
Hotel.
Binar lampu yang terlihat dari balik dinding kaca hingga membuat pria itu menghela napas nya berulang kali.
"Kau bosan? Aku juga bosan, apa kita akhiri saja?" tanya seorang wanita sembari melihat wajah yang seakan tak peduli dengan keberadaan nya.
"Kau sudah tau? Aku pikir kau tidak sadar dari tadi," ucap Sean sembari melirik malas pada wanita yang kini menjadi teman kencan buta nya.
Wanita itu mengangguk, ia memang menarget pria di depan nya untuk di jadikan suami karna ia membutuhkan latar dan kekuasaan yang di miliki oleh pria itu.
Namun ia memilih tak begitu tergesa-gesa karna ia lebih ingin menangkap pancingan yang besar.
Sean pun bangun dan sembari membuang napas nya dengan malas lalu berjalan melalui wanita itu tanpa melihat nya kembali sedikit pun.
......................
Giethoorn, Overijssel.
Ainsley melihat gelisah, ia tak tau dan tak ada yang memberitahu nya tentang apa yang terjadi namun ia terkurung saat ini.
"Kenapa dia tidak angkat telpon?" gumam nya yang sedari tadi terus mengernyit sembari melihat ponsel nya yang tak memiliki satu panggilan yang terjawab dari suami nya.
Sedangkan ia tengah di kurung dan di jaga ketat seperti buronan tingkat atas agar tidak kabur.
Langkah nya pun mulai perlahan mengarah ke pintu, namun lagi-lagi ia tercegat.
"Nyonya tidak boleh keluar," ucap salah satu pengawal mencegah wanita itu.
"Tapi apa-apaan ini?! Kalian sedang mengurung ku? Apa alasan nya?!" tanya Ainsley yang mulai merasa kesal saat para pengawal terus tak membolehkan nya keluar sama sekali tanpa alasan.
Para pria itu ini memandang satu sama lain guna memberikan jawaban yang sesuai, "Tuan menginginkan keselamatan anda."
Hanya satu kalimat ambigu yang tak bisa ia mengerti.
Keselamatan?
Apa terjadi sesuatu?
"Maksud nya?" tanya nya mengernyit.
"Nyonya akan aman kalau di sini saja," ucap salah satu dari pengawal tersebut.
"Terjadi sesuatu?" tanya nya mengernyit.
"Tidak, tuan hanya ingin keselamatan nyonya saja," jawab salah satu pengawal.
Mereka mulai menarik perlahan dan menjauhkan wanita itu dari pintu.
Ainsley menatap dengan gelisah melihat semua orang yang berada di tempat itu memperhatikan semua gerak nya hingga ia menjadi risih.
Ia kembali menelpon pria yang saat ini menjadi suami nya.
"Halo?" ucap nya saat kini panggilan nya terangkat.
"Kenapa aku di kurung? Apa maksud nya?!" sambung nya lagi yang mulai dengan nada menuntut jawaban.
__ADS_1
Richard diam sejenak tak menjawab, "Di sana saja, lagi pula mereka tidak akan menyakiti mu kan?"
"Tapi aku di awasi! Setidaknya nya berikan penjelasan!" ucap Ainsley yang terus menekan, ia tak tau apapun namun terjebak dalam situasi yang tak di mengerti nya.
Lagi-lagi tak ada jawaban, terdengar tarikan napas yang sedikit panjang dari sebrang sana.
"Kau tau? Saat kita menikah, kau menjadi milik ku, dan yang perlu kau lakukan hanya berperan seperti yang sudah seharusnya," ucap pria itu.
Ainsley terdiam, ia tersentak dan memejam beberapa saat, "Aku butuh penjelasan, setidaknya beri tau kenapa aku di kurung seperti ini."
Richard bukan nya tak ingin mengatakan namun, ia hanya tak ingin wanita itu semakin panik saat tau apa yang terjadi.
"Kenapa kau menurut saja sulit sekali? Tidak perlu membantah!" ucap Richard yang berdecak, putra nya masih belum ia temukan walau sudah membunuh beberapa musuh nya dan ia juga harus berbohong pada wanita itu.
"Aku tidak membantah! Aku cuma tanya! Aku ha-"
"Sudah ku bilang kau hanya perlu menurut saja, kau milik ku kan? Semua yang ada pada mu sudah jadi milik ku! Hidup, Kebebasan, Langkah mu! Semua nya! Jadi jangan bertanya atau apapun itu cukup menurut saja!" ucap nya yang merasa wanita itu terus mendesak nya dan untuk menutupi masalah putra nya ia pun tanpa sadar melukai perasaan istri nya.
Ainsley kembali tersentak, tak ada penjelasan sama sekali, hanya perintah diktator yang di berikan pada nya.
"Saat kau menikahi ku, aku jadi istri mu. Bukan barang yang kau miliki." ucap nya dengan nada rendah.
Saat tak ada jawaban sama sekali ia melihat ponsel nya, tak ada panggilan lagi.
Pria itu mematikan ponsel nya, ia bahkan tak tau ucapan nya barusan di dengar atau tidak.
"Aku bukan barang, kenapa aku tidak boleh tanya?" lirih nya sembari mengigit bibir nya.
Ia gelisah dan takut tanpa alasan, lalu para pengawal yang terus mengawasi nya membuat nya semakin tak nyaman.
......................
DOR!!!
Sebercak darah langsung menyiprat mengenai wajah pria itu, suara keras yang langsung at menutup jeritan sebelum satu nyawa melayang ke udara.
"Kenapa mereka tidak ada habis nya," gumam nya sembari menahan rasa kesal nya.
Tak ada petunjuk tentang siapa yang menculik putra nya, namun ia sudah memburu semua kemungkinan yang bisa menjadi pelaku nya.
"Menemukan sesuatu?" tanya Richard sembari menoleh ke arah Liam setelah menembakkan satu peluru nya.
"Mereka mengirim ini," ucap Liam ragu sembari menunjukkan ponsel nya.
Deg!
Mata pria itu memanas dan menatap tajam menghunus melihat putra kecil nya yang masih bayi terlihat tidak sadar sembari di lilit oleh selotip.
"Mereka membunuh nya?" tanya nya sembari menahan gertakan di bibir nya.
Liam diam sejenak, ia bingung harus menjawab apa karna tak di beri tau apakah bayi kecil yang rapuh itu masih hidup atau tidak.
"Mereka tak memberi tau sampai situ," ucap Liam lirih.
"Sudah temukan alamat pengirim nya?" tanya Richard lagi dengan menahan amarah nya.
__ADS_1
"Sudah, dan mereka juga bilang akan memberi tau nya pada nyonya." ucap Liam lirih.
"Beri tau mereka untuk beri Ainsley obat tidur, dia akan bangun kalau aku sudah kembali." ucap nya saat tau orang-orang yang menculik putra nya juga ingin memanfaatkan istri nya.
......................
2 Hari kemudian.
Giethoorn, Overijssel.
"Nyonya, silahkan teh nya." ucap salah satu pengawal sembari membawakan teh untuk nya.
Ainsley hanya memberikan lirikan kecil, ia tak ingin meminum nya, karna sering tertidur dan tak lagi ingat yang terjadi.
Dalam dua hari belakangan kepala nya pun mulai sering terasa sakit dan saat ia mengatakan nya pada para pengawal itu mereka memanggil dokter dan sang dokter hanya mengatakan jika ia memerlukan istirahat.
Richard pun belum kembali sama sekali atau menghubungi nya.
"Dia belum kembali?" tanya nya lirih sembari bangun dari tempat tidur nya.
Bahkan ponsel nya yang sebelum nya selalu ia pegang kini tak ada di tangan nya lagi.
"Nyonya istirahat saja dulu, setelah tuan kembali kami memberi tau nyonya." ucap salah satu pengawal.
"Aku sudah sering istirahat! Mungkin terlalu banyak tidur? Beri-"
Nyut...
Mata nya langsung mengernyit, ia menyentuh dahi nya yang terasa sakit hingga membuat nya sulit untuk bangun.
"Anda harus istirahat nyonya, silahkan minum teh nya." ucap pengawal bertubuh tegap itu.
Ia hanya bangun sesekali namun hanya sebentar untuk makan minum dan hal lain nya lalu kembali tertidur untuk waktu lama.
Ainsley memejam menahan sakit di kepala nya dan mengambil teh yang di berikan pada nya lalu meminum nya, walaupun ia akan sakit kepala saat bangun ataupun selalu tertidur namun sakit kepala yang sedang ia rasakan saat ini akan reda.
Richard yang sebelum nya memberikan narkotika ke dalam ciuman nya untuk menenangkan wanita itu saat penyusup datang ketempat nya membuat nya juga mencampur benda ilegal itu bersamaan dengan obat tidur yang pada akhirnya membuat Ainsley terus merasakan sakit di kepala nya.
......................
Orang-orang yang memiliki banyak tato di tubuh yang tegap dan penuh otot itu terkejut saat sebuah ledakan terdengar hingga membuat mereka semua terperanjat.
"Bunuh semua," perintah pria itu saat sampai di tempat yang kumuh dan kotor tersebut.
Suara teriakan, genangan darah dan orang-orang yang mulai takut hingga ingin melarikan diri terdengar menjadi satu dan padu.
Langkah nya terhenti, ia melihat putra kecil nya yang rapuh terbungkus dengan selotip dan beberapa susu di samping nya.
Para pria yang menculik anak tak berdosa itu masih memberikan makanan berupa susu walaupun tak memperhatikan apa yang cocok lalu setelah itu menutup mulut bayi kecil itu dengan selotip.
"Hey? Daddy udah datang?" ucap nya lirih sembari meraih tubuh mungil yang terlihat memerah dan lemah itu.
Ia membuka selotip di bibir putra nya dengan perlahan sembari berusaha merasakan napas dan nadi lemah itu.
"Daddy akan hukum mereka, maka dari itu bertahan lah..." ucap nya sembari memeluk dan mencium sekilas bayi mungil itu.
__ADS_1
...****************...
Maaf yah kalau lama update, othor masih banyak sekali kerjaan jadi buat nya menyicil dulu, Jan lupa favorit, like dan berikan dukungan ke othor yah💕💕💕👍