
Mansion Zinchanko
Richard mengepal dengan erat, rasa nya ia begitu kesal dan sangat ingin melemparkan semua barang-barang di dekat nya.
Cindy yang merupakan asisten untuk Ainsley adalah salah satu dari bawahan nya juga.
Maka dari itu sesuai dengan permintaan nya wanita itu mengirimkan foto atau video tentang apa yang di lakukan istrinya dan bahkan dengan siapa ia berbicara.
Sementara itu Ainsley yang baru saja kembali pun berjalan masuk ke kamar nya, ia tak melihat suaminya namun ia teringat dengan make up yang berada di wajah nya.
"Astaga! Lupa ku hapus!" gumam nya yang langsung bergerak ke depan meja rias nya.
"Sedang apa?"
Ainsley tersentak dan menjatuhkan make up remover nya saat mendengar suara sang suami.
"Itu, aku sed-"
Ukh!
Wanita itu tersentak saat tangan pria tampan itu langsung mencengkram rahang nya dan menatap ke arah wajah nya.
"Kau memakai make up untuk siapa? Hm?" tanya pria itu dengan mata tajam.
"Aku kan sudah bilang kalau aku harus pergi ke pertemuan dewan, jadi tidak mungkin kan kalau aku memakai riasan informal?" jawab Ainsley yang merasa tercekik dengan tangan kekar pria itu dan berusaha melepaskan nya.
"Tapi kau tetap saja membantah kan? Atau mungkin karna tau kau akan bertemu dengan nya? Oh kau bilang ada yang ingin kau rekrut jadi juri juga? Kau juga mau menggoda nya?" tuduh pria itu.
Ainsley merasa kesal mendengar tuduhan tak mendasar dari pria di depan nya, ia memang masih menyukai mantan kekasih nya namun ia juga sadar diri untuk tidak mengejar atau kembali menjalin hubungan dengan pria itu karna kini status nya juga sudah ikut berubah.
Ia menepis dengan kasar dan sekuat tenaga lalu memundur ke belakang menjauhi pria tampan itu.
"Kau ini kenapa sih? Kenapa selalu curiga sama aku?!" tanya Ainsley dengan meninggikan suara nya.
"Aku?! Salah nya di aku?! Kalau kau mau patuh, apa aku akan marah seperti ini?!" bentak Richard langsung dan mendekat ke arah wanita itu.
"Aku mau patuh yang bagaimana?! Lagi pula kau tau dari mana? Kalau bicara saja sudah selingkuh berarti paman sendiri sudah selingkuh sama berapa wanita?!" tanya Ainsley yang berbalik ikut marah karna tak ingin hanya ia yang di salahkan.
"Sekarang kau juga sudah pandai melawan?!" tanya Richard saat mendengar ucapan wanita itu.
"Melawan?! Aku memang nya ngapain?! Aku selingkuh? Aku memang bertemu dengan Sean tapi cuma menyapa! Lagi pula dia juga mau menikah! Dan pria yang bicara pada ku juga cuma pembicaraan bisnis!" terang wanita itu.
Richard mendekat dengan cepat lalu menarik rambut panjang wanita itu hingga membuat Ainsley menengandah.
Ukh!
Ia meringis saat rambut nya tertarik ke belakang iris nya tak menunduk sama sekali dengan tatapan tajam pria itu, ia merasa tak bersalah karna ia juga sudah menekan perasaan nya sedalam mungkin.
__ADS_1
"Kalau kau mencintai ku, aku juga tidak akan seperti ini!" bentak pria membuat Ainsley memejam mendengar suara menggelegar serta tarikan rambut yang membuat kepala nya berdenyut.
Tes...
Wajah yang memandang nya dengan lurus itu tanpa sadar menjatuhkan air mata nya.
Mata Richard membulat, ia mengernyit dan tak mengerti mengapa wanita itu menangis.
"Kau pikir aku akan melepaskan mu? Hanya karna kau menangis?!" tanya nya yang semakin kuat menarik rambut wanita itu.
"Aku kan juga sudah berusaha, kenapa paman tidak pernah percaya aku?" tanya Ainsley lirih.
Ada banyak alasan kenapa ia tiba-tiba menjatuhkan air mata nya namun hal yang baru ia katakan juga menjadi salah satu alasan nya.
Richard diam sejenak ia perlahan melepaskan rambut panjang itu dari tarikan, beberapa helai ikut terlepas di sela-sela jari nya karna ia menjambak terlalu kuat.
"Kau kan hanya milik ku! Kau harus ingat itu!" ucap nya lagi dengan nada mengancam pada wanita berparas cantik itu.
Ainsley menunduk, memang banyak alasan ia menangis namun saat ia terus menerus di curigai walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengalihkan perasaan nya dan melupakan cinta lama nya.
Richard diam sejenak melihat tubuh wanita itu yang gemetar karna tangis nya, ia melihat tangan nya dengan beberapa helai rambut yang tertinggal dan mengibas nya.
Tangan nya kembali menyentuh kepala Ainsley hingga membuat wanita itu tersentak, "Sstt..."
Ia perlahan memasukkan tubuh kecil itu ke dalam pelukan nya dan mengusap lembut rambut yang tadi nya ia jambak dengan kuat.
Richard mengusap punggung putih itu dengan sabun lembut dan air yang memenuhi tubuh mereka di dalam bathup.
"Aku mudah cemburu jadi jangan memancing ku," ucap pria itu lirih sembari memeluk tubuh kecil dan melingkarkan tangan nya di perut rata istrinya.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Ainsley yang bingung memikirkan apa alasan mengapa pria itu bisa menyukai nya.
"Mau tanya apa?" ucap Richard sembari terus mengusap kulit yang lembut dan licin dari tubuh istrinya karna terendam di air yang penuh sabun.
"Kenapa suka aku?" tanya nya lagi yang sering bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Entahlah padahal kau sangat keras kepala," balas Richard sembari terus mengusap dan mengelus tubuh kecil itu.
"Dulu katanya kau tertarik karna aku masih murni kan? Terus waktu pertama kali paman mencoba nya aku kan sudah tidak..." tanya Ainsley lagi.
"Benar juga, kau keras kepala, tidak murni lagi lalu suka dengan pria lain, kau juga membenci ku, tidak menggoda ku sama sekali juga tapi kenapa aku suka dengan mu?" tanya Richard yang malah semakin balik bertanya.
Ainsley menoleh ke belakang melihat pria itu ke arah nya.
"Yang suka kan paman kenapa tanya aku?" ucap Ainsley pada pria itu.
Auch!
__ADS_1
Pipi yang lembut dan bulat itu menjadi santapan saat ia mengigit nya dengan gemas.
"Kau mau Axel ikut memanggil ku paman juga? Sulit sekali mengubah cara panggilan mu," ucap Richard pada wanita itu.
"Kan lupa," jawab Ainsley langsung.
"Sayang," ucap pria itu dalam sepatah kata nya.
"Ha? Apa?" tanya Ainsley dengan bingung.
"Panggil sayang, sekarang kan kita harus mengubah nama panggilan lebih dulu." ucap Richard sembari mengendus telinga dan lengkung leher istri nya.
"Ta-tapi malu panggil begitu..." ucap Ainsley yang langsung canggung.
Richard tersenyum, ia memang sangat cemburu tadinya namun rasa cemburu nya sudah mulai semakin menipis dan hilang saat emosi nya sudah kembali terkendali.
"Panggil saja, aku ingin dengar." bisik Richard dengan nada menggoda wanita itu sembari tangan nya mulai mengusap dengan nakal.
"Jangan!" ucap Ainsley sembari mencegah tangan kekar pria itu merayap di tubuh nya di dalam air.
"Sayang, itu yang harus nya kau bilang." ucap Richard sembari menj*lat di balik daun telinga nya.
"Richard..." ucap Ainsley lirih dengan malu.
"Kurang sayang di panggilan nya," ucap pria itu lagi yang kini sudah mulai mengusap bagian-bagian sensitif dari tubuh istri nya.
"Kalau ku panggil begitu tangan nya berhenti?" tanya Ainsley sembari berusaha menahan tangan yang ingin memasuki nya.
Richard tak memberikan jawaban, ia hanya tersenyum saja.
"Richard sayang..." panggil Ainsley lirih.
Wajah dan telinga nya memerah, ia bahkan tak tau jika akan semalu ini mengatakan dua kata tersebut.
Deg!
Richard tersentak suara lirih dengan napas yang di tarik dan wajah kemayu yang menatap nya malu membuat jantung nya berdebar semakin kencang seperti tengah balapan mobil.
Humph!
Ia langsung menarik tengkuk wanita itu dan mel*mat bibir merah muda nya dengan agresif.
"Harus nya aku merekam nya tadi, jadi bisa tetus mendengar nya." ucap nya berbisik setelah melepaskan ciuman nya lalu membalik tubuh kecil hingga suara air di dalam bak tersebut terciprat.
"Untuk Dua jam ke depan kau juga harus memanggil seperti itu," ucap Richard sembari mencium lengkung leher Ainsley dan tangan nya mulai kembali merayap di atas tubuh putih dan lembut tersebut.
"Dua jam? Tidak mau aku kan sudah lelah hari in- Humph!"
__ADS_1
Tangan nya yang mendorong dada bidang pria itu langsung di pegang dan bibir nya kembali di pangut.