Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Calon anak kesayangan


__ADS_3

Kediaman Clarinda.


Gadis cantik itu mulai menceritakan semua tentang ingatan nya, dan apa yang terjadi pada nya saat ini termasuk tentang kandungan nya.


"Maaf..." ucap gadis itu lirih pada sang ibu.


"Kenapa? Kalau kau senang aku juga senang." jawab Clarinda dengan lembut sembari mengelus rambut gadis itu.


"Cales- bukan, maksud ku Ainsley." ucap Clarinda yang kaku menyebut nama asli gadis itu.


"Panggil nama yang Mamah kasih aja, aku kan putri Mamah..." ucap gadis itu tanpa ragu memeluk sang ibu.


Clarinda mendekap dengan erat tubuh mungil itu dan mengusap nya dengan perlahan.


"Lalu kau akan kembali ke Prancis?" tanya Clarinda lirih.


Ainsley mengangguk dalam pelukan hangat itu, awalnya ia memang tak ingin kembali namun ia takut cepat atau lambat keberadaan tentang nya di ketahui Michele dan Fanny.


Dan jika itu terjadi yang pada akhirnya akan terkena imbas nya adalah ibu angkat yang baginya seperti malaikat penolong nya.


Karna Clarinda lah yang menabrak nya dan menyembunyikan serta memberikan identitas baru yang palsu.


Dengan kedudukan Clarinda sebagai salah satu bangsawan hal itu hanya akan membuat nya mengalami kerugian besar dan dapat menghancurkan nama nya.


"Mamah gak bisa lihat cucu Mamah?" tanya Clarinda dengan raut sedih.


"Aku berencana kembali setelah melahirkan," jawab Ainsley lirih.


Wanita cantik itu tersenyum, ia senang karna bisa melihat calon cucu nya walau tak ada hubungan darah dan juga senang karna masih memiliki banyak waktu sampai gadis itu melahirkan.


"Anak Mamah yang manis, nanti rawat nya sama Mamah..." ucap Clarinda sembari memeluk gemas putri angkat kesayangan nya itu.


Ainsley memang mengatakan semua nya termasuk ketidakinginan nya untuk menikah walaupun pria yang menghamili nya siap untuk menikah namun ia tak mengatakan jika anak yang akan ia lahirkan nanti akan di berikan pada sang Ayah.


"Mah? Perasaan Mamah waktu punya anak itu gimana sih Mah?" tanya gadis itu penasaran.


"Mamah senang sekaligus takut, takut kalau nanti anak Mamah akan terluka atau menangis, takut dia tidak akan bahagia.


Tapi...


Mamah juga senang, senang sekali karna dia hadir, rasanya seperti memiliki sesuatu yang berharga, bukan benda tapi sesuatu yang tidak bisa Mamah gambarkan." ujar wanita itu menjelaskan.


Gadis itu diam sesaat lalu mulai menggalakkan lagi wajah nya pada pelukan sang ibu.


"Kenapa aku lahir nya bukan dari Mamah saja..." gumam nya lirih.


"Kenapa sayang?" tanya Clarinda yang tak bisa mendengar apa yang gadis itu ucapkan.


"Calesta sayang Mamah!" jawab gadis itu mengalihkan pembicaraan.


Senyuman cerah yang cantik terpancar di wajah gadis itu, ia senang dengan semua kehangatan yang di berikan wanita itu sebagai ibu nya.


......................


Mall.


"Tidak apa-apa menemani ku?" tanya gadis itu saat melihat pria yang berjalan pada nya.


"Kenapa sekarang kau selalu bertanya padahal dul-"

__ADS_1


Pria itu tak lagi melanjutkan ucapan nya, ia hanya mendorong gerobak belanjaan nya menelusuri mall besar tersebut.


Ainsley diam, ia ingat dulu selalu meminta pria itu menemani nya belanja dan membawa keranjang nya seperti sebuah keluarga yang ia impikan sejak awal.


"Kenapa wajah mu begitu? Hm?" tanya Sean sembari mencubit kecil pipi gadis itu.


"Tidak apa-apa," jawab Ainsley tersenyum sembari menggeleng pelan.


Sekarang ia memang melakukan hal kecil yang sama saat ia menjalin hubungan dengan mantan kekasih nya itu dulu namun yang membedakan saat ini adalah status nya.


"Kau yang ambil?" tanya Ainsley saat melihat beberapa makanan yang ia sukai sudah berada dalam keranjang.


"Sekarang kau tak suka lagi?" tanya pria itu sembari melihat ke arah keranjang nya.


"Masih!" jawab gadis itu semangat.


Ia pun berputar, memang ia tak berbelanja barang berharga ataupun mewah, namun belanja sesuatu yang imut, kecil dan kebutuhan harian seperti makanan.


Kebiasaan kecil gadis itu dulu karna merasa seakan ia juga bisa memiliki kehidupan normal seperti gadis lain nya.


Ainsley diam sejenak dan terhenti saat melewati toko perlengkapan bayi. Ia memang selalu merasa tak akan bisa mengurus calon anak nya, namun ia juga ingin memberikan sesuatu pada makhluk kecil yang tubuh dalam rahim nya saat ini.


"Kau mau kesana?" tanya Sean sembari menarik tangan gadis itu.


"Eh? Tapi?" jawab Ainsley ragu karna ia pergi mencari perlengkapan untuk anak nya dan pria lain bersama mantan kekasih nya.


Staf yang berada di sana menyambut nya, bertanya apa yang ingin ia beli.


"Kau sudah tau anak mu laki-laki atau perempuan?" tanya Sean sembari melihat ke arah peralatan bayi di tempat tersebut.


"Be-belum..." jawab Ainsley canggung.


"Rasa nya canggung..." jawab Ainsley lirih.


Sean juga sebenarnya tak bisa menyukai dan menerima kandungan gadis itu dengan senang hati, namun ia berusaha mencoba menyukai apapun yang melekat pada gadis itu.


Ia mengaggap mungkin ini salah satu karma nya atas semua perbuatan kejam yang ia lakukan di masa lalu karna sifat posesif dan pencemburu nya yang luar biasa.


Pria itu tersenyum sembari menatap ke arah gadis itu.


"Jangan melihat ku begitu," ucap Ainsley yang tak ingin menatap mata yang akan membuat jantung nya berdebar lagi.


"Lalu kita beli yang mana?" tanya Sean lagi.


"Ya-yang mana saja..." jawab Ainsley lirih.


......................


10 Hari kemudian.


Mansion Zinchanko.


Ainsley kini tak lagi merasa begitu terganggu atas kehadiran janin nya, ia juga meminta kembali menjalani terapi kesehatan mental agar tak mempengaruhi malaikat kecil yang hadir dalam dirinya.


Auch!


Salah satu pelayan terjatuh tak sengaja di dekat gadis itu, Richard langsung menarik nya hingga tak menimpa tubuh gadis yang tengah membawa anak nya tersebut.


"Ma-maaf tuan...

__ADS_1


Ma-maaf nona..." ucap nya gugup dan takut, ia sudah di ajarkan untuk sangat berhati-hati jika gadis kesayangan tuan nya ada.


"Kau sengaja?" tuduh Richard dengan tatapan membunuh pada pelayan tersebut.


"Ti-tidak tuan..." ucap nya gemetar ketakutan.


Ia memang tak sengaja sama sekali ataupun berniat mencelakai nya, karna terlalu gugup ia tak sengaja terjatuh dan hampir mencelakai gadis kesayangan pria iblis itu.


"Paman?" suara yang lembut dan lirih memanggil pria itu, membuat amarah nya sedikit turun namun tidak sepenuh nya.


"Kau baik-baik saja? Ada yang luka?" tanya Richard segera teralihkan.


"Tidak," jawab Ainsley menggeleng pada pria itu.


"Buat pelayan itu kehilangan kedua kaki nya," perintah Richard pada penjaga nya agar memotong kedua kaki pelayan yang baru saja terjatuh tersebut.


"Paman jangan! Paman tidak boleh begitu!" cegah Ainsley segera.


Pria itu masih tak mengubah keputusan nya sedangkan pelayan wanita yang jatuh tadi sudah menangis menjerit di seret.


"Paman, jangan...


Dia tidak sengaja!" ucap gadis itu lagi, ia takut membayangkan tentang kekejaman pria itu lagi.


"Dia hampir membuat mu terluka." ucap Richard yang dengan keras kepala nya.


"I-ini mau anak nya...


Dia takut kalau punya ayah yang jahat!


Ja-jadi dia mau aku menghentikan paman..." ucap gadis itu lirih.


"Anak?" tanya Richard mulai teralihkan.


"I-iya, aku bisa rasa dia mau apa...


Paman kan tidak hamil jadi mana mungkin tau..." jawab Ainsley gugup.


"Memang nya anak ku mau apa?" tanya Richard lagi.


"Dia tidak mau punya ayah yang jahat, jadi paman harus membatalkan perintah paman yang tadi." jawab gadis itu lirih.


"Dia takut?" tanya Richard lagi.


"I-iya dia takut kalau lihat paman marah, jadi pelayan tadi tidak boleh di hukum." jawab Ainsley.


Pria itu pun diam sejenak dan mulai menggendong gadis itu lalu membawa nya ke sofa, tak hanya di situ ia pun memangku gadis itu dan memeluk pinggang nya.


"Pecat dia dan bawa keluar," ucap pria itu mengganti perintah nya.


"Sekarang sudah tidak takut?" tanya sembari mengelus perut rata gadis itu dan sembari memeluk erat gadis yang berada dalam pangkuan nya.


"Paman? Paman benar-benar tak akan lakukan apapun kan?" tanya Ainsley tak yakin.


"Tentu saja, anak ku kan mau nya begitu..." jawab Richard sembari tersenyum.


Cup!


"Eh?" gadis itu terheran sejenak.

__ADS_1


"Aku kan harus nya dapat hadiah dari ibu nya kalau menuruti kemauan anak ku kan?" tanya Richard menggoda gadis itu.


__ADS_2