." gumam nya yang merasa jika ia tak melakukan kesalahan apapun dengan memberikan narkotika dan bersamaan dengan obat tidur pada istri nya.
Putra nya masih belum terbangun namun setidaknya demam nya sudah turun dan masih dalam pengawasan ketat dokter.
__ADS_1