
7 Hari kemudian.
Kediaman Clarinda.
"Calesta? Kenapa sayang?" tanya Clarinda saat melihat putri angkat kesayangan nya yang tak bisa diam dan terus gelisah.
"Aku mau tau keadaan Axel Mah," ucap gadis itu yang terus menerus tak bisa mengalihkan pikiran nya pada keadaan putra nya yang terpisah.
Clarinda pun menarik napas, dan membawa gadis itu ke sofa, "Cales mau dengar Mamah tidak?"
Ainsley menoleh menatap ibu nya, "Apa Mah?"
"Calesta tidak mau mencoba nya?" tanya Clarinda pada putri nya.
"Mamah minta aku nikah sama Paman?!" tanya gadis itu terkejut dan langsung bangun.
"Bukan! Bukan begitu nak!" sanggah Clarinda langsung, jika ia bilang memang ingin melakukan nya pasti gadis itu akan menolak nya segera.
"Terus Mamah bilang begitu maksud nya apa?" tanya Ainsley tak suka.
"Mamah kan cuma saranin, dia gak akan kasih Axel untuk kamu, kalau kamu mau anak mu kamu harus bisa milih sayang..." ucap Clarinda dengan memberikan pengertian yang lembut.
Ainsley diam, ia tau Richard tak akan memberikan kembali putra nya.
Bukan perkara tak bisa mencintai namun hati nya yang sudah memilih ke lain hati, bukan keinginan nya ingin mengatur akan menyukai siapa.
"Kalau kamu baik sama dia, Mamah yakin dia juga bakal baik ke kamu nak." ucap Clarinda pada putri nya.
"Bagaimana kalau sebalik nya? Bagaimana kalau dia tidak sebaik yang Mamah kira?" tanya Ainsley dengan sorot lain.
Clarinda mengernyit, ia beranjak bangun agar bisa memeluk putri yang berdiri di depan nya.
"Kalau begitu jalani saja sekarang? Kamu akan tau apa yang paling kamu butuhkan atau siapa yang lebih membutuhkan mu." ucap wanita itu dengan lembut pada putri nya.
Ainsley diam sejenak, ia merasakan pelukan hangat yang bisa menenangkan nya.
"Aku egois yah Mah?" tanya nya lirih.
Clarinda melepaskan pelukan nya menatap wajah sendu putri nya.
"Aku bukan ibu yang baik yah?" tanya nya lagi.
Wanita berwajah lembut itu tersenyum dan menggeleng pada putri nya, "Tidak, kamu tidak egois, Calesta juga ibu yang baik."
Ainsley menatap ke arah wanita yang bahkan lebih baik dari ibu kandung nya.
"Benarkah?" tanya Ainsley lagi.
Clarinda mengangguk, kata-kata nya bukan hanya pembelaan semata karna menyayangi gadis itu.
__ADS_1
Ia bisa mengerti perasaan gadis itu, menyukai seseorang namun tak bisa bersama, bahkan memiliki anak yang tidak di inginkan sama sekali tapi masih bisa bertahan hingga melahirkan nya, tidak menyalahkan makhluk kecil yang rapuh itu.
Banyak orang yang akan memilih menyalahkan orang lain dan alasan lain nya sebagai penyebab ketidakbahagiaan nya, namun gadis tak menyalahkan siapapun.
Ia tau putri nya hanya ingin tetap bertahan, memiliki kebahagian nya namun kini memang bahagia nya akan mengorbankan salah satu sesuatu yang berharga untuk nya.
Dan pada akhirnya gadis itu tetap akan menjadi potongan puzzle yang tak utuh.
......................
Mansion Zinchanko.
Ainsley duduk di depan pria itu sembari menautkan jemari nya.
Dulu ia selalu di jemput atau pria itu yang membawa nya ke mansion megah itu namun kini ia yang datang atas kemauan nya sendiri.
Richard memperhatikan gadis yang gelisah itu ia pun menyimpan smirk di balik tangan nya yang menyentuh bibir nya.
"Ada keperluan apa kesini?" tanya nya memecah keheningan.
"A-aku mau bertemu Axel..." jawab nya lirih hampir tak bersuara.
"Axel? Sayang nya tidak bisa," jawab Richard pada gadis itu.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menemui nya?!" tanya Ainsley langsung.
"Karna hak asuh nya pada ku," jawab Richard enteng, "Dan lagi kenapa kau masih perlu menemui nya? Bukan nya kau sekarang sudah bebas?"
Pria itu tersenyum simpul sembari menatap lekat iris yang terlihat gelisah itu, dalam hati ia sedang menghitung mundur agar tangisan putra nya terdengar.
Saat ia melihat gadis itu datang pada nya, ia meminta pengasuh yang merawat anak nya untuk membangunkan nya agar Baby Axel menangis dan Ibu nya bisa mendengar tangisan nya.
Hue...
Hua...
Huhu...
Deg!
Ainsley langsung tersentak mendengar tangisan putra nya, ia beranjak ingin segera datang ke arah sumber suara.
Richard pun langsung menyusul langkah gadus itu dan mencegah nya.
Greb!
Ainsley melihat tangan nya yang mencegah nya, "Axel menangis! Paman lepas! Aku mau cari dia!"
Richard tak melepaskan melainkan menggenggam erat tangan mungil gadis itu.
__ADS_1
"Menurut kau siapa? Kau punya hak? Kau sendiri yang tidak mau dia? Oh iya aku juga lupa kau ingin dia mati waktu tau mengandung nya kan? Kau sendiri yang bilang tidak mau jadi ibu!" ucap pria itu dengan sindiran tajam nya.
Ainsley terbaru mendengar nya, ia memang melakukan nya semua hal yang di katakan pria itu barusan.
Perkataan yang bagai pukulan besar untuk nya.
"Tapi aku sekarang mau jadi Ibu! Aku yang hamil dia! Aku yang bawa dia berbulan-bulan! Aku juga yang lahirin!" ucap gadis itu melakukan pembelaan pada dirinya sendiri.
Richard pun meraih kedua lengan gadis itu dan mencengkram nya.
"Lalu sekarang kau mau jadi Ibu? Dan memberi nya Ayah yang baru? Hm? Maaf! Tapi aku tidak akan membiarkan anak ku memanggil pria lain sebagai Ayah nya kecuali aku!" ucap nya sembari melepaskan cengkraman nya.
"Lalu paman mau aku bagaimana? Aku mau bertemu dengan nya terus..." ucap nya yang semakin tak tahan mendengar tangisan putra nya di raungan lain.
"Kalau aku meminta mu tidak akan menemui mantan pacar si*lan mu itu lagi kau akan lakukan?" tanya Richard pada gadis itu.
Ainsley diam tak menjawab karna ia tak bisa menjanjikan hal tersebut.
Richard membuang napas kasar, "Baik akan ku ganti, kau mau menikah dengan ku?" tanya nya lagi.
Masih sama, tak ada jawaban sama sekali.
Pria itu mengangguk kecil saat ia tau dua keinginan nya tak akan terkabul sama sekali.
"Kau mau menemui nya kan?" tanya nya setelah membuang napas.
"Iya! Mau!" Jawab Ainsley semangat.
"Setiap kali kau mau menemui nya, lakukan apa yang ku katakan dan aku akan membiarkan mu bertemu dengan nya selama lima menit." ucap Richard pada gadis itu.
Seperti ia yang tak bisa mencintai wanita lain yang mungkin memang mencintai nya dengan tulus dan ingin bersama nya gadis itu juga memiliki perasaan yang sama.
Tidak bisa mencintai nya walau sudah berusaha melakukan nya sebaik mungkin, cinta pertama yang dulu nya ia pikir hanya dangkal dan takut di tinggalkan namun ia ternyata memiliki rasa suka yang lebih besar dari yang ia kira.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Ainsley pada pria itu.
"Pertama, berhenti memanggil ku paman dan yang kedua, makan malam bersama ku hari ini." ucap pria itu pada gadis di depan nya.
Mungkin ia akan meminta berciuman sebagai ganti karna tak bisa melakukan hubungan pasca gadis itu melahirkan karna belum ada sampai 6 Minggu.
"Hanya itu?" tanya Ainsley lirih.
Richard juga sedikit bingung, mengapa ia tak meminta berciuman saja hingga puas, namun yang ada di pikiran nya saat ini adalah bagaimana cara agar memiliki waktu yang panjang dengan gadis itu.
"Satu lagi," ucap nya pada gadis itu.
"Apa?" tanya Ainsley mengernyit namun ia merasakan tangan hangat yang menggenggam dan bertaut di jemari nya.
"Pegangan tangan," jawab pria itu sembari melihat tangan kekar nya yang bertaut dengan tangan mungil seputih susu tersebut.
__ADS_1
Di bandingkan hal dewasa atau vulgar yang ia sukai dulu, kini ia juga menyukai hal kecil yang remeh jika di lakukan bersama gadis itu.