
Apart Venelue'ca
Wanita itu mulai merasa bosan ketika berada di dalam rumah sendirian, ia mengambil cuti dua hari dan tak memegang pekerjaan nya sama sekali membuat nya menjalani hari lebih lama.
Di tambah lagi putra kesayangan nya tengah pergi ke sekolah.
Ia berulang kali menarik napas nya lalu menghembuskan nya dengan kasar secara panjang.
Walaupun merasa bosan namun ia juga tak bersemangat melakukan apapun kecuali hanya ingin tidur dan hanya merebahkan diri nya di atas ranjang nya yang empuk.
"Anak ini..." gumam nya lirih yang tersenyum melihat postingan putra nya bersama kedua teman nya yang ia kenal.
Wajah yang tampak ceria seperti tak kurang satu apapun membuat nya merasa tenang dan memberi nya kebahagiaan tersendiri.
Ia dulu nya sangat takut jika kehidupan putra nya akan sama seperti diri nya dan hal itu lah yang menjadi kan nya alasan untuk memilih tak ingin memiliki anak dulu nya.
"Sekarang aku mau apa lagi?" gumam nya yang menyimpan ponsel nya sembari tangan nya merogoh ke dalam bungkusan makanan ringan di samping nya.
Tak lama suara bel apart nya berbunyi, jujur saja wanita itu sangat malas untuk beranjak turun dari tempat tidur nya.
Namun di rumah nya itu ia tak memperkerjakan pelayan yang setiap saat dirumah ada namun pelayan yang pulang di setiap jam yang di tentukan karna ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri dan putra nya.
Tidak tempat yang penuh di tinggali dengan para pelayan.
"Astaga, siapa yang datang..." keluh nya lirih dan mulai beranjak dari tempat tidur nya lalu berjalan keluar guna melihat siapa yang tengah mendatangi nya.
Ia melihat sejenak dari kamera pintu nya, dahi nya mengernyit karna ia seperti nya tak memanggil wanita yang dulu nya selalu menjadi dokter nya.
dr. Candy tersenyum melihat wanita itu, "Tadi Axel nelpon saya, kata nya Anda sakit makanya saya datang memeriksa." ucap nya pada wanita itu.
Ainsley hanya membuang napas nya lirih, ia sengaja mengambil libur dan tak memanggil dokter karna malas harus berhubungan dengan pengobatan.
Namun karna putra nya yang membawakan dokter untuk nya mana mungkin ia menolak nya.
Ainsley pun mempersilahkan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah nya, sesuai dengan pekerjaan nya dr. Candy pun mulai memeriksa wanita itu ketika Ainsley sudah duduk dengan nyaman.
Ia mengernyit beberapa kali ketika memeriksa wanita itu sedangkan yang di periksa hanya bersantai sembari memainkan ponsel nya sejenak.
"Ada apa?" tanya Ainsley ketika menutup ponsel nya dan melihat wanita itu yang terus menerus mengernyit ketika memeriksa nya hingga ia pun tak tenang saat memainkan ponsel nya.
"Seperti nya anda hamil," ucap dr. Candy mengernyit.
Ia yakin dengan pemeriksaan nya namun ia masih perlu memastikan lagi.
Ainsley mengangguk kecil mendengar nya karna ia masih belum begitu tersambung dengan perkataan yang baru di dengar nya.
"Hamil rupa nya..." ucap nya lirih dan mengambil ponsel nya lagi, namun...
Deg!
Mata nya membulat seketika saat ia sudah sadar apa arti dari perkataan itu.
__ADS_1
"Hamil? Siapa? Aku?!" tanya nya yang begitu terkejut walau memberikan respon yang terlambat.
"Benar, tapi kita perlu memastikan nya lagi." jawab dr. Candy pada wanita itu.
"Tapi kenapa bisa?!" tanya nya yang masih terkejut.
"Itu..."
"Seharusnya bukan pertanyaan yang bisa saya jawab kan? Kalau anda bertanya karna masalah usia, wanita masih bisa hamil walaupun sudah berusia 40 an dan lagi anda juga masih sehat dan belum menopouse." ucap dr. Candy menjelaskan.
"Tapi kenapa? Lagi pula juga cuma sekali?! Biasa nya aja gak pernah begitu!" sambung nya lagi pada sang dokter dengan tatapan tak percaya.
"Aku juga tidak muda lagi? Kenapa bisa?" tanya wanita itu yang semakin mendumel ketika tau tentang kehamilan nya yang begitu tiba-tiba.
"Mungkin saja anda sedang berada di masa subur begitu juga dengan pasangan anda," jawab dr. Candy "Lalu anda juga harus mengetahui kehamilan di usia lanjut memliki beberapa resiko dan harus cukup di perhatikan." sambung wanita itu lagi menjelaskan.
"Haha, Hamil..." Ainsley begitu terkejut hingga membuat nya tertawa linglung mendengar ucapan dokter wanita yang tengah memeriksa nya itu.
dr. Candy masih diam saja, ia tau urusan pribadi adalah sesuatu yang tak boleh ia campur maka dari itu ia hanya memilih berbicara sesuai dengan profesi nya.
"Anda seperti ini karna sedang berada di trimester pertama, sebaiknya anda beristirahat yang cukup dan melakukan pemeriksaan lanjutan." ucap nya pada wanita itu, "Lalu saya akan berikan obat untuk anda, karna saat ini kesehatan anda sedang menurun akibat kelelahan yang di tambah kehamilan." terang nya lagi.
Ia pun mengeluarkan resep obat yang ia tulis agar nanti nya bisa segera datang ke apart wanita itu.
Ainsley masih terdiam, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Padahal kan cuma sekali? Kenapa bisa langsung jadi?!" gumam nya yang tak habis pikir.
"Kenapa hamil?!" ucap nya yang merasa frustasi.
"Harus nya walaupun terlambat aku beli aja obat nya!" sambung nya frustasi sekali lagi.
Ketika jalanan masih begitu ramai dan macet, ia memeluk tak membeli obat kontrasepsi tersebut karna berpikir jika sudah terlambat meminum nya saat sudah tiga hari selesai berhubungan dan sekarang ia sedikit menyesali nya.
Ia kembali terdiam, yang ia pikirkan saat ini bukan ayah dari anak yang ia kandung namun bagaimana respon putra nya nanti nya.
"Aku harus bilang gimana sama Axel..." gumam nya lirih.
...
Pukul 07.30 pm
Ainsley melihat ke arah putra nya yang seperti nya tengah berada di mood yang baik.
"Axel? Gimana hari ini sekolah nya?" tanya nya pada putra kesayangan nya itu.
"Baik Mom," jawab Axel pada sang ibu sembari melihat ke arah mata wanita itu sekilas.
"Axel?"
Panggil wanita itu dengan ragu pada putra nya sembari menghentikan suapan sendok nya.
__ADS_1
"Mommy mau tanya sama kamu?" ucap nya lagi dengan lirih.
Axel mengernyit, ia tak mengerti namun ia juga menghentikan makan nya dan menatap sang ibu yang tengah melihat ke arah wajah nya.
"Tanya apa Mom?" tanya remaja itu pada sang ibu sembari menatap wanita yang terlihat gugup dan gelisah itu dengan bingung.
"Kalau kamu punya adik kamu bakal gimana?" tanya nya dengan nada rendah dan hati-hati.
"Adik? Kenapa tanya gitu Mom?" remaja yang bingung itu pun menatap sang ibu.
"Mommy kan cuma mau tau, kalau misal nya kamu punya adik kamu bakal gimana." ucap nya lagi.
"Mommy kok tanya adik sih? Gak mau ah!" ucap nya dengan penolakan segera.
Dulu ia memang sangat ingin mempunyai seorang adik namun itu ketika sang ayah masih hidup dan jika sekarang ibu nya memberinya nya adik itu berarti adalah adik yang dihasilkan dari ayah yang berbeda.
Dengan sifat pencemburu yang masih cenderung kekanakan itu dengan kasih sayang ibu nya tentu nya ia takut dan merasa sang ibu tak akan memperhatikan nya lagi.
Dengan anak baru yang akan di miliki bersama yang akan di cintai ibu nya, walaupun ia sudah membiarkan sang ibu untuk memilih hidup dengan bebas dan bisa bersama siapapun namun memiliki saudara dari ayah yang berbadan membuat nya sedikit takut diasingkan nanti nya.
"Kenapa?" tanya Ainsley mengernyit.
"Gak apa-apa," jawab nya yang tak ingin mengatakan pada sang ibu jika ia takut diasingkan saat memiliki saudara atau saudari yang baru.
Dan ia tak mau mengatakan alasan kekanakan tersebut pada sang ibu.
"Axel?" panggil nya lirih.
"Dulu kan Axel mau adik? Sekarang kenapa gak mau nak?" tanya wanita itu lagi pada ibu nya.
"Dulu kalau aku punya adik, Mommy masih sama Daddy. Aku gak bakalan diasingkan, tapi kalau sekarang Mommy kan bakalan punya keluarga Mommy sendiri." ucap nya yang mengatakan tentang kekhawatiran nya yang berlebih.
"Nak? Mau Mommy sama siapapun nanti nya atau Mommy bakalan punya anak berapapun lagi, kamu itu tetap keluarga Mommy." ucap pada putra nya yang terlihat langsung sendu.
Axel menggeleng pelan, "Beda Mom, Mommy bakalan punya pasangan baru, mungkin anak yang lain, aku pernah bilang apa yang mau Mommy lakuin, lakuin aja asal Mommy bahagia tapi aku kadang juga takut Mom..." cicit nya pada sang ibu.
"Takut kenapa?" tanya wanita itu pada putra nya.
"Mommy bakal lupa sama aku, karna nanti cuma aku yang bakalan beda sendiri..." sambung nya yang sedikit mengatakan kekhawatiran nya pada sang ibu.
Ainsley diam sejenak, ia menatap putra nya dan menarik napas nya.
"Tapi masa Axel gak mau adik yang lucu sih?" tanya wanita itu tersenyum lembut pada putra nya yang juga mengerti putra masih sedang beranjak ke pemikiran dan sikap yang dewasa namun tentu nya hal itu membutuhkan waktu.
Karna ia begitu menyayangi putra nya dan memberikan semua cinta nya tentu mungkin remaja itu sudah terbiasa hidup tanpa kasih sayang ibu yang di bagi dengan saudara lain nya.
"Gak mau! Banyak tuh yang lucu juga!" ucap nya dengan ketus seperti seorang anak yang takut tersaingi jika memiliki saudara yang baru.
"Yang lucu kayak Mommy? Memang nya ada di luar?" tanya wanita itu tersenyum dengan tawa kecil nya.
Axel menoleh, jika memiliki saudara yang kecil menggemaskan seperti ibu nya tentu nya hal itu akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mengasikkan namun tentu nya ia masih tak mudah untuk mengatakan 'Iya' pada sang ibu.
__ADS_1