Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
One night stand with a stranger


__ADS_3

Calesta melihat pria di depan nya, pergelangan tangan nya tak lagi di cekal namun kini pria itu malah menggenggam jemari nya.


Ia tak tau bagaimana jadi nya bisa seperti ini, duduk di cafe dengan dengan pria asing yang menatap nya dengan air mata dan tak mengatakan apapun.


"Sekarang aku bisa pergi?" tanya nya lirih dan pelan-pelan.


Pria itu tetap diam, sebelum nya ia mendengar gadis itu haus dan membawa nya ke cafe dengan menarik tangan nya lalu membelikan minum namun tak bicara sepatah kata pun.


Dia Ainsley kan? Tapi kenapa seperti tak mengenal ku?


"Kalau tidak ada yang mau di katakan lepaskan tangan ku, atau aku teriak saja?" tanya Calesta sembari berusaha menepis tangan nya.


"Jangan pergi..." ucap Sean tetap menatap gadis itu tak berkedip.


"Okey, aku tidak pergi tapi lepaskan tangan mu." ucap Calesta menawar.


"Kau tak akan kabur kan?" tanya Sean memastikan.


"Tidak! Aku janji!!" jawab gadis itu cepat.


Sean melepaskan perlahan, ia menatap wajah gadis itu lagi dengan lekat.


"Padahal tampan, tapi apa dia pasien rawat yang lepas?" gumam nya lirih sembari membuang wajah nya.


Sean tersenyum namun ia tetap tak dapat mengerti kenapa gadis di depan nya tak mengenal nya dan bersikap seperti orang asing.


"Memang nya aku seperti orang tidak waras?" tanya pria itu.


Calesta menatap ke arah pria yang bahkan tak ia tau nama nya.


Apa dia memang lupa? Atau pura-pura? Atau hanya sekedar orang yang mirip?


Batin Sean yang merasa bingung namun tak dapat bertanya langsung.


"Kenapa kau seperti itu?" tanya Calesta sembari menatap wajah pria di depan nya.


Sean diam, ia masih merasa bingung dengan sikap gadis di depan nya, "Karna kau cantik? Atau mungkin karna kau mirip seseorang?"


"Jadi yang benar yang mana?" tanya Calesta lagi.


"Mungkin yang pertama?" jawab Sean tersenyum, "Kau mau tambah cake nya lagi? Sebentar aku pesankan, jangan kabur kemanapun." ucap nya beranjak dari duduk nya.


Calesta terdiam, ia kehabisan kata-kata untuk pria yang bersikap aneh pada nya namun ia juga tak begitu merasa takut.


"Wah! Ini kan kesukaan ku semua!" ucap nya berbinar menatap kue-kue yang sudah di pesan pria yang bagi nya asing.


"Benarkah?" tanya Sean tersenyum, ia bingung maka dari ia tak menyebut nama Ainsley ataupun menanyakan nama gadis di depan nya.


Satu-satu nya yang ingin ia lakukan sekarang adalah menyikap rambut gadis itu ke belakang dan melihat tahi lalat di balik telinga kanan gadis itu.


Memang ia bisa tau dari bentuk tubuh ataupun melihat yang berada di balik pakaian gadis itu namun ia tak mungkin tiba-tiba menelanjangi seseorang untuk memastikan apa yang ada di pikiran nya.


"Kau kesulitan?" tanya Sean yang melihat gadis itu berusaha menyingkirkan rambut panjang nya saat akan makan.


Calesta melirik sekilas sembari memasukkan cake yang di penuhi cream itu ke mulut nya, "Tidak apa-apa."


Sean pun beranjak ia merasa ini kesempatan nya untuk melihat ke balik telinga gadis itu, ia berdiri ke belakang Calesta yang tengah duduk memakan cake nya lalu memegang sepertI mengikat di rambut gadis itu.


Deg!


Dia benar-benar Ainsley!


"Kan ku bilang tidak apa-apa..." jawab Calesta lirih dengan gugup saat pria itu menyisir rambut nya dengan jemari lalu memegang nya.


"Ti-tidak apa-apa kau makan saja," ucap Sean yang terbata saat ia tak fokus karna mata nya tetap tertuju pada satu titik di balik daun telinga gadis itu.


"Kau mau jalan-jalan dengan ku? Atau mau ke istana Alhambra?" tanya Sean lirih sembari terus memegang rambut gadis itu.


Calesta berhenti makan dan menoleh ke wajah pria yang berdiri di belakang nya sembari terus memegang rambut nya.


"Kau tidak berniat menculik ku, kan?" tanya Calesta dengan mata curiga.


"Astaga! Tidak lah! Walaupun sebenarnya ingin," jawab Sean segera.


"Tuh! Kan!" jawab Calesta cepat.


"Aku mau bersama mu," Sean yang mengatakan nya sembari menatap wajah gadis itu.


"Ck, tapi karna kau tampan jadi ku biarkan!" ucap gadis itu yang kembali menatap cake nya lagi.


"Aku tampan? Kau suka wajah ku?" tanya Sean mendekat ke telinga gadis itu.


"Bukan nya orang-orang memang suka memihak pada yang punya wajah bagus yah?" jawab Calesta segera tak mau kalah.


Sean tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu.


....


Istana Alhambra.

__ADS_1


Calesta melihat takjub ke arah bangunan yang juga di sebut sebagai istana merah tersebut, istana yang tampak megah dan terlihat mewah tersebut.


"Kau suka kan? Kau mau mengunjungi istana Templar lagi?" tanya Sean saat melihat ke arah gadis itu yang tak bisa mengalihkan pandangan nya.


"Kalau ke sana bukan nya akan memakan waktu yah? Sekarang saja sudah mau malam," jawab Calesta yang sebenarnya juga ingin mengunjungi tempat-tempat yang bagaikan negeri dongeng di negara tersebut.


"Kalau kau mau kita bisa ke sana," jawab Sean sembari menatap gadis itu dan melihat lagi ke arah istana yang menampilkan arsitektur yang menakjubkan tersebut.


Calesta hanya tersenyum ia menatap ke arah sekeliling istana sembari terus melangkahkan kaki nya ke setiap menelusuri tempat yang luas dan megah tersebut.


"Katanya ini jejak peninggalan muslim di Spanyol," ucap Sean sembari menatap ke arah gadis itu.


"Mereka membangun istana? Mereka pernah punya pemerintahan disini?" tanya Calesta yang memang tak mengerti tentang sejarah istana tersebut.


"Hm, di dirikan pada tahun 1232 Masehi." jawab Sean menatap gadis itu.


Calesta menyipitkan mata nya ia menatap tak percaya, "Kau bohong kan?" tanya nya dengan tuduhan sembari memberikan senyuman.


"Tidak, aku kan tau dari ini!" ucap nya sembari menunjukkan buku kecil yang berisikan sejarah tentang istana megah tersebut.


"Kapan beli nya? Mau lihat juga!" ucap Calesta yang langsung meraih buku kecil tersebut.


"Kau warga negara asli? Kenapa tidak tau?" tanya Sean yang mencoba memancing, karna sejauh ini gadis itu benar-benar memperlakukan nya seperti orang asing.


"Tentu saja," jawab Calesta cepat sembari membaca buku di depan nya.


Ia lupa dengan identitas Ainsley dan menganggap dirinya sebagai Calesta Quete gadis berkebangsaan Spanyol yang memiliki ibu tunggal keturunan bangsawan yang sangat menyayangi nya.


"Kalau begitu siapa nama mu?" tanya Sean lagi.


Kali ini Calesta berhenti membaca buku nya, dan menatap ke arah pria itu.


"Kalau aku tak mau beri tau?" jawab gadis itu dengan candaan, karna ia memang tak berniat mengenal lebih jauh dan hanya ingin memiliki teman bermain satu hari.


Sean tak membalas ia hanya memperhatikan wajah cantik itu dan menarik senyuman nya.


Menceritakan lelucon, mencoba makanan dan minuman enak, serta menghabiskan waktu tanpa merasa ragu.


Malam sudah tiba, masih ada beberapa pengunjung yang datang, namun gadis itu sudah terlihat lelah, ia masih tak memberi tau nama nya ataupun bertanya nama pria yang bersama nya saat ini.


"Kau mau istirahat?" tanya Sean sembari menatap ke arah gadis itu.


"Di jam 11 malam? Apa ini ajakan?" tanya Calesta sembari menoleh ke arah pria yang sedang memegang stir mobil nya.


"Mungkin, kalau kau mau?" jawab Sean dengan smirk nya.


Ia tak memikirkan kata ajakan hingga ke 'sana' namun memang ucapan nya bisa saja memiliki arti lain walaupun ia tak bermaksud.


...


Entah siapa yang memulai dan namun kini kedua bibir itu bertaut menjadi satu, memutar dan mel*mat dengan habis tanpa sisa.


Pria itu menyingkap pakaian yang di pakai gadis itu hingga tangan nya menyentuh kulit halus dari punggung dan perut rata gadis itu.


Ciuman nya turun ke leher dan terus mendorong tubuh gadis itu hingga menyentuh meja yang berada di kamar presiden suite tersebut.


Duk!


Sean menaikkan gadis itu ke atas meja dan melepaskan lum*tan sejenak memberikan ruang agar dapat bernapas.


Ia melihat wajah gadis di depan nya, pandangan yang saling mengunci satu sama lain sejenak sebelum menarik pakaian gadis itu hingga memperlihatkan dua bagian daging yang masih di tutupi pembungkus nya.


Mata nya mengernyit, ia melihat beberapa bekas luka di tubuh gadis itu walau sudah memudar namun ia tau itu bukanlah bekas hukuman nya dulu.


"Kenapa? Tubuh ku jelek?" tanya Calesta saat pria itu memandang luka yang terlihat memanjang dari punggung hingga ke perut gadis itu.


Sean menggeleng, "Kenapa kau bisa terluka sebanyak ini?" tanya nya lirih sembari menyentuh luka tersebut.


Clarinda memang melakukan operasi kulit pada gadis itu namun tak semua nya hilang dan masih ada yang beberapa luka yang dalam pemulihan untuk membuat nya menjadi seperti semula.


"Sakit?" tanya Sean sembari tangan nya dengan lembut menelusuri luka tersebut.


Calesta menggeleng, "Sudah tidak."


Cup!


Satu kecupan melayang di dahi gadis itu dengan dalam, Calesta diam. Ia tak mengenal pria di depan nya namun ia juga tak tau kenapa ia merasa aman dan tak menolak apa yang di lakukan pria itu atau apa yang akan di lakukan nya.


"Kau mau melanjutkan nya?" tanya Sean lagi setelah mencium dahi gadis itu.


Calesta diam namun mata nya masih mengunci pandangan pada iris yang menatap nya lekat, ia pun memberikan anggukan perlahan.


"Ta-tapi jangan kasar..." ucap nya lirih pada pria di depan nya.


"Kau bicara seperti belum pernah melakukan nya," ucap Sean yang ingin memberi pancingan sedikit lagi tentang ingatan gadis itu.


"Aku..." jawab Calesta bingung, ia sendiri tak ingat apapun dan baru terbangun satu tahun yang lalu setelah tak sadar selama dua tahun.


"Kau belum pernah?" tanya Sean lagi yang mendesak gadis itu.

__ADS_1


"Mungkin sudah?" jawab Calesta dengan pertanyaan lain.


"Mungkin?" Sean menatap bingung namun saat melihat wajah bingung gadis itu ia berhenti bertanya dan mel*mat sejenak bibir yang mengenakan lipstik merah tersebut, "Aku akan lembut."


Calesta memejamkan mata nya, pria itu mencium bibir nya dengan lembut sembari mulai mengusap perut nya perlahan lalu mengusap gumpalan daging lembut itu dengan perlahan.


Ciuman nya turun ke leher jenjang gadis itu dan menghisap nya dengan lembut sedangkan tangan nya perlahan mulai beranjak ke belakang membuka kaitan bra yang masih merekat dengan erat.


Sean melepaskan ciuman nya sekaligus melepaskan bra gadis itu, ia menidurkan gadis itu ke atas meja dan mengangkat satu kaki gadis itu ke pundak nya lalu mel*mat dan melahap puncak d*da gadis itu lalu menggelitik dengan lidah nya.


Sshh...


Bekas kemerahan yang terlihat di jelas serta tangan yang semakin menyingkap rok dan mengusap sesuatu yang terasa lembab tersebut sebelum memasuki nya.


Calesta membuka mata nya sejenak sebelum menutup nya lagi saat ia merasa sesuatu memasuki nya.


Tubuh nya bergetar, ciuman serta sapuan lidah yang membuat nya seakan terkena sengatan listrik aneh mulai menjalar hingga mencapai satu titik dan melepaskan sesuatu.


Ungh!


Ia menggigit bibir nya guna menekan suara yang ia keluarkan, "Yang tadi itu apa?" tanya gadis itu dengan mata polos nya sembari menatap Sean yang melepaskan jari nya sekaligus sapuan hangat ciuman nya.


Ia melihat raut wajah yang sama seperti saat dulu ia pertama kali membuat gadis mendapatkan pelepasan tanpa melakukan hal itu.


"Bukan nya yang terpenting kau suka?" tanya nya tersenyum sembari membuka sisa pakaian yang melekat di tubuh gadis itu walau sebenarnya pakaian yang ada pun tak akan menghalangi dirinya untuk masuk.


Setelah membuat tubuh itu menjadi polos ia pun menggendong dan membawa nya ke ranjang, ia tak ingin pinggang gadis itu sakit jika melakukan nya di meja.


Ia pun membuka seluruh pakaian nya dan menindih gadis itu kembali.


"Kau juga punya bekas luka? Tapi juga seperti sudah hampir menghilang..." ucap Calesta lirih saat ia melihat guratan memanjang di tubuh bidang yang di penuhi otot tersebut.


"Sama seperti mu kan? Atau kau tidak suka?" tanya Sean menatap gadis itu sembari merasakan ujung jemari yang menyentuh bekas luka kecelakaan nya.


Luka yang sama-sama di timbulkan di hari sama dan dengan kecelakaan fatal yang hampir merenggut nyawa kedua nya.


"Aku suka? Tapi..." ucap nya menggantung saat ia merasakan sesuatu yang mengganjal di perut nya.


Sean tersenyum, ia melihat gadis itu memalingkan wajah nya yang memerah seperti tomat ke arah lain.


Ia pun kembali mencium dan menghisap tubuh gadis itu, hingga membuat Calesta kembali memejamkan mata nya.


Merasakan sesuatu yang hangat menyapu tubuh nya hingga,


Ungh!


Ia memekik sejenak, tubuh yang tak pernah lagi merasakan hal dewasa itu harus kembali menyesuaikan sesuatu yang memasuki nya kembali.


Gerakan yang mulai perlahan agar tak membuat tubuh gadis itu terkejut sembari mencium ke arah leher dan puncak dari gumpalan daging lembut itu sesekali.


Suara erangan dan lenguhan mulai terdengar menyatu, tempo yang mulai naik, sprei yang semakin basah dan berserakan serta hawa panas yang memenuhi kedua tubuh tubuh yang sedang beradu tersebut hingga AC pun tak mampu mendinginkan nya.


3 Jam kemudian.


Gadis itu tertidur setelah kelelahan dengan hari nya, Sean menatap gadis di sebelah nya yang terlihat lelap.


Cukup lama ia memandang dan kemudian turun serta beranjak ke tas gadis itu, membuka dompet nya dan melihat kartu identitas nya.


"Calesta Quete? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana dengan anak yang kau kandung?" gumam nya lirih sembari memandang wajah gadis itu setelah melihat kartu identitas gadis itu.


....


Pagi yang mulai datang menerjap memberikan cahaya yang langsung masuk ke dinding kaca hotel yang besar tersebut.


Calesta terbangun, seluruh tubuh dan pinggang nya terasa sakit sekaligus pegal setelah malam membakar nya dengan pria yang ia bahkan tak tau nama nya.


Pria itu tak ada di samping nya namun ia mendengar suara guyuran air dari balik kamar mandi.


Ia pun beranjak bangun dan mengambil pakaian nya yang berserakan, "Aku harus pergi sebelum dia keluar." ucap nya sembari memakai pakaian nya dengan buru-buru.


Sean keluar dengan masih mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya.


"Kau tak mandi dulu?" tanya Sean saat melihat gadis itu memakai pakaian.


"Astaga!" pekik Calesta terkejut. saat memakai pakaian nya.


"Kau baik-baik saja?" ucap Sean langsung mendekat saat melihat gadis itu hampir terjatuh.


"Aku baik-baik saja," jawab Calesta cepat, "Oh ya, anggap saja ini pertemuan kita yang terakhir. Jadi jangan bertemu lagi, terimakasih untuk malam nya." ucap nya sembari mengambil tas nya.


Sean mengernyit dan langsung mencegah tangan gadis itu, "Maksud mu?"


"One night stand with a stranger?" jawab gadis itu sembari melepaskan tangan nya.


"Sayang nya aku tak menganggap seperti itu, Ainsley." ucap Sean menatap gadis itu.


Deg!


Calesta terperanjat saat mendengar nama nya yang ia lupakan.

__ADS_1


Dia mengenal Ainsley?!


Aku harus kabur!


__ADS_2