
Gadis itu mengambil cake yang mengembang setelah matang di panggang.
"Kau mau buat apa lagi?" tanya Richard saat melihat gadis itu yang masih tak berhenti memasak cake nya.
"Aku mau buat resep baru untuk di toko, kau mau coba?" tawar gadis itu sembari menyodorkan satu cake yang telah ia hias.
Richard mengambil nya dari tangan gadis itu, cake berbentuk lucu dan imut yang memiliki warna coklat muda.
"Rasa apa ini?" tanya nya saat mengambil cake tersebut.
"Mocca, Paman kan suka kopi." jawab gadis itu sembari tetap melihat cake nya.
Richard diam sejenak, ia merasa senang karna gadis itu bisa tau apa yang ia sukai.
Cup!
"Eh?" Ainsley langsung menoleh ke samping saat pipi nya di kecup ringan pria itu.
"Ku pikir kau tidak tau apapun tentang ku," ucap pria itu tersenyum.
"Kalau ada yang ku tau, ada satu yang ku kenal jelas dari mu." jawab Ainsley sembari meletakkan cream nya.
"Apa?" tanya pria itu sembari menatap lekat iris hijau di depan nya.
"Kejam, Tidak punya perasaan!" jawab gadis itu segera.
"Kalau aku benar-benar kejam kau sudah tidak punya lidah mu sekarang," ucap Richard segera.
"Tapi aku sering hampir mati karna paman," sanggah gadis itu.
"Kapan aku-"
"Lihat ini!" ucap nya sembari menunjukkan pergelangan tangan nya yang masih terlihat bekas samar pisau yang pernah ia lakukan goreskan dulu.
"Aku kan tidak pernah menyuruh mu bunuh diri," elak pria tampan itu sekali lagi.
"Tidak pernah yah? Tapi dulu ancaman paman seperti menyuruh ku 'Mati saja' kalau mau hidup tenang," jawab Ainsley sembari mengingat semua ancaman dan perlakukan yang melukai jiwa nya.
"Aku tidak pernah begitu," ucap Richard sekali lagi yang tak pernah merasa apa yang ia dulu lakukan untuk kesenangan nya melukai gadis itu.
"Apa nya yang tidak? Dulu aku di culik terus di lec*hkan abis itu dibuat video diancam tiap hari lagi! Abis itu aku juga di culik lagi di jadiin boneka buat paman tidur sampai aku di lepas kan?" ucap nya yang mulai kesal jika mengingat nya lagi.
Bibir pria itu tertutup, ia tak bisa membantah nya karna dulu memang melakukan hal tersebut untuk memberikan nya kesenangan.
"Aku akui salah, tapi sekarang kan sudah tidak...
Sekarang kau kan juga suka kan?" ucap pria itu sembari memeluk pinggang ramping gadis itu.
"Ia waktu masih Calesta! Sekarang kalau paman jadi kesal lagi!" jawab gadis itu sembari menepis tangan yang memeluk pinggang nya.
Richard tak membalas, padahal awal nya masih baik-baik saja sekarang gadis itu sudah berubah kesal lagi.
"Lalu aku perlu memuaskan mu saat jadi Ainsley sekarang? Hm?" tanya pria itu tak menyerah dan menggendong pinggang gadis itu.
__ADS_1
"Tidak perlu! Turunin! Mau hias cake nya!" ketus gadis itu.
"Anak Daddy gimana kabar nya?" tanya pria itu tak menghiraukan ucapan gadis yang ia gendong namun berbicara sendiri pada perut yang masih rata itu sembari mendekatkan telinga nya.
"Aku dengar dia!" ucap pria itu seakan-akan mendengar sesuatu.
"Dengar apa? Kan dia belum lahir?" tanya gadis itu tak mengerti.
"Eh? Kenapa ke kamar?" Ainsley yang mulai menyadari jika pria itu menggendong jingga memasuki kamar utama.
"Kata nya dia mau di cium," ucap pria itu dengan smirk nya sembari menurunkan tubuh gadis itu dengan perlahan.
"Kapan? Aku tidak ada dengar, tuh!" sanggah gadis yang yang beranjak ingin bangun.
"Sst!" ucap pria itu sembari menutup mulut gadis itu dengan satu ibu telunjuk nya, "Coba dengar?"
"Dengar apa? Aku saja tidak dengar," ucap gadis itu mengelak sembari menepis jari telunjuk yang menutup mulut nya.
"Aku kan Ayah nya jadi bisa dengar," jawab pria itu sembari memangut bibir gadis di depan nya sembari menindih perlahan tubuh gadis itu ke ranjang.
Humph!
Pangutan dalam yang membungkam bibir yang siap untuk marah itu, ia tak memberi ruang untuk melepaskan lum*tan nya sama sekali.
Hah...hah...hah...
"Kenapa aku yang di cium?" tanya gadis itu menarik napas yang tersengal-sengal.
"Kau sedang tersengal-sengal begini saja menggemaskan," ucap pria itu yang sekali lagi mengabaikan pertanyaan gadis cantik itu.
"Anak mu? Yang kau cium itu aku, bukan anak mu!" sanggah Ainsley segera.
"Aku hanya pemanasan dulu, makanya aku cium ibu nya dulu." pria itu yang berkilah dengan ucapan nya.
"Lalu kau mau mencium nya dengan cara apa?" tanya Ainsley lagi.
"Dia sudah beru tau cara nya, pasti dia sangat sayang Daddy nya kan?" tanya pria itu dengan smirk nya.
Ainsley menggeleng ia sudah merasakan firasat lain dan mulai mendorong dada bidang pria itu.
"Aku saja tidak dengar apapun! Jangan berbohong!" jawab Ainsley segera.
"Kau kan tidak tau, dari tadi kami bicara." ucap pria itu sekali lagi.
"Dari mana?" tanya Ainsley lagi.
"Dari telepati," jawab pria itu singkat dan menyingkap gaun sebatas lutut yang di kenakan gadis itu.
"Te-telepati?! Jangan aneh-aneh!" ucap Ainsley segera.
"Mau ngapain?!" tanya Ainsley tersentak saat ia merasakan tangan pria itu mengusap paha nya.
"Aku mau cium anak ku," jawab pria itu singkat.
__ADS_1
"Mana ada cium seperti ini!" jawab gadis itu lagi, "Eh? Kenapa di lepas?" ucap nya yang merasakan pria itu meloloskan penghalang nya.
"Kau tidak bisa tenang? Aku kan cuma mau menyapa nya, atau ibu nya juga mau?" tanya Richard sembari memberikan senyum menggoda gadis itu.
"Tidak mau!" jawab Ainsley segera, walaupun ingatan nya sudah kembali tapi kebiasaan nya sebagai Calesta juga masih ada.
"Kalau begitu kau jangan bersuara, kalau bersuara aku anggap ibu nya juga mau di cium." ucap pria itu lagi.
"Tapi kan sama saja! Lagi pula ini juga cuma akal-akalan paman kan?" ucap gadis itu tak mau terjebak.
"Tidak! Kalau kau membiarkan ku cuma cium anak ku, aku janji tidak akan menyentuh mu lagi setelah ini dan berlaku untuk kedepan nya." ucap pria itu.
"Benarkah?" tanya Ainsley sembari menatap curiga.
"Tapi ada syarat nya," ucap pria itu tersenyum.
"Apa?"
"Ibu nya juga tidak boleh minta di cium," jawab pria itu.
"Tidak! Aku tidak ada minta di cium!" sanggah Ainsley segera.
"Jadi jangan bersuara, aku mau bicara dengan anak ku dulu," ucap pria itu tersenyum dan kembali turun ke perut hingga ke bagian sensitif gadis itu.
"Bica- Ungh!" gadis itu langsung menutup mulut nya dengan kedua tangan kecil nya.
Ia ingat tentang persyaratan yang baru saja di katakan pria itu, rasa hangat yang menyapu bagian bawah tubuh nya membuat nya tersentak.
"Kata ibu nya tidak mau kenapa bersuara? Hm?" tanya pria itu dengan smirk nya.
"Aku kan cuma terkejut!" sanggah Ainsley segera.
"Kalau begitu jangan di tutup pakai tangan," ucap pria itu sembari melarang gadis itu menutup mulut nya.
Ia kembali mencium dan menggelitik bagian bawah gadis itu lagi, mengesap nya dan terkadang menggigit nya dengan lembut hingga membuat gadis itu berteriak kecil.
Ainsley tidak bisa menahan nya lagi, walaupun ia tidak butuh namun tubuh nya butuh, tangan nya tanpa sadar meremas rambut pria itu yang terbenam di bawah sana.
Ungh!
Tubuh nya membusur dan melepaskan sesuatu, sedang pria itu menyukai reaksi yang di berikan.
Ia pun kembali naik dan menatap wajah yang terlihat menggemaskan karna masih mengatur napas nya.
"Sekarang ibu nya juga mau?" tanya pria itu tersenyum.
"Curang! Mana ada cium anak dari bawah!" dengus gadis itu kesal.
Richard tak menjawab ia hanya tersenyum sembari mengecup pipi gadis itu dengan ringan.
"Jadi kau tidak mau lanjut? Tadi aku dengar dia bilang ibu nya juga mau," ucap pria itu sembari mengusap bagian sensitif gadis itu lagi.
"Pelan," jawab Ainsley dengan suara teramat pelan.
__ADS_1
"Sekarang aku sedang dengan Ainsley kan? Jadi ku harap kau sedikit lupa tentang tiga tahun yang lalu," ucap pria itu sembari memangut bibir gadis itu.
Tangan nya menggenggam erat jemari kecil yang mungil tersebut dan mulai memperlakukan tubuh rapuh itu dengan selembut mungkin.