Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Shame)


__ADS_3

New York


5 Bulan kemudian.


Masa aman untuk menaiki pesawat telah datang, kini gadis itu berdiri sembari melihat ke arah jalanan yang sibuk dan besar itu.


Kota padat yang begitu metropolitan dan bahkan merupakan sebuah global terdepan dalam beberapa hal seperti perdagangan dan keuangan.


"Huh, dulu aku suka lihat patung nya sekarang sudah tidak..." gumam nya lirih saat mengalihkan pandang nya pada patung Liberty yang berdiri dengan tegap.


Tak mudah mendapatkan apartermen yang bagus dan berada di pusat kota jika keuangan sang kakak tidak dalam kondisi maksimal.


Gadis itu membuang napas nya, mengelus perut nya yang semakin membuncit dan membesar saat sudah memasuki usia ke enam bulan.


Gadis itu pun tetap melanjutkan sekolah nya dengan sekolah rumah karna memiliki kondisi yang tak biasa.


"Celine?" pria itu kembali lebih cepat bahkan sebelum mentari terbenam.


"Kakak udah pulang?" gadis itu berjalan menghampiri dengan perut besar nya pada pria yang kini menjadi sandaran hidup nya.


"Iya, tadi rapat nya cepat selesai." ucap Steve dan mengecup dahi gadis itu.


Gadis yang bahkan tak bisa lagi menemui orang tua nya dan mungkin akan mulai membenci nya karna hasutan yang ia dengar agar tak minta untuk pulang terus menerus.


"Kak? Mama Papa gak ada hubungi Kakak?" tanya gadis itu lirih yang merindukan sang ibu.


Steve menggeleng, "Mereka itu gak mau peduli lagi sama kita, kamu kenapa tanya mereka terus? Hm?"


Ia tentu nya kesal dan marah atas perbuatan sang ayah dan ibu tiri yang ingin membunuh dan membahayakan nyawa ke empat anak-anak nya secara bersamaan hanya karna tak menyetujui hubungan nya.


Dan karna itu juga ia membawa gadis itu pergi agar bisa memiliki nya sekaligus membuat sang ayah dan ibu tiri menjadi kelagapan karna putri kesayangan mereka hilang.


"Masa sih kak?" tanya Celine lirih.


"Kamu gak percaya sama kakak? Bukti nya kalau Papa atau Mama peduli pasti bakalan ke sini kan? Apa lagi kamu udah pernah kasih tau di mana kita?" tanya Steve lagi.


Dan tentu nya semua panggilan dan pesan yang di kirim gadis nya itu sudah ia blokir dan sama sekali tak sampai kepada kedua orang tua nya.


Gadis itu perlahan menyandarkan kepala nya, perut yang membucit besar karna mengandung 4 bayi itu pun membuat halangan karna tak bisa memeluk dengan erat.


Tubuh yang kini semakin berisi padat, bahkan pakaian yang di pakai sudah banyak yang di beli begitu juga dengan pakaian dalam yang lain nya karna pertumbuhan di beberapa tempat yang memerlukan kapasitas lebih besar


"Celine?" panggil Steve yang mendorong pelan tubuh gadis itu.

__ADS_1


Setiap kali ia merasa gemas tentu nya ia menginginkan sesuatu. Gadis yang mengenakan piyama tidur dengan tinggi di atas lutut nya dan dada yang terbuka serta terpampang jelas membuat pria itu tak bisa berada dengan dekat.


Bayangkan saja pria yang memiliki hasrat besar itu tak pernah melakukan hubungan yang sangat ia gemari itu dalam waktu 6 bulan terkahir dan hanya memakai tangan mungil gadis nya sebagai ganti tempat yang seharus nya.


"Kakak kenapa? Gak mau peluk Celine lagi?" tanya gadis yang bahkan tak pernah mengerti kesulitan yang di alami sang kakak.


"Bukan begitu, kamu juga masih sore kenapa pakai nya piyama tidur? Gak pakai..." ucap Steve yang sembari menoleh ke arah dua gumpalan yang semakin membusung itu.


"Iya kak, Males..."


"Tadi waktu Celine habis mandi, mau nya pakai yang praktis kak, nanti kan gak perlu ganti baju tidur lagi, terus kalau Celine pakai br* rasa nya sesek kak..." ucap nya dengan jujur karena membawa kandungan yang besar itu saja sudah menyulitkan nya.


"Tapi kamu itu," ucap Steve yang tak bisa mengatakan betapa menggoda nya ibu hamil itu di depan mata nya, "Kamu juga gak akan ngerti." ucap nya pada gadis sejenak.


Celine langsung cemberut, suasana hati nya semakin mudah berubah saja dari hari ke hari saat kandungan nya bertambah besar.


"Kakak gak suka Celine lagi? Karna Celine sekarang udah jelek yah? Udah gak langsing, udah gendut, kakak gak suka lagi kan?" tanya nya yang terlihat cemberut marah namun dengan nada yang ingin menangis.


"Bukan! Bukan begitu Celine! Kamu itu makin cantik malah, makin buat kakak gemes jadi mau kakak makan sampai habis." ucap Steve yang tanpa sadar mengatakan sedikit pikiran melayang nya pada gadis itu.


"Kan! Bener kan? Kakak gak sayang Celine lagi? Bukti nya kakak aja mau makan Celine!" ucap gadis itu yang semakin sensitif.


"Bukan makan beneran tapi kakak itu mau-" ucap Steve yang terpotong saat pikiran nya menjadi kosong seketika melihat wajah sayu yang menatap diri nya dengan semakin menggemaskan dan menggoda.


Batin nya yang harus semakin menambah pagar diri nya ketika melihat gadis nya yang semakin menggoda dari hari ke hari dengan tubuh yang semakin berisi.


"Kakak itu mau beliin kamu es krim, kamu mau kan?" tanya Steve pada harus itu.


"Es krim? Kakak bilang Celine gak boleh banyak-banyak makan es krim?" tanya gadis itu yang langsung suka dan setuju dengan ucapan sang kakak.


Selera makan yang semakin bertambah, di tambahkan lagi membawa 4 orang lagi yang harus ia beri tambahan asupan tentu nya membuat gadis itu semakin menyukai ketika sedang makan.


"Iya, kalau keseringan sama kebanyakan kamu bisa batuk, kalau kamu batuk kamu bilang kan kamu sesak?" ucap pria itu sembari mengusap pipi gadis nya dengan lembut.


"Berarti nanti boleh kak?" tanya gadis itu tersenyum.


Pria itu pun ikut tersenyum, rasa kesal gadis nya sudah hilang dan membuat nya mulai kembali seperti sebelum nya.


......................


Ice cream shop.


Gadis itu tampak berbinar sembari memakan sesuap demi sesuap ice cream yang begitu manis dan meleleh di mulut nya.

__ADS_1


"Kak? Kakak kalau kerja itu gak lelah kak?" tanya Celine tiba-tiba saat melihat beberapa pria berjas yang turun dari taksi saat ia melahap ice cream nya.


Ia sering melihat pria itu yang tak tidur satu malaman dan hanya berkutik di depan laptop nya saja.


"Kakak lagi mau naik jabatan," ucap Steve sembari mengusap kepala gadis nya.


Kontrak kerja selama tiga tahun tentu nya harus membuat nya mendapat posisi yang semakin tinggi lagi dan membangun relasi yang begitu banyak pula agar nanti nya lebih mudah saya ia mendirikan perusahaan nya sendiri.


Dan Amerika merupakan negara yang salah satu nya memiliki cabang dari perusahaan yang sama tempat ia bekerja di Prancis.


"Tapi kakak gak boleh kebanyakan kerja, nanti malah sakit." ucap Celine pada sang kakak dan membuat pria itu tertawa gemas.


Gerombolan gadis remaja mulai masuk ke dalam tempat tersebut, tawa yang lepas, seperti tengah menikmati masa remaja yang berwarna.


Celine tiba-tiba terdiam, mungkin gerombolan remaja itu memiliki umur yang tak jauh berbeda dari nya, namun perbedaan yang sedang terjadi begitu jelas.


Gadis-gadis yang tertawa haha-hihi itu dan juga gadis hamil dengan perut yang besar.


"Kak?" panggil Celine lirih.


"Iya, sayang?" jawab pria itu dengan lembut.


Ia beberapa kali mengganti panggilan nya untuk gadis nya agar lebih terbiasa nanti nya saat mereka sudah menikah.


"Celine iri sama mereka," ucap nya lirih sembari menunjuk dengan mata nya ke arah segerombolan gadis yang duduk di meja membelakangi sang kakak.


Steve menoleh melihat gadis-gadis remaja ha g terlihat baru saja kembali dari sekolah yang masih memakai seragam sekolah nya.


Memang sekolah yang berada di tempat itu tak mengharuskan memakai seragam atau mungkin boleh saja tak memakai seragam, namun di beberapa sekolah swasta bergengsi memiliki beberapa hari yang di berikan dengan pakaian seragam hanya untuk menghormati tradisi walaupun mereka berasal dari kalangan atas bukan sekolah negri yang memakai seragam karna berasal dari kalangan yang kurang mampu.


"Kenapa iri?" tanya pria itu melihat adik nya.


"Celine kangen sekolah juga kak, Celine juga belum pernah main ke cafe bareng temen-temen gitu..." jawab nya lirih yang tau diri nya bahkan tak sempat bermain bebas dan ceria seperti itu hanya karna sudah terbiasa di manipulasi sang kakak.


"Kamu kan main nya bisa sama kakak, kalau sudah melahirkan juga nanti bisa sekolah normal lagi." ucap Steve pada gadis itu.


"Kita pulang aja yuk kak?" tanya Celine lirih.


"Kenapa mau pulang?" tanya Steve mengernyit.


"Celine malu kak..." jawab nya lirih sembari menunduk memegang perut nya yang membucit.


Terkadang rasa iri, kepercayaan diri juga malu datang pada nya saat melihat gadis remaja seumuran nya yang masih tertawa lepas dan bermain dengan bebas.

__ADS_1


Tidak seperti nya yang bahkan berjalan saja sudah mulai kesulitan karna berat membawa perut besar yang berisi 4 bayi mungil itu.


__ADS_2