Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Disappointed)


__ADS_3

Celine menatap punggung pria yang tengah melihat ke arah dinding kaca besar yang menampilkan jalanan dan sudut kota dari atas.


"Kak..."


Suara yang terdengar gugup dan lirih membuat pria itu menoleh dan berbalik.


"Celine? Kenapa? Kamu lapar lagi?" tanya Steve yang langsung mendekati gadis itu.


"Kita kapan pulang nya kak? Di sini gak ada piano nya, Celine kan mau latihan Minggu depan bakal pergi ke Itali." ucap nya pada pria itu.


Steve diam sejenak, "Besok kakak bakal belikan piano juga di sini." ucap nya sembari memegang pipi yang semakin chubby itu.


Gadis itu tersenyum, mata biru nya yang bulat berbinar dan menatap sang kakak, "Celine gak sabar mau ke Itali." ucap nya dengan cerah.


Pria itu kembali bungkam, ia sendiri bingung bagaimana memberi tau jika gadis yang bahkan seperti anak-anak itu tengah hamil saat ini.


"Kamu gak bisa pergi ke Itali." ucap nya hingga membuat binar dan senyuman cerah itu jatuh.


"Kakak kenapa sih kak?" tanya Celine yang mulai memelas menatap pria yang seakan enggan membiarkan nya pergi.


"Kamu gak bisa pergi sekarang," ucap pria itu lagi.


"Tapi kenapa? Kakak tau kan? Usaha Celine itu kayak apa mau ke sana?" tanya gadis itu lirih.


"Gak apa-apa kalau nanti, tapi kalau sekarang engga Celine..." ucap Steve lagi pada gadis itu.


"Tapi Celine mau masuk Julliard kak, Celine udah terlambat kalau mau kejar kualifikasi nya mulai sekarang, jadi Celine harus ke Itali." ucap nya pada pria itu.


Gadis polos dan naif yang kini memiliki semangat penuh untuk cita-cita dan impian nya.


"Harus Julliard? Banyak kan tempat lain juga?" tanya pria itu menatap gadis di depan nya.


Deg!


Gadis itu memundur, walaupun sang kakak tak bermaksud seperti yang di pikiran nya namun gadis itu malah salah sangka.


"Kenapa? Karna Celine gak pintar yah kak? Karna Celine bodoh yah? Percuma mau belajar gimana pun gak akan masuk ke sana?" tanya nya lirih.


"Bukan! Kakak bukan bilang kamu itu bodoh! Maksud kakak kan banyak univ lain yang bisa kamu masukin gak cuma Julliard kalau kamu mau belajar seni musik," ucap nya pada gadis itu.


"Tapi yang Celine mau di Julliard kak, kalau Celine udah usaha semaksimal mungkin tapi tetap gak masuk Celine gak akan nyesel..."


"Beda kalau Celine buang kesempatan begitu aja kak?" sambung nya pada pria itu.


"Celine?" panggil pria itu sembari memegang kedua bahu gadis itu dan menatap nya dengan dalam.


"Kamu sayang kakak kan?" tanya Steve lagi menatap mata biru itu dengan lekat hingga membuat gadis nya tak bisa berpaling.


"Sayang..." jawab nya lirih.


"Kamu mau kan tinggal sama kakak? Kamu juga gak suka kan kalau kakak sama wanita lain?" tanya pria itu melanjutkan.


Celine mengangguk atas pertanyaan itu dan menatap iris yang melihat lekat pada nya.


"Kalau begitu kamu aja yang jadi wanita kakak," ucap nya pada gadis itu.


"Cara nya kak? Celine kan adik kakak?" tanya gadis itu lirih dengan mata biru nya yang polos.


"Kita nikah," sambung pria itu pada gadis di depan nya.


"Nikah? Tapi kata Papa kita gak boleh nikah kak, Celine itu adik kakak. Kakak adik gak boleh nikah..." jawab nya lagi menatap pria di depan nya.


"Kalau begitu yang biasa kita lakukan itu gimana? Itu boleh?" tanya nya lagi.


"Kan kakak karna sayang sama Celine..." jawab nya yang seperti ucapan dan alasan pria itu setiap kali meniduri nya.


"Kalau Papa yang begitu sama Celine, Celine mau?" tanya pria itu lagi.


Gadis itu langsung menggeleng kuat, "Celine kan mau nya sama kakak..."


Walaupun ia tak mengerti namun sifat naluriah nya lah yang memberi tau nya jika ia tak bisa melakukan hal yang begitu int*m dengan siapa saja yang ia sayangi ataupun menyayanginya.


Pria itu membuang napas nya lirih, "Kalau Celine gak mau nikah sama kakak karna merasa Celine itu adik nya kakak, Celine gak usah khawatir..." ucap Steve pada gadis itu.


"Tapi Papa bakal marah kak..." sambung nya lirih.


"Celine? Kamu tau gak? Batasan untuk hubungan 'adik kakak' itu udah kita lewati." ucap nya sembari menatap lekat gadis cantik itu yang tengah mengandung anak nya.


"Maksud nya kak?" tanya Celine yang benar-benar tak tau.


"Kita itu udah terlalu jauh kalau untuk jadi saudara Celine, dan sampai kapanpun kakak gak akan pernah anggap kamu itu saudari Kakak." ucap nya lagi.


Deg!


Gadis itu tersentak mendengar nya, selama sebelas tahun ia selalu beranggapan jika pria di depan nya adalah kakak untuk nya.


Bahkan untuk hal yang sering di lakukan pria itu pun di anggap lumrah dan memang biasa di lakukan oleh 'kakak adik' sungguhan oleh gadis itu.


Tak pernah ada yang memberi tau nya jika hubungan yang ia lakukan adalah yang salah jika untuk seseorang yang saling bersaudara.


"Ta..tapi Celine itu anggap kakak..." jawab nya terbata yang begitu terkejut karna mendengar sang kakak tak pernah menanggap nya sebagai saudari.


"Celine? Kamu itu bukan adik ku, tapi wanita ku..." ucap Steve yang menekankan kata di setiap ucapan nya.


"Gadis kecil kesayangan ku, gadis yang ku cintai..." ucap nya yang bahkan tak menggunakan kata 'Kakak' agar bisa lebih menekan pada gadis itu.


"Tapi kak, kata Papa..." ucap nya lirih.


Humph!


Gadis itu terdiam, bibir merah muda nya terpangut hingga membuat nya bungkam. Ia tak bisa mendorong tubuh tegap yang langsung memeluk nya tubuh ramping dan mungil nya dan pada akhir nya membiarkan pria itu menjelajahi setiap inci dari mulut nya.


Steve mulai melepaskan pangutan nya membiarkan gadis itu menghirup udara untuk sejenak.


"Kamu gak usah pikirin kalau Papa atau Mama bakalan marah sama kamu..." ucap nya sembari mengusap bagian bibir yang basah karna ulah nya.


"Kamu bakalan nikah sama kakak, apapun yang akan di bilang sama Mama Papa nanti kakak bakalan urus semua..." sambung nya sembari mengecup dahi gadis itu.


"Ta...tapi kak..."


"Sekolah Celine gimana? Masa Celine masih sekolah udah nikah kak? Nanti temen-temen Celine bilang apa?" tanya nya lirih.


Walaupun bukan kasus pertama kali namun tetap saja gadis yang masih remaja itu tidak enggan memiliki suami sedangkan ia sendiri masih berada di bangku sekolah.


"Kalau kamu mau kamu bisa pindah sekolah, atau sekolah di rumah..." jawab Steve karna tau perut gadis nya akan semakin membesar.


"Kalau begitu nikah nya tunggu Celine tamat aja bisa kak? Tunggu Celine pulang dari Itali atau masuk ke Julliard..." ucap nya pada sang kakak.


"Celine? Kakak gak izinin kamu ke Itali," ucap pria itu dengan penekanan lagi.

__ADS_1


"Kenapa kak?" tanya gadis itu yang masih tak mengerti karna belum di berikan penjelasan apapun.


Steve sendiri bingung bagaimana memberitahu nya agar gadis itu tak terkejut tiba-tiba sedang mengandung dan punya anak.


"Celine? Kalau nikah sama kakak kamu kan nanti bakalan hamil, ibu hamil itu gak boleh naik pesawat." ucap nya yang merespon dengan mengatakan kehamilan.


"Tapi Celine kan bilang nikah nya nanti aja kak," ucap gadis itu lagi.


"Kamu gak mau hamil memang nya?" tanya pria itu yang kembali memancing topik kehamilan.


Gadis itu menggeleng dengan sendiri nya, ia bahkan belum bisa mengurus dirinya dengan benar.


Tapi?


Hamil? Memiliki anak? Dan menjadi seorang ibu yang akan mengurus anak nya?


Ia tak pernah memikirkan sejauh itu, gadis yang bahkan belum siap mental untuk memiliki keturunan ataupun lebih dapat di katakan masih belum memiliki pemikiran dewasa sama sekali harus menjadi ibu?


"Celine kan mau nya main sama temen-temen kak, mau sama kakak juga..."


"Masa kakak suruh Celine buat hamil? Celine aja belum selesai sekolah nya, jangan sekolah Celine aja belum ke Itali buat konser kak, belum coba tes masuk Julliard..." ucap nya yang mengatakan masih banyak yang belum ia lakukan.


Memang jika sudah menikah atau memiliki anak pun ia masih bisa bersekolah namun tetap saja kesempatan jarang muncul dua kali.


"Jadi kamu gak mau hamil?" tanya pria itu lagi.


"Enggak kak, Celine mau ke Itali dulu, mau sekolah dulu sampai bisa masuk Julliard. Kalau hamil pasti nanti bakalan cuti bakalan berhenti dulu."


"Celine kan mau nya coba semua nya dulu, Iya kan kak? Biar bisa buat Mama banggain Celine, hihi..." jawab nya yang mulai tersenyum dan menatap sang kakak dengan wajah cerah yang tengah berharap dengan mimpi nya.


Pria itu diam, senyuman polos yang seakan tak mungkin bisa menerima kehadiran baru di tubuh nya secara tiba-tiba.


Tapi kamu sudah hamil...


Batin pria itu yang tak bisa mengeluarkan dari bibir nya dan membuat sinar penuh harapan di mata gadis nya pudar.


Ia tak bisa menyalahkan gadis itu karna membuang pil kontrasepsi nya, karna ia tau yang salah total adalah diri nya sendiri.


Meniduri gadis yang bahkan belum dewasa dan bahkan tak tau perbuatan apa yang di berikan pada nya secara berulang.


Sang ayah merupakan seseorang yang sangat tidak fleksibel dan tak mentolerin hal seperti itu.


"Celine mau pulang kak, waktu kan sangat berharga!" ucap nya yang mengatakan kata yang sering di ucapkan guru piano nya.


"Kamu juga gak akan Itali, kakak gak izinin kamu." ucap pria itu lagi.


Binar di mata gadis itu menurun dan menatap tak suka dengan apa yang di katakan sang kakak.


"Kakak jahat!" ucap nya yang menepis tangan yang masih di tubuh nya.


....................


Dua hari kemudian.


Wanita itu semakin risau, putri nya tak kunjung kembali dengan alasan tengah pergi bersama sang kakak.


"Mike? Apa sebaiknya kita suruh Steve bawa Celine aja yah? Celine gak pulang-pulang..." ucap nya lirih pada suami nya.


"Kan ada Steve, Celine gak akan kenapa-kenapa." ucap nya pada sang istri yang tak merasa curiga sama sekali.


"Tapi bukan nya mereka terlalu dekat yah? Kalau mereka punya hubungan yang lain bagaimana?" tanya nya lagi dengan khawatir.


"Kalau terjadi bagaimana? Kan bisa ada kemungkinan lain." ucap Freya yang masih saja khawatir.


"Mereka itu anak kita! Mana mungkin sampai punya hubungan yang lain? Tidak waras mereka memang nya?" ucap Mike lagi.


"Mereka kan tidak punya hubungan darah," gumam Freya lirih.


"Tapi tetap saja, kalau kita menikah berarti mereka itu jadi saudara!" ucap Mike yang mendengar suara lirih itu.


Walaupun ia suka dan menyayangi gadis itu namun bukan berarti ia mau menerima sebagai menantu nya.


Bagi nya sangat aneh jika gadis yang ia anggap seperti putri kandung nya menjadi menantu ataupun pasangan putra nya.


...


Setelah makan malam, putra sambung nya kembali ke kamar nya dan nanti akan kembali pergi karna alasan pekerjaan tanpa tau pria itu mulai berusaha tinggal sendiri.


Ketukan nya tak di jawab sama sekali, wanita itu pun mencoba membuka pintu kamar putra sambung nya.


"Steve? Mama mau bicara," ucap nya pada pria itu.


Terdengar suara guyuran air yang berada di sudut kamar. Freya pun membuang napas Anya ia ingin beranjak namun melihat amplop hasil pemeriksaan rumah sakit.


"Untuk Celine? Celine sakit?" gumam nya lirih yang merasa khawatir melihat nama putri nya ada di luar hasil pemeriksaan tersebut.


Ia pun segera membuka nya, mata nya yang biru itu segera membulat, tubuh nya hampir jatuh melihat hal tersebut.


"Ha..hamil?!" ucap nya yang terbata dan hampir kehilangan kata-kata.


Ia begitu terkejut, ia pun kembali melipat nya dan membawa nya keluar.


Jantung nya berdegup dengan kencang, pernyataan hasil pemeriksaan kandungan yang berada di tangan putra sambung nya dengan nama putri nya.


"Dengan siapa? Steve? Atau yang lain? Atau karena dia hamil dengan teman nya Steve jadi menyembunyikan nya?" gumam nya yang seakan linglung dan bingung tak bisa berbicara.


Sementara itu, pria tampan itu baru saja keluar setelah membersihkan diri nya, Steve sebelum nya baru saja membawa gadis itu menjalani pemeriksaan lanjutan karna khawatir akan kondisi nya saat tau gadis itu hamil di usia muda dan juga membawa 4 bayi sekaligus dalam perut nya.


"Bukan nya tadi hasil nya di sini?" gumam Steve yang menatap bingung mencari hasil pemeriksaan gadis nya.


...


Mata pria paruh baya yang sudah cukup berumur namun masih memiliki tubuh serta wajah yang tampan itu memerah.


Ia merasa marah begitu melihat hasil yang di berikan sang istri.


"Celine hamil..."


"Aku tidak tau itu anak siapa, aku menemui nya di meja Steve." sambung Freya lirih.


"Gimana bisa hamil? Anak itu saja tidak tau apa-apa! Yang dia lihat setiap hari cuma kartun kuning kotak itu saja!" ucap Mike yang merasa marah.


Freya diam sejenak tak bisa mengatakan apapun.


"Celine itu mudah di pengaruhi, apa dia di paksa teman nya? Makanya Steve sembunyikan dia?!" ucap Mike yang bingung.


"Minta Steve bawa Celine aja dulu, anak itu kalau di tanya sulit berbohong dia pasti bakalan bilang..." ucap Freya yang tak tau lagi harus apa.


Mike memejam, walaupun sang istri sudah mengatakan menemui surat tersebut di atas meja putra nya namun ia tak berpikiran jika putra nya yang mejadi dalang.

__ADS_1


"Tapi..."


"Kalau Celine hamil bukan nya itu akan menggangu nya? Dia masih muda, masih kecil juga..." ucap Freya lirih.


"Masa depan nya juga masih panjang..." sambung nya lagi yang tau gadis itu tak akan memiliki kesiapan dari segi apapun untuk menjadi seorang ibu.


......................


Keesokkan hari nya.


Karna Mike yang terus mendesak agar putra nya membawa gadis manis itu akhir nya Steve pun kembali membawa pulang walaupun alasan lain nya karna Celine yang sudah sering mengatakan ingin menemui ibu nya.


Ia tak berpikiran jika kedua orang tua nya sudah tau namun belum mengetahui dengan siapa gadis itu sampai hamil.


"Celine? Kamu bilang sama Mama kamu sama siapa melalukan nya?" tanya Freya yang langsung mengintrogasi gadis yang menatap bingung dengan senyuman polos itu.


"Melakukan apa Mah?" tanya nya yang benar-benar tak tau.


"Kamu punya pacar?" tanya Freya yang membuang napas nya melihat tatapan polos putri nya.


"Kata kakak Celine masih kecil, gak boleh pacaran..." jawab gadis itu.


Sedangkan sang ayah menunggu di luar karna takut putri nya tak mau mengaku jika melihat nya.


"Terus kamu sama siapa Celine?" tanya Freya lagi.


"Sama siapa apa Mah? Celine gak punya pacar, temen laki-laki aja gak punya. Eh? Celine juga gak punya temen perempuan hehe..." ucap nya tertawa padahal ia mengatakan hal yang cukup menyedihkan karna tak memiliki teman dekat.


"Ada sih Ma, sama Rachel tapi kakak jarang kasih keluar padahal Rachel baik loh Mah," sambung nya yang malah berceloteh pada sang ibu.


Freya terdiam, kalau tak punya pacar dan teman laki-laki maka siapa yang menghamili putri nya?


"Kamu bilang, cuma sama kakak aja kan?" tanya nya lagi.


Satu anggukan menjadi jawaban dari gadis itu.


"Kamu sama kakak kamu?" tanya nya yang mengira jika gadis itu pun tau jika diri nya hamil.


"Mamah nih tanya apa sih? Celine bingung?" ucap nya pada sang ibu.


"Kamu tidur sama kak Steve?" tanya Freya dengan jantung berdebar.


"Celine kan juga sering tidur sama Mama," jawab gadis itu yang malah berputar.


"Bukan, bukan tidur yang itu. Maksud Mama tidur yang lain." ucap Freya yang bingung pada putri yang sedang pura-pura polos atau memang tak tau.


"Kamu pernah ciuman sama kak Steve? Bukan di sini tapi di sini..." sambungnya saat melihat putri nya yang bingung dan menyentuh pipi lalu bibir nya.


Wajah gadis itu memerah dan tak menjawab nya, "Rahasia..." jawab nya lirih yang gak mengatakan nya sesuai yang di minta sang kakak.


Freya dapat menebak apa yang terjadi, "Sudah sejauh mana? Apa kalian sampai melakukan nya?" tanya nya lagi lirih.


"Sejauh apa Mah?" tanya Celine tak mengerti.


"Membuka pakaian atau melakukan hal itu! Mamah tanya sama kamu!" Freya yang mulai marah.


Wajah gadis itu memerah dan menunduk, "Kan rahasia, mamah tau dari mana?" ucap nya lirih dan bingung serta malu mendengar nya.


Deg!


Wanita itu hampir jatuh, ia sudah tau walaupun putri nya tak mengatakan dengan jelas, "Sejak kapan dan di mana?" tanya nya lirih.


"Rahasia tau Mah," ucap gadis itu dengan polos nya.


"Celine!" bentak Freya langsung dan membuat putrinya kaget.


"Ma...mamah kenapa? Mamah marah? Celine kan..." ucap nya lirih.


"Kapan pertama kali?" tanya nya lagi dengan tatapan mengintimidasi pada putri nya.


"Sekitar ti..tiga bulan yang lalu, kakak lagi hukum Celine karna Celine nakal..." ucap nya lirih.


Freya mengernyit, putri nya terlihat seperti tak tau apa yang sedang terjadi dan di alami diri nya sendiri.


"Kamu tau kamu itu ngapain? Kamu tau tidak kakak kamu itu sedang melakukan apa?" tanya nya lagi.


Ia lebih berharap jika putri nya yang polos di paksa karna dengan begitu rasa kecewa nya sedikit hilang.


"Kakak begitu karna Celine nakal, cuma sekali kok mah sakit nya..."


"Abis itu gak sakit lagi, tapi kalau kakak marah sakit lagi, tapi biasa kalau kakak lagi sayang Celine gak sakit..." sambung nya bermaksud membela sang kakak tanpa tau hati ibu nya kini terluka.


"Terus kamu terima aja?" tanya Freya lagi.


"Celine kan sayang kakak, Kakak juga begitu karna sayang celine." ucap lirih pada sang ibu.


Wanita itu tak tau mengapa namun air mata nya menetes mendengar putri nya, antara kasihan dan marah sekaligus.


Kasihan karna gadis itu bahkan seperti tak tau apa yang sudah di lakukan oleh pria yang yang panggil kakak dan marah karna melihat seperti nya putri nya juga menikmati hal yang sama.


"Sayang yang bagaimana?" tanya nya lagi.


"Mamah kenapa nangis Mah?" tanya nya mendekat pada sang ibu.


"Kamu jawab Mamah aja," ucap nya pada putri nya.


"Celine cinta kakak, kakak juga kok..." ucap nya pada sang ibu.


"Kalian saudara, kakak adik..." Freya yang mengatakan nya dengan bibir gemetar dan kecewa dengan ucapan putri nya.


Jujur saja ia juga merasa malu pada suami nya karna merasa putri nya seperti tak bisa ia duduk untuk memiliki hubungan dengan seseorang harus nya menjadi kakak nya.


"Tapi kak Steve bilang kalau dia cinta Cel-"


Plak!


Gadis itu tersentak, ia membeku dengan rasa panas dan perih di pipi nya.


"Ma..mamah..." ucap nya lirih.


"Padahal masa depan kamu masih panjang, Julliard? Kamu yakin bisa ke sana? Dengan kondisi mu?" tanya Freya sembari terus menatap mata putri nya yang ingin menangis karna tamparan nya yang tiba-tiba.


"Mamah kecewa sama kamu Celine..." ucap nya lirih yang juga ikut meneteskan air mata nya sama seperti gadis yang membeku tersebut.


Ia benar-benar merasa sudah gagal menjadi ibu, sudah hamil saat tengah memiliki kesempatan besar untuk meraih impian.


Dan lebih parah nya hamil dengan kakak tiri nya? Diantara semua pria lain nya yang berserakan di dunia?


Walaupun bukanlah saudara kandung tak memiliki hubungan darah namun jujur saja ia menganggap hal tersebut sebagai hal yang terlarang dan mungkin memandang menjijikkan.

__ADS_1


__ADS_2