
"Ke-kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?" tanya Ainsley dengan gugup saat melihat pria itu terluka dan bahkan menodai pakaian nya dengan darah.
"Tuan memang tidak suka di bawa ke rumah sakit," jawab kepala pelayan dengan sopan.
Mereka memanggil dokter pribadi yang biasa di gunakan pria itu.
"Dia kekurangan darah," ucap dr. Martin saat memeriksa kondisi pasien nya.
"Darah?" tanya Liam mengernyit, stok yang mereka miliki sesuai dengan golongan darah pria itu sudah habis.
"Benar," jawab dr. Martin pada Liam.
"Golongan darah tuan sedikit sulit tapi..." ucap nya terhenti saat melihat wajah gadis yang berdiri di samping ranjang tuan nya.
Ia pun mengesampingkan pikiran nya, dan mencari cara lain hingga ia ingat dengan seseorang yang memiliki golongan darah yang sama.
Liam ingat jika gadis itu memiliki golongan darah yang sama karna dulu ia pernah mencari jenis darah yang sama saat Ainsley melakukan percobaan bunuh diri untuk pertama kali nya.
Dan saat itu tuan nya menyuruh nya mencari golongan darah yang sama saat rumah sakit tak lagi memiliki stok yang tersisa, namun pria itu tak mengetahui jika ia memiliki jenis darah yang sama dulu.
Maka dari itu sesuai data yang ia terima dulu, ia mengambil darah dari bayi yang berusia dua bulan dan mengirim darah nya ke rumah sakit untuk di gunakan gadis itu.
Ainsley bahkan tidak tau jika dulu nyawa nya selamat setelah membuat nyawa bayi mungil melayang di tangan pria yang dulu nya merasa geram karna ia mencoba mati saat pria itu ingin menjadikan nya mainan.
"Saya akan cari golongan darah yang sama," ucap Liam dan bergegas keluar.
"Jangan terlalu lama, banyak hal yang bisa terjadi saat terlalu terlambat." peringat dr. Martin pada Liam.
Liam mengangguk, sedangkan Ainsley duduk di tepi ranjang melihat pria itu.
"Nyonya tidak tau jika Tuan terluka?" tanya dr. Martin menarik napas.
Ainsley menggeleng atas pertanyaan tersebut, ia memang tak tau jika pria itu terluka.
"Seperti nya luka nya cukup parah," gumam dr. Martin sembari melihat bekas tikaman pada perut pria itu agar membuat gadis itu merasa bersalah.
Sebenarnya luka pria itu tak terlalu parah, hanya saja saat ini dapat membahayakan karna sudah kehilangan cukup banyak darah saat tak segera di obati.
Tusukan yang tidak terkena bagian vital dan tak terlalu dalam tentu nya bukan masalah.
Hanya satu yang menjadi masalah yaitu perdarahan yang di alami karna pria itu memilih makan malam bersama gadis nya di bandingkan mengobati luka nya lebih dulu.
"Oh iya, tadi aku tidak sengaja dorong dia sedikit..." ucap Ainsley lirih.
Ia merasa bersalah karna tadi sempat marah dan bahkan mendorong tubuh pria itu menjauh saat mengecup kening nya.
Dr. Martin menarik napas mendengar nya, "Kita harus menunggu sampai Liam membawakan darah yang sesuai."
Gadis itu mengangguk, namun tak lama kemudian ia mendengar bayi nya menangis, langkah nya pun langsung bergegas menghampiri putra kesayangan nya.
"Anak Mommy nangis? Sstt..." ucap nya sembari menggendong putra nya dan membawa keluar kamar.
Baby Axel masih menangis dan ia pun menenangkan putra nya yang terlihat menangis tersedu.
"Karna Daddy lagi sakit yah? Axel nangis? Cup cup anak Mommy..." ucap nya sembari menggendong dan mencoba memberi susu namun bayi mungil itu terus menangis.
"Sayang nya Mommy..." ucap nya yang terus mencoba mendiamkan putra nya namun nihil tak ada yang bisa ia lakukan.
...
Baby Axel telah reda dalam tangis nya, ia pun meletakkan lagi ke dalam keranjang bayi yang menggemaskan itu.
"Anak kecil?" gumam Ainsley saat melihat Lim membawa seorang anak.
"Dia siapa?" tanya Ainsley mengernyit terlihat jelas jika terdapat wajah ketakutan di anak perempuan berumur kurang lebih 6 atau 7 tahun.
"Maaf non- bukan maksud saya nyonya, dia di perlukan untuk saat ini." ucap Liam tanpa memberi tau maksud ia membawa gadis kecil itu.
"Untuk? Dia terlihat takut," ucap Ainsley sembari melihat gadis kecil yang terlihat ketakutan tersebut.
"Saya akan bicara lagi, tapi saya perlu bertemu dengan dr. Martin lebih dulu." jawab Liam dengan cepat dan segera menghindari gadis itu untuk pertanyaan yang lebih banyak.
Ainsley mengernyit melihat nya, namun ia dapat melihat wajah ketakutan pada gadis kecil, wajah yang sama seperti yang ia keluarkan dulu nya.
Liam pun membawa nya menemui dr. Martin dan membicarakan tentang kegunaan gadis kecil itu.
Deg!
"Apa yang mereka bicarakan?" gumam Ainsley yang terkejut saat ia mendengar pembicaraan kedua orang itu.
Gadis kecil yang harus nya di jual dalam waktu 5 bulan ke Afrika kini harus mati lebih cepat sat darah nya di butuhkan.
"Kalian gila?!" tanya Ainsley yang langsung masuk ke dalam sana.
Liam dan dr. Martin diam sejenak melihat calon istri tuan mereka yang menerobos masuk.
"Tidak ada pilihan lagi, kalau semakin di biarkan akan sulit mencari golongan darah yang sesuai, lagi pula bukan kah tuan seperti ini juga karna nyonya?" tanya dr. Martin yang langsung mengakui kesalahan nya namun menekankan jika itu semua kesalahan Ainsley.
"Tapi aku tidak tau..." jawab Ainsley lirih.
"Nyonya yang terus bersama tuan saja tak menyadari jika tuan sedang terluka parah," timpal dr. Martin agar gadis itu berpikir jika hal ini adalah kesalahan nya.
"Aku tau, aku salah! Tapi membawa anak kecil untuk di ambil darah nya sama dengan mati kan?" tanya Ainsley sekali lagi.
"Memang nya tidak ada yang lain? Golongan darah nya apa?" tanya Ainsley pada dr. Martin.
__ADS_1
Liam langsung ingin mencegah agar pria di samping nya tak mengatakan jenis golongan darah nya, jika tuan nya sampai sadar nanti pasti Richard lebih memilih membunuh satu orang anak perempuan di bandingkan melihat gadis itu kekurangan darah untuk nya.
"AB Rhesus negatif," jawab dr. Martin tanpa sempat di hentikan oleh Liam.
"Kacau sudah," gumam Liam karna ia tau jika tuan nya pasti akan memarahi mereka nanti nya.
"Aku juga punya jenis darah yang sama, kalau begitu ambil darah ku saja!" ucap Ainsley langsung.
"Bukan nya nyonya masih sedang memberi asi?" tanya Liam pada Ainsley sembari melirik ke arah dr. Martin.
Dr. Martin yang tak mengerti kode yang di berikan pria itu mengira jika Liam juga setuju dengan ide calon istri tuan nya.
"Setelah melahirkan selama 6 Minggu atau usia bayi yang sudah berada di 6 Minggu boleh saja, tak ada batasan, kalau nyonya mau kita bisa lakukan cek sekarang." ucap dr. Martin yang langsung mengarahkan gadis itu.
Memang tak ada masalah bagi ibu yang memberi asi mendonorkan darah nya asal sesuai dengan ketentuan kesehatan yang berlaku namun hal itu akan menyebabkan anemia dan mungkin secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi asi.
Liam tak bisa berkata apapun lagi, Ainsley menatap nya dengan tajam seakan ia harus mengembalikan anak yang ia bawa itu ke tempat nya.
...
Ainsley menunggu di samping pria itu, ia merasa bersalah walaupun hal ini bukan lah kesalahan nya sama sekali.
Dr. Martin sengaja mengatakan demikian agar gadis itu bisa lebih dekat dengan tuan nya, karna ia tau seberapa banyak tuan nya menggilai calon istri nya.
"Maaf aku tidak tau..." gumam nya lirih.
Setelah pengecekan yang dilakukan dan tak ada masalah yang bisa menjadi besar, proses transfusi darah gadis itu pun di lakukan.
...
2 Hari kemudian.
Karna sebelum nya pria itu sempat pingsan karna darah nya hampir habis, ia pun membutuhkan waktu untuk sadar kembali.
Mata nya mulai terbuka, pandangan yang masih mengabur mulai jernih perlahan, iris nya langsung menangkap wajah yang tengah pulas di samping nya.
Sedikit pucat karna ia memberikan transfusi darah sembari memberi asi pada putra kesayangan nya.
"Ainsley?" gumam nya melihat ke arah wajah gadis itu yang tanpa sadar tidur ke arah nya.
Sudut bibir nya tanpa sadar tersenyum, ia suka melihat gadis itu tidur di samping nya dan saat ia membuka mata wajah yang ia cintai muncul tertangkap oleh iris nya.
Ia bergerak namun langsung merasakan perban di perut nya.
Sejenak ia langsung ingat jika ia sempat di tikam sebelum nya, ia pun memutar tubuh nya melihat wanita yang akan ia nikahi sebentar lagi.
Sudut wajah yang bagi nya sempurna, kulit yang halus dan lembut serta harum membuat nya suka mencium gadis itu.
Tangan nya mengusap dan mengelus pipi, mengikuti arah alis tebal gadis itu dan menyentuh bibir lembut itu dengan jemari nya.
"Dia di sini tanpa harus ku paksa? Apa dia khawatir?" gumam Richard sembari terus mengusap seluruh bagian wajah yang membuat nya gemas.
Engh!
Gadis itu menggeliat sembari menepis tangan yang mengganggu wajah nya dan ketentraman tidur nya.
Ia pun langsung mengubah posisi dan tidur telentang, Richard tersenyum ia mendekat dan mel*mat bibir gadis itu.
Ainsley tak sadar dalam bayang tidur nya saat ini ia hanya sedang memakan jelly yang menghisap nya semakin habis.
Hingga ia merasakan jika jelly yang awalnya menghisap nya dengan lembut semakin menggelitik dan kuat.
Mata nya mulai terbuka, ia mulai sadar dan tidak sadar namun saat semua kesadaran nya pulih ia pun langsung terkejut.
Duk!
Tangan nya dengan refleks mendorong dengan sekuat tenaga dada bidang pria yang tengah mel*mat bibir nya.
"Astaga! Paman!" ucap nya terkejut saat melihat pria itu langsung ke terbaring di samping nya.
Richard terkejut sejenak karna gadis itu tiba-tiba bangun.
"Lu-luka nya?" tanya Ainsley lirih dengan khawatir.
Luka?
Batin Richard yang sadar lagi jika ia sedang terluka.
"Aduh! Luka ku! Kau mendorong nya!" ucap nya yang langsung memasuki mode kesakitan sembari meringis.
Walaupun sakit namun ia bisa menahan nya dan bagi nya luka seperti ini sering ia dapat dulu nya sehingga ketahanan nya lebih besar dari sebagain orang.
"Benarkah?" tanya Ainsley gelisah.
Pria itu menyembunyikan smirk nya, ternyata mendapat perhatian gadis itu sangat mudah.
Ia hanya perlu terlihat sakit dan menarik perhatian serta rasa bersalah yang di miliki di hati lembut itu.
"Sakit sekali..." ucap nya lirih sembari meringis.
Ainsley panik, sebelum nya dr. Martin sudah menakuti nya dan kini ia juga mendorong pria saat baru bangun.
"Aku harus bagaimana? Aku panggil dr. Martin lagi?" tanya nya lirih dengan merasa bersalah.
Richard tersenyum dalam hati nya melihat wajah yang penuh akan rasa bersalah di gadis itu.
__ADS_1
"Entahlah, kalau seseorang terluka kau harus apa untuk meringankan nya?" tanya Richard yang ingin mencoba mengetes gadis itu.
Ainsley diam sejenak, ia berpikir di semua memori nya. Sebelum nya tak pernah ada yang berusaha meringankan luka nya ataupun atau seseorang yang menenangkan nya ketika terluka.
Kecuali satu orang!
"Oh iya, aku tau..." ucap nya sembari mendekat dan mengusap halus luka yang tengah di balut perban tersebut.
Ia meniup sembari mengusap nya dengan lembut, mungkin ini tak cepat menyembuhkan namun akan membuat seseorang menjadi tenang.
Dan ini lah yang selalu di lakukan mantan kekasih nya dulu saat ia terluka ataupun sedang terjatuh.
"Sudah?" tanya nya sembari menatap wajah pria itu lalu memalingkan mata nya.
Sean...
Batin nya yang merindukan sosok lembut pria itu, walau dulu pria itu juga pernah kasar pada nya namun orang pertama yang mengenalkan rasa nya di cintai dan sayangi adalah pria itu juga.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Richard mengernyit saat ia merasakan jika pikiran gadis itu tengah berkelana ke arah lain.
Deg!
Ainsley tersentak, ia harusnya tak memikirkan pria itu lagi namun ia sendiri juga bingung cara menghilangkan semua memori yang sudah di bentuk.
"Tidak ada," jawab nya sembari memalingkan mata nya.
Richard menatap menelisik, ia tak tau apa yang di pikirkan gadis itu namun sejenak terlintas sorot yang seakan merindukan orang lain di mata gadis cantik itu.
Ia menggertakkan gigi nya, ia ingin langsung mencengkram dan mengancam Ainsley namun ia sadar jika melakukan nya ia tak bisa pura-pura sakit lagi.
"Liam di mana?" tanya nya mengganti topik.
"Di luar mungkin? Mau ku panggil?" tawar Ainsley segara.
"Hm, panggil dia kesini." jawab Richard pada gadis itu.
Ainsley pun segera beranjak turun dari tangga.
"Sudah berapa aku tertidur?" tanya nya saat gadis itu baru menuruni ranjang.
"Dua hari," jawab Ainsley.
"Wajah mu sedikit pucat, kau makan teratur kan?" tanya Richard yang menyadari raut gadis itu.
Ainsley menyentuh wajah nya, "Tidak, aku kan kalau tidak pakai make up memang seperti ini." elak nya yang tak ingin mengatakan ia memberi darah nya.
...
Richard bertemu dr. Marin dulu untuk mengetahui kondisi nya namun pria itu tak mengatakan jika ia menerima transfusi darah dari calon nyonya nya.
Liam kini berhadapan dengan tuan nya yang tengah menatap nya tajam.
"Apa aku harus rahasiakan dulu pernikahan ku?" tanya nya yang membuka suara.
Liam membuang napas lega, ia senang tuan nya tak menanyakan alasan wajah gadis itu pucat.
"Apa karna musuh tuan yang semakin banyak?" tanya Liam yang menyadari situasi nya.
Richard mengangguk, jika ia mengumumkan pernikahan nya maka semua musuh nya akan mengincar keluarga nya karna sudah menganggap ia memiliki kelemahan.
Mungkin ia bisa menghadapi nya, namun gadis rapuh itu? Pasti akan sulit untuk melawan arus saat berdiri dab terjebak di kubangan lumpur hidup.
"Tapi kalau ku rahasiakan aku juga tidak bisa memberikan dia pesta pernikahan, dan lagi dia pewaris B'One grup." ucap nya yang langsung berpikir jika akan banyak yang mengincar gadis nya.
"Tapi jika sudah ada yang tau jika dia wanita tuan pasti dia juga akan di incar," jawab Liam yang tau jika sama saja pernikahan di umumkan atau tidak.
Karna jika harus berdiri di samping tuan nya maka harus siap menerima pisau dari semua musuh dan mungkin taruhan nyawa yang bisa membuat nya berbahaya.
"Benar juga..." gumam Richard.
"Tapi dari mana kau dapat darah ku? Tadi Martin bilang aku kehabisan darah." tanya Richard pada Liam.
Liam diam sejenak, ia menarik napas karna percuma berbohong pada tuan nya.
"Nyonya Ainsley memberikan darah nya," jawab nya pada pria itu.
"Ainsley? Darah nya?" tanya Richard yang tak tau mereka memiliki jenis dan golongan darah yang sama.
"Benar tuan," jawab Liam dan mulai menceritakan kejadian malam itu.
Richard mendengar nya lalu ia pun menarik napas nya.
"Dulu bukan nya dia pernah kehabisan darah juga?" tanya Richard sembari mengingat masa lalu gadis itu.
"Benar tuan," jawab Liam segera.
"Aku tidak tau kalau golongan darah nya sama dengan ku? Kita malah membunuh bayi umur dua bulan waktu itu? Kalau bayi nya hidup kan bisa di jual lebih mahal jika sudah sedikit besar." ucap nya mengeluh.
"Benar tuan," jawab Liam pada tuan nya.
"Kenapa kau tidak bilang?" tanya Richard pada Liam.
"Tuan tidak bertanya, dan saya mengira jika dulu tuan tidak akan memperdulikan nya." jawab Liam jika melihat situasi dahulu.
Richard mengangguk, ia dulunya mungkin hanya mengira jika hanya ingin mempermainkan gadis itu namun ia tanpa sadar menyukai dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Setelah ini keluar dan urus sisa organisasi yang ikut dari Spanyol dan tentu nya bersama dengan Martin," perintah Richard yang tak suka darah wanita di ambil.
Liam membuang napas nya lirih, "Baik tuan."