
Wajah semangat setelah mendapatkan apa yang ia cari hingga membuat kasir tersebut sedikit bingung dan beranggapan jika gadis di depan nya tak sabar untuk melakukan hal tersebut.
"Anak sekarang semakin menjadi..." gumam kasir toko tersebut saat melihat gadis yang sangat semangat dan pria di belakang nya yang memiliki aura membunuh itu pergi keluar.
...
"Yeyyy!!! Dapat juga!" ucap gadis itu senang saat pria yang ia panggil paman langsung mendapatkan apa yang ingin di cari nya.
"Kau benar-benar tak tau apa itu? Kau sungguh meniup nya?" tanya Richard tak habis pikir.
"Tau! Balon kan? Paman mau?" tawar nya sembari memberikan salah satu yang ia beli.
"Aku tak suka pakai balon seperti itu," jawab Richard dengan sedikit menunduk dan menatap mata polos di depan nya.
"Iya juga...
Paman kan sudah tua, masa main mainan anak-anak..." jawab gadis itu dengan tawa polos nya karna berfikir pria dewasa tak mungkin bermain meniup balon.
Richard pun langsung mengernyit, jika di lihat dari umur ia juga bukanlah pria yang sangat tua namun gadis cantik terus saja memperlakukan nya seperti manula.
"Aku juga belum terlalu tua! Ck! Membuat jengkel saja!" decak nya kesal melihat gadis itu yang memang seperti tak tau apa-apa.
"Tapi kan paman memang lebih tua dari ku?" ucap gadis itu lirih saat melihat pria di depan nya terlihat kesal.
Richard pun berdecak, ia tak bisa mengeluarkan sifat asli nya karna masih ingin memainkan peran paman baik yang perlahan mengendalikan gadis itu.
"Sudah mau pulang?" tanya Richard mengalihkan pembicaraan tentang perbedaan umur mereka yang terpaut 8 tahun dan memang ia yang lebih tua dari gadis itu.
"Paman mau minum teh dulu? Aku traktir! Kan paman udah bantuin cari balon nya!" ajak Ainsley yang langsung teralihkan dengan mudah.
Richard tak menjawab dan hanya mengangguk kecil ia pun mengajak gadis itu ke mobil nya untuk pergi bersama.
...
Cafetaria.
Pria itu memilih tempat di sudut yang tak menarik perhatian orang lain dan merupakan tempat yang cukup sunyi untuk nya.
"Kau benar-benar tak tau cara pakai nya?" tanya Richard mengulang pertanyaan yang sama.
"Cara pakai apa?" jawab gadis itu dengan pertanyaan lain sembari menatap eskrim di depan nya.
"Yang baru kau beli barusan," jawab pria itu singkat.
"Harus nya di tiup kan? Tapi kata Vindi bukan di tiup...
Nanti deh aku tanya lagi," jawab Ainsley jujur pada pria itu.
"Mau ku beri tau cara pakai nya? Kita bisa menggunakan sesuatu sebagai perumpamaan," goda pria itu yang benar-benar ingin tau gadis di depan sedang pura-pura atau tidak.
__ADS_1
"Mau! Cara pakai nya bagaimana?" ucap Ainsley langsung semangat.
"Aku panggil pelayan dulu seperti nya kita membutuhkan sesuatu yang mirip sebagai contoh nya." ucap pria itu dengan smirk yang sulit diartikan.
Setelah memanggil pelayan dan membuat alasan yang masuk akal akhirnya pria itu mendapatkan apa yang cocok untuk bahan perumpamaan karna ia tak mungkin langsung memberi tau gadis itu. Jika hal tersebut yang ia lakukan dengan sifat Ainsley yang polos pasti akan menimbulkan masalah di keramaian.
"Timun? Timun nya buat apa?" tanya gadis itu dengan bingung.
"Buka yang kau beli tadi," ucap Richard tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
Ainsley pun menurut lalu memberikan nya kepada Richard.
"Nah dia di masukan seperti ini," ucap Richard setelah memberikan timun yang sudah di lapisi pengaman sebagai ganti dari yang seharusnya.
"Untuk timun yah?" tanya Ainsley sembari menatap ke arah timun yang di beri pengaman untuk berc*inta tersebut.
"Bukan, itu untuk pria." jawab Richard sekali lagi.
"Pria? Tapi ini paman kasih nya di timun?" tanya Ainsley dengan mata ingin tau nya pada hal baru.
"Kau tau? Pria itu adalah makhluk ber-ba-tang." ucap pria itu mengeja dan menekankan kata-kata nya. "Dan ini di letakkan di batang pria agar bisa menahan sesuatu yang akan menyembur keluar, mengerti kan?" sambung Richard dengan senyuman simpul nya.
Otak polos gadis itu masih belum mencerna penjelasan dari pria di depan nya ia hanya menatap bingung dan mengulang pernyataan tersebut di bibir nya.
"Pria makhluk berbatang? Batang yang mana? Batang..." gumam nya berusaha mencerna kalimat dan kata-kata baru untuk nya.
Ia pun berfikir keras hingga isi kepala nya memutar pada bagian tubuh kekasih nya yang mirip dengan "Batang" yang baru di sebutkan.
Bagaikan ledakan bom atom di kepala nya ia pun mulai menangkap maksud ucapan paman nya.
Mata nya membulat dengan wajah yang langsung memerah seketika, entah kenapa ia benar-benar merasa malu hingga ingin sekali membuang wajah nya lalu me-refill nya dengan wajah gadis lain.
"Pfftt..." Richard tak bisa menahan tawa nya melihat reaksi yang sangat menggemaskan dan lucu tersebut, "Sudah mengerti?" goda nya lagi dengan tawa yang mulai terlepas.
"I-iya...
A-aku sudah me-mengerti..." jawab gadis itu terbata-bata karna gugup dan malu yang bersamaan saat ia menyadari tingkah laku nya yang memalukan.
"Paman jangan ketawa! Aku makin malu!" sambung Ainsley sembari menutup wajah merah nya.
Pria itu mengehentikan tawa nya sejenak dan menatap ke arah gadis itu.
Selain menangis, reaksi seperti ini juga lumayan seru...
Batin nya sembari menatap gadis itu. Ia suka melihat air mata seseorang dan melihat orang-orang yang memohon pada nya lalu menyiksa nya hingga ia bosan.
Bukan!
Lebih tepat nya pria itu suka dengan melihat wajah putus asa yang memohon pada nya, hal ini memang bukanlah hal normal namun saat ia melihat ekspresi seperti itu ia akan merasa lega.
__ADS_1
Karna aku bukan satu-satu nya orang yang menderita di dunia ini...
Pemikiran seperti itu lah yang membuat nya menyukai air mata penderitaan dan wajah putus asa orang lain yang sedang mengharap permohonan.
Dan baru kali ini ia menyukai ekspresi yang lain selain tangisan dan wajah putus asa yang sedang memohon.
Seperti nya semakin menarik sekarang...
Benar-benar menggemaskan sampai aku ingin membuat wajah itu menangis darah...
Pria tersebut hanya tersenyum simpul dengan tatapan yang menyimpan begitu banyak belah mata pisau yang ingin ia berikan pada gadis itu.
...
Setelah dari cafe Richard pun mengantar gadis itu kembali ke apart teman nya, namun saat ia menoleh ia melihat gadis itu yang tengah tertidur pulas.
Ainsley yang memang kelelahan karna semalam mencoba belajar ulang di semua pelajaran nya yang tak hadir hingga membuat nya tidur larut dan saat di perjalanan ke apart Vindi pun ia tak sengaja tertidur.
Tangan pria itu mulai menggapai dan meraih wajah cantik yang sedang tertidur tersebut. Menyentuh pipi dan mengelus wajah nya hingga mulai menyentuh bibir merah muda yang sangat lembut tersebut.
"Kau sedang bermimpi makan?" gumam nya tanpa sadar tersenyum pada sesuatu yang hanya ia anggap sebagai objek untuk membuang rasa bosan nya.
Ia yang menatap gadis itu sejak awal seperti memakan sesuatu dari gerak bibir nya yang terus bergerak.
Hup!
Ainsley yang tenggelam dalam mimpi nya tanpa sadar memakan jari telunjuk yang tengah meraba bibir nya.
Deg...
Richard terkejut karna tiba-tiba gadis itu melahap jemari nya tanpa sadar. Wajah tenang dengan bulu mata lentik yang semakin terlihat garis nya saat terpejam serta bentuk sempurna yang berada di wajah gadis itu.
Nyam...
Bukan nya berhenti, gadis itu malah semakin menangkup dan menghisap jemari pria itu seperti permen karna tenggelam dalam mimpi kekanakan nya.
Mimpi yang berada di dunia permen seperti kartun animasi yang ia lihat di apart teman nya sebelum nya.
Berbeda dengan Ainsley yang terus menghisap jemari pria itu layak nya memakan permen, Richard sendiri merasakan hal lain.
Pria dewasa itu membayangkan sesuatu yang lain, sesuatu yang ia inginkan untuk gadis itu hisap namun bukan jemari nya begitu ia merasakan sapuan lidah hangat yang membangkitkan nya.
Sial! Aku ter*ngsang?! Hanya seperti ini?!
Decak nya kesal mengetahui sesuatu dari dirinya nya yang bangkit dan menyesakkan di balik celana nya. Ia pun langsung menarik tangan nya segera agar gadis itu berhenti menghisap jemari nya.
"El..men..." gumam Ainsley tak jelas saat ia merasa permen nya hilang.
"Bagus sekali kau menggoda ku? Hm? Kau tak tau akibat nya?" bisik pria itu mendekat pada telinga gadis yang tengah tertidur pulas tersebut.
__ADS_1
Ia pun menghidupkan kembali mobil nya dan tak jadi menurunkan gadis itu, ia bahkan memberi aroma bius agar gadis itu tetap terlelap sampai ia sampai di tujuan nya.
Kau yang memancing ku hari ini, jadi jangan menangis keras tapi tak apa mengeluarkan air mata yang banyak...