
Mentari hangat yang mulai meninggi itu membuat pria yang tengah memakai piyama dan juga jaket terlihat membuat tirai nya.
Wajah nya tersenyum seperti mentari yang datang terang itu, ia berjalan ke arah gadis nya.
"Sayang? Bangun? Udah siang..." ucap nya sembari membangunkan gadis nya yang masih terlelap.
Tubuh kecil itu penuh dengan bekas kepemilikan yang ia tinggal tadi malam, ia tak menyangka jika sifat keras kepala gadis itu membuat nya mengalami pengalaman yang sangat menyenangkan.
"Ngantuk kak..." jawab gadis itu lirih sembari menepis tangan sang kakak.
"Kata nya kamu mau buat kakak gak bisa bangun, kenapa sekarang malah kamu yang gak bisa bangun? Hm?" goda Steve pada gadis nya dengan berbisik di telinga kecil itu.
Gadis itu petlahan membuka mata nya yang masih menyipit bagaikan garis dan menatap sang kakak.
Tangan nya meraih kepala pria itu dan mulai mengacak rambut sang kakak, "Kakak nyebelin! Kakak curang!"
Steve tertawa melihat gadis nya yang begitu kesal, "Curang apa? Kakak kan di bawah kamu terus, kamu yang di atas?" ucap nya tertawa.
"Padahal semalam Celine udah bilang lemes juga masih gerak aja! Kakak di bawah aja masih bisa gerak! Ih nyebelin!" ucap nya yang membalik tubuh nya.
"Terus kamu gak suka?" tanya Steve yang memeluk tubuh polos dengan balutan selimut itu.
Gadis itu diam tak menjawab namun ia dapat merasakan pelukan sang kakak yang mendekap nya dengan erat.
"Kamu belum jawab? Kamu gak suka? Hm?" tanya pria itu lagi mendesak gadis nya.
"Su..suka..." jawab Celine lirih membuat pria itu semakin gemas dan menciumi punggung nya yang mulus.
"Kakak juga suka? Lain kali kamu lebih usaha lagi dong biar kakak yang kalah." ucap Steve tertawa pada gadis nya.
"Iya! Nanti Celine buat kakak sampai minta ampun sama Celine!" ucap nya pada pria itu segera.
"Bener? Nanti kamu yang minta ampun sama kakak?" goda Steve tertawa saat mendengar ucapan gadis nya.
"Kakak! Celine mau tidur!" ucap nya yang ingin segera menyembunyikan rona wajah nya.
"Udah siang sayang, bangun yah?" ucap Steve pada gadis nya, walaupun saat ini masih pukul 9 pagi.
Celine pun langsung memejamkan mata nya dengan erat seakan pura-pura tak mendengar apapun lagi.
Steve menyerah, dari pada gadis itu mengamuk karena menganggu tidur nya lebih baik ia membuat teh untuk pagi cerah nya.
Ia memilih sudut hotel dan meminum teh nya, piyama biru Dongker dengan cardigan putih menemani pagi nya yang terasa begitu sempurna.
Rambut nya berantakan namun ia memilih tak merapikan nya karna seakan merasakan tangan gadis nya masih di kepala nya.
Ia meminum teh yang berada di tangan nya dengan menatap ke arah luar sejenak.
"Kakak? Kakak minum teh Celine gak di buatin?"
__ADS_1
Suara yang tiba-tiba keluar dan membuat pria itu langsung menoleh, gadis yang hanya memakai kembali piyama tipis nya dan berjalan mendekat lalu duduk di atas pangkuan nya tanpa ragu.
"Kak? Keluar yuk? Jalan-jalan di taman hotel." ucap gadis nya yang sejak kapan bangun padahal tadi menolak saat di bangunkan.
"Tadi kata nya mau tidur?" tanya Steve pada gadis nya.
"Iya, tapi udah gak bisa tidur lagi karna tadi kakak gangguin." ucap nya sembari menatap ke arah sang kakak.
Steve tersenyum mendengar nya, ia mengelus rambut gadis itu dengan lembut sembari meletakkan teh nya.
"Mau kakak buatin teh juga?" tanya nya pada gadis cantik yang baru bangun tidur itu.
Celine menggeleng mendengar nya, ia hanya beranjak mengambil teh sang kakak dan meminum nya, "Celine minum punya kakak aja."
"Kak?" panggil nya pada sang kakak seminari menjatuhkan diri nya ke atas dada bidang pria itu.
"Si kembar lagi apa yah kak? Kangen mereka, biasanya kan ada yang Celine gemesin." ucap nya sembari bersandar pada pria itu.
Untaian rambut halus berwarna coklat itu memanjang di atas tubuh nya, ia mengusap nya, "Kangen mereka?" tanya pria itu tersenyum.
Gadis itu sudah tak begitu takut lagi dengan suara tangisan anak nya. Bahkan interaksi yang di berikan sudah lebih banyak.
"Iya kak," jawab nya lirih sembari memeluk pria itu.
Steve membiarkan pagi dan waktu nya berjalan, ia memejam sembari terus mengusap rambut panjang gadis itu.
...
Taman.
"Kamu kenapa sih suka duduk di bawah begitu? Kotor Celine..." ucap Steve melihat senyuman cerah gadis nya.
"Ih? Seru aja kak, kakak sini coba duduk di samping Celine, juga gak ada bangku kan?" tanya nya sembari melihat ke sekitar.
"Kamu juga, pilih baju nya yang begitu mau jalan sama kakak? Kalau nanti di culik gimana?" tanya nya dengan gemas pada gadis nya.
Kaus putih polos yang di padukan dengan overall celana jeans pendek dan tak memakai polesan make tebal yang membuat nya semakin terlihat seperti gadis remaja dibandingkan ibu yang memiliki 4 anak.
"Kenapa di culik Celine kak?" tanya nya menatap bingung ke arah sang kakak.
"Iya, di kira anak di bawah umur lagi jalan-jalan sama Sugar nya." ucap pria itu tertawa kecil.
Gadis itu ikut tertawa mendengar nya, "Ih, padahal Celine udah punya anak! 4 lagi anak nya hihi..." jawab nya tertawa melihat sang kakak.
Steve beranjak ke samping gadis nya, ia menatap ke arah senyuman cerah itu, "Kamu kenapa imut sekali? Hm?" tanya nya dengan gemas sembari mencubit pipi gadis itu.
Melihat pipi lembut yang berada di tangan nya membuat nya teringat dengan wajah gemas ke empat bayi nya yang masih di tinggal dengan para pengasuh di apart.
"Kan aku adik kakak!" jawab nya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Istri sayang, bukan adik..." ucap pria itu pada gadis nya.
"Lupa kak, kita udah nikah yah?" tanya nya menatap kembali ke arah sang kakak.
......................
Satu bulan kemudian.
Apart.
Steve masih merencanakan bulan madu nya yang belum sempat di lakukan karna kesibukan dalam pekerjaan namun bukan berarti ia tak berusaha untuk mengambil libur agar bisa pergi dengan gadis nya.
Mata nya melihat ke arah gadis yang tengah memberikan asi pada bayi-bayi mungil itu.
Ia masih membawa gadis itu melakukan konsultasi tentang kesehatan mental yang sebelum nya masih belum siap menjadi ibu walau kini hal itu sudah membaik dari waktu ke waktu.
"Kakak?" tanya Celine saat menyadari sang kakak melihat nya yang tengah memberikan nutrisi pada bayi-bayi nya.
"Sstt, nanti mereka bangun." ucap Steve yang tau baby Fey dan juga baby Key tengah tertidur pulas walaupun saudara nya yang berada di tengah sedang menggeliat.
"Kakak sana! Jangan liatin Celine!" ucap nya dengan suara berbisik mengusir sang kakak.
"Kenapa gak boleh lihat Celine?" tanya Steve yang mendekat ke arah gadis itu.
Ia pun langsung menyuruh pengasuh yang masih berada di kamar putra-putra nya untuk keluar agar bisa bersama dengan gadis nya.
"Gak boleh! Nanti kakak minta di kasih susu juga!" jawab Celine dengan nada yang ketus karna tau tabiat sang kakak yang juga akan meminta jatah setelah putra-putra nya.
"Tau aja kamu," ucap nya sembari mengecup pipi gadis nya yang terlihat menggemaskan karna kesal.
Ia pun melihat ke arah bayi-bayi nya yang tampak menggemaskan.
"Anak Daddy mau kan punya adik baru?" tanya nya saat menciumi pipi bulat baby Ken putra ke empat nya.
Bayi-bayi mungil yang memakai topi beserta sweater itu tampak begitu lucu hingga membuat Steve ingin mengigit pipi bulat bagaikan donat itu.
Bayi mungil itu tertawa dan menggeliat seperti sedang senang walaupun ia tau apa yang di bicarakan sang ayah.
"Ken Daddy mau adik baru? Iya?" tanya nya yang semakin gemas dan menciumi putra nya itu.
"Kak? Kakak nih jangan ribut nanti Fey sama Key bangun kak?" ucap nya yang tak tau apa yang menjadi pembicaraan kecil ayah dan anak itu.
"Kalau kamu mau adik baru lagi nanti malam jangan nangis, biar Daddy buat adik baru untuk kamu." ucap nya pada putra bungsu nya sembari menciumi bayi mungil itu.
Baby Ken semakin tertawa saat sang ayah menciumi nya dengan gemas.
"Nanti malam Daddy buatin adik perempuan buat kamu," ucap yang terus berbicara dengan putra nya yang tak tau apa-apa selain makan, tidur, buang air, tertawa dan menangis itu.
Nyah...
__ADS_1
Baby Ken semakin tertawa dan menggeliat menyentuh wajah sang ayah yang terus menerus menciumi nya dengan gemas.
Sedangkan Celine tak lagi melarang karna melihat pria itu yang kini tengah asik bermain dengan putra bungsu mereka.