
Pagi menerjap datang, cahaya mentari yang mulai datang menebarkan cahaya yang hangat hingga membuat tidur seseorang terganggu.
Ainsley membuka mata nya perlahan, pria yang semalam sangat marah pada nya kini tak ada di sebelah nya.
Namun tubuh nya sudah memakai piyama tidur nya beserta dengan kaki nya yang sudah di perban dan di pakaikan gips.
Entah kapan ia di obati namun ia sama sekali tak merasakan nya dan saat terbangun pagi yang tenang itu sudah datang.
"Dia pergi?" gumam nya mengernyit saat melihat kaki nya yang berada di balik selimut.
"Eh?" Ainsley tersadar jika di jemari nya saat ini terdapat sebuah benda yang kemarin siang ia beli bersama dengan Gio.
"Cincin?" tanya nya lirih.
Ia melihat pasangan cincin itu sudah terpasang di jemari nya hanya saja sang suami yang tak ada.
Mata nya menoleh pada benda yang terlihat imut dengan bentuk anak panda, "Apa ini?" gumam nya sembari mengambil dan tanpa sadar menekan perut nya.
Tak lama kemudian dua pelayan pun datang ke kamar nya, "Ada yang nyonya butuhkan?" tanya dua pelayan tersebut dengan hormat.
"Apa? Kenapa kalian ke sini?" tanya nya mengernyit.
"Jika membutuhkan sesuatu, nyonya bisa menekan perut panda nya, kami akan segera datang." jawab nya sembari menunduk.
Ainsley melihat nya, ia baru sadar jika mungkin pria itu sengaja memberikan nya karna tau kaki nya tak bisa di gunakan berjalan.
"Dia kemana?" tanya nya setelah diam sesaat.
"Tuan besar maksud nyonya?" tanya pelayan tersebut memastikan.
"Hm,"
"Tuan tadi pergi karna ada urusan, tapi kurang tau tuan pergi kemana." jawab pelayan tersebut.
"Baik, tidak ada yang ku butuhkan kalian bisa keluar?" jawab Ainsley sekali lagi.
"Nyonya tidak sarapan? Atau kami perlu siapkan air mandi nya?" tanya salah satu dari mereka.
"Tidak, kalau kalian bisa menghubungi dia, minta dia cepat kembali saja." jawab Ainsley sembari kembali menidurkan tubuh nya.
......................
Sementara itu.
Wajah babak belur dengan pelipis dan sudut bibir yang mengeluarkan darah membuat tenaga pria itu habis.
"Gila!" ucap Gio saat seluruh wajah nya sudah habis di pukuli sedangkan pria yang memukuli nya tak terluka sedikitpun.
"Padahal kau tidak ada apa-apa nya berani sekali mendekati nya?" gumam pria itu sembari melepaskan tarikan kerah nya.
Gio mengusap darah dari bibir nya, ia hanya tau pria yang semalam mengambil wanita yang membuat nya jatuh hati adalah pria yang sama dengan yang memukuli nya saat ini.
"Masuk ke rumah orang lain tanpa izin adalah pelanggaran!" ucap nya sembari melihat pria yang berjalan santai melihat isi rumah nya.
"Kau juga berusaha mencuri milik orang lain tanpa izin juga pelanggaran," jawab Richard sembari berjalan dan melihat bahkan membongkar barang yang menurut nya menarik.
"Memang nya apa yang mau ku curi dari mu ha?!" tanya Gio dengan kesal.
"Istri ku," jawab Richard datar sembari mata nya menangkap sesuatu.
Ia pun mengambil benda berkilau itu, "Kenapa bisa dengan mu?"
Gio melihat cincin yang sebelum nya ia ambil dan ia sembunyikan lalu di simpan nya.
"Memang nya kenapa?" tanya pria itu tersenyum miring.
"Katanya orang yang akan mati bisa punya keberanian lebih, apa kau salah satu nya?" tanya Richard yang mentertawakan senyuman pria itu.
"Aku mendapatkan nya dari teman ku, dia bilang itu bukan cincin yang berharga!" jawab nya yang tak ingin memberitahukan apa yang terjadi pada hari itu.
Richard mengepalkan tangan nya dengan emosi mendengar nya, wajah wanita yang tadi malam melihat nya dengan takut dan tatapan mata yang tak membuat nya lupa.
"Jangan berbohong dengan ku!" ucap nya dengan geram sembari datang dan mencengkram kera pria itu lagi.
Gio tersenyum, "Kenapa? Kau takut dia pergi? Memang nya siapa yang mau punya suami seperti mu?" tanya nya membuat pria itu semakin berang.
Bugh!
Satu pukulan kuat lagi mengenai pria yang sudah terluka itu hingga terjatuh, yah bagi Richard pria itu bukan apa-apa untuk nya.
Karna hanya ada tiga orang yang bisa menggoyahkan nya, yang pertama sang aya yang menjadikan nya Monster pembunuh lalu setelah itu mantan kekasih istri nya dan tangan kanan nya.
"Kau pikir dia akan suka dengan mu?! Sekali lihat saja aku sudah tau kalau dia hanya takut dengan mu! Bukan menyukai mu!" ucap nya lagi dengan kesal.
Walaupun ia kalah di tenaga namun ia tak kalah di suara.
Richard semakin geram rasanya ia sudah begitu ingin menghancurkan mulut pria itu sekarang juga.
"Kau tidak akan mendapatkan hati nya," sambung Gio lagi.
__ADS_1
Deg!
Richard tersentak, bagi nya itu bukan lah kalimat asing karna sebelumnya ia juga pernah mendengar nya.
Kau hanya memiliki tubuh nya tanpa hati nya, kau yakin cukup puas dengan itu?
"Kau pikir kau siapa berani mengatakan nya?!" tanya pria itu dengan geram karna teringat perkataan yang membuat emosi nya meluap.
Pria itu memejam, ia mengatur napas dan emosi nya sembari melihat jam di tangan nya.
Ia sudah mengatur jam nya untuk menghabisi pria itu selama waktu satu jam karna ia akan melakukan hal lain.
"Waktu mu sudah habis, ada kata-kata terakhir?" tanya pria itu sembari mengeluarkan pistol dari saku nya.
Gio mengernyit dan mata nya membulat sempurna saat ia melihat senjata api tersebut.
Ia hanya berpikir jika pria itu memiliki kecemburuan penuh seperti orang lain nya dan hanya ingin memukuli nya saja untuk membuat nya jera.
"Jika selamat sebaiknya kita tidak bertemu lagi dan jika kau mati tubuh mu akan di tanam di Lima tempat berbeda," ucap nya tersenyum sembari menarik pelatuk nya.
Pria itu pun segara ingin berbalik dan lari secepat mungkin, namun
DOR!!!
Suara senjata api yang kuat itu telah terdengar dengan nyaring, bukan bagian tubuh yang lain namun pria itu mengincar daerah yang dekat dengan jantung.
Suara jeritan yang mengiringi suara keras itu beradu dengan suara jeritan saat peluru tersebut mengenai tubuh pria itu.
Bruk!
Tubuh pria itu langsung ambruk ke lantai, cairan merah kental itu mulai mengalir keluar memenuhi lantai tersebut.
"Good luck," ucap Richard dengan tersenyum saat melihat pria itu sudah jatuh.
......................
Hotel
Aula yang besar dengan para tamu yang datang untuk memeriahkan acara tersebut.
Senyuman puas terulas di bibir wanita itu dengan bangga karna rencana nya sudah berhasil.
Acara pertunangan nya sudah di langsungkan dan membuat nya seakan sudah menang.
Sedangkan pria yang akan bertunangan dengan nya hanya tersenyum sembari melihat wajah yang akan ia hancurkan senyum nya.
"Kau senang?" tanya Sean sembari mendekat ke arah wanita itu.
Tak lama kemudian acara pun di mulai, kata sambutan beserta tampilan layar yang menunjukkan kata-kata dan alunan musik nya, terlihat beberapa gambar yang menampilkan kecantikan wanita itu.
"Aku punya hadiah untuk mu," bisik nya sembari meraih pinggang Marilyn.
Marilyn tampak bersemu mendengar nya, foto yang menampilkan betapa cantik nya dirinya terlihat dan membuat semua orang terkagum.
Namun perlahan foto-foto yang hanya menampilkan kecantikan yang membuat terkagum kini mulai berubah dengan foto yang diambil dari jauh saat wanita itu bermesraan dengan pria lain.
"Itu wanita yang sama kan?"
Suara yang mulai terdengar dari para tamu yang datang, ayah Marilyn mulai mendelik melihat nya, ia tau putri nya berhubungan dengan pria lain namun Marilyn mengaku sudah memutuskan nya.
"Tunggu! Ini tidak seper-"
"Lihat yang ada di ponsel mu," ucap Sean pada ayah wanita itu itu yang ingin membela putri nya yang salah.
Satu berkas tentang sebuah informasi terlihat di layar ponsel pria itu.
"Pertunangan hari ini di batalkan karna seperti nya pasangan saya sudah selingkuh, saya mohon maaf untuk para tamu yang sudah datang," ucap Sean setelah memukul gelas wine nya dengan sendok.
"Tidak bisa! Aku kan sedang ha-"
"Kau tanya coba ayah mu itu, atau kau mau aku mengirimkan nya pada semua orang?" potong Sean dengan segera.
Marilyn mengernyit ia tak mengerti apa maksud nya, namun ia bisa tau dengan jelas jika sang ayah begitu marah pada nya.
Sedangkan Daniel tersentak dan masih membatu karna terkejut melihat data di ponsel nya.
Sean mengirimkan tanggal dan waktu ia menjalani vasektomi pada sang ayah dan calon ayah mertua nya yang sudah gagal malam ini ke ponsel mereka.
Awal nya ia berniat mengirimkan nya ke semua orang namun ia memilih enggan tak melakukan nya karna masih menyangkut nama nya.
"Sekarang anda sudah lihat kan? Bagaimana wanita pilihan anda?" tanya Sean saat melewati sang ayah.
Dan beranjak pergi, ia masih belum berencana menikah dengan wanita lain, karna jujur saja ia belum menyiapkan hati nya untuk hal itu.
Membenci?
Ia tak membenci sama sekali wanita yang membuat nya jatuh cinta dan membuat nya berdebar lalu pergi dengan pria lain, karna ia juga yang melepaskan nya lebih dulu.
Baginya ia terlalu mencintai wanita itu sampai tak bisa membenci nya. Walaupun dengan cara yang salah dulu nya.
__ADS_1
......................
Mansion Zinchanko
Richard memilih tak ke kamar nya, ia lebih memilih untuk membersihkan dirinya lebih dulu dari semua aroma anyir darah.
"Apa yang dia lakukan?" tanya nya pada pelayan.
"Nyonya belum makan apapun sejak pagi dia hanya diam saja di kamar, kami juga sudah berusaha membujuk nya." jawab pelayan tersebut.
Liam pun datang tak lama setelah nya sembari menyerahkan beberapa berkas di tangan pria itu.
Richard membawa nya dan ke kamar setelah itu.
"Kenapa belum makan?" tanya nya saat memasuki kamar nya.
Ainsley menoleh melihat nya, pria yang sejak pagi tak menunjukkan bayangan nya kini terlihat di mata nya.
"Kau juga tidak bermain dengan Axel?" tanya Richard lagi sembari mendekat.
"Kemungkinan 30% aku akan lumpuh, kau sudah dengar itu?" tanya nya sembari tak memandang wajah sang suami nya.
"Hanya 30%? Padahal ku harap kau tidak bisa berjalan lagi dengan begitu kau tidak akan lari kan?" tanya Richard sembari mendekat dan duduk di depan nya.
"Tanda tangani ini," ucap nya sembari memberikan berkas nya.
Ainsley mengernyit ia pun mengambil dan membuka berkas tersebut.
"Surat pemindahan kekuasaan?" gumam nya sembari membaca nya.
"Aku sudah mengurusnya, aku tidak berniat mengambil harta mu aku hanya mau hak otoritas mu saja," ucap Richard dengan senyum nya.
"Kenapa?" Ainsley tak bisa menemukan alasan mengapa pria itu menginginkan nya.
"Karna aku tidak mau kau bekerja lagi dan akhirnya menemukan pria seperti cung*nguk itu!" ucap nya berdecak.
"Aku tidak selingkuh..." jawab Ainsley lirih.
"Kalau begitu tanda tangani, lagi pula kau juga perlu memperhatikan Axel kan? Dia masih kecil!" ucap nya sembari mengungkit kelemahan wanita cantik itu.
"Aku tidak akan mengambil harta mu, kau tetap memiliki semuanya hanya saja aku yang mengurus nya," ucap Richard lagi.
"Lalu alasan nya? Harus ada alasan pasti kenapa aku tiba-tiba mengalihkan nya kan?!" tanya Ainsley lagi.
"Kau kan sedang sakit? Iya kan?" tanya Richard yang seakan memaksa jawaban wanita itu.
Ainsley tersentak melihat tatapan yang sama seperti pria yang hampir melemparkan air keras pada nya, ia pun mulai mengambil pulpen nya dan menandatangi nya setelah itu memberikan cap tangan nya.
"Kalau begitu bisa berjanji satu hal pada ku?" tanya nya setelah memberikan cap nya.
"Apa itu?"
"Jangan menyakiti ku, kalau kau terus melakukan nya mungkin aku akan sulit untuk mencintaimu," ucap nya lirih sembari memandang dengan penuh mata yang kuat pada pria itu.
Deg!
Richard kembali tersentak ia seakan ingat dengan ucapan yang mengatakan nya jika ia tak akan memiliki hati wanita itu.
"Lalu bagaimana cara nya agar kau mencintaiku?" tanya nya lagi.
"Cintai aku bukan miliki aku," jawab Ainsley singkat.
"Lalu kau pikir aku sampai seperti ini karna bukan mencintai mu?!" tanya Richard yang kesal.
"Kenapa kau sangat ingin memiliki ku?" tanya nya lagi.
"Karna hanya kau," jawab pria itu lirih.
"Maksud nya?" tanya Ainsley yang tak mengerti.
"Aku tidak pernah memiliki seseorang, kalau benda aku bisa membeli nya lalu hewan aku bisa mengurung nya lalu kalau manusia?" tanya pria itu dengan bingung.
"Tapi aku itu tid-"
"Kau, Axel kalian yang pertama, kalian yang pertama ku miliki aku mungkin sedikit berlebihan," potong nya langsung.
"Kau punya obsesi dengan keluarga bahagia? Dengan seseorang yang kau pikir bisa melengkapi keinginan tersembunyi mu?!" tanya Ainsley lagi.
"Keluarga bahagia? Aku saja tak pernah memikirkan nya," ucap Richard tertawa mendengar nya.
Keluarga? Ia saja tak pernah memanggil wanita yang melahirkan nya dengan sebutan 'Ibu' dan saat ayah nya mengambil nya pun ia tak bisa bisa memanggil pria itu sebagai ayah nya dengan leluasa walaupun sudah terbukti jika ia memang putra biologis nya karna semenjak ia berumur 15 tahun ia sudah memanggil pria itu sebagai 'Tuan'
"Kau bilang aku terobsesi pada mu kan?" sambung nya.
"Bukan nya seperti itu?" tanya Ainsley lagi.
"Kalau begitu ajari aku," ucap nya lagi.
"Ajari apa?" tanya Ainsley lagi.
__ADS_1
"Ajari bagaimana cara ku mencintai mu," jawab pria itu sembari mendekat.
"Aku ingin mendapatkan hati mu, bukan hanya tubuh mu." bisik nya mendekat.