
Sean yang dengan senang hati mengusap rambut basah gadis yang sudah mandi dengan nya membuat nya gemas dan ingin mencium bibir gadis nya lagi.
Ainsley yang kini sudah memakai mantel mandi nya sedangkan pria itu masih memakai handuk yang di lilitkan di pinggang nya dan menampilkan otot perut kotak pria itu.
Wajah gadis itu memerah dan terus menunduk tak mampu melihat ke arah kekasih nya.
"Kenapa menunduk terus? Hm?" tanya Sean sembari mencium lengkung leher gadis yang duduk membelakangi nya.
Aroma sabun yang di tambah dengan wangi tubuh ranum gadis itu pun semakin masuk ke indra penciuman nya dan seakan memabukkan nya.
"Sean...
Yang tadi itu kita sudah begitu yah?" tanya Ainsley lirih pada kekasih nya.
"Yang tadi? Belum lah! Tadi kan cuma pegang-pegang aja." jawab Sean langsung dan membalik tubuh Ainsley agar menghadap nya.
"Kenapa tanya begitu? Hm?" tanya Sean pada gadis yang menunduk tersebut sembari menaikan dagu nya agar mengandah melihat nya.
"Ta-tadi kan kita sudah seperti film yang Sean tunjukin kemarin..." jawab Ainsley gugup.
Sean pun memutar isi memori mengingat film apa yang ia berikan pada kelinci polos hingga ia mengingat memberikan tontonan film romantis semi dewasa. Walaupun tidak menampilkan adegan dewasa secara langsung namun tetap saja memperlihatkan adegan-adegan yang membuat gadis itu malu melihat nya.
"Iya, tapi kita masih belum. Kau tak perhatikan perbedaan nya?" tanya Sean sembari menangkup wajah cantik yang tengah memerah tersebut.
"Ta-tapikan tadi tangan Sean, sudah..." ucap Ainsley mengingat ketika mengingat pria itu terus menggelitik nya lalu menimbulkan rasa yang aneh.
Melihat wajah merah gadis nya seketika membuat Sean tertawa kecil ia pun mencium gemas pipi gadis itu.
"Suka yang tadi?" tanya Sean pada Ainsley yang terlihat gugup.
"Suka..." jawab nya lirih dengan wajah memerah.
"Paling suka yang bagian mana?" tanya Sean lagi sembari menarik tangan Ainsley ke pinggir ranjang dan mendudukan gadis itu di pangkuan nya.
"Itu...
Yang tadi tangan nya lagi itu.." jawab Ainsley malu-malu pada kekasih nya.
Pria itu hanya tersenyum senang dan semakin ingin memakan kelinci polos nya, sifat lugu gadis itu sudah benar-benar menguasai hati nya dan seluruh fokus nya.
"Lalu? Kau suka apa lagi?" tanya Sean yang semakin ingin menggoda gadis cantik itu.
"Waktu di cium juga..." jawab Ainsley lirih dengan wajah yang semakin memerah.
"Su-suka tapi Sean juga pasti gak nyaman..." sambung Ainsley lagi pada pria itu. Sean pun mengerti dan menidurkan gadis itu.
Pria itu hanya tersenyum simpul dan mulai melakukan seperti yang di sukai gadis itu.
Ainsley terkejut sesaat namun ia tak memiliki keberanian menolak, siap tak siap ia melakukan hal itu namun ia lebih tidak siap jika harus di tinggalkan oleh pria yang sangat ia cintai itu.
Sean pun tersenyum dan menatap gadis nya. Ia berdiri dan ingin menjadikan gadis itu benar-benar milik nya malam ini.
"Sean malu!" ucap Ainsley langsung menutup mata nya seketika dengan wajah memerah padam.
__ADS_1
"Jangan malu terus...
Sini buka mata nya dan lihat..." jawab Sean dan membuka telapak tangan yang sedang menutup wajah cantik tersebut.
Hati pria itu bergejolak, rasa semangat dan perasaan nya benar-benar nyata untuk gadis di depan nya. Ia mencintai gadis itu sepenuh hati namun ia bahkan tak tau bagaimana cara mencintai dengan benar.
Sean pun mulai mengajari nya beberapa hal dewasa dan gadis itu hanya menurut tanpa banyak bertanya. Pria itu pun tersenyum melihat kepatuhan gadis nya.
"Akan sedikit sakit, kau tidak apa-apa?" tanya Sean pada kekasih nya.
Gadis itu tak menjawab namun rasa cemas dan takut terlihat jelas di wajah nya.
"Kau takut?" tanya Sean pada gadis nya yang terlihat gusar.
"I-iya..." cicit gadis itu lirih pada kekasih nya.
"Ssstt...
Tidak apa-apa..." ucap pria itu menenangkan gadis nya.
"Sean...
Kalau itu nya yang di kecilin bisa tidak?" ucap Ainsley polos pada pria nya.
Suasana yang romantis kini ingin berubah menjadi tawa mendengar permintaan polos kelinci menggemaskan yang sedang di terkam serigala tersebut.
"Katanya kau tidak mau di tinggal...
Tapi kenapa baru seperti ini sudah takut?" tanya Sean yang setengah tertawa pada gadis nya.
Jangan takut, kau tau aku mencintai mu, kan?" tanya Sean dan mulai menyatukan kan dirinya.
Ainsley mengangguk pelan, namun belum sempat mereka menyatu. Terdengar ketukan pintu dari luar.
Tok...tok...tok...
"Tuan" panggil seseorang dari luar.
Sean mencoba mengabaikan nya walaupun Ainsley sudah menjadi tak nyaman.
Tok...tok...tok..
Suara ketukan yang semakin kuat mengganggu Sean dan membuat nya menjadi mulai kesal.
"Sean...
Mana tau penting..." ucap Ainsley lirih pada pria yang berada di atas tubuh nya.
"Tuan." panggil seseorang lagi dari luar.
"APA?!" jawab Sean dengan kesal dan membentak hingga ketukan pintu dan panggilan nya terhenti serta Ainsley yang juga ikut terkejut mendengar suara gelegar dari kekasih nya.
Sean pun bangun dan memakai handuk nya lagi, ia menutup tubuh kekasih nya dengan selimut dan membuka pintu kamar nya.
__ADS_1
"Apa?!" tanya Sean dengan nada ketus pada kepala pelayan di mansion nya.
"Nyo-nyonya besar datang tuan..." jawab kepala pelayan tersebut dengan takut.
"Suruh dia tunggu!" ucap Sean merasa tak senang dan kembali ke kamar nya menatap gadis yang tengah duduk memegang selimut guna menutupi tubuh indah nya.
"Aku ada urusan sebentar, kau istirahat dulu yah, nanti ku antar pulang setelah selesai..." ucap Sean sembari menarik tangan gadis itu.
Ainsley menghembus nafas dengan pelan lirih, entah kenapa ia merasa lega karna benda asing yang cukup besar itu tak jadi datang pada nya.
"Sini, pakai pakaian nya..." sambung Sean lagi seperti berbicara dengan anak kecil yang menyuruh memakai pakaian setelah mandi.
Setelah berpakaian rapi. Pria itu pun keluar dan menghadapi wanita kejam dan paling ia benci di dunia.
Wanita itu dengan langkah cepat ingin segera menampar pria di depan nya. Namun Sean dengan cepat langsung menangkap nya.
"Kau pikir siapa yang berani memukul ku? Ha?!" tanya Sean dan menolak tubuh wanita itu.
"Dasar anak haram! Kau dan ibu ****** mu itu sama-sama menyusahkan!" bentak Selena dengan geram.
"Bukan ibu yang ******, tapi suami sialan mu itu yang brengsek!" jawab Sean menahan geram karna wanita yang memiliki status ibu sah nya di kartu keluarga menghina ibu kandung nya.
"Seharusnya kau ikut mati dengan ibu mu!" ucap Selena yang menggebu karna sangat marah.
Jebakan nya tak berhasil dan tetap tak membuat putra kandung sebagai pewaris. Ia merasa tak terima saat anak haram yang di bawa suami nya lah yang menjadi pewaris.
Plak!
Satu tamparan melayang ke arah wajah wanita itu.
"Jangan menghina ibu ku! Kau bahkan tak pantas menyebut nya! Dan lagi...
Kalau aku menemukan kematian memiliki pihak lain yang terlibat akan ku pastikan orang itu lebih menderita nanti nya!" ucap Sean dengan penuh penekanan.
"Ibu mu sendiri yang memilih mati di bandingkan hidup sebagai simpanan pria kaya!" jawab Selena sembari memegang pipi nya yang terasa perih.
Sean tak menjawab dan menatap dengan penuh aura membunuh pada wanita itu paruh baya itu.
"Anak dan Ibu sama saja! Kau memacari putri keluarga Belen hanya untuk memanfaatkan nya kan?" tanya Selena dengan menyunggingkan senyum nya saat ia melihat bayangan wanita di atas tangga mansion tersebut.
"Bukan urusan mu!" jawab Sean dengan marah.
"Ibu mu memanfaatkan pria kaya dan kau memanfaatkan putri tunggal keluarga itu untuk mempertahan posisi pewaris mu!" ucap Selena lagi pada Sean.
"Tak perlu menyalahkan ku! Salahkan saja putra mu yang bodoh itu! Dan jangan seperti orang gila mengamuk di rumah orang lain!" ucap Sean pada Selena dengan penuh amarah.
Selena pun menyunggingkan senyum nya dan pergi begitu saja.
Sedangkan Ainsley yang mendengar sepenggal pembicaraan itu pun kembali masuk lagi ke kamar nya.
Sean memanfaatkan ku? Aku....
Aku tidak apa-apa...
__ADS_1
batin gadis dan mulai menangis, entah mengapa hati nya terasa sesak dan terus mengeluarkan bulir bening mata indah nya