Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Freedom


__ADS_3

Langkah yang semakin ringan, aroma manis yang masuk ke indra penciuman gadis itu. Berdiri di dunia yang penuh dengan rasa manis tersebut.


Dunia yang hanya bisa terbangun dalam alam bawah sadar nya, jiwa anak berumur enam tahun yang terus terperangkap dalam diri nya.


Jiwa yang ingin terbebas namun tetap terkurung dalam kenangan buruk yang tak berani keluar melangkah ke pintu lain.


"Mamah!" ucap nya berlari saat melihat wanita yang tersenyum kearah nya.


Wanita yang menyambut larian nya dan mendekap nya dengan erat, hal yang di impikan nya namun tak pernah ia dapatkan.


"Mau permen?" tanya wanita itu dengan senyuman ramah yang selalu ia impikan.


"Mau!" jawab nya riang dan memakan apa yang di sukai nya.


Makanan yang manis namun sangat jarang ia dapatkan saat masa kanak-kanak nya.


Salad, jus sayur dan buah serta makanan yang tak tau apa nama nya dengan rasa getir dan begitu pahit yang selalu menjadi makanan harian nya.


Gadis itu terlihat senang dan memakan makanan manis tersebut, awan yang bagaikan permen kapas menggelitik nya membuat nya tertawa tubuh nya yang hampir terjatuh karna berlarian langsung di tangkap oleh sang ayah yang di bangun oleh imajinasi.


Mimpi indah yang membuat nya tak ingin terbangun sama sekali.


Namun mimpi tersebut semakin terasa pecah dan mengabur saat permen nya mulai terasa hilang awan kembang gula yang sebelum nya menggelitik nya mulai semakin nyata.


"Auch!" ringis nya saat awan tersebut terasa mengigit leher nya.


"Mamah? Papah?" panggil nya saat melihat kedua orang tua nya perlahan mulai mengabur dan menghilang dalam mimpi indah nya.


......................


Mansion Zinchanko.


Pria itu sudah membawa gadis yang sebelum nya memiliki ruangan kamar yang biasa ia gunakan dengan para "Mainan" nya. Berbeda dengan kamar asli nya.


Pria yang tak pernah memiliki darah ataupun air mata serta cinta dalam hidup nya.


Ia sudah mengambil segala bentuk alat elektronik nya dan membuang nya agar gadis itu tak bisa di lacak beberapa saat.


Ciuman nya yang awal nya teratur memangut bibir merah muda menggemaskan tersebut dan mencium pelan leher jenjang gadis di depan nya bahkan sudah membuka pakaian atas gadis itu namun masih mengenakan celana jeans nya.


Aroma bunga serta aroma harum seperti bayi yang terasa begitu lembut namun memabukkan indra penciuman pria tersebut.


Tangan nya turun teratur setelah puas menyentuh dada ranum yang begitu pas di genggaman nya.


Deg...


Dia sudah?


Batin saat ia merasa seperti tak memiliki penghalang sedangkan gadis yang berada di bawah kungkungan nya terlihat semakin gelisah lagi dan lagi bahkan hampir terbangun karna pengaruh obat bius yang semakin habis.


Ck! Seperti nya bocah itu sudah mengambil nya! Sial!


Decak nya kesal karna tau tak ada satupun lelaki yang memiliki kedekatan dengan gadis itu kecuali kekasih nya sendiri.

__ADS_1


Pria itu kesal karna seseorang sudah mencuri start duluan, ia juga kesal karna tak melakukan nya lebih cepat dan menyukai peran nya sebagai "Paman baik hati" bagi gadis itu.


Ia pun mulai menggigit ke arah lengkung leher gadis itu dengan kuat hingga semakin menyadarkan gadis itu dari mimpi indah nya.


"Auch!" ringis nya saat leher jenjang yang berwarna seputih susu tersebut terluka.


Ainsley membuka mata nya perlahan, ia belum tersadar sepenuh nya namun ia semakin jelas merasakan sentuhan dari tangan pria yang terasa menggelitik nya.


Ia pun membelalak seketika dan langsung berusaha mendorong sekuat tenaga agar membuat pria itu segera enyah dari atas tubuh nya.


Richard pun menyadari gadis itu sudah bangun dan memberontak membuat nya langsung tersadar dan menangkap kedua tangan kecil gadis itu lalu memegang erat dalam satu tangan nya yang diletakkan ke atas kepala.


"Sial! Jangan membuat ku semakin kesal!" decak nya setelah memegang erat kedua tangan kecil tersebut.


"Pa-paman..." gumam nya lirih dengan suara gemetar walaupun pria di depan nya memakai topeng yang menutup mata nya namun ia bisa sedikit mengenal dari suara pria itu.


"Kau pikir aku paman mu?" gertak Richard langsung yang membuat gadis itu terbungkam.


Bukan! Bukan paman! Paman bukan orang jahat!


Batin yang yang segera membuat kepercayaan lain. "Pa-paman dimana?" tanya nya bergetar dengan mata yang berkaca karna hampir tak dapat menahan tangisan nya.


"Di mana yah? Mungkin sudah mati?" jawab pria itu enteng dengan seringai nya.


Deg...


Walaupun Ainsley merasa suara kedua pria itu mirip karna sudah mengenal suara paman nya namun ia merasa yakin jika si dosen baru yang menjadi paman nya adalah orang yang baik.


"Bohong!" teriak nya tiba-tiba dan semakin berusaha memberontak.


Walaupun ia sangat kesal karna gadis itu tak lagi murni seperti keinginan nya namun bukan berarti minat nya untuk memiliki tubuh gadis itu tak ada sama sekali.


"Gak mau! Lepas!" teriak nya dengan suara serak sedangkan pria itu yang awal nya hanya mere*mas ringan dada ranum nya mulai mere*mas kasar hingga membuat Ainsley meringis.


"Lagi pula pacarmu tak akan tau kan? Kau tak mau mencoba nya? Dengan pria lain? Bekas nya akan hilang dalam 2 atau 3 hari kecuali yang gigitan." ucap Richard enteng dan tersenyum saat melihat lelehan air mata gadis itu.


"Kenapa aku di bawa lagi? Aku tak akan bilang apapun yang ku lihat di hutan..." ucap nya sendu dengan lelehan air mata.


Ia mengingat topeng yang sama dan di kamar yang sama seperti sebelum nya. Tubuh nya bergetar dengan hebat merasakan takut dan perasaan dejavu seperti sebelum nya.


Tak ada jawaban dan hanya ada senyuman simpul di wajah pria itu, tak tau apa yang ada di pikiran namun pria itu begitu menikmati tangisan dan rasa takut gadis di depan nya sama seperti saat ia dulu terus mengancam menggunakan video asusila yang ia lakukan.


"Mungkin pacar mu juga sedang bersama wanita lain, sekarang?" pancing pria itu lagi.


"Bukan! Sean bukan orang seperti itu!" bantah nya yang terus memberontak dengan sekuat tenaga.


Deg...


Gadis itu tersentak ia merasakan panas dan perih di suatu tempat yang tak ingin ia jelaskan.


Ukh!


Pekik nya menahan sakit, walaupun pria itu sudah melakukan nya sebelum sadar namun ia tiba-tiba melakukan hal yang kembali menyakiti gadis itu.

__ADS_1


"Kalau kau berusaha melawan, ini akan semakin menyakitkan..." bisik Richard lagi saat melihat wajah meringis gadis itu.


Ainsley menerjap takut, ia kembali ingat dengan rasa sakit yang begitu asing saat kekasih nya mengambil pengalaman pertama nya, dan ia juga belum siap sama sekali untuk merasakan rasa sakit itu lagi.


"Be-berhenti!" ucap nya dengan berusaha mencegah saat pria itu melepaskan tangan nya namun kini berusaha melepaskan celana jeans yang ia kenakan.


Tubuh nya bergerak memberontak tak ingin pria itu mengambil kain yang melekat pada nya.


Richard tak bersuara ia hanya tersenyum dan kembali menatap wajah takut gadis itu, rasa halus dan harum yang ia rasakan bersamaan.


"Kau sama sekali tak mau? Sudah ku bilang akan menyakitkan, kan?" tanya Richard saat ia merasa gadis itu tak menunjukkan hasrat nya sama sekali.


Ia tau dari tangan nya yang tak mudah menyentuh namun ia sudah tak peduli lagi rasa ingin, kesal sudah bercampur pada diri nya.


"He-hentikan...


Sa-sakit..." tangis nya memohon agar pria itu mengehentikan tangan kasar nya.


Perih, ngilu dan sakit secara bersamaan yang ia rasakan begitu menyiksa nya apalagi ia yang masih belum terbiasa dengan rasa sakit seperti ini. Rasa sakit yang berbeda dari pukulan ataupun cambukan yang biasa ia terima.


Tenaga nya terasa terkuras banyak, hingga pemberontakan nya semakin kehilangan tenaga namun tangisan nya terdengar begitu pilu.


Dia seperti nya jarang melakukan nya...


Pria itu bisa tau dari apa yang baru ia rasakan sendiri.


Ia pun beranjak dan segera membuka pakaian nya, menampilkan otot perut dan tubuh nya yang mempesona.


Ainsley yang tersadar jika pria itu berhenti menjamah tubuh nya sesaat menatap ke arah pria yang membuka pakaian nya, mata nya mengarah ke balkon dan langsung berusaha sekuat tenaga membalut tubuh polos nya dengan selimut dan berlari ke arah balkon.


"Kau mau loncat? Hm? Ini lantai empat." ucap Richard yang kecolongan karna gadis itu bisa berlari ke balkon dan ia juga lupa mengunci pintu balkon tersebut.


Tak ada jawaban hanya tatapan yang takut yang berusaha mempertahankan harga diri nya yang ada di mata gadis itu saat ini.


Richard pun menatap tajam dan mulai menekan chip yang berada di nakas dekat ranjang lalu menghubungi bawahan nya. "Seseorang akan jatuh, siapkan sesuatu agar dia tak mati." ucap nya singkat dengan suara pelan.


Ia sengaja berjaga-jaga jika seandainya gadis itu lompat pun para bawahan nya sudah menyiapkan sesuatu agar gadis itu tak mati.


"Kau mati tanpa pakaian? Hanya mengenakan selimut?" tanya Richard sembari mengenakan mantel tidur nya.


"Aku tak mau mati...


Aku mau bebas..." ucap gadis itu dengan lelehan air mata nya.


Ia tau jika Sean mengetahui ia melakukan hal itu dengan pria lain maka ia akan di tinggalkan, gadis itu tak mau kehilangan satu-satu orang yang ia miliki.


"Kalau begitu kau bisa lompat saja, kalau kau memang berani." ucap Richard dengan senyuman di bibir nya.


"Kalau begitu kau harus lepaskan paman juga..." ucap nya sekilas dan lalu menutup mata nya.


Ia memberatkan tubuh nya dan langsung menjatuhkan dirinya nya.


Deg...

__ADS_1


Richard terkejut, ia tak menyangka gadis itu benar-benar menjatuhkan dirinya sendiri, ia pun tanpa sadar berusaha meraih tangan gadis itu dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan?" teriak nya dengan berusaha meraih tangan kecil gadis itu.


__ADS_2