Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
See you in the next life


__ADS_3

Wajah yang tersenyum polos itu kembali dengan menggandeng tangan sang ayah, ia kembali menatap ayah nya dan melihat nya dengan tatapan penuh mata bulat nya.


"Mata Daddy ke masukkan debu lagi?" tanya nya pada sang ayah.


Ketika berada di taman bermain ia melihat mata ayah nya yang memerah tentu membuat nya mengira pria itu menangis namun Richard langsung membantah dan mengatakan jika mata nya ke masukkan debu.


Richard menggeleng mendengar pertanyaan putra nya, ia pun mengangkat tubuh kecil yang ringan itu dan masih memegang boneka yang besar nya sama dengan tubuh nya.


"Dad, mau ke kamal Mommy! Mau kasih boneka!" ucap nya tersenyum pada sang ayah.


Richard dengan senyuman nya pun mengiyakan permintaan putra nya, ia menggendong putra nya hingga ke kamar sang istri.


"Kenapa boneka kelinci nya mirip Mommy?" tanya nya pada Axel ketika anak itu terlihat senang sembari mengelus boneka berwarna putih itu.


"Kan Daddy seling bilang kalau Mommy itu milip kelinci, telus kan kelinci itu cantik! Imut lagi! Kayak Mommy!" celoteh nya pada sang ayah.


Pria itu hanya tersenyum sembari mencium pipi putra yang hanya terfokus pada kelinci nya.


Axel yang tak mengetahui apapun mulai merasa tenang, dalam pikiran kecil nya saat ini adalah sang ibu yang akan segera bangun dan sang ayah yang akan kembali membawa adik nya.


"Dad?" panggil nya.


"Yes, Love?" jawab pria itu sembari terus menggendong putra kesayangan nya ke kamar rawat istri nya.


"Adik Axel itu pelempuan atau laki-laki?" tanya nya pada sang ayah dengan mata penuh penasaran.


Pria itu diam sejenak, ia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan putra nya.


"Axel mau nya adik perempuan atau laki-laki?" tanya nya pada Axel.


"Axel mau adik pelempuan dulu abis itu balu adik laki-laki..." jawab anak kecil itu dengan gemas.


Richard tersenyum kecil mendengar nya, "Kalau begitu adik Axel perempuan," ucap nya pada putra nya.


Ia tak tau anak kedua nya akan terlahir sebagai perempuan atau laki-laki namun karna putra nya menginginkan dan berharap pada adik yang cantik ia pun menuruti perkataan putra kesayangan nya.


"Hihi..."


"Udah gak sabal nunggu Daddy ke langit jemput adik Axel!" ucap Axel tertawa kecil sembari memeluk sang ayah.


Senyuman pria itu terasa hambar, ia yang berbohong pada putra nya namun ia juga yang terluka.


*Maaf karena Daddy bohong yah?


Tapi Daddy tetep sayang Axel*...


Ia pun membuka pintu ruangan rawat sang istri. Mata nya langsung melihat ke layar di depan nya.


Ia memang tak mengerti apapun tentang medis namun ia tau kondisi sang istri semakin menurun.


"Mommy!" panggil Axel dengan ceria.


"Kata Daddy sebental lagi Mommy bakalan bangun! Telus Daddy juga mau ke langit jemput adik! Axel seneng banget..." ucap nya pada sang ibu yang kini tak mampu mendengar ataupun menjawab nya.


Kepala kecil nya penuh akan bayangan seperti apa kelurga nya nanti nya, punya adik bayi yang imut dan juga ayah dan ibu yang sudah kembali menemani di samping nya.


"Nanti kalau Mommy udah bangun jangan pelgi lagi yah? Jangan tinggalin Axel sama Daddy lagi..." ucap nya pada sang ayah.


"Axel? Keluar yuk sayang? Mommy mau istirahat. Axel main di luar yah?" ucap pria itu pada putra nya.


"Iya deh! Nanti Axel main sama Mommy kalau Mommy udah sadal!" ucap nya pada sang ayah.


Pria itu pun mengelus puncak kepala putra nya dan melihat ke arah sang istri.


Ia mencium sejenak kening wanita itu, "Kau akan bangun." bisik nya pada lirih agar putra nya tak mendengar apa yang ia katakan.


....


Liam menatap ke arah pria itu, wajah nya terlihat begitu lesu berbanding terbalik dengan wajah Axel yang berseri karna mengira semua kesedihan telah berakhir.


"Kau sudah siapkan dokumen ahli waris nya kan? Aku membagi nya dua bagian, Ainsley 50 persen dan Axel juga, warisan untuk Axel sementara di kelola Ainsley sampai umur 17 tahun." ucap pria itu pada Liam.


"Saya tidak buat warisan nya, jika anda mati saya akan mengambil semua harta anda!" jawab Liam pada tuan nya.


Richard hanya tersenyum tipis mendengar nya, ia pun beranjak dari duduk nya dan mengambil berkas yang di bawa oleh pria itu.


Ia membuka nya dan tersenyum, semua yang ia butuhkan sudah berada di sana.


Walaupun Liam terus mengatakan akan mengambil semua harta nya namun semua itu hanya kebohongan untuk dirinya agar tidak melakukan transplantasi jantung.


"Dan aku juga mau memberi tau mu satu hal," ucap nya pada pria itu.


"Aku tidak mau Axel hidup di jalan yang sama dengan ku, karna aku punya beberapa perusahaan aku mau dia hanya berurusan dengan dunia legal saja. Aku yakin Ainsley juga mau seperti itu." ucap Richard pada Liam.


Liam hanya diam saja mendengar nya dan Richard pun sudah berpikir jika pria itu mengerti kata-kata nya.


Perusahaan, tanah, uang tunai, serta simpanan emas yang melimpah itu kini mulai beralih menjadi hak milik istri dan putra nya.


"Apa dr. Terry mengatakan sesuatu?" tanya Richard pada pria itu.


"Tentu saja! Dia sangat menolak operasi ini!" ucap Liam seketika pada Richard.


Tentu saja sekarang dokter yang biasanya melakukan praktik legal menolak permintaan memindahkan jantung orang yang masih hidup dan sehat untuk transplantasi.


Karna selain kecocokan jantung, biasanya yang akan di lakukan transplantasi adalah orang yang mati otak ataupun baru meninggal semisal karna kecelakaan dan masih memiliki jantung yang bagus dan sempat di ambil.


"Sudah kau urus kan?" tanya nya pada pria itu.


Liam hanya diam dengan wajah ketus nya, ia memang sudah mengurus semua seperti apa yang di minta oleh tuan nya namun ia masih ingin tuan nya bersama nya.


"Oh iya, atau kau marah karna tidak dapat warisan ku?" tanya Richard tertawa kecil.


"Tuan!" ucap nya seketika saat rasa khawatir nya di jadikan candaan.


"Aku sudah mempersiapkan untuk mu," ucap pria itu pada Liam.


Memang harta warisan untuk bawahan nya itu sedikit berbeda karna ia membuat nya sudah sejak lama bahkan sebelum mengenal Ainsley.


Karna dulu ia yang hanya bersama Liam dan ia tau jika hidup dan mati nya tak bisa di tebak membuat nya mengalihkan harta warisan nya lebih dulu bahkan tanpa sepengetahuan pria itu.


Dan mulai mengubah nya ketika ia sudah menikah.


Liam melihat beberapa hak kepemilikan atas nama nya jika pria itu sudah tidak ada.


"Kapan anda membuat ini?" tanya Liam pada pria itu.


"Entahlah? 10 tahun yang lalu? Atau 14 tahu yang lalu? Aku juga sudah lupa." jawab Richard sembari juga berusaha ingat kapan ia membuat nya.

__ADS_1


"Saya hanya perlu anda tetap ada," jawab pria itu sekali lagi dengan suara berat.


Mendapatkan uang dan kekayaan secara percuma dan melimpah seperti ini ternyata tak membuat nya senang sama sekali.


Ia mulai tumbuh dengan pria itu, dan bekerja sama dalam beberapa bagian dari hidup nya.


"Kenapa kau sedih sekali? Kau tidak liha-"


"Apapun yang anda pikirkan jangan katakan dengan wajah seperti itu! Menggelikan!" Potong Liam langsung.


Richard hanya tersenyum kecil mendengar nya.


"Anda kan satu-satu nya keluarga saya..." gumam Liam beberapa saat kemudian.


Mungkin mereka memang tak memiliki hubungan darah sama sekali bahkan setetes pun tak ada darah yang mengalir sama.


Namun karna tumbuh di lingkungan keras yang sama dan juga bertahan di dunia yang sama serta saling bergantung untuk waktu yang lama membuat nya yang tak memiliki siapapun itu menganggap jika pria itu adalah keluarga nya juga.


"Bawakan apa yang ku minta kemarin," ucap Richard pada Liam.


Ia menyiapkan sesuatu untuk wanita nya dan putra nya, mungkin pesan terakhir jika operasi nya berjalan dengan lancar dan juga ia yang sudah tak ada lagi.


Liam hanya diam dan mulai beranjak tetap mengikuti perintah pria itu. Tubuh nya seperti sudah tersihir karna memang terbiasa mematuhi pria di depan nya, Ricard pun bangun dan mendekat lalu memeluk pria itu perlahan.


"Terimakasih untuk waktu nya, aku harap kau bisa punya hidup yang lebih baik." ucap pria itu.


Liam diam sejenak mendengar nya, tuan nya tak mungkin memeluk nya seperti itu.


"Seperti nya anda benar-benar akan mati, anda melalukan kebiasaan yang tidak pernah anda lakukan." ucap nya dengan suara tertahan.


Richard tak menjawab dan melepaskan pelukan nya, tentu nya berat bagi nya meninggalkan semua yang ia miliki.


Anak menggemaskan yang selalu memanggil nya dengan panggilan yang ia sukai. Serta kenyamanan hidup nya walau penuh dengan tantangan.


Namun lebih berat lagi bagi nya jika kehilangan wanita nya, wanita yang ia cintai.


....


Clarinda menatap ke arah pria yang duduk di depan nya.


"Kau benar-benar ingin melakukan nya? Aku juga tidak ingin Calesta pergi seperti ini. Tapi aku juga tidak mau Axel kehilangan kedua orang tua nya." ucap nya pada pria itu.


Richard diam dengan wajah datar nya sembari mengambil teh di depan nya dan meminum nya sedikit.


"Operasi nya akan berhasil," ucap nya saat menyeduh teh di depan nya.


"Dia tidak akan meninggalkan Axel sendiri." sambung nya pada wanita itu.


"Lalu kalau tidak?" tanya Clarinda lagi.


"Kalau tidak? Makanya aku memanggil mu sekarang, kalau operasi nya tidak berhasil aku mau kau yang mengurus Axel." ucap nya pada wanita itu.


"Tentu saja itu tidak gratis, aku akan memberi mu jaminan dan bayaran selama mengasuh Axel." ucap pria itu.


Clarinda membuang napas nya dengan pelan, "Aku tidak butuh bayaran, harta dan uang ku sudah cukup banyak untuk diri ku sendiri tapi di bandingkan itu Axel membutuhkan orang tua nya." ucap nya pada pria di depan nya.


"Dan aku butuh Ainsley, kalau dia tidak ada aku juga tidak tau apa bisa mengurus Axel atau tidak." jawab nya pada wanita itu.


"Kau tau? Yang kau lakukan sekarang itu sangat egois untuk Axel?" tanya Clarinda pada Richard.


Pria itu tersenyum getir mendengar nya, "Aku tau, sejak dulu aku memang pria yang egois. Aku hanya memikirkan tentang diri ku saja."


...


Semua persiapan sudah selesai di lakukan kini hanya tinggal melakukan operasi pengangkatan pada kedua nya.


Pria itu kembali menemui putra nya, rasa nya ia ingin memeluk lebih lama lagi dan mencium lebih banyak lagi.


"Daddy? Kenapa pakai baju bilu kayak Mommy?" tanya Axel dengan polos.


Ia merasakan suasana yang berbeda dari sekitar nya. Paman Liam nya yang menatap nya dengan tatapan yang tak bisa di artikan dan sang nenek kesayangan yang juga sama.


"Iyah, kan Daddy mau jemput adik Axel..." jawab pria itu dengan suara serak sembari mulai merangkul putra nya.


Mengelus punggung nya dengan lembut dan menciumi pipi nya terus menerus.


"Grandma? Grandma kok nangis? Seneng dong halus nya, kan Daddy mau ke langit jemput adik Axel?" ucap nya pada sang nenek.


Clarinda menghapus air mata nya dan tersenyum lalu mengusap puncak kepala cucu nya menggemaskan.


"Grandma gak nangis kok, Grandma lagi pilek aja sayang..." ucap Clarinda pada Axel sembari memberikan senyum nya.


"Daddy? Daddy juga kenapa nangis?" tanya Axel dengan tatapan polos nya yang tak tau apapun.


Ia melihat mata sang ayah yang memerah dan raut wajah nya terlihat sendu walaupun tersenyum.


"Engga tuh! Masa Daddy nya Axel nangis?" ucap nya sembari melihat ke arah putra nya dan semakin melebarkan senyuman nya.


"Daddy lagi sedih yah? Kan bental lagi Mommy bangun? Kenapa Daddy sedih?" tanya nya dengan polos pada sang ayah.


Pria itu hanya tersenyum sembari melihat wajah polos putra nya yang tau tau apapun itu.


Muach!


Ciuman kecil di pipi nya membuat Richard bergetar, tangan kecil serta pelukan mungil di tubuh tegap nya membuat nya ingin runtuh seketika.


"Daddy jangan sedih, nanti Axel juga sedih..." ucap nya setelah mencium pipi sang ayah dan memeluk nya.


"Sebental lagi kan Mommy bangun, telus Daddy bawa adik Axel jadi kita bisa main baleng..." ucap Axel pada sang ayah.


Sedangkan pria itu tak bisa mengatakan sepatah kata pun, tetesan bulir bening dari kelopak mata nya terus jatuh mengenai tangan kecil putra nya.


Pelukan kecil yang terasa hangat, serta ciuman yang mampu menggetarkan tubuh nya membuat nya sangat ingin memeluk putra nya dengan erat.


"Iya sayang..." ucap nya sembari mengukup tubuh mungil itu yang tenggelam dalam pelukan nya.


Ia pun mengecup wajah putra nya berkali-kali hingga sampai waktu nya batas operasi.


"Daddy sekalang mau ke mana?" tanya Axel saat melihat sang ayah yang perlahan beranjak dan berhenti memeluk serta mencium nya.


"Mau jemput adik Axel," jawab pria itu memberikan senyum nya walaupun raut sendu tak bisa ia sembunyikan.


Melihat sang ayah yang perlahan menjauh membuat tubuh kecil itu menatap dengan lirih.


"Grandma?" panggil Axel saat sang ayah sudah pergi beranjak.


"Iya nak?" jawab Clarinda sembari mengelus kepala kecil itu.

__ADS_1


"Axel kok sedih yah Daddy mau jemput adik?" tanya nya lirih pada sang nenek.


"Jangan sedih dong sayang..." ucap Clarinda sembari memeluk cucu nya.


"Gak tau..."


"Tapi Axel sedih, Huhuhu..." ucap Axel yang tanpa sadar menangis.


...


Pria itu menatap ke arah wanita yang masih terbaring di ranjang pasien nya dengan masih tak sadarkan diri.


Ia mengecup kening nya dengan pelan sebelum ke ranjang pasien nya.


"Kau harus bangun, aku sudah membawa Axel untuk mu."


"Jadi katakan sendiri kalau kau mencintai nya dan menyayangi nya,"


"Dan aku akan mengatakan kalau aku aku mencintai mu..."


Bisik nya pada wanita itu sebelum prosedur nya di lakukan.


Wajah nya terlihat sendu, senyuman nya lirih terlihat sendu namun mata nya terlihat lega.


Pandangan yang terakhir kali ia lihat adalah wajah wanita yang tak sadar itu, lampu bulat yang bersinar di atas tubuh nya.


Pandangan yang perlahan gelap ketika anastesi mulai menyebar ke seluruh darah nya.


Walaupun aku berat meninggalkan semua nya...


Tapi aku tidak merasa menyesal...


Aneh kan?


Padahal aku pernah meracuni mu, memberikan narkotika sampai overdosis...


Tapi kenapa aku jadi seperti ini?


Saat tau kau tidak akan bisa membuka mata mu...


Saat tau kau akan segera kehilangan napas mu...


Aku jadi seperti ingin gila rasanya...


Aku tidak pernah tau kalau aku selemah ini sebelum mengenal mu...


Mungkin kau menanggap nya sebagai obsesi...


Tapi ini aku...


Dan rasa cinta ku seperti ini...


Aku mencintai mu...


Aku akan membuat mu mencintai ku di kehidupan selanjutnya...


...****************...


Hay para pembaca othor๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Kalian sedih yah? Sedih dong wkwk


Othor aja sedih juga๐Ÿคง๐Ÿคง๐Ÿคง


Dan buat kalian yang bingung siapa male lead nya di sini Sean atau Richard, uda ada yang jawab di komentar othor lupa tapi mereka bener yah...


Yap! Anda benar!


Di sini Richard male lead nya yah๐Ÿ˜Š


Dan buat kalian yang bingung, "Loh? Richard pmeran utama kenapa dia yang mati?"


Karna gak semua nya bakalan berujung nyatu yah, dan yang baca cerita ini dari awal di buat pasti tau kalau ini pernah ganti judul dari "My psycho boyfriend and Mr mafia" jadi "Never gone (Hasrat dan obsesi)"


Itu bukan hanya ganti judul yah, tapi menyesuaikan dengan cerita yang othor buat ketika othor ganti judul ini. Jadi dari awal itu memang uda gini cerita nya.


Dan kenapa never gone? nanti othor kasih tau di akhir...


Tapi othor cuma mau bilang, Ainsley Richard ini sebenarnya complicated banget cinta mereka, dan akan othor kasih clue nanti sedikit.


Kenapa mereka bisa kayak gini sekarang.


Dan buat pendukung Richard jangan sedih yah๐Ÿ˜˜


Ikuti terus sampai akhir cerita nya dan nanti kalian juga kapal kalian belayar wkwk


Happy Reading dan juga lupa dukungan nya buat othor๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Salam penuh cinta dari othor๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Dan buat yang merayakan nya selamat menyambut bulan Ramadhan nya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Nih bonus dari Daddy Rich ๐Ÿ˜˜







Nih juga bonus dari Mommy Ainsley ya๐Ÿ˜˜



(Ini anggap aja abis di gigit sama Daddy Rich maka nya luka tu bibir hihi๐Ÿคญ)




__ADS_1



__ADS_2