
Deg!
Ainsley tersentak saat mendengar suara putra nya yang bertanya mengapa ia hanya diam saja.
Iris nya pun kembali teralihkan dan menatap ke bawah ke arah putra nya, "Axel dari mana? Kenapa bisa di sini? Tadi katanya mau main?"
"Kan sama Paman Mom! Paman nya juga baik kok!" elak nya membela diri di depan sang ibu.
"Tadi kan Axel bilang sama temen? Kenapa bohong?" tanya Ainsley lagi.
"Kan paman Sean temen Axel juga Mom," jawab nya lagi.
"Tapi kan beda sama teman yang kayak Axel bilang tadi," ucap Ainsley yang mengernyit menatap putra nya.
Ia tak tau mengapa mereka bisa bertemu satu sama lain namun yang jelas nya saat ini putra nya bertemu dengan pria itu.
"Ainsley?"
Suara bariton yang lama tak terdengar oleh nya kini terdengar dengan jelas, iris nya langsung menoleh ke arah pria itu menatap ke arah sumber suara.
Bibir nya masih bungkam, ia tak bisa mengatakan apapun dan lebih tepat nya suara nya terasa seperti habis dan tak tau bagaimana cara mengeluarkan nya.
"Aku bertemu tidak sengaja dengan nya, jangan di marahi." ucap pria itu membuka percakapan.
Tak ada jawaban ataupun balasan, hanya iris yang menatap ke depan dengan lekat pada pria itu.
"Kau tidak mau bicara pada ku?" tanya Sean saat melihat wanita itu hanya diam memandang nya.
Ainsley tersentak, ia pun kembali menatap pria itu dan menarik napas nya serta mengumpulkan suara nya yang tertahan sejak tadi.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya..." ucap nya tertahan pada pria di depan nya.
Sean diam mendengarkan apa yang di katakan oleh wanita itu, "Bagaimana kabar mu?" tanya pria itu dengan senyuman tipis.
Ia sangat ingin bertemu sebelum nya, namun ketika wanita itu berhadapan dengan nya ia malah tak bisa mengatakan apapun.
"Kau sudah menikah?" tanya wanita itu tanpa sadar dan tidak menjawab pertanyaan pria itu malah sebalik nya ia mengatakan apa yang ada di pikiran nya.
"Ha? Apa?" tanya pria itu mengulang karna tak tau jika wanita di depan nya akan melayangkan kalimat seperti itu.
"Eh? Bu-bukan! Aku cuma..." tanya Ainsley yang baru menyadari pertanyaan konyol nya, ia pun langsung mengalihkan mata nya ke arah lain.
"Belum, aku belum menikah." jawab pria itu dengan segera.
Iris hijau itu kembali memandang ke arah pria di depan nya, "Kenapa?"
"Entahlah, menurut mu kenapa?" tanya pria itu sembari menatap wajah di depan nya.
Ainsley terdiam, ia bingung harus menjawab apa ketika pertanyaan yang ia tanyakan di balikkan.
"Bukan nya kau dulu bertunangan?" tanya Ainsley lagi.
"Kalau bertunangan harus menikah?" tanya pria itu yang kembali berbalik.
"Lama tidak bertemu dengan mu," ucap nya lirih sembari sesekali melirik lalu membuang pandangan nya.
"Kenapa? Rindu dengan ku?" tanya pria itu dengan senyum tipis di tengah situasi canggung saat ini.
"Iya," jawab nya tanpa sadar, "Eh? Bukan! Maksud ku, aku cuma lama tidak lihat saja!" jawab nya segera.
Sean tersenyum melihat nya, kali ini bukan senyuman canggung yang tadi ia perlihatkan. Melihat wajah panik dan gelisah wanita itu membuat nya merasa seperti ada sesuatu yang meleleh di hati nya.
Sedangkan Axel terus menatap berulang dari wajah ibu nya ke wajah paman baik yang datang pada nya.
"Mommy sama Paman kenal?" tanya nya dengan mata penuh penasaran dan wajah yang polos.
"Iya, tapi jangan kasih tau Daddy yah?" bisik wanita itu yang menyamai tinggi putra nya.
Axel mengangguk mendengar nya, "Mommy gak malah kan? Mommy baik kan?" tanya nya pada pria itu yang beralih menatap dengan mata nya.
Sean tersenyum mendengar nya, "Iya, Mommy Axel baik sekali."
__ADS_1
"Axel? Mau beli itu tidak?" tanya nya sembari menunjuk balon yang menggantung walaupun tadi nya sudah di beli.
"Tadi kan uda," jawab Axel langsung.
"Ini beli semua nya, kan beda lagi balon nya?" jawab Sean pada anak menggemaskan itu.
"Semua? Mau! Sama yang itu juga!" ucap nya sembari menunjuk salah satu tempat lain nya.
"Axel!" panggil Ainsley saat putra nya yang bersikap tidak terlalu waspada pada orang lain.
Axel berangsur lesu menatap sang ibu yang menegur nya.
"Boleh? Axel mau?" tanya Sean saat melihat raut wajah yang berangsur cemberut.
Axel mengangguk semangat mendengar nya, pria itu pun mengeluarkan uang nya dari saku nya dan hendak memberikan pada anak lelaki itu.
"Axel? Pakai uang Mommy aja," ucap Ainsley yang langsung mengeluarkan uang nya dan memberikan pada putra nya sebelum putra nya mengambil uang dari pria itu.
Axel pun yang tidak peduli dengan uang siapa langsung mengambil nya dan beranjak ke arah penjual.
Sean hanya tersenyum saat wanita itu tak ingin ia memberikan uang nya.
Melihat Axel yang mulai menjauh pria itu menatap wajah di samping nya.
"Aku mau tanya, mungkin ini pertanyaan yang sama tapi kau dulu juga tidak jawab." ucap nya saat putra wanita itu sudah menjauh.
"Makanya kau suruh Axel pergi?" tanya Ainsley mengernyit.
Pria itu diam atas pertanyaan yang sudah memiliki jawaban pasti itu.
"Kau dulu pernah hamil kan? Dulu itu anak siapa?" tanya pria itu yang selama ini sangat mengganggu pikiran nya dalam beberapa waktu terakhir.
Ketika ia bersama dengan anak dari mantan kekasih nya itu, ia selalu teringat dengan janin yang pernah di kandung wanita itu sebelum nya.
Deg!
Ainsley tersentak, ia bahkan hampir lupa dengan anak nya yang sudah tiada bahkan sebelum lahir dan melihat wajah nya.
"Misal nya, jika seandainya itu anak ku apa dia juga akan sama seperti nya? Mungkin sudah lebih besar kan?" tanya pria itu sembari memandang wajah tersenyum anak lelaki yang senang karna membeli balon.
Ainsley terdiam mendengar nya, ia juga tidak tau dan bingung dulu itu adalah benih siapa yang tinggal pada nya karna waktu yang cukup berdekatan.
"Aku tidak tau..." jawab nya lirih.
"Berapa usia kandungan mu dulu?" tanya pria itu mengernyit.
"Entahlah, tiga Minggu?" jawab nya sembari mengingat kejadian yang sudah cukup lama itu.
"Waktu nya hampir mirip dengan kencan terakhir kita?" gumam Sean sembari mengingat terakhir kali mereka berhubungan sebelum wanita itu kecelakaan.
"Jangan bicara hal yang sudah lewat Sean!" ucap nya yang tak ingin mengingat kandungan nya karna kembali merasa bersalah dan ia yang sedang menghindari perasaan itu.
"Aku hanya terus memikirkan nya tanpa sadar, Maaf kalau melukai mu." ucap pria itu tertawa getir saat wanita yang ada di samping nya tak ingin membicarakan hal yang terus menganggu nya belakangan ini.
"Mommy!"
Panggilan yang membuat kedua nya bungkam. tak mengatakan pembicaraan apapun lagi.
Axel yang kini kembali dengan balon dan mainan yang ia inginkan membuat senyuman terukir jelas di wajah nya.
"Aku kembali lebih dulu," ucap nya sembari menarik putra nya.
Langkah nya berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban pria itu namun terhenti.
"Sean, aku harap kau bisa bahagia. Apapun itu aku benar-benar berharap seperti itu untuk mu." ucap nya sebelum melanjutkan langkah nya.
Pria itu hanya tersenyum mendengar nya.
Tapi aku bahagia nya bersama mu...
Batin nya yang tak mungkin ia ucapkan dari bibir nya.
__ADS_1
"Aku juga berharap hal yang sama untuk mu," ucap nya sembari membalas harapan wanita itu.
......................
Crack!
Suara retak saat gelas yang berada di tangan gemetar karna genggaman nya.
"Dia bertemu dengan pria?" gumam nya dengan tatapan emosi.
Ia mendapat kabar jika istrinya bertemu seorang pria namun ia tak tau siapa itu, baginya siapapun tak boleh mendekati wanita nya.
Maka dari itu ia tak lagi meminta foto penjaga yang ia beri untuk mengikuti istrinya kemanapun pergi saat tak dengan nya.
...
Tatapan tajam dan hawa mencekam terlihat jelas di wajah pria tampan itu.
Walau mulai berumur namun tak menurunkan ketampanan nya sama sekali.
"Ada apa?" tanya Ainsley saat merasakan hawa suami nya yang berbeda.
Duk!
Wanita itu tersentak, ia yang tengah mengganti pakaian nya dengan piyama tidur tiba-tiba di cengkram erat dan di sudutkan di dinding.
"Bagaimana tadi? Pertemuan mu?" tanya pria itu sembari mencengkram erat kedua sisi bahu istrinya.
"Sa-sakit..." ucap nya lirih.
"Kenapa tidak jawab?! Hm?" tanya Richard lagi mengulang.
"Hanya pertemuan orang tua biasa," jawab Ainsley lirih sembari meringis menahan sakit.
"Oh ya? Bukan nya untuk bertemu pria?" tuduh Richard lagi.
Ia tak tau jika istrinya bertemu dengan mantan kekasih nya, yang ia tau istrinya hanya bertemu dengan seorang pria dan terlihat akrab.
Itulah yang membuat nya marah, baginya wanita itu hanya boleh berbicara dan akrab dengan nya saja tak boleh dengan pria mana pun.
Deg!
Ainsley tersentak mendengar nya, ia tak menyangka suami nya akan tau, ia takut jika pria tau ia bertemu dengan mantan kekasih nya.
"Iya! Aku bertemu dengan pria! Tapi aku gak buat apa-apa..." ucap nya yang menjawab dan berusaha untuk jujur walaupun ia tak tau apa yang di maksud suami nya.
"Kau bisa percaya pada ku? Ku mohon..." ucap nya lagi sembari meringis menahan sakit di bahu nya karna cengkraman pria itu semakin erat.
"Say you love me," ucap pria itu singkat.
"I love you," jawab Ainsley segera.
Richard melepaskan perlahan tangan nya, Ainsley pun bernapas lega saat pria itu melepaskan tangan nya.
Greb!
Belum sempat itu bernapas ia tangan nya sudah kembali di tarik oleh pria itu dengan kasar.
Bruk!
Tubuh nya yang kecil itu pun langsung di layangkan dan di lempar ke ranjang.
"Kalau begitu buktikan," ucap Richard sembari menindih dan melingkarkan tangan nya leher wanita itu.
"Please! Trust me!" jawab Ainsley lirih.
Pria itu tak menjawab namun mengeratkan tangan nya.
"I love you, and I'm yours..." ucap Ainsley lirih dengan wajah memerah serta mata yang mulai berair saat ia tak bisa bernapas.
Humph!
__ADS_1
Tak ada jawaban, namun pria itu tiba-tiba mel*mat bibir nya dengan kasar.