Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Ingat saja aku...


__ADS_3

3 Hari kemudian.


Sean terlihat senang karna gadis nya sudah memiliki beberapa perubahan kecil walau masih tak seperti sebelum nya.


Ia menyisir rambut panjang yang terasa halus tersebut dengan lembut agar tak menyakiti Ainsley.


"Sean..." ucap nya dengan pelan dan lirih namun pria itu masih bisa mendengarnya.


Pria itu tersenyum dan segera membalik tubuh gadis itu agar melihat nya, ia pun meletakkan sisir nya dan menatap iris kekasih nya dengan dalam.


"Aku suka kalau kau memanggil ku..." ucap nya senang sembari mencium gemas pipi gadis nya.


Ainsley tak menolak ataupun membalas perkataan apapun, ia hanya membiarkan kekasih nya terus mencium gemas pipi nya.


"Kau mau tidur? Ainsley ku mau tidur?" ucap nya sembari menggendong gadis itu bagaikan anak kecil.


"Aku bukan anak kecil," ucap nya dengan wajah datar tanpa ekspresi pada kekasih nya saat tubuh nya diangkat seperti balita.


"Kau ringan sekali, jadi makanlah lebih banyak agar bisa tumbuh lebih besar." ucap Sean tersenyum dan membawa gadis itu ke ranjang pasien nya.


Ia pun menidurkan gadis itu dan menyelimuti nya, tangan nya memainkan rambut gadis itu dengan menggulung nya lalu mencium nya.


"Aku mau keluar, aku tak mau di sini." ucap nya pada pria yang sedang memainkan rambut nya.


Sean diam sejenak, ia memang berencana mengeluarkan gadis itu dari rumah sakit dan mengurus pindah kuliah nya ke luar negri.


...


Flashback on.


"Ainsley?" panggil pria itu menatap kekasih nya yang menangis tersedu.


Ia pun langsung menghampiri nya dan memeluk nya, "Kenapa? Hm? Ada yang sakit lagi?" tanya pria itu sembari menghapus buliran bening yang jatuh di mata gadis nya.


"Aku sudah tidak memiliki ibu lagi..." ucap nya tanpa sadar tersenyum namun terus menjatuhkan buliran bening nya.


Pria itu tersentak beberapa saat, ia tau jika gadis itu mulai melepaskan satu persatu yang menyakiti nya.


Dan ketakutan itu muncul lagi, takut jika gadis nya benar-benar berfikir jernih dan memilih melepaskan nya juga.


"Sst...


Sudah, tidak apa-apa..." ucap nya menenangkan gadis nya di dalam pelukan nya.


Flashback off.


...


"Tentu saja, kau bisa keluar dari sini. Bersabar sebentar lagi yah..." ucap pria itu mengelus lembut kepala kekasih nya.


Gadis itu pun menepis pelan tangan yang sedang mengelus nya dan bangun menatap pria di depan nya.

__ADS_1


"Sean tidak perlu datang lagi kesini, aku sudah baik-baik saja..." ucap nya menatap dalam iris lelaki di depan nya.


"Kenapa aku tak datang? Pacar ku kan disini, aku tidak tenang kalau meninggalkan mu..." ucap pria yang berusaha mengendalikan rasa terkejut nya.


"Kalau begitu kita berhenti saja, lagi pula aku juga hanya jadi beban kan? Sean bisa dapat yang lebih baik da-"


"Apa yang kau katakan?! Coba ulangi lagi!" ucap Sean dengan nada tinggi yang tak mampu mengendalikan diri nya.


"Sean juga sering bilang begitu kan? Aku hanya mengatakan hal yang sama," jawab gadis itu dengan wajah nya yang kosong tak memancarkan apapun.


Pria itu terdiam sesaat, ia memang selalu menggunakan ancaman seperti itu untuk membuat gadis nya patuh dan saat ini ia mendapatkan hal yang sama.


"Hanya aku yang bisa menentukan kapan hubungan kita berakhir!" ucap pria itu menatap tajam iris gadis nya.


"Aku kotor," Ainsley yang langsung mengatakan hal tersebut dengan tiba-tiba, "Dan sekarang rasanya benar-benar tak nyaman..." sambung nya lirih.


"Aku tidak peduli! Kau tetap dengan ku! Kau milik ku!" timpal Sean dengan kukuh.


"Aku sudah tidur dengan pria lain! Kau tak mengerti?!" teriak gadis itu pecah dan mulai menutup telinga nya dengan erat.


Setiap kali ingatan tentang melakukan hubungan yang dalam tersebut dengan pria lain muncul, rasa takut dan jijik pada dirinya kembali lagi.


"Lalu?" tanya pria itu dengan wajah seperti bukan apa-apa.


"Sean membenci nya! Kau membenci nya! Karna aku sudah kotor..." ucap gadis itu sembari membalas tatapan sang kekasih.


Ia merasa bersalah setiap kali, pria itu berprilaku baik pada nya, semua perhatian yang di berikan kini menjadi beban dan membuat nya tak nyaman.


"Aku kotor Sean! Berhenti bersikap baik! Aku tidak nyaman sama sekali!" potong gadis itu langsung.


"Lalu kau mau aku menghukum mu?" tanya pria itu menatap ke arah kekasih nya.


Gadis itu menggeleng, ia tak tau apa yang ia inginkan, ia tak mau di hukum namun ia juga tak bisa merasa nyaman akan perhatian dan sikap baik yang di berikan kekasih nya.


"Lalu apa mau mu? Aku akan berikan, tapi kalau kau mau berpisah aku tidak mau! Aku tidak setuju!" Sean yang terus menanyai gadis itu.


Sedangkan Ainsley mulai menjatuhkan bulir bening di mata sayu nya lagi, ia masih berada dalam tahap mengenal diri nya sendiri.


Berusaha memilah apa yang terbaik bagi dirinya, dan itu bukan hal yang mudah sama sekali.


"Aku...


Aku tidak tau..." jawab nya lirih dengan tangisan yang terdengar sayup itu.


"Ainsley? Kau itu korban, mereka yang memaksa mu. Kalau kau melakukan nya dengan sengaja saat itu aku baru akan marah." ucap nya dengan berusaha mengatur nada nya agar tak membuat gadis nya semakin takut.


Mengendalikan rasa amarah dan posesif nya adalah hal yang terberat baginya karna dunia nya saat ini sudah berfokus pada gadis itu.


"Bukan..." ucap Ainsley menggeleng, "Bukan paksaan..." sambung nya lirih.


Walaupun ia tak begitu ingat namun saat sebelum nya saat melakukan hal tersebut dengan pria yang ia panggil paman tanpa adanya pemaksaan dan tubuh nya benar-benar bereaksi serta menginginkan sentuhan lebih dalam lagi tanpa ia tau jika dirinya sudah di berikan obat perangs*ng sebelum nya.

__ADS_1


"Maksud mu?" tanya Sean mengernyit, gadis itu mengaku jika tak ada paksaan sama sekali namun sekujur tubuh nya bergetar.


"Ainsley?!" bentak nya dan membuat gadis itu tersentak dan semakin takut.


"A-aku tidak tau...


Semua nya terjadi begitu saja...


Aku tak ingat..." tangis nya dengan gemetar dan menjatuhkan bulir bening nya.


Ia tak pernah membuka suara tentang apa yang terjadi pada nya saat menghilang satu minggu bahkan pada dr. Canly sekali pun.


"A-aku tidak tau...


Tapi aku sudah melakukan nya..." ucap nya lagi, bagi gadis itu ingatan tentang ia yang ternoda adalah pukulan serta trauma terbesar nya.


Walaupun saat ia melakukan nya mungkin tak terasa apapun namun saat ia menyadari situasi nya hal tersebut lebih mengerikan di banding hukuman fisik yang ia terima dari sang ibu ataupun kekasih nya.


"Mereka memberi mu sesuatu?" tanya pria itu menatap tajam ke arah kekasih nya.


Gadis itu tak menjawab namun semakin menjatuhkan bulir bening nya, sedangkan Dean sendiri tau jika hubungan seperti itu tak mungkin bisa terlupa jika di lakukan dalam kesadaran penuh.


"Kau ingat saat pertama kali kita melakukan nya?" tanya Sean lagi dan membuat gadis itu mengandah.


Ainsley mengangguk karna ia sangat sadar saat kesucian nya terenggut dan semua rasa sakit yang ia rasakan saat itu.


"Sekarang kau tau perbedaan nya?" tanya Sean pada gadis itu.


Ia sendiri juga bukan pria yang baik ataupun naif, sebelum berpacaran dengan Ainsley ia sering meniduri beberapa wanita yang ia kencani atau bahkan melakukan one night stand saat mabuk, karna baginya ia tak perlu membatasi diri nya untuk siapapun, ia tak memiliki perasaan dan hati yang harus ia jaga.


"Sama saja aku te- Humph!" ucap nya terpotong saat pangutan dari pria itu menutup suaranya.


Sean terus menahan tengkuk gadis itu dan menidurkan nya kembali, tangan kecil dan mungil itu berusaha mendorong dada bidang kekasih nya.


"Kalau kau mau melupakan nya, kau harus menimpa nya dengan kenangan baru dan sekarang kau harus ingat kalau hanya aku yang menyentuh mu..." ucap pria itu lirih.


Ia bingung harus bagaimana lagi menghadapi gadis nya, amarah nya memuncak saat gadis itu meminta berpisah namun ia tak mau menghancurkan gadis yang seperti gelas tipis tersebut dan menahan amarah nya sebisa mungkin.


Pikiran nya tak bisa berfikir jernih, ia mulai bertindak impulsif dan tak lagi bisa rasional, karna bukan hanya Ainsley yang tertekan namun ia juga sama tertekan nya dengan gadis itu.


Dan apa yang ia lakukan saat ini memiliki dua hasil berbeda dengan taruhan yang sama, gadis itu mungkin bisa melupakan trauma ketika ia di nodai sebelum nya dan mengganti ingatan tentang sentuhan kekasih nya.


Namun bisa juga ia semakin merasa takut dan tertekan hingga menuju ke depresi berat.


"Kali ini tak akan sakit, tenanglah..." bisik nya sembari menurunkan ciuman nya ke lengkung leher jenjang tersebut.


Tangan nya memegang erat kedua tangan kecil yang gemetar tersebut, mengunci pergerakan hingga tak bisa melakukan pemberontakan.


"Berhenti..." ucap nya lirih dengan tangisan sayup saat ia merasakan hisapan di leher nya.


"Ini aku, lupakan mereka yang menyentuh mu dan hanya ingat aku..." bisik nya sekali lagi dan mengecup pipi basah gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2