
Plak!
Deg!
Calesta terkejut, ia panik dan tanpa sadar menampar pria yang mencegah tangan nya.
"Ma-maaf aku tidak sengaja..." ucap nya lirih dengan wajah yang begitu terkejut tak menyangka jika ia malah akan menampar pria itu.
Sean diam, ia tak marah ataupun tak mengatakan apapun mata nya tak menampilkan sorot yang bisa di baca sama sekali.
"Aku tidak mengenal Ainsley...
A-aku tidak tau..." ucap Calesta lirih dengan raut panik nya.
Ia tidak tau kenapa namun ia sangat tidak ingin menjadi Ainsley ataupun berhubungan dengan identitas Ainsley termasuk orang-orang yang mengenal nama tersebut.
Ia ingin hidup sebagai Calesta yang penuh akan senyuman dan menjadi putri kesayangan ibu nya, ia bahkan tak mencoba mengingat apapun tentang Ainsley.
"Apa yang terjadi dengan mu selama ini? Kenapa kau punya luka? Kau benar-benar pergi saat itu? Atau kau memang sudah merencanakannya sejak awal?" tanya Sean menatap wajah gadis itu.
Calesta dapat mendengar nada rendah yang penuh dengan kesedihan di dalam nya, namun ia juga bingung dan tak tau hubungan apa yang dulu pernah ia miliki bersama pria di depan nya.
"Aku tidak tau...
Aku bukan Ainsley...
Aku tidak mengenal mu..." jawab nya lirih sembari menggelengkan kepala nya, mau ia coba ingat bagaimana pun ingatan nya kosong tak mampu membaca masa lalu nya.
"Lalu anak? Di mana anak itu? Kau hamil kan?" tanya Sean lagi, ia memang tak menemukan bekas operasi di perut gadis itu namun hal itu memang bisa di hilangkan jadi ia harus bertanya langsung.
Deg!
Mata Calesta membulat sempurna, ia ingat ibu angkat nya pernah mengatakan jika saat ia kecelakaan ia sedang hamil selama 8 Minggu.
Anak? Dia tanya anak pada ku? Dia ayah nya? Mamah kan dulu bilang aku pernah hamil...
Batin nya menatap bingung.
"Aku juga tidak tau, aku tidak punya anak!" jawab Calesta segera, merasa tangan nya perlahan terlepas, ia pun langsung membalik tubuh nya dan berlari secepat kilat.
Sean masih diam menatap pintu yang tertutup sedang gadis itu sudah menghilang di balik nya.
"Apa dia mengugurkan nya? Atau keguguran? Kita akan bertemu lagi..." ucap nya lirih.
Ia pun berbalik dan menelpon sekertaris nya, menyuruh bawahan nya untuk mencari siapa Calesta Quete dengan lengkap.
...
"Aduh! Pinggang ku..." ucap nya lirih yang berhenti berlari dan memegang pinggang nya.
"Enak nya waktu malam saja! Pagi nya sakit semua!" gerutu nya sembari mulai berjalan biasa dan memanggil taksi di sekitar hotel saat ia merasa pria itu sudah tak lagi mengejar nya.
Ia menyandarkan kepala nya menatap ke arah jalanan yang berlalu saat taksi yang ia duduki mulai melaju.
"Dia kenal Ainsley? Aku seharusnya tidak berhubungan dengan nya! Aku kan Calesta! Bukan Ainsley!" gumam nya menanamkan semangat dan identitas nya.
Ia merasa asing dengan nama serta identitas masa lalu nya, dengan hidup sebagai Calesta ia merasa semua beban yang bahkan tak ia tau terlepas begitu saja, hati nya terasa ringan.
"Kita ke klinik kandungan dulu," ucap Calesta pada supir taksi.
Tentu nya ia ingin segera memakai KB darurat agar tak menghadirkan makhluk hidup apapun dalam diri nya.
......................
Presiden Suite hotel.
Richard sudah memerintahkan Liam untuk membangun satu mansion seperti milik nya di Prancis untuk selama ia di Spanyol.
Ia awalnya berencana untuk membeli apart mewah saja namun ia lebih suka tempat sunyi yang tak mudah di masuki ataupun tak mudah untuk orang lain keluar seperti mansion utama nya.
"Aku minta penyelesaian nya selama satu bulan kan? Berapapun biaya nya tidak apa-apa asalkan tempat itu segera selesai," perintah nya pada Liam.
"Baik tuan, akan saya selesaikan secepatnya, saya juga sudah mencari cctv sekitar dan mencari tentang nona Ainsley," jawab nya pada tuan yang ia layani.
"Lalu hasil nya? Kau sudah temukan dia tinggal dimana? Dia tidak memiliki media sosial apapun tapi berdasarkan pencarian saya, dia sering mengunjungi beberapa cafe ini," ucap nya sembari memberikan foto-foto dan nama cafe yang sering di kunjungi gadis itu.
"Dan dia di kenal dengan nama Calesta Quete bukan Ainsley Setya Belen," sambung Liam lagi.
"Calesta Quete? Kau sudah cari tau siapa di belakang nya? Tidak mungkin dia mampu bersembunyi sendiri kalau tidak ada yang membantu nya." tanya Richard.
"Masih saya cari tau tuan," jawab Liam pada Richard.
"Kabari secepat nya," ucap Richard sembari mengisyaratkan agar bawahan nya keluar dari ruangan nya.
......................
__ADS_1
Kediaman Clarinda.
Wanita itu sudah tau jika putri nya tak kembali semalaman dan pergi ke klinik kandungan setelah nya, ia tak menegur ataupun memarahi nya karna ia tau putri nya sudah dewasa dan tak masalah jika nakal sesekali.
Namun kini?
Putri kesayangan nya malah memeluk nya erat dan terlihat gelisah.
"Kenapa sayang? Bilang sama Mamah, ada yang jahat dengan mu?" tanya Clarinda pada putri kesayangan nya.
"Mah...
Tadi Calesta kan, ketemu sama orang yang kenal Ainsley..." ucap nya lirih mengadu pada ibunya.
Ia terus memeluk tubuh ramping ibu nya dan terlihat lesu, Clarinda membuang napas lega. ia mulai berpikir negatif jika putri di paksa oleh seseorang sebelum nya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Manusia itu ada banyak sayang, mungkin Ainsley juga kenal dengan banyak orang lain, jadi kalau ada yang kenal kamu sebagai Ainsley itu bukan salah kamu," ucap Clarinda sembari mengelus kepala putri nya.
"Tapi nanti kalau misal nya aku di bawa pulang ke Prancis gimana? Rumah ku kan disini? Aku kan Calesta!" ujar nya dengan kukuh.
"Mau kamu Ainsley mau kamu Calesta itu bukan masalah, yang terpenting itu kamu harus bahagia." Clarinda yang sembari menangkup pipi lembut gadis itu.
"Bahagia?" tanya Calesta lagi.
Clarinda memberikan senyum lembut nya sembari menatap wajah putri cantik nya, "Iya, mau hidup sebagai Ainsley ataupun Calesta itu tidak masalah asalkan kamu sendiri nyaman dan bahagia dengan hidup mu."
"Aku nyaman kalau dekat Mamah, aku tidak mau pergi." ucap nya lirih yang sangat nyaman menjadi Calesta Quete putri dari Clarinda Dulsinia.
"Kalau begitu sama Mamah saja, Calesta kan putri Mamah..." ucap Clarinda sembari memeluk gadis itu.
Calesta mulai tenang, namun tetap saja ia tak ingin berhubungan dengan orang masa lalu Ainsley.
......................
Seminggu kemudian.
Calesta keluar dari tempat kursus memasak nya, memang sebelum nya Clarinda membuat chef Felipe menjadi guru pengajar gadis itu.
Namun karna Calesta yang juga ingin mencari teman, maka dari itu ia meminta Clarinda untuk memasukkan nya ke kursus agar ia bisa bersosialisasi dan menjalin pertemanan dengan orang lain.
"Kau selesai nya sedikit lama," ucap seorang pria yang menunggu di depan tempat kursus gadis itu dan mengagetkan nya.
Calesta terperanjat ia mengernyit menatap pria tampan di depan nya, semenjak ia kecelakaan dan bangun tanpa mengingat apapun ia juga masih mengalami masalah yang lain yaitu menjadi pelupa atau mudah lupa akan sesuatu.
"Dia..." ucap nya mengernyit memutar ingatan nya hingga beralih ke malam yang cukup membekas tersebut.
"Kau!" ucap nya terperanjat sembari secara refleks menutup mulut nya.
"Sekarang kita bisa bicara?" tanya Sean mendekat ke arah gadis itu.
"Kenapa bisa tau tempat kursus ku? Kau menguntit?!" tanya Calesta terkejut.
Sean hanya menaikkan bahu nya dengan wajah tak bersalah, ia memang meminta sekertaris Jhon untuk mencari semua yang berhubungan dengan Calesta Quete.
Calesta memundur, bukan nya ia tak suka ataupun tak nyaman dengan pria tampan itu namun hanya tak ingin berhubungan dengan orang-orang masa lalu nya ketika ia hidup dalam identitas Ainsley, identitas yang sama sekali tak ia ingat.
...
Cafetaria.
Calesta membawa ke cafe yang ia suka datangi, tak ada pembicaraan di antara kedua nya, ia melihat minuman serta makanan yang di pesan pria itu untuk nya.
Ia tak pernah mengatakan apapun yang ia suka namun semua yang berada di atas meja nya adalah yang ia sukai.
"Siapa nama mu? Ayo berkenalan," ucap Sean membuka pembicaraan.
"Aku tak mau punya hubungan lebih dari ini, jadi lupakan saja." jawab Calesta tanpa memberikan nama nya.
"Kau benar-benar gadis yang tidak bertanggung jawab," ucap Sean menatap gadis itu dengan nada sedikit sindiran.
"A-apa?" tanya Calesta tersentak.
"Tentu saja, setelah menggunakan tubuh ku, kau langsung membuang ku! Benar-benar tidak berperasaan!" ucap Sean dengan suara yang sedikit keras hingga gadis itu tersentak.
"Hush! Suara mu besar sekali!" ucap Calesta panik dengan langsung beralih menutup bibir pria itu dengan tangan mungil nya.
Sean tertawa melihat wajah panik gadis itu, yang terlihat menggemaskan bagi nya.
"Kalau kau tidak mau jadi gadis jahat, kau bisa berteman pada ku," ucap Sean tertawa sembari melepaskan tangan mungil tersebut.
"Calesta! Calesta Quete!" ucap gadis itu kesal mengatakan nama nya.
Sean tersenyum dan menatap binar ke arah wajah kesal yang menggemaskan tersebut, "Sean, Sean Justin Xavier."
Calesta tampak diam begitu mendengar nama pria itu, nama yang ia rasa tak asing namun sama sekali tak ada memori yang tinggal di ingatan nya kecuali malam panas nya dan waktu yang ia habiskan seharian.
__ADS_1
Terasa tidak asing, apa karna dia kenal Ainsley?
"Kalau begitu sekarang kita bisa berteman kan?" tanya Sean dengan senyuman nya yang bisa membuat seseorang goyah karna wajah tampan nya.
"Teman?" tanya Calesta mengernyit.
"Hm, kalau kau ingin lebih lagi mungkin bisa saja teman spesial?" tanya Sean dengan nada menggoda gadis itu.
"Ta-tapi kau juga tidak boleh dekat-dekat dengan ku!" ucap Calesta lagi.
"Kenapa?" tanya Sean yang seolah acuh tak acuh dengan permintaan tersebut.
"Aku sudah menikah," jawab Calesta beralasan.
"Benarkah? Kalau begitu cerai saja, suami mu bahkan tidak mencari istrinya yang tidak pulang semalaman." ucap Sean yang langsung mematahkan alasan gadis itu.
Calesta panik namun ia mencari alasan lagi, "Aku sudah tunangan! Kami akan menikah!" ucap nya lagi mencari alasan.
"Kau bahkan tak pakai cincin di jari mu, tunangan mu nyata kan?" sekali lagi Sean mematahkan ucapan gadis itu.
"I-ini kami baru pacaran nanti juga bakal menikah kan?" jawab Calesta gugup.
"Benarkah?" tanya Sean yang tak mempercayai ucapan gadis itu dan cenderung menggoda nya.
"I-iya!" jawab Calesta dengan gugup.
"Dia akan jemput! Ini dia mau datang!" ucap Calesta yang semakin mengatakan kebohongan.
Astaga! Kenapa dia kenal Ainsley sih? Bukan kenal aku yang dulu, kalau tidak kan aku bisa dengan nya!
Batin nya yang kukuh tak mau berhubungan dengan orang-orang di masa lalu nya, karna ia tak ingin meninggalkan kehidupan nya sebagai Calesta.
Tak lama kemudian pintu cafe terbuka, gadis itu melihat ke arah pengunjung, pria yang memiliki tubuh tegap, wajah yang tampan walaupun sudah terlihat cukup matang.
"I-itu pacar ku datang!" ucap nya dengan gugup karna kebohongan nya.
"Benarkah? Kau tidak mengatakan orang yang sembarang masuk ke sini sebagai pacar mu kan?" goda Sean karna melihat wajah gugup gadis itu.
"Ti-tidak!" jawab Calesta segera.
Ia berdiri dan bangun mendekat ke arah pria yang masih melihat ke sekeliling seakan mencari dan memastikan sesuatu.
"Sudah menikah? Bantu aku nanti ku berikan kompensasi!" ucap Calesta dengan suara berbisik pada pria tampan di depan nya yang terlihat terkejut dan menatap nya nanar.
Cup!
Ia tak tau, namun ia hanya bersikap impulsif tanpa memikirkan hal yang akan datang ke depan nya.
Calesta menautkan bibir nya pada pria yang bahkan tidak ia kenal hanya untuk menunjukkan bahwa kebohongan nya adalah kebenaran.
Humph!
Mata nya membulat sempurna, pria itu tak menolak nya namun semakin menahan leher nya dan mel*mat bibir nya serta menangkup habis hingga membuat lipstik nya mentransfer warna.
Setelah habis memakan bibir lembut gadis itu, pria itu melepaskan nya dan menatap ke arah wajah gadis yang sangat terkejut walaupun ia sendiri yang mulai.
"Sekarang jadi agresif?" goda pria itu dengan smirk nya.
Calesta mengernyit ke arah pria tersebut ia tak mengerti namun ia merasa pernah melihat wajah nya di suatu tempat.
Wajah nya tak asing, kapan aku pernah melihat nya?
Batin nya sembari memutar semua ingatan nya mencari ingatan tentang pria itu.
"Astaga!" pekik nya yang langsung memundur dan menjauh seketika.
Dia kan paman mesum yang kemarin!
Batin nya yang terkejut sembari memundurkan langkah nya.
"Sudah lama, sekarang kita bisa bicara?" tanya Richard dengan senyuman nya sembari semakin mendekat.
Kaki gadis itu menjadi gamblang, heels nya bahkan terpeleset ke belakang hingga membuat nya hampir terjatuh.
Akh!
Sean yang mendekat pada nya dari belakang langsung menahan tubuh gadis itu dengan menangkap pinggang ramping nya agar tak terjatuh.
"Pria sialan itu yang jadi pacar mu sekarang? Dia itu buaya kau harus hati-hati dengan nya," ucap Sean sembari memandang tajam ke arah Richard sembari terus menahan pinggang gadis itu.
"Pria labil itu menganggu mu? Aku bisa menyingkirkan nya dengan cara apapun kalau kau mau," jawab Richard yang juga memandang dengan tatapan setajam pisau ke saat melihat ke arah Sean.
"Ka-kalian kenal? Kenapa langsung begini?" tanya Calesta kebingungan saat melihat dan merasakan aura kebencian yang begitu kuat diantara kedua nya.
Aduh! Sekarang gimana? Malah jadi serba salah!
__ADS_1