
Pria kecil itu tak tidur sama sekali, ia menunggu sang ibu untuk datang pada nya dan membacakan cerita yang telah di janjikan.
"Mommy lama banget pulang nya, Axel ngantuk..." ucap nya lirih sembari memeluk selimut tebal nya.
Mata nya hanya tinggal segaris namun ia tetap ingin menyandarkan kesadaran nya, sang ibu yang mulai memiliki lebih banyak waktu di pekerjaan membuat nya merasa di abaikan walaupun tak ada maksud seperti itu sama sekali.
...
Wanita itu tertidur selama dua jam karna rasa lelah nya nya yang datang hingga ia terbangun sejenak.
Kepala nya pun ia angkat, posisi tidur yang terlihat nyaman namun pasti nya lebih nyaman jika berada di atas ranjang dari pada tidur dengan posisi duduk.
"Aku tidur?" tanya nya sembari memegang leher nya.
"Hm, sekitar dua jam." jawab pria itu dan langsung mengembalikan kesadaran nya dengan penuh.
"Apa? Kenapa tidak di bangunkan?" tanya nya langsung bangun.
Entah sejak kapan jas pria itu ada di tubuh nya ketika ia tertidur, ia pun dengan cepat memberikan nya dan bergegas.
"I-ini, maaf mengganggu." ucap nya yang langsung berbalik pergi.
...
Setelah memasuki apart nya, ia pun menuju lemari es dan membuka nya. Meminum segelas air dingin dan duduk sejenak.
Langkah kaki nya menuju kamar putra nya, setiap kali ia pulang larut ia memang akan melihat putra nya lebih dulu.
Pria kecil itu sudah tertidur selagi menunggu nya yang tak kunjung pulang, ia tersenyum tipis dan mengelus rambut putra nya dengan lembut.
Sentuhan lembut itu membangunkan Axel yang memang terus menjaga kesadaran nya walau terkadang lolos karna rasa kantuk nya.
"Mommy uda pulang?" tanya nya lirih sembari mengusap mata nya yang seperti lem.
"Axel bangun karna Mommy? Hm?" tanya Ainsley sembari mengusap kepala putra nya.
Tubuh kecil itu pun mulai mendekat dan bergelanyut pada nya.
"Axel nungguin Mommy, Axel mau di bacain celita...." ucap nya lirih dan kemudian kembali tertidur dengan lelap.
Ainsley hanya tersenyum tipis melihat putra nya yang menggemaskan itu, ia pun menarik selimut nya dan tidur sembari melihat wajah putra nya.
Walaupun hanya niat namun ia menyesali keinginan nya dulu yang sempat ingin mengugurkan kandungan nya.
Karna kini nyata nya, anak itu adalah sesuatu yang paling berharga untuk nya bahkan melebihi hidup nya sendiri.
Ia mendekat dan memeluk putra nya sembari menepuk punggung kecil itu dengan lembut, aroma parfum sang ibu yang tercium pun membuat pria kecil itu semakin lelap karna merasa nyaman berada di dalam dekapan sang ibu.
......................
Internasional Prime School
Beberapa anak dan wali murid pun sudah memenuhi lapangan besar tersebut.
"Axel? Nak?" panggil Ainsley saat melihat putra nya yang diam dan terpaku melihat anak lain nya.
Mata nya pun mengalihkan pandang yang sama, ia tau apa yang di pikirkan putra nya ketika melihat teman nya berada di pundak sang ayah.
"Axel kangen Daddy?" tanya Ainsley sembari mengusap rambut putra nya.
Axel pun menoleh, satu anggukan kecil pun datang di kepala nya, ia menatap sang ibu dengan sendu.
"Sayang yah Mom, Daddy gak bisa dateng ke sini..." ucap nya lirih.
"Kan ada Mommy," jawab Ainsley pada pria kecil itu dengan senyum nya.
Axel pun hanya diam, ia menggandeng tangan ibu nya dan beranjak membawa wanita itu mengikuti lomba yang di selenggarakan.
Hari pun mulai terlewati walaupun lelah namun tawa yang terdengar dan raut yang ceria terlihat.
"Axel senang?" tanya Ainsley sembari mengusap puncak kepala putra nya yang tengah memakan es krim dan tertawa itu.
"Iya!" jawab nya dengan cepat, walaupun sang ayah tidak bisa datang namun bukanlah sesuatu yang buruk ketika ibu nya menggantikan nya.
"Lily! Sini!" ucap nya yang langsung beranjak menghampiri teman nya ketika ia melihat gadis kecil itu lewat.
Ainsley hanya tersenyum, acara pun mulai berakhir dan ia yang kembali ke apart nya.
Putra kesayangan nya tidur dalam perjalanan karna terlalu banyak bermain dan kelelahan.
......................
Setelah beberapa hari sang ibu yang kini mulai kembali sibuk, Axel pun mulai merasa bosan.
Bukan nya ia tak menyukai pengasuh nya namun ia hanya ingin bersama sang ibu saja.
"Axel mau main apa lagi?" tanya si pengasuh sembari meletakkan mainan mobil control anak itu.
"Axel mau kelual, bosen..." ucap nya pada si pengasuh.
Wanita paruh baya yang keibuan itu pun langsung membawa apa tuan muda yang lucu itu keluar mengikuti kemauan nya.
Turun ke lingkungan apart membuat nya lebih bersemangat, walaupun ia tak menyukai tempat ramai semenjak hari penculikan nya namun ia bisa lebih melihat banyak hal.
Mata nya mulai teralihkan pada sebungkus permen yang di makan oleh anak lain nya.
"Bibi? Mau itu!" ucap nya sembari menunjuk permen yang di makan anak tersebut agar si pengasuh langsung membelikan nya.
Permen coklat yang sama seperti yang dulu sering di bawakan Sean untuk nya.
Anak-anak tetap lah anak-anak yang masih tai bisa menyembunyikan sikap tak dewasa mereka.
Si pengasuh pun langsung mengangguk, ia tau majikan kecil nya ingin permen coklat.
"Jagain dia," ucap salah satu pengasuh pada pengasuh lain nya.
Untuk merawat pria kecil itu sebagai pengganti nya Ainsley memanggil dua pengasuh yang satu sudah lumayan berumur dan yang satu nya lagi masih terlihat lebih muda.
Axel pun menunggu di ayunan taman apart tersebut dengan tenang.
Sang pengasuh pun datang membawakan sekantung penuh berisi coklat-coklat yang sering di makan majikan kecil nya.
"Bukan yang ini! Axel gak mau yang ini!" ucap nya dengan nada kecewa saat si pengasuh memberikan permen coklat nya.
"Tapi tadi bibi lihat nya yang ini, Axel mau permen coklat yang bagaimana?" tanya si pengasuh pada tuan muda nya yang rewel itu.
"Yang kayak seling di bawa sama itu..." ucap nya yang tak mau menyebutkan nama orang yang biasa nya memberi nya.
__ADS_1
"Yang mana nak? Bibi kan tidak tau..." ucap si pengasuh yang terkadang merasa kesulitan saat tuan muda Zinchanko itu rewel itu.
Pria yang baru saja kembali dari tinjauan proyek itu pun berjalan dan ingin memasuki gedung apart nya, namun suara dari sekarang anak yang ia kenal membuat langkah nya terhenti.
"Hey? Kenapa?" tanya nya sembari mendekat dan membuat wajah menggemaskan itu terlihat masam seketika.
"Mau apa? Paman di sini? Pelgi!" ucap nya dengan ketus ketika melihat pria itu.
"Dia kenapa?" tanya pria itu yang malah berbalik pada pengasuh nya.
"Tadi dia mau permen coklat tapi waktu sudah di beli kata nya salah," jawab si pengasuh pada pria itu.
Sean melihat sejenak ke arah kantung yang berisi makanan manis itu, ia pun langsung tau apa yang di inginkan anak berumur lima tahun di depan nya.
"Axel mau permen yang biasa paman bawain gak?" tanya nya sembari berjongkok melihat wajah yang membuang pandangan itu dengan suram.
"Gak mau! Paman itu jahat! Axel benci paman!" jawab nya dengan menyela dan nada tinggi.
Sean diam sejenak, ia tak mengerti kenapa anak di depan nya begitu membenci nya.
"Paman buat salah sama Axel?" tanya nya lagi sembari melihat wajah kesal itu.
"Iyalah! Paman mau ambil Mommy dari Axel kan?! Paman buat Mommy jauh dari Axel! Axel gak bisa ketemu Mommy karna paman!" jawab nya menyentak pada pria itu dan terlihat jelas sorot kebencian nya.
Pria itu diam sejenak, kapan ia pernah mengambil ibu anak itu dari nya? Ataupun mencegah mereka bertemu?
"Paman gak ambil Mommy Axel," ucap nya lagi.
"Bohong! Axel tau semua nya! Paman cuma mau Mommy Axel aja kan?!" ucap nya dengan nyalang dan tatapan mata yang begitu membenci pria di depan nya.
"Paman mau nya Axel," ucap pria itu tertawa kecil.
Bagi nya emosi meledak dan kebencian anak itu hanya karna kecemburuan karna tak ingin sang ibu di rebut oleh siapapun.
"Kalau engga gini aja, Paman temenan sama Axel tapi gak sama Mommy Axel? Boleh?" tanya nya lagi pada anak berumur lima tahun itu.
"Sama aja! Gak boleh! Axel benci paman!" ucap nya sembari bangun dan beranjak masuk ke gedung apart nya setelah meminta pengasuh nya untuk menggendong nya.
Pria itu hanya menarik napas nya pelan melihat sikap yang berubah drastis dari terkahir kali mereka bertemu sebelum penculikan.
...
2 Hari kemudian.
Langkah pria kecil itu terhenti, wajah nya mengekerut ketika melihat orang yang tak ia sukai di depan nya.
"Paman ngapain sih?! Di sini telus!" ucap nya dengan tak senang sembari melihat kesal.
"Mommy lagi pelgi! Gak ada waktu buat ketemu paman!" ucap nya sekali lagi.
Ia memang tak berbohong, karna jika sang ibu ada ia pasti akan bersama wanita dan lengket seperti lem, tidak seperti saat ini yang tengah bersama pengasuh nya dan menuju ke rooftop untuk berenang.
"Paman mau ketemu Axel tuh," ucap pria itu yang kini sudah selalu membawa coklat di tas nya untuk berjaga-jaga jika mereka bertemu secara tak sengaja lagi.
"Mau ini?" tanya nya sembari memberikan makanan yang di sukai bocah imut itu.
"Gak mau!" tolak Axel seketika.
"Beneran?" tanya Sean lagi.
"Yaudah deh paman buang aja, soal nya paman beli nya kan cuma buat Axel," ucap nya sembari berjalan ke arah tempat sampah.
"Eh?" Axel langsung tersentak, tentu nya ia mau namun mengatakan hal yang sebalik nya.
"Paman buang ini?" tanya nya lagi pada pria kecil itu.
Axel tak bergeming, namun saat kaki pria itu menginjak sisi pembuka tempat sampah ia pun langsung mendekat.
Sreg!
Tangan kecil nya mengambil permen coklat di tangan pria itu, "Kata Mommy gak boleh buang makanan yang masih bagus!" ucap nya yang memang ia menyukai makanan yang di bawa pria itu namun tidak menyukai si pembawa nya.
Sean hanya tersenyum, ia mendekat dan mengusap puncak kepala anak itu lalu berlalu pergi karna ia juga masih memiliki urusan lain nya.
"Axel benci paman!" ucap nya lagi ketika pria itu beranjak pergi setelah mengusap kepala nya.
"Tapi paman sayang Axel," ucap pria itu dengan tawa kecil karna bagi nya kemarahan anak berumur lima tahun terlihat menggemaskan.
......................
Internasional Prime School
Ketiga mata jernih itu membulat, sudah musuhan lalu perang dingin dan lirikan kini malah di panggil dan di jadikan perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba kecerdasan.
"Axel gak mau kalau ada Mack!" ucap Axel seketika pada sang guru.
"Mack juga gak mau kalau ada Axel! Tangan Mack aja masih luka nih!" ucap nya sembari menunjukkan bekas gigitan yang telah sembuh namun ia mengatakan masih luka karna bekas nya masih ada.
Gadis kecil yang berada di tengah-tengah itu pun hanya menutup telinga nya ketika kedua teman nya saling beradu.
"Lily juga gak mau deh! Mau main boneka aja di lumah!" ucap gadis kecil itu yang juga menolak.
Sang guru hanya menghela napas nya, memang sulit membujuk anak-anak yang berasal dari kalangan teratas itu apa lagi yang memiliki potensi kepintaran.
"Axel? Mack? Kan uda baikan? Mau ibu guru panggil Mommy Axel sama Mommy Mack lagi?" tanya sang guru pada kedua anak menggemaskan itu.
"Kan kami gak belantem!"
Sahut kedua nya dengan cepat dan membuat kesabaran gadis kecil itu habis karna telinga nya terasa ingin pecah.
Duk!
Duk!
"Belisik tau!" ucap Emily setelah memukul kedua kepala teman nya.
"Emily!" ucap sang guru yang langsung menegur gadis kecil itu.
"Kok Lily pukul Mack sih?!" tanya Mack yang langsung menarik rambut panjang gadis itu dengan tangan nya.
"Aduh!" ringis gadis itu seketika.
"Kok Mack talik lambut Lily?!" ucap Axel yang langsung mendekat dan kembali menyeruduk nya hingga terjatuh.
Gadis kecil itu pun juga mulai ikut-ikutan menyerang karna melihat teman nya berkelahi.
"Eh? Aduh! Mereka ini!" untung nya perkelahian itu langsung di pisah segara olah para guru dengan mengangkat kedua tubuh kecil yang bergulat itu.
__ADS_1
"Yang kayak gini mau di kirim lomba? Hancur duluan tempat nya." ucap salah satu guru yang memisahkan ketiga anak lucu namun nakal itu.
"Axel! Emily! Mack!" panggil sang guru dengan meninggikan suara nya agar membuat rasa ingin menyerang ketiga anak itu berhenti.
Ketiga anak lucu dan menggemaskan namun nakal itu pun langsung terdiam.
"Axel mau buat Mommy Axel bangga tidak?" tanya sang guru pada pria kecil itu.
Satu anggukan menjadi jawaban dari anak lelaki berumur lima tahun itu.
"Kalau Axel ikut terus menang pasti Mommy Axel bangga," ucap sang guru yang memberikan motifasi.
Memang mereka juga perlu izin dari orang tua namun para guru membujuk pada murid lebih dulu dan setelah itu memberikan informasi apakah orang tua mereka mengizinkan atau tidak.
Axel diam sejenak, ia memang mengatakan pada sang ibu kalau akan belajar dengan giat lalu membuat sayap besar untuk menjemput ayah nya, "Axel mau buat Mommy bangga!" ucap pada sang guru.
"Kalau Mack?" tanya nya lagi.
"Kalau Axel ikut! Mack juga ikut deh! Masa Mack kalah dari Axel! Huh!" ucap anak berpipi gembul itu sembari membuang raut wajah kesal.
"Buk gulu!" ucap Emily pada wanita itu.
"Iya?"
"Lily gak ikut deh! Mommy Lily udah bangga kok!" ucap nya dengan polos.
"Tapi kan Mommy Emily bisa lebih bangga," ucap sang guru yang kini menghadapi gadis kecil yang malas mengikuti lomba tersebut.
Axel terlihat lesu, selain ingin membuat sang ibu bangga pada nya, ia juga ingin dekat dengan teman nya terus karna ia yang memang kini mulai merasa kesepian.
Sang ibu yang mulai sibuk bekerja dan juga sang ayah yang telah tiada.
"Yah..."
"Lily ikut dong, sama Axel..." ucap nya sembari memegang tangan gadis kecil itu.
"Lily mau main boneka aja! Kalau ikut lomba nanti di suluh belajal sama Mommy," ucap nya dengan polos karna malas jika sang ibu menyuruh nya belajar.
"Lily nginap di lumah Axel aja! Mommy Axel gak pelnah nyuluh belajal kok!" ucap nya memberikan usul.
"Kalau gak boleh sama Mommy Lily gimana?" tanya nya lagi.
"Boleh! Nanti Axel yang bilangin! Kalau Lily nginap juga nanti bisa makan cake buatan Mommy Axel tiap hali!" ucap Axel lagi.
Emily pun berpikir sejenak, sedangkan sang guru tak perlu bersusah payah membujuk karna teman gadis itu sudah lebih dulu melakukan nya.
"Mack juga mau cake!" ucap Mack seketika dan melupakan perkelahian mereka.
"Gak boleh! Cake nya cuma buat Lily sama Axel aja!" ucap Axel seketika.
"Huh! Axel nyebelin!" ucap berdecak dengan kesal.
...
Akhirnya bel sekolah pun berdering, para anak-anak itu segera keluar dan menunggu jemputan orang tua nya masing-masing.
"Mommy!"
Binar mata anak lelaki itu langsung naik seketika melihat sang ibu yang menjemput nya bukan supir yang biasanya.
Ainsley tersenyum, ia memang memberikan kejutan kecil untuk putra kesayangan nya sekaligus membicarakan masalah lomba pada sang guru karna takut putra nya tak nyaman dengan situasi asing setelah penculikan.
"Axel? Nunggu nya lama sayang?" tanya wanita itu dengan lembut.
Axel pun menggeleng seketika dengan senyuman lebar nya, "Mommy? Lily nginap yah di rumah kita? Kan mau lomba? Bial belajal baleng." ucap Axel yang bertepatan ketika ibu gadis kecil itu ada menjemput putri nya.
Ainsley melihat sejenak ke arah ibu gadis kecil itu.
"Mom? Boleh yah?" tanya Emily pada ibu nya.
"Jangan, ngerepotin orang lain." ucap sang ibu pada putri nya dengan nada berbisik.
"Kalau anda mengizinkan saya malah lebih senang kalau ada Lily, Axel juga akan ada temannya." ucap nya tersenyum pada ibu gadis kecil itu.
Ibu Emily terlihat kaku, ia takut merepotkan wanita itu jika putri nya ikut menginap.
"Mommy? Boleh yah? Boleh Mom..." ucap Emily mendesak sang ibu.
"Iya, boleh." ucap nya yang kalah dengan bujukan putri nya.
"Yeyy! Mom nanti buatin kami cake juga yah!" ucap Axel dengan riang pada sang ibu.
"Iya, nanti Mommy buatin yah..." jawab Ainsley pada putra nya.
"Mack juga mau cake nya! Axel pelit!" suara anak kecil itu langsung membuat Ainsley menoleh.
"Loh ini bukan nya Mack?" tanya Ainsley pada anak yang pernah berkelahi dengan putra nya dan belum di jemput orang tua atau wali nya.
"Mack mau cake juga," ucap nya pada Ainsley.
"Boleh, nanti Tante bawain yah..." ucap Ainsley pada pria kecil itu.
"Bwek! Boleh kok!" ucap Mack mengejek Axel yang terlihat kesal.
Axel terlihat kesal melihat sang ibu memberikan cake buatan nya.
"Mack ikut nginap juga boleh gak?" tanya nya lagi.
"Gak boleh! Axel kan mau nya berduaan aja sama Lily!" ucap Axel segera.
"Axel?" panggil Ainsley pada putra nya.
"Lily juga mau nya sama Axel aja!" sambung Lily yang membuat para orang tua itu hanya menggeleng melihat tingkah gemas anak-anak mereka.
"Ih! Lily sama Axel nyebelin!" ucap Mack dengan kesal.
...****************...
Axel Miller Zinchanko
Emily Rothe
Mack Jamie
__ADS_1