
Usapan tangan kecil dan mungil membuat pria itu tersenyum, sesekali ia mengecup wangi dahi harum bayi nya.
"Sekarang Axel main sama Mommy," ucap Richard sembari menggendong bayi mungil itu dan masuk ke dalam rumah yang ia beli sebelum nya.
Ia ingin memberikan kejutan pada istri nya karna sekarang membawa putra mereka, ia tau wanita itu terus menerus bertanya tentang putra kesayangan mereka.
"Ainsley mana?" tanya nya pada pengawal yang berada di rumah tersebut.
"Di kamar tuan," jawab pengawal itu dengan nada dan gerak yang sopan.
Wajah nya masih tersenyum sembari sesekali melihat gemas pada putra nya, ia pun berjalan dan kemudian membuka pintu nya.
"Ainsley? Lihat aku bawa sia-"
Deg!
Mata nya membulat tubuh kecil istri nya tergeletak di lantai dengan obat yang ia berikan berserakan di samping nya.
Ia pun langsung memanggil pengawal nya hingga membuat beberapa pria tegap itu datang dengan segera.
Baby Axel yang mendengar suara keras sang ayah pun langsung terkejut dan menangis, karna anak kecil itu memang sensitif dengan suara.
Richard pun langsung memberikan putra nya untuk di gendong salah satu pengawal yang datang dan mendekat ke arah sang istri.
"Ainsley? Hey?" panggil nya sembari merangkul tubuh yang lemah tersebut.
Wajah pucat dengan ujung jemari dingin dapat ia rasakan.
Ia pun merasakan denyut dan detak yang melambat sehingga ia memberikan CPR lebih dahulu selama beberapa menit dan kemudian segera membawa nya.
Ia pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil nya sembari menggendong wanita itu.
"Tahan sebentar lagi," ucap nya lirih dengan perasaan gelisah yang menyelimuti nya.
......................
Rumah Sakit.
Pria itu membawa istri nya ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit perawatan putra nya, ia gusar dan gelisah.
Plak!
"Kalian tidak bisa mengawasi nya?! Kenapa bisa sampai begitu?!" tanya nya penuh dengan amarah setelah menampar salah satu dari pengawal nya.
"Maafkan kelalaian kami tuan," jawab salah satu pengawal yang tak melakukan ucapan pembelaan diri karna ia tau jika melakukan nya hanya akan menambah amarah saja.
Walaupun di rumah tersebut memiliki banyak pengawal namun memiliki tugas nya masing-masing, dan yang tengah di marahi saat ini adalah pengawal yang harus nya bisa mengawasi wanita itu.
"Dari dokter yang tadi priksa, katanya dia minum 32 butir, kalian kembali dan minum dengan jumlah yang sama!" ucap Richard sembari menyuruh kelima pengawal tersebut untuk pergi.
Ia tau mungkin saja hukuman nya akan melayangkan nyawa pengawal nya, namun ia tak perduli sama sekali.
Baginya mereka hanya pengawal bodoh yang tak bisa menjaga istri nya.
"Si*l!" decak nya kesal sembari menunggu sang dokter keluar dari pemeriksaan istri nya.
2 Jam kemudian.
Wajah yang pucat dengan di tambah dengan kulit putih tentu nya semakin membuat pria itu merasakan sesuatu yang tak nyaman di dada nya.
"Bagaimana dengan dia?" tanya nya lirih tanpa melepas pandangan nya sedikitpun pada wanita yang terbaring di atas tempat tidur.
"Opioid yang masuk dalam jumlah besar hampir membuat nyonya mengalami serangan jantung karna menekan neurologis, namun karna sebelum nya tuan memberikan CPR hal ini bisa di tanggulangi," ucap pria berambut putih itu dengan balutan jas dokter yang berada di atas pakaian yang ia kenakan.
"Namun sangat saya sarankan agar nyonya berhenti memakai obat tersebut dan menjalani rehabilitasi, karna mungkin yang kedua tidak akan seberuntung hari ini," sambung nya lagi.
"Tapi sekarang sudah baik-baik saja kan? Sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi?" tanya Richard lagi.
Dr. Marco membuang napas nya dengan lirih, "Hal ini baru bisa di pastikan jika nyonya sudah sadar, Perlu di pahami saat kekurangan oksigen karna tidak bisa bernapas tentu nya otak akan dapat mengalami kerusakan, walaupun saya bisa mengatakan sekarang sudah di tangani namun lebih dapat di yakinkan jika nyonya sudah sadar."
__ADS_1
"Kapan dia akan bangun?" tanya Richard lagi.
"Sekitar dua atau tiga hari setelah ini mungkin nyonya akan sadar," jawab dr. Marco.
Richard pun mengangguk pelan ia menyuruh pria yang sudah berumur itu keluar.
Tubuh nya ia dudukkan pada bangku penjaga di samping ranjang pasien tersebut.
Telapak tangan yang besar dan hangat itu menggenggam tangan mungil yang terlihat pucat tersebut.
"Padahal aku sudah bawa Axel, tapi kau malah seperti ini?" tanya nya sembari mengusap dan menggenggam tangan kecil wanita itu.
...
Dua hari kemudian.
Richard terkadang juga membawa Baby Axel bersama nya saat menemani sang istri.
"Kau tersenyum? Padahal Mommy mu sedang sakit," ucap nya sembari mengusap pipi lembut yang bulat itu di gendongan nya.
Ia pun tersenyum dan memindahkan buah hati nya ke salah satu pengasuh yang sudah ia pekerjakan.
"Hey?" panggil nya saat kini hanya ia dan wanita yang belum tersadar itu yang berada di ruangan rawat VVIP tersebut.
Tangan yang mulai bergerak dengan dahi yang mengkerut serta mata yang perlahan terbuka segaris membuat pria itu langsung terperanjat.
"Ainsley? Sudah sadar?" tanya nya saat melihat mata yang masih terbuka segaris tersebut.
"Axel..." gumam nya lirih dengan suara yang sama sekali tak terdengar.
Entah apa yang ia rasakan saat ini namun ia seperti masih belum tersadar sepenuh nya.
Richard pun langsung menekan tombol yang membuat para dokter itu bergegas langsung ke kamar rawat istri nya.
dr. Marco pun memeriksa keadaan wanita itu, organ vital yang masih stabil dan tak ada gejala apapun membuat nya bernapas lega.
"Mungkin karna nyonya masih belum sepenuh nya sadar efek obat-obatan yang masih belum hilang, tapi hal ini bukan sesuatu yang perlu di khawatirkan, terus ajak nyonya berkomunikasi." jawab dr. Marco.
Richard mengangguk dan para dokter tersebut pun mulai keluar dari ruangan itu setelah melakukan pemeriksaan.
Richard masih melihat dan kemudian mulai berbicara, apapun yang ia lihat, serta membicarakan topik yang biasanya di sukai wanita.
Axel dan Cake!
Dua hal itu adalah topik yang di sukai istri nya, ia juga tak mungkin membicarakan soal mantan kekasih wanita itu ataupun mantan 'Mainan' nya yang sebelum nya.
"Axel di mana?" tanya Ainsley yang mulai merespon walaupun ia tatapan nya masih datar dan terlihat kosong.
"Kau mau main dengan nya? Dia seperti nya merindukan mu," tanya Richard pada wanita itu sembari mengusap rambut dan kepala istri nya.
Ia mengganti ranjang rumah sakit dengan ranjang yang ia beli agar cukup untuk nya memeluk sang istri jika ada beberapa hal yang memungkinkan seperti sekarang.
"Kalau misal nya aku tidak ada paman akan cari ibu baru untuk Axel?" tanya nya dengan pertanyaan random.
Bicara wanita itu masih melantur dan random karna masih berada dalam pengaruh obat-obatan terlarang yang merusak akal dan fisik nya.
"Ibu baru? Memang nya kau mau kemana? Hm?" tanya Richard sembari terus mengelus kepala istri nya.
Tak ada jawaban sama sekali dari Ainsley, hanya diam dengan tatapan nya yang masih datar dan kosong.
"Aku mau pulang," ucap nya lirih.
"Pulang? Kemana?" tanya Richard mengernyit, ia tak tau maksud dari perkataan wanita itu, pulang ke mansion atau ke tempat mereka sat ini.
Ainsley diam sejenak, "Apa aku punya rumah? Dulu aku punya rumah, tapi apa rumah ku sekarang masih ada?"
Pertanyaan absurd yang membuat pria itu mengernyit.
"Tentu saja punya, rumah ku kan juga rumah mu," ucap nya yang tak mengerti, bahkan jika ia bukanlah pria kaya sekalipun ia tau wanita itu memiliki banyak uang untuk membeli banyak rumah.
__ADS_1
"Aku takut rumah yang kosong, Paman bisa berubah seperti sekarang, kalau aku di buang aku pergi kemana? Aku tidak punya rumah," ucap nya lirih.
Perasaan takut karna sikap pria itu yang seakan bersikap kurang memperhatikan nya membuat semua asumsi negatif datang pada nya.
Mungkin ia tak akan berpikir demikian jika ada yang menjelaskan namun tak satupun ada yang menjelaskan pada nya.
"Rumah yang kosong? Apa rumah yang kau maksud bukan bangunan? Tapi sandaran?" tanya pria itu sembari menghentikan elusan nya dan melihat ke wajah wanita itu.
Ia mulai sadar jika 'Rumah' yang di maksud istri nya bukanlah sebuah bangunan melainkan sebuah tempat berpulang untuk berbagi semua rasa.
"Apa aku layak di cintai?" tanya Ainsley dengan suara nya yang masih terdengar lemah dan serak.
"Tentu saja," jawab Richard sembari mengusap kepala wanita nya lagi.
"Tapi kenapa aku takut?" tanya nya lagi.
"Takut apa?"
"Kalau cinta nya sudah habis, terus aku di buang lagi," jawab nya yang masih melantur.
"Ainsley? Aku mau tanya sesuatu," ucap Richard sembari membenarkan posisi nya.
Karna saat ini kondisi istri nya sedang sadar atau tidak tentu nya ada beberapa jawaban yang akan sesuai hati yang sesungguhnya.
"Do you love me? or Hate me, Maybe?" tanya pria itu sembari menantikan jawaban wanita itu.
"Aku tidak benci paman, bukan cinta tapi kagum, aku sayang sama paman, tapi waktu paman bohong rasa kagum ku hilang." jawab nya pada pertanyaan tersebut.
"Saat kau tau aku bohong pada mu dan rasa kagum mu hilang, kau membenci ku?" tanya Richard lagi.
Ainsley menggeleng pelan, "Aku juga tidak benci, dulu yang baik sama ku cuma Sean sama Paman, Paman kayak dongeng yang aku lihat."
"Dongeng? Pangeran? Raja?" tanya pria itu mengernyit.
Ia tak bisa membaca pikiran kekanakan wanita yang ia jadikan istri.
"Bukan, aku jadi punya Ayah. Dulu aku pikir nya rasa nya punya Ayah seperti ini?" jawab Ainsley lirih.
Ia tak bisa berpikir jernih, ia hanya mengatakan semua yang ia rasa dan pikirkan saja.
"Ayah?" tanya Richard sekali lagi.
Sikap dewasa serta perhatian dan tentu nya Ainsley yang tak memandang pria itu dengan perasaan cinta karna dulu nya ia memiliki kekasih tentu membuat anak yang tak pernah mendapatkan perhatian orang tua nya itu terbuai dengan kasih sayang semu seperti itu.
Gadis polos yang begitu mendambakan kasih sayang tentu nya mudah terjebak dengan perhatian seperti itu.
Tulus atau bohong gadis itu tak akan membedakan nya, baginya semua sama seperti pikiran nya yang belum terkontaminasi akan apapun bahwa semua orang memiliki rasa tulus yang sama seperti nya.
"Iya, Ayah. Aku rasanya jadi punya Ayah, makanya nya aku gak benci paman tapi aku dulu kecewa, aku juga marah." jawab nya lirih.
"So, You still love him, now?" tanya lagi sembari menantikan jawaban wanita itu.
"Aku rindu dia, mungkin iya." jawab Ainsley.
"Kenapa? Padahal aku bisa mencintai mu, kenapa kau harus suka dia?! Kau harus ingat kau sudah punya Axel!" ucap Richard kesal pada wanita yang bahkan masih setengah sadar.
"Sean itu rumah pertama ku, dulu dia sering marah, sering hukum aku tapi dia gak tinggalin aku, aku masih punya rumah, aku ga sendirian." jawab Ainsley lirih.
"Sekarang kan aku yang jadi rumah mu," ucap pria itu.
"Tapi paman itu seperti rumah yang rapuh," jawab nya yang mengikuti semya rasa gelisah nya.
"Kenapa? Atas dasar pikiran apa kau bilang begitu?" tanya Richard tak mengerti.
"Paman misterius, aku tidak kenal paman, mungkin aja nanti paman bakal berubah." jawab Ainsley lirih.
Setiap kali ia dalam keadaan sadar tentu nya ia dapat berpikir pria yang sedang bersama nya memliki banyak rahasia, rahasia yang seakan membuat menjadi orang asing yang tak tau apapun.
"Tapi aku tidak akan pergi, aku juga tidak akan berubah, jadi cintai aku." ucap pria itu lagi.
__ADS_1