Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Mau apa ketemu Mommy?


__ADS_3

Kantor polisi


"Mereka saling berkelahi tapi kenapa cuma anak ku yang di masukin ke penjara?!" tanya Ainsley yang kesal karna hanya putra nya yang dimasukan ke dalam sel tahanan sementara.


"Apa anda tidak bisa melihat nya? Putra anda baik-baik saja tapi lihat yang di pukuli putra anda?" ucap polisi tersebut.


Ke empat remaja yang saat ini bahkan tak bisa berada di kantor polisi karna berada di rumah sakit, perdarahan, gegar otak, patah tulang serta luka lain nya yang cukup serius.


"Anak ku juga perlu ke rumah sakit!" ucap Ainsley yang tak mau kalah.


"Anak anda itu anak setan ya? Kenapa bisa memukuli teman nya sampai seperti itu?" sahut salah satu orang tua dari siswa yang masuk ke dalam rumah sakit.


"Anak setan? Kenapa bicara anda kasar sekali?! Anda yang setan!" Ainsley yang tentu nya merasa tak suka dengan ucapan yang menghina putra nya.


Sean pun memanggil pengacara, dan ia hanya perlu melakukan sedikit dari kekuasaan nya untuk menyelesaikan masalah tersebut sembari membawa wanita yang mungkin bisa ikut masuk ke dalam sel tahanan sementara bersama putra nya karna bertengkar.


"Udah, jangan ikutan marah..." ucap nya dengan nada rendah karna tau mereka sedang berada di mana saat ini dan urusan bisa semakin rumit.


Pengacara pun mulai berdatangan nya, mengatakan semua asas hukum yang bersangkutan dan tentu nya ada alasan terbesar yang semakin membuat remaja itu bisa lepas dengan cepat.


Tentu nya kekuatan orang dalam yang tak bisa di ragukan, ia tau wanita itu akan enggan jika menggunakan kekuasaan nya untuk membeli hukum namun jika tak di lakukan demikian para orang tua yang tak rela putra mereka masuk rumah sakit pasti akan melakukan segala cara agar membuat remaja itu ikut menderita.


Setelah urusan yang melelahkan kan itu selesai sebagian, Axel pun kembali di keluarkan walau sebenarnya ia tak bisa boleh asal keluar begitu saja.


"Kamu sih! Kok bisa sih mukulin teman kamu sampai begitu?" tanya Ainsley tak percaya pada putra nya.


"Mereka duluan yang mulai Mom, bukan aku..." ucap Axel lirih karna baru kali ini masalah yang ia timbulkan cukup besar.


"Mereka itu bukan karyawan perusahaan mommy yang mau di ganti rugi uang, kalau sama mereka itu jadi lebih rumit urusan nya." ucap Ainsley pada putra nya yang tampak lesu.


"Maaf Mom," ucap remaja itu dengan lirih.


"Yauda sekarang kan sudah selesai masalah nya," ucap Sean saat melihat remaja itu seperti anjing basah yang tampak menyedihkan.


Ainsley melihat ke arah putra nya dan membuang napas nya lirih, ia melihat ke arah memar di wajah putra kesayangan nya.


"Masih sakit?" tanya nya lirih sembari melihat ke arah luka memar tersebut.


"Sakit Mom..." ucap nya pada sang ibu dengan lirih, walaupun ia baru saja menjadi singa di luar namun kembali menjadi anak kucing di depan ibu nya.


"Yauda, kita oba-"


Pandangan wanita itu berputar sejenak hingga membuat nya hampir terjatuh.


"Mommy kenapa?" tanya Axel yang langsung menangkap tangan sang ibu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Sean pada wanita yang hampir terjatuh itu.


Ia sudah di peringatkan oleh dokter nya untuk tak begitu kelelahan karna harus memperhatikan kandungan nya.


Namun apa yang bisa ia lakukan ketika pekerjaaan yang menumpuk datang di tambah lagi putra nya yang membuat masalah dan menambah pikiran nya.


"Iya, Mommy gak apa-apa." ucap nya pada putra nya dan memberikan anggukan kecil pada pria yang terlihat khawatir itu.


Ia pun kembali berjalan ke mobil nya, cuaca dingin yang semakin membuat nya merasa lelah hingga,


Bruk!


Sean langsung menangkap tubuh wanita itu, "Ainsley?" panggil nya sejenak, "Buka pintu mobil nya." ucap nya karna mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi memasuki mobil.


"Mommy kenapa?" tanya Axel yang begitu panik sembari mulai membuka pintu mobil nya seperti yang di katakan oleh pria itu.


Sean pun langsung membawa ke rumah sakit terdekat dari tempat mereka berada saat ini hingga lupa ia membawa ke rumah sakit yang sama dengan ayah nya di rawat karna kembali mengalami tekanan darah tinggi ketika ia terus mengatakan menyukai sesama jenis agar sang ayah berhenti menyuruh nya menikah dengan wanita yang tak ia sukai.


Axel langsung panik, di bandingkan dengan diri nya yang tadi baru saja masuk ke kantor polisi karna memukuli teman-teman nya hingga fatal ia, lebih takut jika sesuatu terjadi pada ibu nya.


...

__ADS_1


Rumah sakit.


Setelah menjalani pemeriksaan sang dokter pun langsung tau masalah apa yang sedang terjadi pada pasien yang baru di bawa itu.


"Mommy kenapa?" tanya Axel yang langsung mendekat ke arah sang dokter.


Sedangkan Sean masih berbicara dengan perawat untuk memindahkan ke ruangan rawat inap agar tidak di IGD seperti sekarang.


"Mommy kamu gak apa-apa, tapi lain kali harus lebih di perhatikan. Kasian adik kamu nanti, ayah kamu mana? Biar dokter bicara sama ayah kamu." ucap dokter tersebut yang tak tau menahu tentang keluarga pasien yang baru ia priksa namun ia hanya melihat sekilas dan mengira yang datang secara bersamaan itu adalah sebuah keluarga.


Axel mengernyit mendengar nya, "Adik apa?" tanya nya dengan bingung.


Namun belum sempat pertanyaan nya terbalas Sean sudah datang dan langsung bertanya tentang kondisi wanita yang baru saja pingsan di depan nya.


"Dia kenapa?" tanya Sean yang membuat sang dokter langsung teralihkan.


"Kandungan istri anda cukup lemah karena kelelahan, sebaik nya anda membantu nya melakukan beberapa pekerjaan dan membiarkan nya beristirahat total selama beberapa hari bahkan beberapa Minggu."


Sean mengernyit mendengar nya, "Kandungan? Maksud nya kandungan apa?" tanya nya dengan bingung.


"Iya! Kok Mommy jadi istri nya paman sih?" tanya Axel yang juga menyambung ketika ia bingung mengapa sang dokter mengatakan demikian.


Dokter itu pun mengernyit, orang-orang yang berada di depan terlibat terkejut.


"Pasien yang bernama ibu Ainsley, siapa wali diantara kalian?" tanya nya yang kini mulai bingung.


"Aku anak nya!" sahut Axel seketika pada sang dokter.


"Tunggu? Tadi kau bicara soal kandungan?" tanya Sean yang langsung memotong.


"Pasien yang bernama ibu Ainsley Setya Bellen,' ucap sang dokter sembari melihat data nama lengkap pasien agar tidak salah, "Saat ini tengah hamil dengan usia kandungan kurang lebih 6 Minggu." Sambung nya yang membuat kedua mata pria itu membulat.


"Hamil?"


Tanya kedua nya yang tampak terkejut, yang satu terkejut karna tiba-tiba memiliki adik dan yang satu lagi terkejut karna tau malam yang ia lewati langsung berhasil jadi anak.


"Lalu saya harus bicara tentang kandungan ibu Ainsley dengan..." ucap nya yang ingin berbicara kondisi pasien nya pada putra nya.


Antara senang dan terkejut bercampur menjadi satu, entah mengapa ia tak bisa membohongi perasaan nya ketika tau wanita itu hamil dan bisa ia pastikan kalau itu adalah bayi nya karna ia tau Ainsley bukanlah wanita yang mau bermain sana-sini dengan pria mana saja.


"Loh? Kok bisa paman sih?!" ucap Axel yang masih bingung dan bertanya-tanya.


"Udah kamu temenin Mommy kamu pindah ruangan aja," ucap Sean sembari mulai beranjak berbicara dengan sang dokter dan Ainsley yang mulai di pindahkan ke ruangan.


...


Axel melihat ke arah sang ibu, ia khawatir namun wajah nya juga terlihat cemberut menunggu sang ibu sadar.


"Mommy jahat ih! Masa sekarang udah mau punya anak baru sama paman Sean aja!" ucap nya mendengus kesal pada sang ibu.


Sedangkan tak lama kemudian Sean kembali setelah berbicara dengan sang dokter tentang kandungan wanita itu.


"Kenapa paman gak pernah bilang?!" cerca Axel langsung.


"Paman mau bilang apa? Tau nya juga sekarang," ucap Sean pada remaja yang terlihat cemberut karna merasa cemburu jika memiliki adik baru.


"Kita bicara di luar aja," ucap nya yang tak mau membuat di keributan di dalam ruangan saat wanita itu tengah sakit saat ini.


Axel pun mengikuti pria itu dan keluar bersama nya.


"Paman kok bisa sih buat Mommy hamil?!" tanya nya lagi ketika sudah berada di tempat yang cukup sunyi.


"Yah bisa aja, Mommy kamu sama Paman kan bukan anak kecil kayak kamu." jawab Sean yang menghadapi kemarahan anak remaja di depan nya.


"Yah tapi harus nya jangan sampai hamil!" ucap Axel tak mau kalah.


"Paman juga gak ngasih tau apa-apa sama aku! Kalian mau pergi yah? Karna sekarang udah ada anak yang lain?!" tuduh nya pada pria itu.

__ADS_1


"Paman mau kasih tau apa? Paman juga baru tau nya sekarang!" ucap Sean yang tak harus bilang berapa kali agar remaja di depan nya mengerti.


"Masa paman yang buat Mommy hamil tapi gak tau Mommy hamil?!" ucap remaja itu dengan kesal.


Sementara itu pria tua yang tekanan darah tinggi nya sering naik itu pun tanpa sadar mendengar pembicaraan yang baru di ucapkan remaja itu dan melihat pria yang ia kenali.


"Hamil? Siapa yang hamil? Wanita?" tanya Daniel yang langsung mendekat.


Sean memejam, sudah satu yang masih protes datang lagi yang selalu membuat nya merasa tak bisa bernapas karna terus di desak.


Axel mengernyit, pria yang cukup berumur itu tiba-tiba datang dan ikut menyambung dengan pertanyaan mereka.


"Wanita lah, masa pria yang hamil!" jawab nya dengan ketus karna masih kesal lalu tiba-tiba ada tamu tak di undang yang datang pada nya.


"Yang buat hamil dia?" tanya Daniel pada Axel sembari menunjuk ke arah Sean.


"Iyalah! Masa aku?" jawab Axel dengan polos nya namun dengan nada ketus.


Sean semakin menarik napas nya, mungkin sebentar lagi tekanan darah nya yang naik.


"Wah! Bagus sekali!" ucap Daniel tersenyum lebar menatap ke arah putra nya.


"Kok malah bagus sih? Gak bagus lah!" ucap Axel pada Daniel.


"Dari tadi ku perhatikan kau terus berbicara formal pada ku? Dasar anak tidak sopan!" ucap Daniel memarahi remaja yang terus menerus berbicara ketus pada nya.


"Anda juga tiba-tiba masuk dalam pembicaraan orang lain! Dasar orang tua tidak sopan!" ucap Axel tak mau kalah.


Daniel termangu mendengar nya, bocah yang langsung menjawab setiap perkataan nya tanpa henti.


"Kau ini! Bicara mu kasar sekali!" ucap nya sembari menatap remaja itu.


"Memang nya bicara anda itu lembut?" tanya Axel dengan ketus.


Sedangkan Sean hanya melihat pertengkaran dan perdebatan itu, ia menatap ke arah remaja yang terlihat menjawab perkataan ayah nya setiap saat.


"Mereka cocok," gumam nya yang merasa telinga yang berada di kepala nya ingin lepas karna perdebatan tersebut.


"Astaga darah tinggi ku bisa naik ini!" ucap Daniel saat perdebatan nya semakin panjang dengan remaja tersebut.


"Astaga darah rendah ku bisa turun ini!" sahut Axel yang mengikuti cara bicara pria tua di depan nya.


Ctak!


Satu jentikan melayang di kepala remaja itu, "Kau ini gak ada sopan nya sama orang tua!"


"Kenapa saya harus sopan sama anda? Memang nya anda kakek saya?!" tanya nya sembari mengelus kepala nya.


"Paman!" ucap nya yang seakan mengadu dan meminta pembelaan.


"Udah, sini. Lagi pula Papa ngapain di sini?" tanya nya sembari menghalangi sang ayah bicara dengan Axel lagi.


"Loh? Dia Daddy nya paman? Pantes nyebelin kayak paman!" sahut Axel pada Sean.


"Bocah nakal ini!" ucap nya sembari menatap tajam dan kesal pada remaja itu.


"Papa tuh sakit yah karena mu! Udah! Sekarang Papa mau ketemu sama wanita yang lagi hamil itu, Mau lihat calon cucu!" sambung Daniel yang langsung tak sabar dan tak menghiraukan ucapan remaja di dekat nya.


"Mau ngapain ketemu Mommy aku?! Nanti yang ada Mommy pingsan lagi ketemu sama orang tua nyebelin kayak anda," ucap Axel lagi.


"Kau dengan ibu anak menyebalkan ini?" tanya Daniel yang kembali pusing.


"Anda yang menyebalkan!" ucap Axel langsung.


"Setuju," sambung Sean yang setuju dengan ucapan Axel.


"Astaga, tapi yasudah lah! Aku mau bertemu wanita itu." ucap nya lagi.

__ADS_1


"Mau ngapain ketemu Mommy?" tanya Axel lagi.


"Mau nikahin Mommy kamu sama anak ku!" ucap Daniel yang sama ketus nya dengan remaja tampan di depan nya.


__ADS_2