
Sean menatap ke arah gadis yang tengah tertidur saat ini, ia mengusap wajah nya dengan kasar dan membuang nafas nya dengan berat.
Orang tua dari gadis itu sudah mendesak agar menghentikan terapi psikiater dan memulangkan nya karna tak ingin merusak nama keluarga jika pewaris dari yayasan dan universitas musik ternama mengalami cacat mental.
Sedangkan masalah kematian ibu nya sudah semakin mendekat namun hal lain terus berdatangan pada nya.
"Kau kenapa? Hm? Sebelum nya kan baik-baik saja..." ucap nya lirih menatap wajah gadis itu.
Ia di beritau jika kekasih nya mengalami serangan mendadak tiba-tiba yang membuat nya harus di beri obat penenang lagi.
...
Pukul 12.45 Am.
Gadis itu terbangun dari tidur nya, tak ada tangan hangat yang menggenggam nya.
Mata nya mengandah mencari pria yang menemani nya selama beberapa hari terakhir.
"Kau bangun? Kenapa? Mimpi buruk? Lapar?" tanya Sean saat ia baru masuk ke ruangan rawat kekasih nya.
Ia melihat gadis itu yang sudah bangun dan berjalan dengan wajah gelisah, "Ainsley?" panggil nya lagi menatap gadis nya.
Sean pergi keluar membeli beberapa makanan untuk dirinya karna ia sama sekali belum makan malam saat ia di perusahaan dan membeli beberapa camilan yang di sukai gadis nya.
"Mau makan dengan ku?" ucap nya sembari menunjukkan camilan yang di sukai gadis di depan nya.
Karna tak ada jawaban apapun, pria itu hanya tersenyum dan beranjak ke sofa guna meletakkan makanan yang baru ia beli.
Greb!
Langkah nya terhenti saat ia merasakan tangan yang tiba-tiba meraih dan memeluk tubuh tegap nya dari belakang.
Tangan kecil yang sedang melingkar di dada bidang nya terlihat ketakutan, bahkan tubuh yang saat ia melekat pada nya juga tak dapat menyembunyikan rasa gelisah yang teramat sangat.
"Ainsley? Kenapa?" panggil Sean dengan lembut sembari memegang tangan yang memeluk nya semakin erat.
"Se...an..." ucap nya lirih dengan hampir tak bersuara sama sekali.
Pria itu tersentak ia pun langsung melepaskan lingkaran tangan itu dan membalik tubuh nya secepat kilat begitu mendengar suara lirihan kekasih nya.
"Tadi kau bicara kan? Kau sudah bisa bicara? Coba panggil aku lagi!" ucap pria itu bersemangat sembari menangkup pipi lembut kekasih nya.
Tes....
Satu buliran bening jatuh di pipi gadis saat mata nya menatap kosong kekasih nya.
"Loh?! Kau menangis? Kenapa?" tanya pria itu yang heran karna gadis nya menangis tiba-tiba.
Tak ada jawaban selain buliran bening dari iris berwarna coklat hijau keemasan itu, namun Ainsley yang secara spontan kembali memeluk pria di depan nya.
"Kau mau di peluk? Sstt...
Sudah jangan menangis, aku tak akan tanya apapun lagi..." ucap pria itu sembari membalas pelukan kekasih nya.
Menangis, menolak bahkan ketakutan saat melihat nya sudah mulai membuat pria itu terbiasa dengan pola sikap mendadak dari kekasih nya.
Setelah mulai tenang pria itu mencoba membawa nya kembali tidur di ranjang pasien yang biasa di gunakan, namun gadis itu tak mau sama sekali.
"Seperti nya kau mulai membaik, sekarang sudah kembali keras kepala..." goda Sean sembari mengusap lembut rambut kekasih nya.
Karna Ainsley yang tak ingin beranjak ke ranjang pasien, pria itu pun membawa kekasih nya ke sofa dan menidurkan nya.
__ADS_1
Gadis itu menjadikan paha pria nya sebagai bantalan di kepala nya, ia tak ingin sendiri. Walaupun bukan berarti dirinya aman saat bersama sang kekasih namun baginya ini lebih baik dari pada sendirian.
"Sudah tidur?" gumam pria itu sembari menatap ke wajah gadis nya yang sudah tenang.
......................
Skip.
7 Hari kemudian.
Ruang konseling.
Gadis itu terus menunduk atau menatap kosong dan enggan menjawab semua pembicaraan nya pada psikiater nya.
"Nona, menghargai dan mencintai orang lain itu adalah hal yang baik. Tapi nona juga harus dapat menghargai dan mencintai diri nona sendiri." ucap dr. Canly dengan senyuman ramah dan wajah lembut nya.
Gadis itu menautkan jemari nya satu persatu dengan gelisah, ia tak suka pembicaraan seperti ini hingga membuat nya ingin keluar segera.
"Tak apa melepaskan sesuatu yang menyakiti kita, tidak apa-apa juga menolak sesuatu yang akan membuat kita terluka." ucap dr. Canly sendiri.
Gadis itu mengandah menatap wanita paruh baya berkacama di depan nya yang sedang tersenyum ramah dengan menampilkan beberapa kerutan di ujung mata nya yang terlihat seperti bulan sabit.
"Me..lepaskan?" ucap nya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.
Gadis itu merasa tak memiliki apapun, tapu wanita di depan nya mengatakan tidak apa-apa melepaskan sesuatu yang menyakiti nya.
Dr. Canly tersenyum dalam seminggu terakhir gadis itu sudah berbicara tiga kali termasuk memanggil nama kekasih nya.
Walaupun masih terbilang sangat pendiam namun hal ini sudah termasuk kemajuan besar untuk perkembangan mental nya.
"Iya...
Cara menghargai dan mencintai diri sendiri dimulai dari hal seperti itu," ucap nya lagi sembari tersenyum pada gadis itu.
...
Langkah kaki nya terhenti sesaat di depan pintu yang harus nya mudah ia masuki. Namun hati yang sudah sekeras batu itu pun menepis semua perasaan iba nya.
Kekecewaan dan kebencian yang pada suaminya dan menjadikan putri kecil nya sebagai pelampiasan amarah tak berujung dan tak beralasan nya.
Ia membuka pintu nya pelan dan melihat gadis yang duduk diam bagaikan ukiran patung dengan wajah tenangnya.
"Mau sampai kapan kau disini? Kau mau terus jadi gila begini? Media pasti akan mengetahui nya cepat atau lambat, kau tak pikirkan reputasi keluarga mu?" cerca sang ibu sembari mendatangi putri nya.
Tak ada jawaban apapun hanya mata kosong yang menatap wanita yang dulu nya sangat ingin ia dapatkan kasih sayang nya.
"Jawab! Kau bisu?!" ucap Fanny sembari menyentuh kasar bahu putrinya.
Ainsley masih diam, ia sudah mulai bisa berkomunikasi walau tak sedikit berkat terapi psikiaternya, hanya mengucapkan beberapa kata yang bisa ia keluarkan dari bibir nya.
Tak apa melepaskan sesuatu yang menyakiti kita, tidak apa-apa juga menolak sesuatu yang akan membuat kita terluka.
Gadis itu menatap ibunya dengan mata sayu, ucapan psikiater yang dengan tekun merawat nya pun mulai membuat ingatan di kepala nya.
Tangan nya mulai meraih tas yang di kenakan wanita yang berdiri di depan nya. Bibir nya mulai berusaha berbicara dan mengeluarkan suara nya sebisa mungkin.
"A...
Apa aku benar-benar putri Mamah? Mamah sayang kan sama Ainsley?" ucap gadis itu sekuat tenaga dengan suara lirih dan lemah nya.
Dalam satu bulan terakhir belakangan ini adalah kalimat terpanjang yang ia ucapkan.
__ADS_1
Plak!
Fanny langsung menepis tangan gadis itu dengan kasar seperti menghindari kotoran yang sangat ingin ia buang.
"Hm, kau putri ku dan itulah yang membuat sangat kesal!" ucapnya dengan penuh penekanan.
Gadis itu diam menatap tangan nya yang di tepis dengan kasar.
"Penyesalan ku adalah melahirkan mu! Aku tak pernah mengharapkan putri seperti mu!" tambah nya lagi sembari mendorong kecil bahu gadis itu.
Gadis itu menatap ibu nya dengan mata sayu dan begitu sendu seakan-akan memberikan pertanyaan di dalam nya.
"Kau seperti ingin bertanya 'Kenapa aku dilahirkan?' Hm?" tanya Fanny saat menatap iris jernih yang mulai berair tersebut.
"Kau itu cuma kesalahan satu malam, dan aku bahkan tidak tau kalau 'kesalahan' itu bisa menjadi hidup!" ucap nya sembari memandang tajam gadis itu.
Ainsley terdiam, sekarang ia benar-benar sadar jika kehadiran nya tak pernah sama sekali di inginkan oleh sang ibu.
"Kalau begitu, jangan jadi Mamah Ainsley lagi. Mulai sekarang putri Mamah sudah tidak ada," ucap nya tanpa sadar menatap sang ibu dengan mata nya yang berkaca.
Fanny mengerutkan dahi nya menatap wajah putri nya yang berbicara tak seperti biasanya.
"Mamah ingat janji yang pernah mamah buat? Mamah bakal peluk aku kalau aku sudah benar-benar mati kan?" ucap gadis itu lagi dengan tenggorokan yang tercekat.
Ia mulai berusaha 'Menghargai diri nya sendiri' dimulai dari hal yang menjadi duri di hati nya.
"Kita batalkan saja janji nya, sekarang Mamah sudah bebas, aku juga akan menganggap tidak memiliki ibu lagi." ucap nya dengan tanpa sadar menjatuhkan bulir bening dari mata nya.
Deg...
Fanny tersentak mendengar ucapan putri nya yang tak pernah ia sangka, "Kau mau melawan orang tua mu?! Mau jadi pemberontak?!" ucap nya dengan kesal sembari memberi tatapan tajam.
"Saya tidak pernah memiliki orang tua, saya penasaran bagaimana rasa nya, kalau saya punya saya akan tau bagaimana rasa nya." ucap nya dengan buliran bening yang semakin terjatuh.
Gadis itu mulai menggunakan bahasa formal pada sang ibu seperti berbicara pada orang lain dengan pangkat lebih tinggi.
"Ka-kau!" ucap Fanny terkejut dengan raut gadis itu yang membuat nya goyah pertama kali, "Dasar anak pembawa sial!" decak nya dengan ingin keluar segera.
"Saya harap nyonya bisa hidup bahagia, dan saya akan lakukan yang terbaik sebagai putri Bellen." Ainsley yang menjawab dengan suara lemah dan tersendat nya tanpa sadar bibir nya tersenyum di tengah lelehan air mata nya yang terus keluar.
Langkah nya terhenti dan menoleh melihat wajah putri nya sekali lagi tangisan dengan senyuman yang beradu, mata kecewa dan kesedihan yang terlihat menyatu namun terlihat lega sekaligus.
Fanny pun tetap keluar dan membanting pintu nya dengan kesal karna suasana hati nya yang tiba-tiba kacau.
BRAK!!!
Sunyi...
Gadis itu sendirian lagi, tangis nya pecah segera menumpahkan semua air mata yang tertahan, ia menutup mulut nya rapat dengan tangan kecil nya agar tak terdengar suara pilu tersebut.
Sakit...
Aku tak bisa bernafas...
Dada nya terasa sesak, semua harapan nya sudah benar-benar runtuh akan satu kata 'Ibu' yang selalu ia dambakan sejak kecil.
Kawat duri yang melilit kuat di hati nya berusaha ia cabut dengan paksa agar tak semakin menyakiti nya lagi.
Walaupun saat ini ia lebih terluka namun luka tersebut akan bisa di sembuhkan saat duri nya sudah dicabut dan tak hinggap lagi.
Aku akan baik-baik saja...
__ADS_1
Batin nya sembari meluapkan semua rasa sesak nya dan menumpahkan buliran bening di mata nya.