
Mansion Sean.
Wanita paruh baya berkaca mata itu menatap gadis yang tersenyum pada nya, walaupun terlihat baik-baik saja namun gadis itu seperti tak baik-baik saja.
"Sekarang nona terlihat senang, sudah jalan-jalan ke taman kan?" tanya dr. Canly mengulas senyum nya pada gadis di depan nya.
"Sudah!" jawab Ainsley dengan senyum nya.
"Bagaimana perasaan nona?" tanya dr. Canly dengan senyum ramah nya.
"Senang! Sampai aku ingin membakar nya!" jawab Ainsley yang masih dengan senyum nya.
Deg!
dr. Canly tersentak mendengar ucapan gadis yang tetap tersenyum itu, "Kenapa? Bukan nya nona menyukai nya?" tanya wanita paruh baya itu.
"Karna terlalu cantik, mereka terlalu tenang..." jawab gadis itu ambigu pada psikiater yang merawat nya.
Sekali lagi wanita paruh baya itu tersentak dan mengernyitkan dahi nya menatap gadis di depan nya.
"Kalau membakar nya apa nona akan senang?" tanya dr. Canly lagi menatap gadis itu.
"Tidak tau, kan aku belum pernah mencoba nya." jawab Ainsley ringan dengan wajah polos nya.
"Apa non-"
"Sstt..." ucap gadis itu dengan meletakkan satu jemari telunjuk nya ke bibir nya, "Dia bilang aku harus berhenti bicara pada mu,"
dr. Canly semakin heran, ia menatap dalam gadis itu sebelum memberi diagnosa nya, gangguan kepribadian ambang yang semakin buruk dan benar saja gadis itu mengalami halusinasi.
"Siapa? Kau mau mengenalkan nya pada ku?" tanya dr. Canly yang mengikuti apa yang di katakan gadis itu seperti nyata.
"Dia tak mau berkenalan dengan dokter," jawab Ainsley pada wanita itu.
"Apa saja yang dia katakan pada mu?" tanya dr. Canly lagi dengan hati-hati.
"Dia mengatakan cara agar aku bisa bebas," Ainsley yang kembali menjawab pertanyaan gadis itu.
"Bagaimana cara nya?" tanya dr. Canly dengan hati-hati.
"Akh!" teriak gadis itu menggema seketika hingga membuat wanita paruh baya berkacamata itu terkejut.
"Kenapa? Nona baik-baik saja?" tanya dr. Canly khawatir sembari meraih gadis itu.
"Dokter tidak mau aku bahagia? Kenapa tidak mau aku bebas?" tanya nya lirih dengan mata berkaca dan hampir menangis.
dr. Canly mengernyit melihat reaksi gadis itu, ia tak pernah mengatakan tak ingin agar Ainsley tidak terbebas sebalik nya ialah yang sangat ingin membebaskan gadis itu.
"Tidak! Tentu saja saya ingin nona bahagia!" sanggah dr. Canly langsung dan memeluk gadis itu dengan erat.
Ainsley masih menangis dalam pelukan wanita paruh baya itu, dan ini lah yang sering terjadi pada nya beberapa hari terakhir, tersenyum kemudian menangis tanpa alasan yang jelas.
"Tapi sayang sekali dia akan mati bersama ku,"
Deg!
dr. Canly terperanjat, ia mendengar gadis itu berbisik dengan suara yang sangat halus di telinga nya saat ia memeluk nya dengan erat.
__ADS_1
Ia pun melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah gadis cantik itu. Wajah yang sembab dan mata merah karna tangisan namun kini sedang menyunggingkan senyuman di bibir nya.
"Ains-"
Bruk!
Belum sempat ia memanggil nama gadis itu, Ainsley sudah terjatuh lebih dulu kehilangan kesadaran nya.
....
Setelah hari konsultasi itu dr. Canly kembali berhadapan dengan pria yang mengurung seorang gadis karna tak ingin di tinggalkan.
"Kemungkinan dia mengalami DID, tapi belum bisa di pastikan karna masih memiliki satu memori," ucap dr. Canly pada pria di depan nya.
"Tapi dia sudah baik-baik saja saat ini!" Sean yang mendengar ucapan psikiater di depan nya langsung menyanggah dengan tegas.
"Dia terlalu baik-baik saja untuk menjadi orang yang benar-benar sedang baik-baik saja," jawab dr. Canly pada pria yang kukuh di hadapan nya.
"Kalau tak bisa mengobati nya aku akan cari dokter lain!" jawab Sean berdecak kesal karna ucapan yang dikembalikan pada nya bagaikan sindiran.
"Dia mengalami halusinasi, pengidap kepribadian ambang memang sangat mungkin mengalami nya, tapi halusinasi itu sekarang mulai menyatu. Walaupun DID memiliki dua atau lebih identitas yang terpisah dan sekarang nona Ainsley masih memiliki satu tapi sudah mulai memberikan peluang untuk terjadi hal tersebut." terang dr. Canly lagi.
"Dia masih waras, kau bicara seperti dia sudah gila saat ini!" ucap Sean lagi yang tetap kukuh bertahan jika pilihan nya tak salah.
"Penyakit mental bukan penyakit yang dapat terdengar atau langsung terlihat seperti luka di tubuh," ucap dr. Canly pada pria itu.
Sean sedikit melirik ke arah wanita berkacama itu, lalu kembali memalingkan wajah nya.
"Aku tak memukul ataupun memarahi nya! Aku juga tak pernah menghukum nya lalu kenapa kau masih berfikir dia sakit?!" tanya Sean lagi.
"Jika ingin dia pulih kita juga harus memberikan lingkungan yang bagus pada nya, apa menurut tuan dengan mengurung nya akan dapat membuat nya membaik?" ucap dr. Canly
"Aku hanya mau dia bersama ku, aku membutuhkan nya." jawab Sean lirih.
"Akan sulit kalau dia benar-benar memiliki kepribadian ganda, karna yang akan kita hadapi bukan lagi nona Ainsley tapi karakter yang di buat nya." ucap dr. Canly lagi.
"Dia akan baik-baik saja, karna saat ini dia juga baik-baik saja." jawab Sean yang masih kukuh.
"Penyakit mental itu seperti bom waktu, dia bisa menyakiti pengidap nya dan juga orang di sekitar nya dan bahkan penyakit ini tidak terlihat langsung," ucap dr. Canly yang memang tau jika penyakit mental sama sekali tak sama dengan penyakit fisik yang dapat di lihat dari rintihan rasa sakit.
Sean kembali melihat ke arah wanita itu, ia merasa ucapan itu tak hanya untuk gadis nya namun untuk dirinya juga.
"Saat ini dia masih nona Ainsley, tapi tidak tau seperti apa kedepan nya. Mungkin saja delusi nya akan bertambah buruk kedepan nya," ucap dr. Canly setelah menarik nafas nya dengan berat.
"Lalu jika anda ingin nona Ainsley membaik saya sarankan agar tuan kembali menjalani konsultasi," ucap dr. Canly.
Ia sadar jika hal pertama yang harus di tuntaskan bukan lah Ainsley melainkan pria di depan nya.
Sean menyadari jika yang ia perbuat salah namun tak peduli dan hanya memandang pada pikiran nya sendiri, tekanan traumatis yang membuat pria itu kehilangan arah dan menganggap apa yang ia lakukan adalah benar.
"Maksud mu aku yang bermasalah?!" tanya Sean tak senang.
"Kasus terburuk dari penyakit mental adalah tidak menyadari apa yang sedang terjadi, jika ingin nona Ainsley memiliki mental yang sehat tuan harus memberi nya lingkungan yang sehat juga," jawab dr. Canly
"Tapi tuan tidak akan pernah tau lingkungan seperti apa yang benar-benar nona Ainsley butuhkan, bahkan yang tuan butuhkan sendiri," sambung psikiater wanita itu sembari membenarkan posisi kaca mata nya.
...
__ADS_1
Mata gadis itu kosong setelah ia bangun dari sebelum nya yang sempat kehilangan kesadaran.
Kau tak mau mencoba nya?
Ainsley terperangah sekali lagi ia mengalami delusi yang sama.
"Sean? Sean akan baik-baik saja?" tanya nya lirih yang seperti bertarung dengan diri nya sendiri.
Dia akan baik-baik saja, kau kan hanya akan bebas, aku akan membantu mu...
Dan memberikan nya sedikit kejutan kecil.
Ainsley diam namun ia yang seperti di kendalikan dalam diri nya mengikuti apa yang sedang berbicara dalam kepala nya.
Akal nya tak lagi berjalan dan menyadari apa yang terjadi, ia menyiapkan segala nya, hingga...
Brak!
"Ukh!"
Napas yang mulai hilang tercekat, pembuluh darah yang terasa terhenti tiba-tiba dan kepala yang berputar dengan rasa ingin meledak kapan saja.
Suara yang tak dapat keluar serta kaki yang tak lagi menyentuh lantai dan bergantung mengudara, dibandingkan dengan tak bisa bernapas rasa sakit yang di timbulkan dari tekanan udara yang paksakan terhenti membuat nya ingin meledak.
Aku akan bebas kan? Sean akan baik-baik saja...
Semua akan membaik...
Tangan kecil yang awal nya memegang gulungan kain kecil itu kini mulai terjatuh, wajah yang membiru serta tubuh yang tak lagi menggeliat dan kini mulai tenang.
...
"Saya akan memeriksa nona Ainsley lebih dulu," ucap dr. Canly yang beranjak bangun ingin melihat apakah gadis cantik itu sudah tersadar atau belum.
Sean diam sejenak dan mengikuti langkah wanita itu.
"Astaga!" pekik dr. Canly terkejut saat mendatangi kamar gadis itu.
Sean terperanjat dan segera menyusul namun langkah nya terhenti, tubuh nya membatu seketika.
Napas nya tersendat dan suara nya tercekat, wajah nya langsung memucat sedangkan iris nya menatap di depan nya dengan penuh rasa terkejut.
"Ains- ukh!" ringis nya yang jatuh diantara kedua lutut nya, dada nya terasa sakit dan ia tak bisa bernapas atau pun bergerak.
Gelombang hitam mulai terlihat di mata pria itu, dr. Canly mulai panik saat melihat kedua bom di dalam tubuh kedua orang itu mulai meledak.
...****************...
Oh iya maaf yah sebelum nya kalau othor up nya ga teratur dan kadang tidak up🙏
Karna othor udah balik kampus kayak biasa jadi nya kadang ga sempat karna dari pagi sampe sore ada jadwal praktek.
belum lagi yang dari rumah ke kampus othor jarak nya 1 jam bahkan bisa lebih kalau macet dan othor naik motor sendiri makanya kalau capek yah kadang othor ketiduran pas sampai rumah.
dan othor buat bab nya di sela jam kosong sebelum masuk lab, jadi maaf yah kalau bab nya sedikit ataupun up nya tidak teratur🙏🙏
Jangan lupa like, komen, dan vote nya serta dukungan lainnnya😘😘😘
__ADS_1
Selamat membaca♥️♥️♥️