Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Aku rindu


__ADS_3

Plak!


"Sakit Mah! Ampun huhu!" tangis anak kecil itu menggema.


Ruangan yang hanya terlihat menampilkan garis hitam dan putih itu menyelimuti anak yang terduduk menangis tersedu.


"Dasar nakal!" ucap nya sembari melayangkan pukulan yang bertubi di tubuh kecil dan mungil tersebut.


Tangisan dan jeritan kesakitan menggema namun tak mengentikan dirinya yang tengah memukul dengan keras.


Aroma anyir dan amis yang mulai tercium, genangan cairan merah kental yang mulai merembes keluar dari tubuh kecil membanjir bagai air tumpah.


Pukulan nya terhenti, saat anak itu tak lagi bergerak dalam ringkuk menyakitkan nya.


Deg!


"A-apa yang ku lakukan?!" ucap nya terkejut saat melihat anak itu tak lagi bernyawa.


"Tidak!"


"Ini salah!"


"Aku tidak bermaksud melakukan nya!"


...


Deg!


Mata gadis itu terperanjat, tubuh nya bergetar dan berkeringat saat ia mulai memimpikan hal yang buruk dalam waktu terakhir.


"Ti-tidak anak ku...


Aku tidak akan memukul nya...


Dia tidak boleh terluka..." gumam nya lirih sembari menatap kedua tangan nya.


Ingatan yang menyakiti nya kembali hingga membuat nya mengalami semua trauma yang ia ingat dalam kenangan buruk nya.


Bayangan kekerasan dari yang dapatkan mempengaruhi nya dan kini selalu menjadi ketakutan terbesarnya.


Gadis itu kembali tidur dalam selimut tebal itu, karna Richard malam ini sudah berjanji tak akan ke kamar nya membuat nya sendirian dalam dekapan kain hangat tebal itu.


Ia mulai bermimpi jika akan membunuh anak nya dengan tangan nya sendiri, ketakutan yang menjadi bayang-bayang terbesar nya.


"Aku tidak akan melakukan nya, dia akan hidup dengan orang tua yang baik, bukan seperti ku..." gumam nya sembari menjatuhkan bukuran bening di mata indah nya.


Tangan nya mengusap lembut perut rata nya dan memeluk nya dengan erat.


Baginya dari pada anak yang ia kandung hidup dengan ibu seperti nya, lebih baik anak itu tiada dan lahir di rahim wanita yang pantas.


......................


Pertengkaran hebat yang pada akhirnya tak membawa perubahan apapun untuk nya.


"Kau lapar? Makan sedikit yah..." bujuk pria itu sembari mengelus rambut panjang gadis itu.


"Kenapa? Kau takut anak mu mati?" tanya gadis itu dengan mata tajam dan tertawa lirih.


Richard diam, ia tak ingin lagi bertengkar seperti kemarin, mata nya menelisik pada pergelangan tangan dan lengan atas gadis itu yang membiru karna nya.

__ADS_1


"Ainsley? Kali ini lahirkan saja anak itu, setelah itu aku yang akan mengurus nya." ucap Richard dengan nada rendah sembari meletakkan bubur yang harus nya di makan oleh gadis itu.


"Oh, sekarang aku tau..." ucap gadis itu panjang.


Richard mengernyit, ia tak mengerti apa yang di pikirkan gadis di depan nya.


"Aku hanya alat pembuat keturunan paman kan?" tuduh gadis itu dengan semua asumsi negatif nya.


Wajah tampan itu terkejut mendengar nya, ia tak menyangka akan timbul pemikiran seperti itu di kepala mungil yang hanya sebesar telapak tangan nya.


"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan, tapi kalau aku mengajak mu menikah, kau mau?" tanya pria itu pada gadis di depan nya.


Ainsley menoleh ia menatap iris hijau tersebut dan kembali memalingkan wajah nya.


"Tidak, aku tidak mau!" sanggah nya cepat.


"Maka nya lahirkan anak itu dan aku akan mengurusnya, jadi kau hanya tetap berhubungan dengan ku selama anak itu masih ada." ucap Richard yang ingin mengulur waktu agar gadis itu tetap terkunci pada nya.


Ainsley menggeleng, ia memegang perut nya. Bukan nya ia yang tak menyayangi darah daging nya namun ia selalu berpikir jika semua anak yang akan ia lahirkan akan berakhir sama seperti nya.


Tidak akan bahagia!


Hal itu lah yang ingin ia hindari, ia tak mau akan ada Ainsley ke dua atau ke tiga karna lahir memiliki orang tua yang buruk.


"Lalu kau mau nya apa?! Aku tidak mau kau membunuh anak ku!" ucap Richard yang masih kukuh.


"Paman kan bisa cari anak dari wanita lain!" jawab Ainsley segera.


"Tidak! Harus dari mu!" ucap Richard segera karna hati nya hanya bertaut pada gadis cantik itu.


Ia juga memang bukan pria baik yang hanya meniduri satu wanita, sebelum bertemu dengan gadis itu bukan tak sedikit wanita yang pernah naik ke ranjang nya dan beberapa yang mengaku hamil anak nya untuk tetap menikmati kehidupan sebagai wanita nya.


Ia yang di besarkan di lingkungan yang keras dan bahkan tidak tau apa artinya dan perasaan memiliki orang tua serta keluarga.


Namun kali ini berbeda, saat wanita yang ia sukai mengandung anak nya tidak membuat nya risih dan ingin membunuh darah daging nya lagi tapi malah membuat nya senang.


"Anak ku tidak boleh menderita!" ucap Ainsley yang menggelengkan kepala nya dan menatap gelisah seperti seseorang yang akan segara kehilangan akal nya.


"Tentu saja aku tidak akan membuat nya menderita," jawab Richard lagi.


"Dia harus punya orang tua yang baik, bukan lahir dari orang seperti ku!" jawab gadus itu dengan gelisah, tangan nya bertaut satu sama lain untuk mengurangi rasa panik nya.


"Memang nya kau seperti apa? Hm?" tanya Richard yang semakin tak mengerti jalan pikiran gadis itu.


Ainsley diam, luka yang di tinggalkan oleh kedua orang tua kandung nya belum pulih sama sekali, ia terus terbayang akan semua perlakuan yang ia terima dan takut jika ia akan menjadi sama seperti Ibu dan Ayah nya.


"Orang tua bisa memilih melahirkan anak nya, tapi Anak? Anak tidak bisa memilih orang tua nya..." jawab nya lirih.


"Kau tidak akan menjadi ibu yang buruk," ujar pria itu.


Ainsley kembali menoleh, ia memandang dengan mata frustasi, "Aku bermimpi buruk kalau aku membunuh nya, menurut paman aku bisa jadi ibu?"


Richard tak habis pikir, apa yang di pikirkan hingga membuat gadis itu memiliki semua bayangan negatif yang tidak bisa ia lepaskan.


"Kau mau mengugurkan nya?" tanya Richard lagi.


Ainsley langsung mengangguk tak ragu.


"Baik! Tapi tunggu 4 Minggu lagi dan setelah itu kau bisa memutuskan nya kembali," jawab Richard.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hm, tapi kau harus janji tidak akan mengugurkan kandungan mu sebelum 4 Minggu lagi!" ujar pria itu memperingatkan.


"Kenapa?" tanya Ainsley bingung.


"Lakukan saja, pada akhirnya aku akan menuruti mu, kan?" jawab Richard yang tak ingin memberi tau alasan nya.


Ia perlu mengulur waktu dan ingin menunjukkan sesuatu, sesuatu yang akan membuat gadis itu tak bisa membunuh anak nya.


Ainsley diam, ia takut jika anak itu berkembang dalam dirinya nya akan membuat nya berubah pikiran dan pada akhirnya membuat semua mimpi buruk nya menjadi nyata.


"Lalu sekarang aku bisa kembali? Hubungan kita sudah berakhir, kan? Sekarang kalau bukan masalah tentang kandungan ku, kita tidak usah bertemu." Ainsley yang mengatakan nya tanpa berkedip.


Richard mengangguk, untuk saat ini ia memang tak bisa terus menerus mengurung gadis itu karna akan membuat sang ibu stress dan mempengaruhi kandungan nya.


"Aku akan mengantar mu," ucap nya yang tak sepenuh hati karna tak ingin gadis itu pergi.


......................


Seminggu kemudian.


Ainsley kembali memulai kehidupan nya sebagai Calesta, ia tak mengatakan apapun pada Clarinda dan menutup semua masalah nya dengan rapat walau wanita yang begitu menyayangi nya terus mengkhawatirkan nya.


Ia juga kembali ke toko kue nya dan bersiap membuka nya setelah beberapa hari belakangan tutup karna awal nya ia ingin liburan namun sempat di kurung sebentar.


Deg!


"Kali ini kau buka toko nya?" ucap seorang pria yang memegang gagang pintu toko dari belakang tubuh gadis itu.


Ainsley langsung menoleh, ia melihat ke belakang dan menatap wajah yang memberikan nya senyuman hangat di pagi yang cerah.


"Sean?" panggil nya lirih.


Pria itu tersenyum ia membungkukkan tubuh nya sejajar dengan tinggi gadis itu, "Bagaimana liburan mu? Kau bersenang-senang?"


Tanya Sean sembari mencubit hidung mancung gadis di depan nya.


Ainsley diam sejenak memperhatikan wajah pria itu dari dekat, ia mungkin tak sadar saat menjadi Calesta namun kini ia sadar saat ingatan nya kembali.


Pria yang menjadi mantan kekasih nya tak sama dengan pria yang ia kenal dulu, bukan berbeda dalam hal memanjakan nya namun berbeda dalam mengendalikan emosi nya.


Hati nya tergelitik bagaikan asap yang tengah mengumpul menjadi satu dan memberikan nya uap.


Tes...


Buliran cairan bening itu jatuh dari pelupuk mata sayu itu, pandangan nya tak berkedip sama sekali pada wajah pria yang berada di hadapan nya.


"Calesta?" panggil Sean yang mulai tak lagi tersenyum dan terlihat khawatir saat melihat air mata gadis itu.


Greb!


Satu pelukan erat berhambur pada pria tampan itu tanpa Ainsley sadari, tubuh dan tangan nya bergerak sendiri masuk ke dalam dekapan bidang pria di depan nya.


"Aku rindu..." gumam nya dengan pelan hingga membuat pria itu tak bisa mendengar nya.


"Calesta? Kenapa? Kau baik-baik saja?!" tanya Sean khawatir.


Namun bukan jawaban yang terima melainkan pelukan yang semakin erat, ia terkejut namun tangan nya mulai mengelus punggung gadis itu perlahan.

__ADS_1


__ADS_2