
Satu Minggu kemudian.
Suasana yang terlihat mewah serta kilauan dari gemerlap lampu gantung yang begitu indah. Susunan gelas yang berdiri dengan tinggi terlihat memantulkan cahaya yang membuat nya seakan berlapis dengan kedipan lampu pijar.
Janji yang sudah mulai terdengar itu menantikan jawaban yang harus nya bisa keluar dari mulut wanita itu.
Satu jawaban serta balasan yang membuat semua yang mendengar nya menjadi lega.
"Kau gugup?" tanya Ainsley pada pria itu.
Ia sudah pernah merasakan lebih dulu apa itu pernikahan, berbeda dengan pria yang berada di depan nya yang baru kali ini tau bagaimana rasanya berada di sebuah acara formal yang mengikat janji dengan seseorang.
Senyuman menjadi jawaban awal pria itu, ia mendekat dan mulai berbisik, "Aku tidak gugup, aku hanya sangat senang sampai mau lompat keluar."
Ainsley tersenyum tipis mendengar nya, "Kalau begitu aku bakalan jadi janda lagi?" tanya nya berbalik menanggapi candaan konyol pria itu.
"Sayang nya aku akan hidup lebih lama." balas Sean tersenyum.
...
"Kenapa di tekuk terus muka nya?" tanya Daniel yang mendekat pada remaja yang terlihat menekuk wajah nya itu.
"Kalau rata yang kayak setan," jawab remaja itu langsung ketus.
"Tadi waktu bicara dengan kakek mu kau tidak begitu kenapa dengan ku langsung berubah?" tanya Daniel mengernyit.
Ia melihat sejenak interaksi antara Axel dan juga Michele yang datang ke pernikahan kedua putri nya.
Seperti orang asing yang bahkan enggan untuk berbicara, seperti itu lah ia melihat ke arah pembicaraan kakek dan cucu itu.
Walaupun Michele dan Fanny memperlakukan cucu mereka dengan baik namun Axel sendiri sedikit sulit untuk dekat dengan kakek nenek dari ibu nya itu.
Sebagai respon alami yang timbul karna melihat sang ibu yang juga terlihat jauh dan enggan dengan orang tua kandung nya membuat remaja itu tanpa sadar bersikap sama dengan sang ibu.
Walaupun Ainsley tak pernah mengatakan hal yang buruk tentang kedua orang tua nya pada putra kesayangan nya itu.
"Ih, mau tau aja urusan orang!" jawab Axel pada Daniel.
"Yasudah, aku juga gak peduli tuh!" ucap Daniel sembari membuang wajah nya.
Remaja itu memanyunkan bibir nya ketika melihat pria tua di sampingnya membuang wajah.
Ia pun beranjak dan melangkah ke arah susunan sampanye yang di sediakan di pesta pernikahan sang ibu.
"Hey, bocah! Jangan coba-coba minum, nanti ku adukan sama ibu mu." ucap Daniel tiba-tiba dan membuat remaja itu terkejut.
"Ih! Nyebelin! A-aku kan bukan mau minum ini!" ucapnya langsung menyangkal.
"Anak nakal ini! Kalau kau bukan anak menantu ku akan biarkan saja kau sampai mabuk!" sahut Daniel dengan kesal.
"Mommy ku kan bukan menantu anda!" jawab Axel yang kembali lesu dan kesal karna kini sang ibu sudah benar-benar menikah.
"Terus dia siapa ku?" tanya Daniel pada remaja yang ketus itu.
"Mommy aku!" jawab Axel dengan asal pada pria di depannya.
Plak!
Pria itu langsung melayangkan tangan nya hingga membuat remaja itu memekik seketika. Ia tak bisa membalas pukulan tersebut karna sang ibu melarang nya melakukan hal yang tidak sopan pada orang yang sudah lanjut usia.
"Mo-Mommy!" ucap nya langsung beranjak ke arah sang ibu.
Ainsley tersentak, putra nya langsung meraih tangan nya yang entah dari mana.
"Kenapa nak?" tanya wanita itu dengan lembut.
"Ada orang tua mesum, Mom!" ucap remaja itu mengadu pada ibu nya.
Ainsley mengernyit ia menatap ke arah pria yang masih berdiri di sampingnya karna tadi sempat menyapa tamu bersama.
"Siapa nak?" tanya Ainsley sembari melihat ke arah putranya.
Daniel pun datang mengikuti langkah bocah yang selalu bicara ketus dan asal pada nya.
"Masa tadi bok*ng di pukul Mom," adu nya pada sang ibu.
Ainsley melihat ke arah Sean sejenak dan membuat pria itu mendekat dan berbisik ke arah nya agar Axel tak mendengarnya.
"Berarti Papa masih anggap dia anak umur lima tahun, dulu waktu aku kecil juga sering di pukul di situ kalau nakal." bisik nya pada wanita itu.
"Tapi kan Axel udah besar," ucap Ainsley mengernyit yang tidak sadar terkadang putra nya seperti anak lima tahun yang selalu menempel pada nya.
Sean ingat sebelum ia mengetahui masalah kedua orang tua nya dan menjauh dari sang ayah, pria itu sangat menyayangi nya.
Namun ia perlahan membenci kasih sayang itu karna membuat ibu yang ia sayangi menderita dan bahkan hingga mati terbunuh.
Jangankan melindungi ibu nya, memberikan status yang layak pun tidak melainkan menahan nya dan menggunakan diri nya agar sang ibu tidak kabur, hal itu lah yang membuat hubungan nya semakin merenggang dan akhirnya menjauh hingga Daniel pun tak bisa lagi menunjukkan kasih sayang nya.
"Ngadu apa kau sama ibu mu ha?" tanya Daniel mendekat ke arah remaja itu.
"Ngaku abis di lec*hin!" jawab Axel enteng pada pria tua itu.
Plak!
Satu pukulan kembali melayang di bok*ng remaja itu.
"Mommy! Lihat kan!" adu nya pada sang ibu.
"Udah nak, makanya jangan gak sopan gitu bicara nya..." ucap Ainsley sembari mengelus putra nya dengan lembut.
"Tadi dia mau minum sampanye," ucap Daniel tiba-tiba yang langsung membuat mata remaja itu membulat.
"Gak ada kok! Bukti nya aku gak minum!" ucap remaja itu langsung yang takut sang ibu memarahi nya.
"Jangan sayang, nanti yah kalau kamu udah cukup umur bakal Mommy bolehin..." ucap Ainsley pada putra nya.
Seperti anak kucing yang menggemaskan dan penurut, remaja itu pun mengangguk.
"Lily mana? Kamu gak nyusul dia?" tanya Ainsley lagi pada putra nya.
Axel pun langsung mencari ke arah gadis yang yang tadi nya mengatakan ingin ke toilet itu, "Axel cari Lily dulu yah Mom." ucap nya pada sang ibu.
Ia pun langsung melenggang pergi, sedangkan teman-teman dan kenalan Sean mulai berdatangan.
"Sapa mereka dulu aja, aku gak apa-apa." ucap nya tersenyum.
"Aku kesana dulu," ucap Sean sembari mencium sekilas pipi wanita itu sebelum beranjak.
Melihat putra yang kini sudah pergi dan hanya meninggalkan pria yang sudah berumur itu dengan menantu nya.
"A-anda mau minum?" tanya Ainsley bingung karna baru kali ini memiliki mertua.
Sebelum nya Richard tak memiliki kedua orang tua lagi membuat nya tak perlu beradaptasi dengan orang tua pasangan berbeda dengan pria yang menikah dengan nya saat ini.
Daniel menggeleng mendengar nya, "Panggil aku dengan sebutan Papa, jangan ikut dia yang bicara formal dengan ku." ucap nya pada wanita itu.
__ADS_1
Ainsley mengangguk kecil atas permintaan Pria tua di depan nya.
"Kau mantan pacar nya dulu kan?" tanya Daniel lagi.
Satu anggukan menjadi jawaban wanita itu dengan kaku.
"Sekarang aku tau alasan dia tidak mau menikah, ternyata karna masih menunggu mu." ucap Daniel yang setengah terkekeh jika ingat ia yang mati-matian ingin menjodohkan putra nya.
Ainsley diam saja tak bisa membalas ucapan ayah mertua nya karna ia pun bingung harus mengatakan apa.
"Karna sekarang dia sudah menikah dengan mu, aku tidak akan menuntut terlalu banyak ataupun meminta mu melakukan hal yang sulit..."
"Aku cuma ingin kalian hidup dengan baik, dia juga sudah terlalu banyak terluka, aku membuat nya trauma nya di beberapa hal jadi ku harap kau bisa bersama nya dengan baik."
"Walaupun mungkin dia nanti sedikit kasar, tapi dia itu sebenarnya baik, sikap nya itu tumbuh karna dia hidup dengan keras juga. Jadi kalau dia seperti itu aku minta pada mu untuk memaafkan nya." sambung nya lagi.
Ainsley tersenyum tipis dan mengangguk, ia sudah tau sikap yang 'sedikit kasar' itu seperti apa karna dulu pernah merasakan nya.
"Anda tenang saja, dia tidak akan seperti itu pada ku lagi..." jawab Ainsley lirih.
"Papa! Kan aku sekarang sudah jadi ayah mu!" ucap nya yang langsung membenarkan panggilan wanita itu karna tak mau istri putra nya juga ikut berbicara formal pada nya.
"Iya, Pah." jawab Ainsley tersenyum tipis.
Setelah pernikahan, Ainsley tetap meminta agar Sean yang ikut tinggal di apart nya dan bukan nya di bawa ke mansion utama pria itu.
Hal itu di karnakan putra nya yang tak ingin pergi ke tempat pria itu dan masih ingin menetap di tempat tinggal mereka.
......................
7 Bukan kemudian
Apart Venelue'ca
Perut wanita itu kini mulai membesar ketika sudah memasuki usia delapan bulan lebih dan hanya perlu beberapa Minggu lagi sampai hari kelahiran nya.
"Kau benar tidak mau tau jenis kel*min nya?" tanya Sean sembari mengelus perut yang membesar dan sering bergerak itu.
"Iya, sampai dia lahir! Kan biar jadi kejutan." jawab Ainsley tersenyum.
Walaupun ia sering melalukan kontrol kehamilan namun ia meminta agar sang dokter tak memberi tau nya jenis kel*min anak nya.
"Iya, terserah mu saja..." jawab pria itu sembari mencium sekilas ke arah lengkung leher wanita yang tengah duduk bersandar itu.
Setelah pernikahan, beberapa alih kuasa pindah ke tangan pria itu dan membuat nya mengurus apa yang biasa di kerjakan oleh wanita kini yang tengah hamil besar itu.
"Nanti aku mau bawa Axel ke pertemuan, suruh dia datang ke perusahaan jam 5 sore yah." ucap nya sembari memakai jas nya.
"Iya, tapi nanti Axel sama Lily mau ke sini sebentar abis pulang sekolah, masih sempat kan?" Ainsley yang melihat suami nya yang tengah memakai jas dengan terburu-buru kran terlambat ke perusahaan nya.
"Iya, gak apa-apa..." jawab Sean sembari mengecup pipi wanita itu sekilas sebelum pergi.
...
Emily menatap takjub ke arah perut besar yang berisi manusia itu.
"Mau pegang?" tanya nya pada gadis itu yang terlihat begitu penasaran.
Satu anggukan menjadi jawaban gadis cantik itu, Ainsley pun mengizinkan teman putra nya itu untuk menyentuh perut nya.
"Eh?" gadis itu tersentak satu tendangan kecil datang ke arah nya, "Itu gak sakit?" tanya nya dengan bingung.
Ainsley tersenyum dan menggeleng, "Kamu kan nanti ngerasain juga," ucap nya pada gadis itu.
"Gak mau deh! Nanti perut Lily jadi besar terus ada yang jalan-jalan lagi! Kan takut!" jawab gadis itu langsung.
"Tante, nanti kalau perut Lily besar Axel gak mau lagi sama Lily, dia kan suka ledekin Lily makin gemuk!" ucap gadis itu setengah berbisik.
"Bicara apa itu? Kok ada bawa-bawa nama aku?!" tanya Axel langsung.
"Ih penasaran aja!" jawab Emily sembari membuang wajah nya.
Axel membuang napas nya dengan kesal ketika gadis itu tak mau memberi tau nya, sedangkan Ainsley hanya tertawa melihat kedua remaja yang masih menggemaskan itu.
......................
2 Minggu kemudian.
Karna sudah memasuki usia yang cukup untuk melahirkan wanita itu memilih tanggal operasi nya, ia tau jika ia tak bisa melahirkan secara normal karna memiliki panggul yang kecil.
"Kenapa gitu terus muka nya?" tanya Ainsley yang melihat wajah putra nya yang terus di tekuk.
"Axel takut Mom..." ucap nya lirih.
"Takut kenapa? Kan yang mau melahirkan Mommy? Kenapa Axel yang takut?" tanya wanita itu pada putra nya.
"Takut Mommy nanti kenapa-kenapa," jawab nya dengan lirih.
Ainsley tersenyum dan mengelus rambut halus putra nya, "Gak apa-apa, kan ada Axel yang jagain Mommy, nanti kalau Mommy keluar dari sini Axel udah bisa main sama adik Axel..." ucap nya pada putra nya.
Remaja itu hanya diam, "Jangan bilang gitu Mom..." ucap nya lirih yang kembali teringat dengan ucapan sang ayah sebelum memasuki ruangan operasi dan setelah itu tak pernah kembali lagi.
Ainsley tersenyum dan mengusap wajah putra nya dengan lembut.
Sean mendekat, ia tak mengatakan apapun melainkan hanya mengecup dahi wanita itu dengan dalam sebelum melakukan operasi nya.
Hening ketika tak ada satupun suara yang datang pada kedua pria yang menunggu orang yang sama.
"Kamu kapan panggil aku Daddy?" tanya Sean pada remaja itu.
Karna setelah hari pernikahan pun remaja itu masih memanggil nya dengan sebutan paman dan belum berganti.
"Kan aku belum siap!" jawab Axel mengelak.
Sean tersenyum tipis mendengar nya, "Dia akan baik-baik saja kan?" tanya nya lirih.
Axel hanya membuang napas nya lirih dan berharap hal yang sama juga.
"Apa menurut mu aku bisa jadi ayah yang baik?" tanya Sean lirih.
"Bisa," jawab Axel langsung karna ia tau pria itu bahkan bisa menjadi ayah tiri yang baik untuk nya walau pun ia masih belum bisa memanggil nya dengan sebutan ayah.
Sean hanya membuang napas nya lirih, detik yang terasa begitu lama untuk nya karna menunggu dengan perasaan yang gelisah dan khawatir serta menunggu dengan penuh ketidaksabaran dan degup yang berdebar dengan hebat.
Waktu yang panjang itu akhir nya berlalu, seorang dokter yang keluar lalu membawa berita tentang anak nya.
"Anda memiliki putri yang sehat dan cantik, selamat pak." ucap sang dokter dengan senyuman nya.
Sean bernapas lega, "Lalu bagaimana dengan istri ku?" tanya nya lagi.
"Dia baik-baik saja dan sekarang kami akan memindahkan nya keruangan rawat." jawab sang dokter.
...
Bayi mungil yang masih di dalam kotak kaca itu terlihat menggeliat di balik tidur nya, dan di bungkus dengan kain yang melilit ke tubuh nya.
__ADS_1
"Kok jelek sih adik Axel? Masa kulit nya merah..." ucap nya lirih.
"Axel dulu waktu baru lahir juga merah nak kulit nya, nama nya masih bayi..." ucap Ainsley tersenyum pada putra nya.
"Mau nya kan yang langsung kayak Mommy," sambung remaja itu lirih.
"Mommy bisa pingsan dong kalau ngelahirin anak yang langsung besar." wanita itu tertawa kecil.
"Nama nya siapa?" tanya Axel sembari melihat ke arah sang ibu dan Sean secara bergantian.
"Olivia Chiron Xavier, atau kau mau nama lain?" tanya pria itu sembari melihat ke arah wanita yang masih berada di ranjang pasien itu.
Ainsley menggeleng pelan, ia tersenyum tipis dan menatap ke arah putra nya lagi, "Itu nama adik kamu." ucap nya pada putra kesayangan nya itu.
Axel hanya diam tak menjawab, setelah hari itu banyak yang mengunjungi adik nya, Mack fan Emily pun datang untuk melihat bayi yang baru saja datang ke dunia itu.
Belum lagi Daniel yang begitu senang karna kini sudah memiliki cucu nya.
...
Langkah remaja itu memundur, gambaran yang terlihat potret bahagia antara ibu nya, adik tiri nya dan juga ayah sambung nya bersama dengan kakek bayi kecil itu.
Ia kini mulai merasa asing, karna hanya seperti orang luar yang berada di tempat itu ketika mata sang ibu hanya melihat ke arah bayi mungil yang berada dalam gendongan nya itu.
"Axel? Mau kemana nak?" tanya Ainsley yang melihat putra nya berjalan ingin keluar saat semua orang ingin melihat putri nya.
"Axel mau keluar sebentar Mom," jawab nya lirih dengan senyuman yang di paksa.
Ainsley mengernyit, ia melihat ekspresi yang seakan tengah sendu itu.
"Axel sini dulu nak, bantu Mommy gendong Oliv," ucap nya hingga membuat langkah remaja itu berbalik.
Tubuh mungil itu langsung menggeliat hingga membuat sang kakak terkejut, "Adik Axel masih kecil jadi Mommy harus jagain dia dulu..." ucap nya pada putra nya.
"Huh! Dasar cemburuan!" seru Daniel langsung.
"Apaan sih? Gak boleh cerewet nanti darah tinggi nya naik lagi!" jawab Axel langsung.
"Anak ini! Oh iya! Aku juga belum pernah dengar kau panggil aku Grandpa atau Kakek! Aku ini kan juga kakek mu!" ucap Daniel yang baru menyadari sesuatu.
"Dia aja belum manggil aku Daddy..." ucap Sean lirih.
"Kenapa sih? Langsung sibuk masalah panggilan?!" tanya remaja itu mendengus kesal.
Nyah...
Bayi kecil menggemaskan itu memakan dan mengusap dagu sang kakak sewaktu ia di gendong dengan gaya bayi koala.
"Mom? Kok dia makan dagu aku?" tanya Axel pada ibu nya.
Ainsley pun langsung mengambil putri nya, "Anak Mommy lapar? Itu dagu kakak Axel, gak boleh di makan..." ucap nya sembari mengecup pipi putri nya.
Tangan kecil itu menggeliat sembari menarik jemari yang penuh di genggaman kecil nya, "Dia suka sama Axel ini." ucap wanita itu tersenyum.
Sedangkan Axel masih mematung, tangan yang begitu kecil yang memegang nya hingga membuat nya merasakan sesuatu yang menggelitik di hati nya.
"Axel gak suka! Dia kecil! Jelek!" ucap nya ketus mengatai adik nya.
Ainsley hanya menggeleng pelan, Sean maupun Daniel juga tak mengatakan apapun karna tau sifat remaja itu.
......................
Apart Venelue'ca
Dua bulan kemudian.
"Ih pinter!" seru Axel ketika bayi mungil itu kembali meraih tangan nya dan tertawa.
"Kata nya gak suka?" tanya Sean yang membuat remaja itu langsung kaget.
"Apa sih? Aku tuh cuma lihat aja?" ucap Axel yang langsung beranjak menjauh dari keranjang bayi adik nya.
Huu...
Baby Olivia pun mulai menggeliat mencari tangan yang tadi nya bermain dengan nya, "Itu mau nangis tuh." ucap Sean yang membuat remaja itu kembali melihat ke arah sang adik.
"Loh? Olive kenapa? Adik kakak sedih? Cup, cup..." ucap nya yang langsung menepuk bayi mungil itu.
"Aku kapan di panggil Daddy? Kalau dia besar nanti bingung loh, masa kakak nya manggil ayah nya paman." ucap Sean tersenyum pada remaja itu yang gengsi untuk mengatakan kasih sayang nya itu.
"Nanti kapan-kapan!" jawab Axel ketus sembari mengangkat bayi mungil itu dan membawa nya.
Remaja itu pun menggendong bayi mungil itu keluar dan menunggu pacar cantik nya untuk datang ke rumah nya.
...
Mata gadis itu berbinar melihat makhluk kecil yang masih suci itu menggeliat sembari meraih tangan nya dan kadang ingin memakan nya kedalam mulut kecil itu.
"Axel? Baby nya pipis..." ucap Emily ketika melihat pakaian bayi mungil itu basah, "Ini di mandiin?" tanya nya lagi.
"Sebentar," ucap Axel dan beranjak mencari ayah tiri nya itu.
Sang ibu masih keluar bersama Clarinda yang kembali ke Prancis untuk beberapa waktu.
"Aku sama Lily mandiin Olive yah," ucap nya meminta izin.
"Kamu udah tau cara mandiin bayi?" tanya Sean mengernyit.
"Udah," jawab Axel singkat dengan tatapan penuh semangat.
Sean tersenyum melihat nya, "Yasudah..." jawab nya.
Axel pun langsung kembali, sang ibu memang pernah mengajarkan nya cara untuk mengurus adik bayi nya agar remaja itu tak merasa terasingkan karna perhatian sang ibu hanya tertuju pada bayi mungil yang masih butuh perhatian penuh.
Bayi mungil itu menggeliat dan tertawa ketika ia dengan senang masuk ke dalam air.
"Cantik nya..." ucap Emily dengan gemas sembari menciumi tangan mungil itu.
"Lily juga cantik!" sahut remaja itu sembari melirik ke arah gadis di samping nya.
Wangi sabun yang lembut dan aroma bayi yang menyegarkan setelah mandi membuat kedua remaja itu melihat dengan gemas dan terus menerus mencium bayi mungil itu.
"Kok kak Lily aja yang di kiss, kakak engga?" tanya nya sembari mengambil baby Olive dari gendongan Emily dan mengecup pipinya dengan gemas.
Huhu...
Hua...
Bayi mungil itu mulai terganggu dan menangis karna ciuman gemas yang terus di layangkan padanya secara bertubi.
"Loh nangis? Bawa ke paman Sean aja." ucap Axel yang menjadi bingung jika adik bayi nya mulai menangis.
__ADS_1
"Iya, bawa ke paman Sean aja." ucap Emily yang juga bingung.