Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Like my body


__ADS_3

dr. Canly memperhatikan wajah datar yang suram dan terlihat begitu jengah mengikuti konsultasi yang tengah di lakukan saat ini.


"Aku akan berhenti terapi," ucap Sean setelah dr. Canly selesai bicara.


Wanita paruh baya berkaca mata itu mengerutkan dahi nya dan menatap dengan bingung karna pria yang awal nya mulai bersemangat untuk berubah kini malah menyerah.


"Kenapa? Ada yang membuat anda tidak nyaman?" tanya dr. Canly pada pria yang duduk di depan nya.


"Aku tidak mau jadi pria baik, aku hanya akan kehilangan nya," jawab Sean karna ia merasa saran dari dr. Canly membuat Ainsley semakin menjauh dari nya.


"Bukan kehilangan, mungkin ini adalah jalan yang terbaik, ada beberapa hal yang tidak bisa di paksa." ucap dr. Canly pada Sean.


"Aku bisa memaksa nya, aku akan membuat takdir ku sendiri," jawab Sean dan beranjak pergi.


Kini ia semakin menggila, ia tak bisa di tinggalkan oleh satu-satu nya orang yang telah menumbuhkan perasaan nya.


"Manusia itu memiliki akal dan perasaan, anda tidak bisa memaksa perasaan yang nanti nya akan melukai orang yang anda cintai dan diri anda sendiri," ucap dr. Canly saat melihat mata ambisi pria itu.


"Aku saja yang mencintai nya sudah cukup," jawab Sean dan segera meninggalkan ruangan dokter psikiater tersebut.


dr. Canly pun melepas kaca mata yang ia kenakan dan mengusap nya, ia tau jika pria itu sering menghukum kekasih nya namun baik Sean maupun Ainsley tak ada satupun yang mengatakan hukuman apa yang di berikan.


Terutama Ainsley yang bungkam dan menutup mulut nya dengan rapat tentang hukuman yang ia terima ataupun kejadian pasti saat ia di culik karna gadis itu hanya diam dan menjawab beberapa pertanyaan selama terapi.


"Ku harap dia tak melakukan nya..." gumam dr. Canly yang takut jika obsesi yang di miliki Sean lebih besar dari rasa cinta yang di miliki.


.....................


Sation IT company.


"Kau sudah temukan siapa yang melakukan pembantaian di hutan itu?" tanya Sean ketika baru saja sampai dan masuk keruangan nya.


Saat ini ia tengah mencari siapa yang melakukan pembantaian yang di rekam oleh gadis nya dan di cadangkan ke penyimpanan pribadi nya tanpa ia ketahui dan batu tau saat gadis itu menghilang.


"Kami menemukan ini pak," jawab salah satu bawahan pria itu.


Karna posisi presdir belum di berikan secara sah pada nya walaupun ia merupakan pewaris terkuat saat ini namun menjadi direktur perencana dan informasi membuat nya dapat memegang inti dari perusahaan.


"Black Sand? Bukan nya banyak yang terlibat dengan nya?" tanya Sean karna ia pernah mendengar nama organisasi gelap yang tak tersentuh oleh hukum itu karna memegang kendali penuh di balik layar.


"Tapi kami belum mengkonfirmasi siapa pemimpin nya," jawab bawahan pria itu.

__ADS_1


Sean diam sejenak, sekarang ia tau kenapa gadis nya dulu bisa menghilang tanpa jejak dan bahkan masuk ke dalam prostitusi walaupun itu tak benar karna Richard yang membuat nya terlihat jika Ainsley sudah di jadikan wanita penghibur.


"Retas data Belen grup terutama putri mereka, dan buat kekacauan dari data yang diretas," perintah Sean.


Ia membuat hal seperti itu karna ingin menyebar video yang ia dapatkan rekaman Ainsley namun ingin tetap ingin melindungi gadis itu agar seolah tak terlibat apapun dari video yang tersebar.


......................


Universitas.


"Ainsley? Kenapa? Wajah mu pucat?" tanya Vindi saat memperhatikan wajah teman nya yang sedari tadi terus termenung.


"A-aku baik-baik saja," jawab Ainsley yang terkejut saat tangan teman nya menyentuh nya.


Ia masih memikirkan dua hari yang lalu dan semua pembicaraan nya dengan Sean, ia tak dapat lagi menjawab dan hanya bisa mengatakan jika ia memerlukan waktu yang lebih banyak.


"Benarkah? Oh iya kau tau tidak kalau putra kedua dari Sation grup baru saja meninggal?" tanya Vindi yang mulai bergosip.


"Meninggal? Kenapa?" tanya Ainsley yang langsung terkejut, karna ia terakhir kali melihat jika Sean menghantam kepala pria itu dengan batu bata.


"Overdosis, dia pecandu berat seperti nya." jawab Vindi sesuai dengan artikel yang di sebutkan.


"Aku pergi lebih dulu," jawab Ainsley singkat.


...


Langkah gadis itu tergesa dan mulai berfikir jika Sean lah yang menyebabkan kematian Danny tanpa memikirkan kemungkinan lain jika akan ada pria gila yang sama seperti mantan kekasih nya.


Bukan Sean walaupun kasar dia bukan orang yang bisa membunuh.


Batin Ainsley yang bingung, ia tau jika tempramen pria itu tak biasa namun ia juga yakin jika Sean tak akan menyakiti sampai bisa membunuh seseorang walau kini keyakinan nya mulai goyah.


"Akh!" pekik terkejut saat tangan nya tiba-tiba di tarik dan di bawa ke ruangan kosong.


Siapa?


Batin nya terkejut saat memasuki ruangan yang biasa di jadikan tempat rapat namun kini sedang tak di tempati yang membuat lampu tak di nyalakan.


Humph!


Ainsley terbelalak saat ia tiba-tiba mendapat ciuman yang membungkam suara nya segera, tangan kecil nya pun mendorong dada bidang yang sedang menghimpit tubuh nya ke tembok.

__ADS_1


Pria itu menyatukan kedua tangan kecil itu dengan satu kepalan tangan kekar nya dan meletakkan ke atas kepala gadis itu dan menahan nya di dinding.


Ciuman yang agresif sepihak itu pun akhirnya terlepas dan membuat Ainsley menarik nafas panjang yang terengah-engah.


"Kau tak ingin aku menjadi pengajar mu lagi?" bisik pria itu dan membuat Ainsley terbelalak.


"Paman?! Lepas!"


Ainsley berusaha melepaskan dirinya namun ia tak bisa bergerak sama sekali, mata nya menoleh ke arah pintu dan melihat pintu tersebut tertutup rapat, tak ada lampu yang menyala hanya sedikit sinar dari jendela yang memasuki ruangan tersebut hingga memberikan pencahayaan yang sedikit di tambah lagi wilayah yang sunyi saat di jam seperti ini dan mahasiswa yang jarang melewati lorong tersebut.


Bruk!


Richard membawa tubuh gadis itu dan mendorong nya ke meja panjang yang luas tersebut.


Ainsley terperanjat dan berusaha untuk bangun namun Richard malah menahan tubuh gadis itu dan membalik nya hingga membuat Ainsley telungkup di atas meja tersebut.


Kaki nya berusaha berdiri walaupun ia tubuh nya sudah di tekan dan di telungkup kan diatas meja, Richard menahan tubuh gadis itu dan menarik resleting gaun yang berwarna biru muda itu setelah nya ia pun kembali membalik tubuh Ainsley.


"Paman! Lepas!" ucap Ainsley yang tak senang karna perlakuan yang tiba-tiba tersebut.


"Mau taruhan?" tanya Richard dengan menampilkan smirk nya di beri sinar cahaya tipis melewati wajah nya.


"Aku akan teriak!" ancam gadis itu yang masih ingin terlepas.


"Kalau begitu kau bisa teriak, konsekuensi nya kau juga sudah tau kan?" tanya Richard yang masih menahan gadis di kungkungan nya.


"Apa yang paman mau?!" tanya Ainsley yang semakin marah.


"Kau tau? Kekasih mu itu anak dari wanita simpanan yang tidak sah, kalau ini terungkap pasti akan membuat nya gagal sebagai pewaris kan?" tanya Richard seperti tak mengetahui apapun.


Saat ia menyadari perasaan nya ia mulai mencari cara untuk membuat gadis itu tinggal dengan nya menggunakan segala cara.


"Ini ancaman? Bukan itu kan yang paman mau? Apa maksud paman?!" tanya Ainsley lagi karna ia merasa pria itu seperti memutar apa yang ia katakan.


"Kau tau? Kalau kau juga menyukai tubuh ku?" bisik pria itu di telinga Ainsley.


Ainsley terperanjat, sontak saja ia tak menerima penyataan kalimat seperti itu.


"Tidak! Aku tak seperti itu!" sanggah Ainsley langsung.


Richard tak menjawab dan hanya tersenyum, ia tau jika gadis sepolos Ainsley akan merasa jika hal seperti s*x adalah hal yang baru dan membuat nya ketergantungan tanpa sadar karna gairah tersimpan dalam diri gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2