
Satu harian Ainsley menunggu di dan hanya melihat ke arah pintu tersebut, tak beranjak sedikit pun tak makan atau pun kemanapun. Mata nya hanya memandang ke arah pintu yang sedang tertutup rapat di depan nya.
Dingin.... Sunyi.... Takut....
Ainsley merasakan dingin nya lantai yang ia duduki, ia hanya berharap jika Sean datang lagi padanya.
......................
Pukul 08.45 AM
Sudah satu hari satu malam Ainsley menunggu di tempat yang sama, pandangan nya menatap sayu melihat ke arah pintu tersebut, hingga ia mendengar suara sandi yang terbuka dari luar.
Senyum mulai mengembang di wajah Ainsley ia berpikir jika Sean yang datang, ia berpikir jika pria yang sangat ia cintai datang lagi. Namun...
"Mamah?" ucap Ainsley lirih melihat sang ibu yang mendatanginya.
Fanny menatap tajam ke arah putrinya yang terduduk di lantai dengan wajah pucat.
"Kenapa duduk disitu? Bangun! Mamah akan tanya materi yang sudah kau pelajari! Sebentar lagi ujian kan?" tanya Fanny dan berlalu mengambil salah satu buku pembelajaran Ainsley.
Ainsley tersentak, masalah ancaman video dan Sean yang meninggalkan nya masih memenuhi kepala kecilnya, ia bahkan lupa dengan semua yang ia pelajari dari pembelajaran nya.
Fanny kembali dari kamar Ainsley dan melihat putrinya yang masih terduduk di lantai.
"Auch! Sakit mah...." pekik Ainsley saat Fanny tiba-tiba menarik rambutnya dan menyeret tubuh lemahnya.
"Makanya kalau di bilang bangun yah bangun!" bentak Fanny pada gadis cantik itu sembari menyeret Ainsley agar segera bangun.
"Berdiri di situ!" titah Fanny sembari melepaskan tarikan rambutnya.
Ia pun duduk di sofa ruang tengah apart Ainsley sembari membuka buku pembelajaran putrinya, sedangkan Ainsley berdiri ketakutan dan saling menautkan jemarinya di depan sang ibu.
"Kau tak belajar?" tanya Fanny mengernyitkan dahi nya ketika melihat buku Ainsley yang bersih dengan catatan kaki yang sedikit.
"Be-belajar mah...." jawab Ainsley gugup.
Fanny pun mulai membuka buku pembelajaran Ainsley dan melihat beberapa lagi, tangan nya mulai mengambil kertas yang berisi kisi-kisi tentang ujian putrinya, ia mendapat kisi-kisi tersebut dari guru les profesional yang benar-benar handal dan memprediksi soal ujian.
"Kau menolak guru les yang ku kirimkan pada mu kan? Guru piano juga..." tanya Fanny dingin.
Ainsley terdiam, ia menolak semua guru privat yang di kirimkan Fanny karna masih takut dengan orang asing.
"Maaf mah..." jawab Ainsley lirih.
"Ckk, yasudahlah yang penting kau bisa menjawab pertanyaan ku! Aku tak mau mendengar jawaban bodoh mu!" ucap Fanny ketus.
Ia pun mulai menanyakan soal yang ia bawa pada putrinya. Ainsley gugup ia sama sekali bingung dan tak tau harus menjawab apa pertanyaan ibunya, begitu banyak masalah yang menghampiri nya membuatnya lupa akan pembelajaran nya.
"Kenapa diam? Kau tak tau jawaban nya?" tanya Fanny sembari menatap tajam ke arah putrinya.
"Ta-tau mah...." jawab Ainsley lirih, ia pun mulai berpikir sejenak dan menjawab pertanyaan ibunya.
Fanny mengernyitkan dahinya ketika mendengar jawaban Ainsley yang salah, ia pun mengganti soal dan soal kedua Ainsley juga menjawab yang salah.
Fanny tak bisa menahan rasa kesalnya lagi pada putri yang selalu ia anggap sebagai pembawa sial di kehidupan nya. Fanny pun mulai berdiri dan membawa buku pembelajaran Ainsley yang sangat tebal dengan beratus-ratus halaman.
BUK!!!
Satu pukulan keras dengan buku yang begitu tebal mendarat di kepala Ainsley hingga membuat gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh.
"Berdiri! Jangan jatuh!" ucap Fanny dingin, ia pun mulai memukul kepala putrinya dengan buku tebal itu lagi.
BUK!! BUK!! BUK!!
"Maaf mah...
Sakit..." ringis Ainsley sembari berusaha melindungi kepala nya dari pukulan sang ibu, ia hampir terjatuh berulang kali, namun selalu berdiri lagi karna takut jika ibu nya semakin marah dan memukulinya.
"Makanya belajar! Kalau punya otak bodoh yah harus usaha! Jangan sok pintar menolak semua guru yang ku kirim! Sekarang apa?! Dasar bodoh! Pembawa Sial!" maki Fanny sembari terus memukul kepala putri dengan buku tebal tersebut.
Ainsley hanya mengatakan kata maaf dalam tangis nya, rasa nya sakit, hati dan fisik nya terasa begitu sakit, kalau ia benar-benar tak diinginkan kenapa harus di lahirkan?
__ADS_1
Semua penderitaan datang secara bersamaan pada nya.
Lelah...
Rasa tidak sanggup lagi....
Setelah puas memukul kepala putrinya berulang kali Fanny menghentikan tangan nya dan menatap Ainsley yang masih menangis tersedu dengan masih melindungi kepala nya menggunakan lengan tangan kecilnya.
"Ckk, memukul mu saja juga membuat kesal! Aduh tangan ku terasa pegal..." ucap Fanny tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Maaf mah...." ucap Ainsley lirih pada ibunya, ia memang sudah terbiasa meminta maaf pada hal yang bukan salahnya.
Fanny melihat beberapa memar di wajah dan tangan Ainsley karna pukulan nya barusan, namun ia tak merasa bersalah, ia masih memikirkan rasa kesal dan kebencian nya pada Ainsley.
"Sudah! Jangan cengeng! Mainkan piano mu!" ucap Fanny ketus pada Ainsley.
Ainsley pun mulai berjalan ke arah pianonya dan memainkan setiap tuts dari melodi yang akan ia konser kan.
Plak!
"Salah! Kenapa bodoh sekali si?" maki Fanny sembari memukul bagian belakang kepala Ainsley yang sedang duduk di kursi piano nya.
"Mah...
I-ini kan lagu yang baru mamah kasih...
Pakai yang sebelum nya saja yah mah...
Ainsley ga bisa belajar secepat itu mah..." jawab Ainsley lirih dengan mengumpulkan semua keberanian nya.
"Akh!" pekik Ainsley saat ibunya tiba-tiba menjambak kuat rambut nya hingga membuat wajah nya mengandah pada sang ibu.
Plak!
Fanny menampar keras ke wajah putrinya, ia merasa semakin kesal saat Ainsley tak mengikuti perintahnya.
"Anak gak tau diri! Mau ngatur orang tua?! Iya?!" maki Fanny dan semakin membuat Ainsley hancur, setelah menampar ia pun melepaskan jambakannya di rambut panjang putrinya.
"Dasar anak bodoh! Otak mu ini isinya apa? Ha? Kau memang seharusnya tak pernah lahir!" ucap Fanny sembari menunjuk dan membodohkan kepala Ainsley den jari telunjuknya.
"Satu minggu lagi aku akan datang, aku tak mau tau kau harus bisa mengejar semua ketertinggalan mu!" ucap Fanny yang sudah lelah marah-marah dan ingin beranjak dari Ainsley.
"Mah...
Ainsley salah apa sih mah?" tanya Ainsley lirih dengan bulir bening yang mengalir ke mata nya.
Fanny pun berbalik dan melihat Ainsley yang menatapnya dengan penuh sendu.
"Kau mau tau salah mu apa? Kau hidup saja sudah sebuah kesalahan! Kalau kau tak pernah ada, aku tak akan terjebak dengan ayah mu yang brengsek itu! Kau itu sumber penderitaan ku!" ucap Fanny yang begitu menyakitkan bagi gadis malang itu.
Setelah mengatakan hal tersebut pun Fanny pergi dari apart Ainsley meninggalkan gadis malang itu sendirian di apartnya.
Ainsley terdiam beberapa saat, ia tak tau bagaimana lagi harus apa. Kenapa semua orang melakukan hal ini padanya?
Ibu yang tak pernah menginginkannya...
Ayah yang selalu bersikap tak acuh dan dingin dengan nya, bahkan terkesan tak peduli...
Pria yang ia cintai, satu-satu nya orang yang mengakui keberadaan pun kini meninggalkan nya...
Trauma dan ancaman dari pria yang menculiknya terus menghantuinya...
Ainsley menatap kosong pada tuts pianonya.
Rasanya begitu sesak saat semua orang menyakitinya begitu dalam.
"Aku salah apa? Apa hidup juga kejahatan? Apa kalau aku mati semua bisa bahagia?" ucap Ainsley lirih dengan tanpa ekspresi namun menjatuhkan bulir bening ujung matanya.
Ia benar-benar lelah akan segalanya, rasa nya tak sanggup lagi untuk menahan penderitaan yang datang padanya secara bertubi.
Ainsley mulai berjalan dengan tatapan kosong, ia membuka ponsel nya menatap nanar ke arah layar tersebut. Ia melihat sebagian pesan ancaman yang dikirim oleh Richard.
__ADS_1
Namun kini ia tak memperdulikan pesan itu, ia mengetik nomor Sean dan mulai menelpon Sean. Saat ini Sean seperti harapan terakhirnya.
Tut...tut...tut...
The number you are calling is busy, please call in a few moments.
Tak ada panggilan yang terjawab satu pun dari Sean walaupun Ainsley sudah menghubungi beberapa kali.
"Sean...
Ku mohon..." ucap Ainsley lirih sembari menjatuhkan bening nya dengan penuh pengharapan.
Ainsley sudah berhenti menelpon Sean harapan jatuh, ia rasanya sudah benar-benar sendirian. Mata melihat ke arah pantulan cermin di depan nya.
"Aku kotor yah Sean?
Maaf..." ucap Ainsley lirih ketika melihat dirinya sendiri.
Drrttt....drttt...
Ponsel nya bergetar dalam genggaman tangan kecilnya, terbesit harapan jika itu panggilan dari pria nya, namun tidak! Panggilan telpon dari pria yang membuat hidup nya berantakan lah yang menelpon nya.
Ainsley menjawab panggilan tersebut entah kenapa sekarang rasanya adalah puncak dari emosi tertahan nya.
"Kau menjawab panggilan ku? Bagaimana kabar mu? Aku sangat merindukan mu...
Rasa nya belum puas bermain dengan mu..." ucap Richard dari telpon.
"Bisakah berhenti mengancam ku? Apa yang kau inginkan? Aku salah apa? Kenapa kau tak berhenti mengganggu ku?" tanya Ainsley lirih dengan suara tertahan.
"Aku akan berhenti mengancam mu, tapi sebagai gantinya aku akan menemui secara langsung....
Kalau kau jadi mainan yang penurut aku akan berhenti mengganggu mu..." jawab Richard enteng dari telpon.
Ainsley memejamkan mata nya sembari semakin menjatuhkan bulir beningnya. Ia menutup ponselnya seketika, mematikan panggilan nya dari pria brengsek yang terus mengganggunya.
"Sepertinya ini memang kesalahan ku...
Kalau aku tak pernah ada Sean tak akan kecewa...
Mamah juga tak akan menderita...
Kalau aku pergi semua akan bahagia kan?" ucap Ainsley lirih ia mulai mengambil silet tajam dari laci nya.
Pikiran nya mulai kosong, rasanya seperti hambar, ia seperti tak menyadari apa yang ia lakukan.
Sreg....
Tes.... tes... tes...
Satu goresan yang dalam mulai melukai pergelangan tangannya, tak hanya satu Ainsley pun mulai menggores lagi dan lagi.
Tubuhnya terasa hambar dengan rasa sakitnya, ia terjatuh ke lantai yang dingin dengan tangan yang berlumuran darah, mata nya menatap kosong dengan pandangan yang semakin mengabur, bulir bening tetap terjatuh satu persatu dari manik bening nya.
Sean maaf...
Mamah maaf....
Maaf atas segala, Ainsley salah...
Ainsley udah buat semua nya menderita...
Ainsley minta maaf...
...****************...
Sedih banget sih kamu mbak Ainsley😭😭🤧🤧
Kamu yang korban tapi malah merasa jadi pelaku🤧🤧😭😭
Jangan lupa like komen vote fav rate 5 dan dukung othor yah🥰🥰❤️❤️
__ADS_1
Happy Reading❤️❤️