Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Hallucination


__ADS_3

Suara denting dari jam yang berputar perlahan membangunkan gadis itu dalam tidur nya.


Aroma menyegarkan dan lembut yang tercium di indra penciuman nya membuat nya tak asing lagi, pelukan yang terasa hangat menyelimuti nya.


Sean? Apa aku masih bermimpi? Kalau ini mimpi aku tak mau bangun...


Batin nya saat melihat sayu ke wajah pria yang tertidur di samping sembari mendekap nya erat.


Pria itu mulai menggeliat dan ikut terbangun dari tidur nya. Mata nya langsung mengunci ke iris yang tengah menatap nya.


"Morning, babe..." ucap pria itu tersenyum lembut sembari mencium puncak kepala gadis itu dan mendekap nya lagi.


Mata dan wajah yang tanpa ekspresi itu masih tak mampu membedakan antara mimpi dan nyata yang ia rasakan setelah semua perjalanan yang bagaikan mimpi buruk untuk nya.


Tangan yang menyapu dan mengelus lembut punggung nya membuat gadis itu kembali memejamkan mata nya sembari menghirup aroma tubuh pria yang sudah sangat ia kenali itu.


Waktu berlalu dan gadis itu kembali tertidur dengan tenang sedangkan pria yang mendekap nya tak lagi bisa memejamkan mata nya selain memikirkan cara agar gadis nya mau membuka suara dan mengatakan semua ketika ia benar-benar terbangun.


...


"Sudah bangun? Hm?" suara yang menerjap masuk ke telinga gadis itu ketika ia membuka mata nya lagi.


Ia memandang ke arah pria yang tengah duduk di tepi ranjang sembari mengelus wajah nya.


Tak ada jawaban sama sekali hanya tatapan kosong dari iris berwarna coklat kehijauan itu yang terus menerus memandang lurus.


"Bangun, kau tak lapar? Sudah jam 10." ucap Sean sembari menarik dan membangunkan gadis itu.


Ainsley masih diam menatap tanpa sepatah kata pun.


"Ainsley?" panggil Sean lagi sembari menggenggam tangan gadis itu.


Pria itu menatap kemudian memalingkan wajah nya, entah kenapa ia merasa tatapan gadis itu sudah 'Mati' tak ada satu pun yang bisa terbaca dari mata yang dulu nya selalu bisa menunjukkan semua emosi yang di rasakan nya.


"Kita makan dulu," ucap Sean sembari keluar dan mengambil makanan yang di sukai gadis nya.


Setelah semua sudah di siapkan dan semua jenis makanan yang di sukai gadis itu di depan mata nya.


"Kau suka ini kan? Makan yah?" ucap pria itu sembari memberikan sesendok makanan yang dulu nya paling di sukai gadis itu.


Ainsley menunduk menatap makanan yang di sodorkan pada nya, ia tak mengatakan apapun namun ia tetap menurut bagaikan boneka yang sudah di beri baterai.


Setelah mengunyah dan mulai menelan nya perut gadis itu bergejolak, ia merasa jijik dan tak bisa menelan makanan tersebut.


Hoek!


Gadis itu langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang baru ia telan.


Deg...deg...deg...


Jantung nya berdetak kencang, perut nya terasa begitu mual, wajah nya mulai pucat.


Sekelebat ingatan selama ia di culik mengalir bagaikan putaran video di kepala nya, mungkin selama ia di culik yang melakukan hal tersebut hanya satu pria namun dalam bayangan nya ia sudah tidur dengan dua pria.


Paman yang ia anggap seperti ayah dan pria bertopeng yang terus mengancam nya karna melihat pembantaian di hutan tersebut.


Cairan nya masih ada! Menjijikan...


Batin gadis itu dengan menarik nafas berat dan dada nya mulai terasa sesak. Baginya setiap makanan yang masuk kedalam perut nya akan berubah menjadi kotor hingga ia memuntahkan.


Cairan kehidupan yang harus ia telan dan ciuman yang membuat nya meneguk saliva pria itu membuat nya bahkan merasa kotor hingga di dalam tubuh nya.


"A-aku di mana? I-ini masih mimpi kan?" gumam nya menatap ke arah kamar mandi yang luas dan bersih tersebut.


Ia tentu nya sangat mengenal design mansion kekasih nya namun gadis itu mulai tak mampu membedakan antara halusinasi, mimpi, dan kehidupan nyata nya.


"Ainsley?!" panggil Sean yang segera menyusul nya karna gadis nya tiba-tiba pergi memuntahkan makanan nya.


Gadis itu tersentak dan langsung menutup serta mengunci rapat pintu nya. Kaki nya terasa tak memiliki tenaga dan langsung terjatuh ke lantai yang dingin.


"Mimpi...


A-aku baik-baik saja, aku bertemu dengan nya jadi aku tak mau bangun..." gumam nya sembari menutup telinga nya dengan gemetar.

__ADS_1


Baik-baik saja? Kau pikir gadis nakal seperti mu pantas baik-baik saja?


Suara yang terdengar mengejek di telinga nya.


"Si-siapa?" gumam Ainsley sembari mengandah dan menatap ruangan yang tak ada satupun orang tersebut.


Sedangkan Sean terus berusaha mendobrak dan memanggil nama nya dari luar dengan rasa khawatir yang menyelimuti nya.


Anak nakal! Pembawa sial seperti mu ingin baik-baik saja?! Kau ingin bahagia?!


Halusinasi yang membuat gadis itu terus menerus membuat nya mendengar suara yang menyakiti nya.


"Ma-mamah? Mamah dimana?" gumam nya dengan suara lirih hampir tak terdengar.


Tenang saja ini tak nyata...


Kau lupa? kita hanya pura-pura...


Suara yang kembali berbisik mempengaruhi nya dalam kepala kecil nya.


"Ti-tidak nyata? Aku mau bangun..." ucap nya lirih dengan suara gemetar dan tangisan yang luruh.


Menjijikkan! Aku tak mau dengan mu lagi!


Kau kotor!


Gadis itu tersentak kali ini ia mendengar suara kekasih nya yang tengah membuang nya.


"Se-sean? Ma-maaf..." gumam nya semakin ketakutan gemetar hebat.


Gadis nakal harus di hukum kan?


Bodoh! Kenapa selalu menyusahkan?! Anak sial!


Berhenti membuat masalah, kau tau pekerjaan ku banyak kan?


Bagaimana? Aku lebih bisa memuaskan mu, kan? Kau tak mau di sini saja? Hm?


"Be-berhenti! Ja-jangan bicara lagi..." ucap nya yang semakin menutup telinga nya dengan erat namun suara-suara yang ia dengar semakin menyatu di telinga nya.


Kaki yang gemetar itu pun berangsur perlahan bangun dan menatap pantulan dirinya dari cermin yang berada di depan wastafel kamar mandi mewah tersebut.


Tubuh mu sangat mengesankan, aku ingin lagi...


Mata gadis itu membulat sempurna saat kini suara halusinasi nya bahkan sudah memiliki wujud, pria bertopeng dan tengah mencium tengkuk nya dari belakang terlihat jelas dari pantulan cermin dimana ia berdiri.


"Ja-jangan...." gumam nya yang semakin tenggelam dalam halusinasi menyakitkan tersebut.


Murahan! Kalau tau kau wanita seperti ini aku tak mau dengan mu lagi! Bahkan menghukum mu terasa sangat menjijikkan!


"Se-sean?" ucap nya lirih yang melihat bayangan kekasih nya.


Memandang nya seperti kotoran yang harus di singkirkan dengan tatapan menjijikan dan jengah.


Memang anak sial! Kenapa kau tak mati juga?! Kau hidup hanya bisa menjadi sumber sengsara orang lain!


"Ma-mamah..." panggil nya lirih ketika suara sang ibu terdengar oleh nya.


Mata yang penuh kebencian dan tatapan yang selalu tajam itu bahkan sangat menyakiti gadis itu.


Kenapa putri Belen banyak kekurangan seperti ini? Kau itu seorang pewaris! Mengecewakan!


"Pa-papah?" ucap nya lagi yang semakin menangis.


Sorot mata yang selalu dingin dan mengabaikan, tatapan yang paling menyakiti nya dibandingkan tatapan tajam sang ibu yang begitu membenci nya.


Rasa sakit yang di berikan orang terdekat menambah 100 kali lipat di banding kan orang yang bukan siapa-siapa.


"Berhenti! Berhenti...


Ku mohon..." tangis nya sembari menarik vas dan menghancurkan cermin di depan nya seketika.


PRANG!!!!

__ADS_1


Serpihan cermin yang langsung jatuh berserak memberikan pantulan yang


Kepala nya terasa pecah dengan sakit yang luar biasa ia benar-benar tak sanggup hingga membuat nya ingin gila saat ini juga.


Kau anak nakal...


Harus di hukum...


Lagi-lagi suara yang kembali terdengar, bukan suara siapapun namun suara itu mampu mempengaruhi nya.


"Benar...


Aku nakal..." ucap gadis itu lirih sembari mengambil potongan tajam cermin yang jatuh berserakan tersebut.


Tangan nya menggenggam erat hingga membuat luka dan cairan merah kental yang mengalir di sela-sela genggaman nya.


Sekarang kau harus di hukum, karna sudah jadi nakal...


Suara yang seperti memeluk menyelimuti nya dan memberikan pengaruh pada gadis itu.


Tubuh nya mulai tenang tak lagi gemetar hebat, tangisannya mulai reda, rasa panik nya mulai menurun.


BRAK!!!


Pintu yang akhirnya terbuka lebar ketika pria itu berhasil membuka nya.


"Ainsley?" panggil nya lirih dengan rasa khawatir yang menyelimuti nya.


Ia melihat gadis nya yang berdiri dengan mata sembab dan tatapan serta ekspresi wajah yang kosong dan tangan yang berlumuran darah karna memegang serpihan cermin begitu erat.


Sean pun mendekat dan langsung ingin menggapai tangan gadis itu agar melepaskan serpihan kaca tajam itu.


"Kau terlu-"


CRASS!!


Ucapan nya terpotong, langkah nya terhenti seketika dan darah segar itu langsung menyiprat mengenai wajah nya.


Ia mematung sejenak karna begitu terkejut melihat gadis itu memotong nadi di leher nya secara tiba-tiba bahkan hingga membuat darah segar itu mengenai wajah nya.


"Ainsley!" panggil Sean dan langsung menangkap tubuh gadis itu yang terjatuh di depan nya setelah memotong nadi leher nya sendiri.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya pria itu dengan suara gemetar saat menangkap tubuh gadis nya.


Darah segar terus membasahi tangan pria itu yang mengalir dari leher kekasih nya. Ia gemetar sejenak ia tak mampu memproses nya karna begitu terkejut dan mengembalikan trauma masa kecil nya ketika melihat kematian sang ibu.


"Ja-jangan..." mata nya mulai berair tangan nya semakin gemetar dan kepala yang tak bisa berfikir jernih.


Rasa panik dan trauma pria itu mulai kembali saat melihat wanita yang ia cintai terlihat seperti bayangan kematian sang ibu yang begitu tragis.


Ainsley menatap kosong ke arah pria yang mennjatuhkan air mata di depan nya, bagi nya ini semua hanya mimpi di musim semi yang harus di bangunkan.


Tangan gemetar gadis itu mulai terangkat dan mengusap air mata pria yang menatap dan merangkul tubuh nya.


Wajah pucat dengan darah yang terus mengalir keluar dalam tubuh nya namun mematikan semua rasa sakit nya. Mata nya mulai terpejam ketika kesadaran nya sudah habis.


Tangan kecil yang gemetaran itu berhenti mengusap air mata kekasih nya dan jatuh seketika.


"Ainsley...


Ja-jangan..." pria itu semakin gemetar.


Ia ingin bangun dan segera membawa kerumah sakit namun trauma yang ia miliki menahan serta menghambat nya dan hanya membuat nya seperti orang bodoh yang harus melawan semua kepingan memori mengerikan itu dulu agar bisa menyelamatkan gadis yang ia cintai.


Aku nakal...


Jadi hukum aku...


Aku Ingin melarikan diri...


Rasa sakit ini membelenggu ku...


Tapi aku tak pantas...

__ADS_1


Aku nakal, pembawa sial, bodoh, kotor dan menjijikan...


Jadi aku harus di hukum...


__ADS_2