Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Aku takut terluka


__ADS_3

Gadis itu mengernyit, seluruh tubuh nya gemetar, tatapan mata yang ingin melahap nya membuat Ainsley ingat saat ia di culik.


Rasa takut yang belum hilang itu kembali menjalari dirinya.


Richard menyeringai dan menarik tangan gadis itu keluar dari apart nya.


"Lepas! Paman lepas!" ucap Ainsley berusaha melepaskan tangan nya yang di tarik.


"Kau bilang mau kembali kan? Aku antar," ucap Richard sembari menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah gadis itu.


Ainsley mulai tenang dan memberontak lagi, pergelangan tangan nya terasa akan terlepas seketika saat ia di tarik dan tak bisa melepaskan nya sama sekali.


"Kenapa gemetar?" tanya Richard saat melihat gadis itu duduk di samping nya setelah masuk mobil.


Ainsley meremas seatbelt yang terpasang padanya dengan kuat, ia masih terkejut dengan ciuman tiba-tiba yang baru di berikan pada nya.


Wajah gadis itu memucat dan tak menjawab sama sekali ia seperti tak menghiraukan dan tak mendengarkan sama sekali.


Richard hanya tersenyum ketika tak ada balasan sama sekali dari gadis itu, ia pun kembali melajukan mobil nya dan mengantar gadis itu.


......................


Apart Winter Garden.


Bruk!


Kaki Ainsley jatuh seketika saat ia memasuki apart nya, ia masih terkejut dengan wajah nya yang pucat pasi.


Berbeda dengan Sean yang setidaknya masih memiliki hubungan dengan dirinya namun Richard sama sekali tak memiliki hubungan dan jika di lihat dari segi lain ia sadar jika sudah ia sudah melakukan Cheating pada Sean.


Apa yang ia lakukan saat ia di culik dan yang baru saja terjadi tapi ia bahkan entah kenapa tak bisa memberi tau nya pada kekasih nya.


Ainsley memang mengaku jika sudah tidur dengan pria lain, namun gadis itu sama sekali tak mengatakan dengan siapa ia melakukan nya, dan Sean yang tak bisa terus memaksa nya menjawab karna kondisi psikologis nya.


"Aku...


Aku harus gimana?" gumam nya dengan gemetar, rasa takut dalam hati nya muncul lagi.


Sesak dan sulit bernafas mulai ia rasakan karna ia memang belum pulih sama sekali membuat nya berjalan dengan langkah berat ke kamar nya dan mencari obat penenang nya.


Setelah meminum obat penenang tersebut, ia membuka ponsel yang sudah di berikan padanya saat ia ingin beranjak turun tadi.


Gadis itu tak sadar, entah karna memang menjadi kebiasaan nya selama hampir tiga tahun, ia langsung menghubungi Sean.


Menghubungi pria itu saat ia merasa takut, itulah yang selalu ia lakukan.


"Ainsley?! Kenapa kau tak jawab telpon ku?!" suara yang langsung memarahi nya begitu telpon tersebut tersambung.


Gadis itu diam tak menjawab, mata nya terasa berat dan mengantuk. Ia tak sadar jika menelpon kekasih nya karna hal itu sudah menjadi kebiasaan untuk nya.


"Aku mengantuk..." jawab Ainsley lirih sebelum tertidur karna obat penenang nya.


"Ainsley?! Ainsley?! Kenapa?! Kau baik-baik saja?!" tanya Sean penuh dengan rasa khawatir.


...

__ADS_1


Pria itu memukul stir nya dan mempercepat laju mobil nya, ia tak tidur sama sekali agar bisa membuat pekerjaan nya cepat selesai dan kembali lebih awal.


"Dia sudah kembali?" gumam nya saat melihat lokasi kekasih nya sudah berada di apart unit nya.


Ia pun menambah kecepatan nya kembali agar bisa menemui gadis nya lebih cepat lagi.


......................


Mansion Zinchanko.


Pria itu meminum wine nya dan melihat tangan nya, rasa lembut dari tangan gadis itu masih terasa.


"Menurut mu dia itu apa?" tanya nya sembari melihat tangan nya dengan smirk yang sulit diartikan.


"Maaf, Tuan?" tanya Liam tak mengerti.


"Ainsley, gadis itu. Aku tak bisa membunuh nya." jawab Richard yang bingung dengan dirinya.


"Tuan menyukai nya?" jawab Liam dengan bertanya.


"Suka? Jadi rasa ingin memiliki ini di namakan suka?" tanya nya tak mengerti karna baginya hal ini adalah perasaan asing.


"Benar tuan," jawab Liam tanpa ekspresi.


"Suka dengan sesuatu yang lemah itu? Dia sangat rapuh dan lembut, aku bahkan bisa menghancurkan nya tanpa sadar..." ucap Richard sembari mengingat hanya karna ciuman saja gadis itu sudah pucat pasi.


Padahal ia sendiri lah yang membuat gadis itu trauma hingga ke akar nya yang semakin menumpuk semua stress yang di alami nya.


"Wanita memang makhluk yang lemah tuan, hanya beberapa yang kuat." jawab Liam karna ia tau pada dasar nya kebanyakan sikap wanita adalah seperti itu dan hanya beberapa yang berbeda.


"Lemah yah? Aku tak mau sesuatu yang lemah karna mudah hancur..." ucap Richard dan mengisyaratkan agar Liam keluar dari kamar nya.


Jika Ainsley tak demam tinggi mungkin ia sudah meniduri nya lagi, namun ia menahan diri karna kondisi gadis itu.


"She drives me crazy..." gumam nya sembari menghirup aroma yang bagi nya masih tertinggal.


Menyukai sesuatu yang lemah bukanlah yang biasa ia lakukan namun ia juga tak ingin merelakan begitu saja.


......................


Apart winter garden.


Sean melihat kekasih nya yang masih tertidur dengan pulas setelah di periksa.


Saat ia datang dan melihat Ainsley yang tak sadar membuat nya segera memanggil dokter guna memeriksa kondisi nya.


"Kau ini kenapa lagi? Hm? Kenapa bisa makan persik?" gumam nya sembari mengganti kompres Ainsley.


Ia tau saat dokter yang memeriksa jika gadis itu mengalami alergi dan meminum obat penenang maka dari itu segera membuat nya pingsan karna reaksi yang berada dalam tubuh nya.


...


Pukul 07.34 Pm.


Gadis itu terbangun, dan ia sudah kembali merasakan tangan hangat yang menggenggam nya saat ia di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


"Sean?" gumam nya melihat pria yang tertidur di sebelah nya.


Sean tentu saja ketiduran karna ia yang memang sudah kelelahan dan tak istirahat sama sekali agar semua urusan nya di luar kota cepat selesai.


Ia mengusap rambut halus pria itu dan memperhatikan wajah yang saat ini tengah berada di samping nya.


Ia bingung dengan perasaan nya, rasanya ingin mendorong pria itu menjauh namun ia tak sanggup untuk melepas.


Merasa bersalah karna ia merasa jika dirinya sudah mengkhianati kekasih nya, tak nyaman dengan kehadiran pria itu namun akan gelisah saat ia benar-benar di tinggalkan.


"Sudah bangun?" ucap Sean serak dengan nata yang masih menyipit karna baru saja terbangun.


"Sean..." panggil Ainsley lirih.


"Hm? Kau lapar?" jawab pria sembari bangun dan mengecek suhu gadis nya.


Ia sudah memesan makanan karna ia yakin jika gadis itu akan lapar saat bangun.


"Kita berhenti saja..." ucap nya lirih saat pria itu hendak keluar mengambil makanan untuk nya.


Deg!


Sean tersentak, ia langsung menghentikan langkah nya dan menatap gadis itu.


Ainsley bangun dan duduk di tepi ranjang nya, ia menunduk dan tak yakin dengan keputusan nya namun ia juga ragu akan perasaan nya.


"Hey? Kenapa bilang begitu lagi? Kau masih demam?" tanya Sean dengan lembut.


Banyak hal yang ingin ia tanyakan namun ia tahan karna saat ini gadis nya masih sangat sensitif.


"Aku bingung dengan perasaan ku Sean...


Aku merasa bersalah dengan mu..." ucap Ainsley lirih.


Sean menggeleng ia memegang kedua lengan gadis itu dan menatap erat mata jernih itu.


Ainsley melepaskan tangan pria itu secara perlahan dan membalas tatapan Sean.


"Jangan mendorong ku seperti ini...


Aku akan berubah, ku mohon..." ucap Sean memelas.


Ia menjalani konsultasi selama beberapa waktu terakhir untuk pengendalian emosi dan overthinking berlebih nya karna takut di tinggalkan dan kehilangan orang yang sangat ia sayangi.


Apa lagi gadis itu tang berusaha bunuh diri berulang kali membuat nya kembali mengingat ibu nya dan tak ingin gadis nya berakhir seperti apa yang ia lihat saat masa kanak-kanak nya.


"Kau yang lebih dulu mendorong ku Sean...


Jangan lupakan itu.." jawab Ainsley yang tanpa sadar menjatuhkan bulir bening nya.


"Kau tau aku mencintai mu, kan?" tanya Sean sekali lagi, ia benar-benar kebingungan saat ini.


"Cinta? Apa cinta itu menyakitkan Sean? Aku terluka...


Aku tak mau lebih sakit lagi, aku takut terluka lebih banyak..." jawab Ainsley yang tak bisa menahan air mata nya.

__ADS_1


Ia tak tau namun saat perasaan nya lebih terluka, tak sesakit dan sesesak saat ia melepaskan orang tua nya dan tak mengharap kasih sayang orang yang membawa nya ke dunia.


Sean diam sejenak, ia melihat Ainsley yang menunduk dan gemetar karna tangis nya, ia tak bisa melakukan apapun namun hati nya merasakan sakit saat melihat tangis putus asa gadis itu.


__ADS_2