Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
They're mine


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Axel terus melihat ke arah pintu, ia masih belum bisa kembali dan sang ayah yang sudah pergi saat ini dan berjanji akan kembali lagi nanti secepatnya.


Setiap kali sang ayah datang ia selalu berharap jika ibu nya juga berada di balik sang ayah, datang dengan membawa cake yang ia sukai dan menghibur nya.


Namun semua harapan nya selalu hilang saat tak melihat sang ibu.


Ia pun juga tak menerima orang asing dan bahkan tak menyukai nya berbeda sebelum ia mengalami penculikan yang bisa dekat dengan siapa saja.


Tangan nya melihat ke arah ponsel yang di berikan oleh sang ayah, Ia menelpon ibu nya karna masih mengharapkan wanita itu datang.


Tut...Tut...Tut...


Tak ada satu pun panggilan yang terjawab ketika ia menelpon sang ibu.


"Mommy mana? Axel lagi sakit Mom..." ucap nya nya lirih dengan suara serah sembari menjatuhkan tetesan bulir bening nya ke layar ponsel nya.


"Mommy sama Paman Sean yah? Mommy kenapa gak inget Axel huhu..." tangis nya lirih yang menjatuhkan semua bulir bening nya ke bantal.


Tak lama kemudian ia mendengar suara pintu yang di buka, secepat kilat mata nya langsung melihat berharap sang ibu ataupun sang ayah sudah datang.


Senyuman cerah yang mengharapkan kedua orang tua nya itu perlahan pudar melihat siapa yang mengunjungi nya.


"Axel kenapa belum tidur?" tanya seorang dokter yang memeriksa ke ruangan nya.


"Pelgi! Sana pelgi!" ucap nya yang langsung berteriak melihat pria yang selama ini merawat nya.


Prang!


Semua yang yang berada di dekat nya langsung ia lempar begitu juga dengan ponsel yang ada di tangan nya.


Tubuh nya gemetar jika melihat orang yang bagi nya asing, pengobatan nya pun hanya bisa berjalan jika ia di dampingi oleh orang yang ia kenal.


Sang dokter pun menghindar dari amukan pria kecil, ia mengeluarkan coklat dari saku jas dokter nya dan meletakkan ke atas meja tak jauh dari tempat Axel.


"Dokter gak jahat kok, cuma mau kasih coklat kesukaan Axel aja." ucap nya yang memang berusaha menjalin kedekatan dengan pasien nya agar lebih mudah menjalani pemeriksaan.


"Pelgi!" teriak Axel menggema hingga suara nya serak.


Air mata nya semakin luruh, tubuh dan tangan nya gemetar di saat yang bersamaan.


Setelah pintu ruangan tersebut tertutup ia kembali sendiri, mata nya memejam karna takut dan tak ingin melihat hal lain.


"Daddy sama Mommy kenapa gak sama Axel aja? Axel mau pulang..." gumam nya lirih di tengah tangis nya.


......................


Sementara itu.


Sekertaris Jhon mengernyit, hampir dua Minggu pria yang memberi nya gaji itu tidak terbangun sama sekali.


"Kenapa dia masih belum bangun? Katanya dia sudah melewati masa kritis nya?" tanya nya mengernyit pada para dokter.


"Memang saat ini tuan Sean sudah melewati masa kritis namun untuk kesadaran kami sudah mencoba membangunkan nya," jawab para dokter pada pria di depan nya.


"Kalau begitu bangun kan! Bayaran kalian juga tidak murah kan?" tanya pria itu berdecak.


Masalah pekerjaan dan kursi Presdir yang kosong bisa membuat perusahaan dalam masa yang genting apa lagi ia uang masih mencoba menutupi nya dari ayah pria itu.


Suara monitor mulai berbunyi tak beraturan membuat sekertaris Jhon beserta para dokter pun melihat nya.


Satu gerakan kecil di jemari pria itu membuat mata sekertaris Jhon membesar.


"Bergerak kan? Tangan nya bergerak! Aku tidak salah lihat kan?" tanya nya yang kini sudah semangat.


Para dokter pun langsung bergegas memeriksa dan melihat apakah pria itu kini mulai membaik.


Sekertaris Jhon bernapas lega melihat nya, walaupun tak memiliki hubungan darah atau kekerabatan namun loyalitas yang terbangun ketika bekerja dengan pria itu membuat nya membangun kepedulian tidak hanya tentang pekerjaan saja.


......................


Mansion Zinchanko


Ainsley melihat ke arah suami nya yang tengah yang baru saja memasuki kamar nya, ia mengikuti pria itu hingga ke ruang ganti.


Semua barang-barang yang awal nya pecah dan rusak kini sudah terganti dengan yang baru.


"Biarkan aku menemui Axel sekali saja..." ucap nya lirih menatap pria yang tengah membuka dasi nya itu.


Hampir dua Minggu ia tak menemui putra kesayangan nya, rasa rindu dan rasa ingin memeluk putra nya pun semakin menyiksa nya.


Tak ada balasan atas permintaan nya, Richard hanya melirik dari balik cermin dan menatap wajah yang penuh pengharapan pada nya.


"Luka mu sudah membaik?" tanya nya sembari membuka jas serta kemeja nya lalu beranjak membersihkan diri nya dan melewati wanita itu.


Ainsley merasakan sikap dingin pria itu pada nya, namun ia menahan nya. Bagi nya yang terpenting ia bisa melihat kembali wajah putra nya.


"Sudah," jawab nya ketika pria itu berjalan menjauh di belakang nya.


Richard tak menjawab, ia hanya langsung ke kamar mandi dan membersihkan diri nya.


Ainsley tak bisa lagi mencegah suami nya untuk pergi, ia hanya bisa diam menunggu pria nya selesai membersihkan diri.

__ADS_1


Tak lama kemudian pria itu selesai membersihkan diri nya dan keluar menggunakan mantel mandi yang ia gunakan untuk menutupi dirinya.


"Richard," panggil nya lagi pada suami nya.


Pria itu mendekat ke arah wanita yang berdiri di ujung ranjang itu, tangan nya menyentuh dagu dan memperhatikan wajah yang terlihat sudah membaik itu.


"Rich- Auch!"


Bruk!


Tubuh nya di dorong hingga jatuh ke atas ranjang yang begitu empuk itu lalu sedetik kemudian pria itu sudah menindih nya.


"Tunggu! In-"


"Kenapa kau sedang datang bulan?" tanya pria itu yang langsung memotong nya tanpa dan mengelus seluruh bagian wajah gadis itu dengan ujung jemari nya.


Ainsley diam sejenak, walau terdengar nada dingin di pertanyaan pria itu namun mata yang menatap nya memberikan nya tekanan.


"Tidak," jawab nya spontan.


Richard tak mengatakan apapun namun ia mulai mendekat, aroma segar dari sabun mandi yang baru saja ia gunakan tercium jelas oleh Ainsley.


Humph!


Bibir yang bertaut tak lagi membuat nya dapat bertanya selain hanya membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan.


Semakin lama ciuman yang tadi nya lebih pelan kini menjadi agresif, tangan yang tadi nya diam pun kini mulai membuka pakaian yang ia gunakan.


Secara refleks pun tangan nya mendorong pelan tubuh bidang pria itu.


"Kau tetap harus tau apa yang kau lakukan sebagai istri ku kan? Aku tidak berniat menceraikan mu," ucap nya menatap wajah istri nya saat ia melepaskan ciuman nya begitu merasa wanita itu menolak sentuhan nya.


"Bukan, bukan begitu! Luka ku masih se-"


"Tadi kau mengatakan jika luka mu sudah membaik," ucap pria itu menatap wajah di depan nya.


"Bukan nya kau marah pada ku?" tanya Ainsley mengernyit.


"Hm, tapi apa hubungan nya dengan melakukan nya?" jawab nya yang mengiyakan pertanyaan sang istri.


Walaupun ia kesal dan marah namun bukan berarti ia sama sekali tak menginginkan wanita itu. Bagi nya sentuhan, aroma, dan tubuh sang istri adalah suatu kebutuhan.


Ainsley diam, mata yang seakan tetap akan melakukan segala nya, walau ia menolak sekali pun.


Merasa sang istri yang kini diam kembali membuat Richard memangut bibir nya dan menyentuh tubuh wanita itu lagi, membuka semua kain yang melekat di atas tubuh kecil itu lalu mencium dan mel*mat semua bagian kesukaan nya.


Tak perlu waktu lama, ia hanya perlu menjatuhkan satu tali simpul mantel mandi yang ia gunakan lalu mulai menyatukan diri nya.


Ainsley meremas selimut yang berada di atas ranjang nya, beberapa luka di tubuh nya kembali terbuka, walau tak parah namun hal tersebut juga membuat nya sakit hingga ia tak bisa berfokus pada rasa yang di berikan pria itu.


Mendengar rintihan wanita yang berada di bawah kungkungan nya bukan nya membuat nya memelankan tempo namun sebalik nya ia semakin mempercepat gerakan nya.


Wanita itu semakin meringis, tangan nya mulai mencakar lengan pria itu, ranjang yang semakin berderit, suara napas pria yang terdengar berat dan suara rintihan yang bercampur menjadi satu.


Dalam satu hentakan terakhir pria itu memuntahkan semua yang tertahan pada diri nya di dalam tubuh sang istri.


Ia mengatur napas nya dan berguling sejenak, mengumpulkan tenaga nya begitu juga Ainsley yang langsung meringkuk dan memegang bagian luka nya yang terbuka.


"Kenapa?" tanya Richard saat mendengar suara rintihan wanita itu walau mereka sudah selesai berhubungan.


"Luka ku," jawab Ainsley lirih.


Richard pun pulang bangun, melihat ke punggung wanita itu yang mengeluarkan bercak merah di balik perban nya.


Ia pun turun dan kembali mengambil mantel mandi yang ia jatuhkan lalu memakai nya.


Ainsley diam, namun beberapa saat kemudian ia merasakan seseorang yang mulai menyentuh punggung nya hingga membuat nya menoleh ke belakang.


"Ukh!" ringis nya saat salep obat luka itu menyentuh luka punggung nya.


Setelah mengobati dan mengganti dengan perban baru, pria itu pun beranjak memakai pakaian nya hingga ia keluar dari ruang ganti.


"Mau kemana?" tanya Ainsley pada suami nya yang pergi dengan membawa sesuatu.


Namun tak ada balasan sama sekali, pria itu seakan tak mendengar nya dan berlalu begitu saja, Ainsley pun langsung bangun sembari memegang selimut tebal yang menutup tubuh nya karna tak sempat memumut pakaian nya satu persatu.


"Richard!" ucap nya yang langsung meraih tangan pria itu.


"Kau mau kemana malam-malam seperti ini?" tanya Ainsley saat mencegah pria itu.


Tak ada balasan namun wanita itu melihat ke arah paper bag yang di pegang pria itu dan berisi robot.


"Kau mau bertemu Axel kan?" tanya nya lagi saat melihat benda yang sangat di sukai putra nya.


"Biarkan aku ikut juga dengan mu, ku mohon..." sambung Ainsley yang semakin tak tahan saat di pisahkan dengan anak kesayangan nya itu.


"Kau tetap di sini," jawab Richard dengan nada dingin dan mendominasi.


Ainsley menggeleng, ia tetap memegang tangan pria itu, "Axel juga butuh aku! Axel butuh kita! Jangan seperti ini..." ucap nya yang kembali memohon.


"Benarkah? Kalau begitu cobalah memohon lebih keras lagi," jawab nya yang menepis tangan sang istri nya dan ingin keluar dari kamar nya.


"Seperti apa? Kau mau aku memohon seperti apa?" tanya Ainsley yang seakan menahan tangis nya.

__ADS_1


"Seperti kau adalah milik ku dan aku adalah pemilik mu," jawab pria itu sembari menatap nya dengan tatapan yang sangat ingin mendominasi seluruh hidup wanita cantik itu.


Ia pun berbalik, dan ingin melangkahkan kaki nya keluar dari kamar.


Sedangkan Ainsley terdiam mendengar nya.


Pemilik diri nya?


Bukan kah hubungan seperti itu hanya untuk Master and Slave atau hubungan peliharaan?


Tapi ia tak lagi bisa memikirkan perkataan itu untuk apa dan sejauh mana yang di maksud, bagi nya saat ini yang terpenting adalah bertemu dengan putra nya.


Duk!


Tubuh nya ia jatuhkan ke lantai, wanita itu duduk di atas lutut nya dan meraih kaki pria itu.


"Ku mohon..."


"Tuan..."


Ucap nya dengan suara gemetar sembari menjatuhkan air mata nya ketika ia memejam.


Ia memang pernah berlutut berulang kali, pada ibu nya dan pada mantan kekasih nya saat mereka meminta nya berlutut. Namun ia tak pernah mengemis di bawah kaki orang lain selama hidup nya.


Richard tersentak, iris nya bergetar melihat wanita itu yang seakan benar-benar putus asa di hadapan nya.


Ainsley menengandah, menatap wajah pria itu yang seperti tak menyangka akan reaksi nya.


"Biarkan aku bertemu dengan nya, ku mohon..." ucap nya lagi menatap pria itu dengan tatapan dan raut yang tak bisa lagi di jelaskan.


"Kalau kau mau memukul ku lagi aku juga tidak apa-apa, kau bisa lakukan apa yang kau mau pada ku. Tapi biarkan aku bertemu dengan Axel," ucap nya lagi.


"Baru kali ini aku mendengar ada orang yang minta di pukul," ucap pria itu tersenyum tak percaya.


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa." ucap nya lirih sembari membuang pandangan mata nya tak melihat wajah pria itu.


Richard melihat sorot mata yang seakan mengatakan jika wanita di depan nya telah lelah.


Siklus yang terus berulang hingga membuat nya merasakan semua hal yang terjadi pada nya adalah hal yang wajar.


Jujur saja, hati nya goyah namun ia sangat ingin tetap menyimpan wanita itu hanya untuk nya dan patuh pada nya.


"Kalau begitu terus lah berlutut, mungkin aku akan membiarkan mu bertemu dengan Axel." ucap nya yang tak mengiyakan dan berjongkok menyamai tinggi wajah nya dengan sang istri lalu melepaskan tangan wanita itu.


Ainsley tak mengatakan apapun, walau sebenarnya niat Richard hanya ingin membuat nya lelah dan berhenti meminta nya untuk bertemu dengan putra nya namun bagi wanita itu ini adalah harapan untuk bertemu dengan anak nya.


Suara pintu yang tertutup dan punggung yang menghilang di balik nya.


"Baik, aku akan tetap seperti ini..." ucap nya lirih dengan tatapan yang menyimpan semua rasa lelah nya hingga ia sendiri pun tak tau sampai mana batas nya.


...


Rumah sakit.


Mendengar suara pintu yang kembali terbuka membuat Axel yang saat ini tengah menutup diri nya dengan selimut langsung berbalik dan berteriak.


"Pelgi!" ucap nya dengan wajah memerah dan mata sembab karna tangis nya.


"Axel? Ini Daddy..." ucap pria itu yang langsung mendekat ke arah putra nya.


Mendengar suara sang ayah membuat Axel membuka mata nya, pria yang ia tunggu sudah datang namun ia juga menunggu hal lain nya.


Mata nya menoleh ke belakang pria itu dan pintu yang tertutup tak lagi bergerak.


"Daddy sendili? Mommy mana?" tanya nya dengan sengugukan dan mencari ibu nya.


"Axel kenapa belum tidur?" tanya Richard sembari mendekat dan memeluk putra dalam pangkuan nya.


"Mommy mana Dad?" tanya nya lagi dengan wajah yang terlihat begitu sendu dan menyedihkan.


"Mommy kan lagi gak bisa kesini," ucap nya sembari melihat wajah putra yang tampak semakin sedih.


"Mommy gak tau Axel lagi sakit? Axel kangen Mommy..." tangis nya semakin luruh pada sang ayah.


"Mommy tau Axel lagi sakit, tapi Paman Sean yang buat Mommy gak bisa sama kita." ucap nya lagi.


Mendengar ucapan yang terus berulang sejak ia bangun membuat noda dalam hati nya.


"Paman Sean jahat! Dia buat Mommy gak ingat Axel!" tangis nya yang menjadi pada sang ayah.


"Mommy juga jahat! Mommy bohong! Katanya sayang Axel! Gak bakal tinggalin Axel tapi sekalang gak pelnah datang! Huhu..." tangis nya lagi yang semakin luruh.


Richard menghapus air mata putra nya yang semakin jatuh.


"Ini kan karna ada paman Sean, Daddy kan udah bilang kalau paman Sean itu jahat," ucap nya sembari melihat wajah putra nya yang menangis hingga segugukan dan cegukan.


"Axel percaya Daddy kan?" tanya nya lagi.


Axel hanya menangis melihat sang ayah, dan perlahan memeluk tubuh bidang ayah nya.


Otak yang masih polos dan belum mengerti apapun itu tentu nya mudah terpengaruh apa lagi dengan seseorang yang sangat ia percayai.


"Axel benci paman! Paman jahat! Huhu..." tangis yang semakin menjadi dalam pelukan sang ayah.

__ADS_1


Pria itu mengelus punggung putra nya dengan lembut sembari tersenyum simpul mendengar ucapan putra nya.


They're mine, no one can take them from me...


__ADS_2