
Napas wanita itu terdengar berat, suara nya hampir habis dan tenaga nya berkurang banyak.
"Su-sudah?" tanya nya sembari melihat ke arah suami nya yang masih berada di atas tubuh nya.
"Sekali lagi," bisik pria itu sembari mengecup telinga sang istri.
"Nanti malam lagi yah? Kau tidak lelah?" tanya Ainsley yang masih terengah-engah.
Tak ada jawaban hanya kecupan yang terasa geli menjalar di leher dan telinga nya.
...
Tubuh yang terlihat basah oleh keringat itu tertidur di atas sofa empuk yang besar tersebut.
Richard mengelus rambut wanita itu dengan lembut, tak ada yang ia katakan namun ia hanya menatap nya.
"Belanja? Salon? Aku tidak mau kau bertemu orang lain selain aku, lagi pula mereka juga akan mengincar mu." gumam nya sembari mengelus kepala wanita itu.
Ia pun beranjak memakai pakaian nya lalu memakaikan pakaian istri nya dan menggendong tubuh yang kelelahan untuk membawa nya ke kamar.
"Daddy!" panggil Axel yang langsung menghampiri sang ayah.
Richard berhenti menatap putra nya yang berlari ke arah nya.
"Axel sudah pulang sekolah?" tanya Richard saat menatap mata bulat putra nya yang menggemaskan.
Axel mengangguk dan menatap sang ayah lalu melihat wanita yang di gendong oleh ayah nya, "Mommy tidul?" tanya nya dengan mata yang penuh akan rasa ingin tau.
"Iya, Mommy tidur. Daddy bawa Mommy ke kamar dulu yah." ucap nya pada putra nya yang langsung terlihat cemberut.
"Axel kan mau main sama Mommy, bangunin Mommy Dad." pinta nya pada sang ayah.
"Jangan, Mommy lagi ngantuk nanti kalau Mommy bangun Mommy jadi kesel terus gak mau main sama Axel," jawab pria itu yang tak membiarkan putra nya membangunkan istri nya yang kelelahan setelah pertempuran nya barusan.
Axel terlihat cemberut mendengar ucapan sang ayah, ia menekuk wajah nya dan terlihat tak senang.
"Axel main sama Daddy aja yah?" tanya nya sembari melihat ke arah putra nya.
"Main pelang-pelangan?" tanya nya pada sang ayah.
"Iya, nanti main perang-perangan sama Daddy." jawab Richard tersenyum pada putra nya lalu membawa sang istri ke tempat tidur mereka.
...
Pria itu tertawa melihat putra nya yang dengan aktif menyerang nya sekuat tenaga namun yang ia rasakan nya pukulan kecil yang tak berarti.
"Aduh! Daddy kalah!" ucap nya pura-pura terjatuh hingga membuat Axel langsung tersenyum cerah.
"Yeeyy! Axel menang! Daddy kalah!" ucap nya menatap sang ayah sembari kegirangan.
Richard tertawa ia mengangkat tubuh kecil itu lalu melihat nya, "Nah, Axel kan udah menang sekarang, jadi mau hadiah apa?"
Pria yang selalu memanjakan putra kesayangan nya itu pun, saat ini tengah memeluk gemas anak nya.
"Axel mau adik Axel, kapan sih kelual nya?" tanya dengan wajah polos tak sabar.
"Nanti, masih proses di buat, Axel yang sabar yah..." ucap nya sembari tersenyum pada putra kesayangan nya.
"Beli aja yuk Dad adik nya," ajak nya dengan semangat karna tak mengetahui apapun.
"Beli?" tanya Richard mengernyit.
"Iya! Adik Axel gak ada di jual di toko apa? Atau di mall?" tanya nya lagi dengan wajah polos dan tatapan antusias.
"Adik Axel harus dari Mommy dong, masa dari toko? Axel aja dulu di dalam perut Mommy baru keluar." ucap Richard pada putra nya.
"Ih! Lama!" decak nya dengan kesal pada sang ayah.
Richard hanya tertawa melihat sikap tak sabar putra nya yang menurun ibu nya, wajah yang di tekuk dan bibir cemberut yang membuat wajah anak berumur 5 tahun itu tampak semakin menggemaskan.
...
Ke esokkan hari nya.
Ainsley diam membaca buku memasak di depan nya dengan secangkir coklat panas di samping nya.
Aroma bunga dan juga rumput tercium dan menyatu di Indra penciuman nya, mentari hangat yang menyentuh kulit nya tak membuat nya merasa panas sedikit pun.
Cup!
Ia tersentak saat seseorang mencium pipi nya tiba-tiba, belum selesai mata nya mencari, orang yang mencium nya sudah duduk di depan nya.
"Baca apa?" tanya Richard menatap wanita yang tengah membaca sebuah buku di taman mansion yang terlihat indah tersebut.
"Buku masak, mau makan malam ini aku buat?" jawab wanita itu sembari memberikan pertanyaan lain nya.
Richard tersenyum, "Kau mau belanja di luar?"
Mata yang tadi nya menatap ke arah tulisan dan juga gambar di depan nya langsung menatap ke arah depan.
"Mau!" jawab nya cepat dan antusias, "Kapan?" tanya nya lagi dengan tak sabar.
"Sekarang, nanti kita pulang nya sekalian jemput Axel." ucap Richard tertawa melihat wajah istrinya yang bersemangat.
"Aku pergi sendiri?" tanya Ainsley mengernyit karna jarang sekali pria itu mengizinkan nya keluar.
"Sendiri? Kau bercanda? Tentu saja dengan ku!" jawab pria itu segera.
"Aku siapan sekarang! Lima menit!" ucap nya yang langsung beranjak dari duduk nya dan masuk ke dalam mansion.
...
Mall.
__ADS_1
"Cantik," jawab pria itu saat melihat gaun yang di bawa oleh istri nya.
"Sama yang tadi?" tanya Ainsley lagi menatap pria itu.
"Semua cantik kalau kau yang pakai," jawab Richard sembari melirik ke arah gaun yang tadi nya di tunjukkan oleh istri nya.
"Semua sama! Terus aku beli yang mana?" tanya Ainsley berdecak.
Pria itu tertawa melihat wajah yang terlihat kesal itu, ia mendekat dan mengecup kepala wanita nya sekilas, "Beli semua yang kau lihat saja,"
"Ih! Malu! Di lihatin sama pegawai nya!" ucap Ainsley saat melihat pegawai wanita yang tersenyum ke arah nya.
"Biarin, kalau di lihat kenapa? Mungkin mereka sedang iri saat ini dengan mu." bisik pria itu tersenyum di telinga istri nya.
"Jadi aku beli yang mana? Jangan terlalu banyak yang di lemari juga masih ada yang baru," tanya Ainsley pada pria itu.
"Yang itu," tunjuk Richard ke arah lain.
Mata nya membulat saat melihat arah jemari suami nya yang menunjuk ke arah lingerie dan pakaian d*lam yang memamerkan bentuk tubuh dan membuat siapapun menjadi tergoda.
Duk!
Tangan wanita itu memukul ke arah pundak suami nya, sedangkan pria itu hanya tertawa kecil.
"Serius! Jangan bercanda," ucap Ainsley dengan raut kesal nya namun malah membuat pria itu semakin ingin mencoba sesuatu.
Ia beranjak pergi saat istri nya tengah mengomel, memilih apa yang ingin di pakai wanita itu lalu kembali.
"Kami akan coba yang ini," ucap nya pada salah satu pegawai wanita yang berjaga tak jauh dari mereka.
Mata Ainsley membulat saat pria itu membawa lingerie di tangan nya dan mengatakan ingin ia mencoba nya saat itu juga.
Pegawai tersebut pun mengangguk, ia membawa ke ruang pelanggan VVIP dan menunjukkan salah satu bilik ganti nya.
"Ini pakai," ucap nya sembari memberikan yang ada di tangan nya.
Ainsley melirik ke arah pegawai wanita yang berdiri di belakang suami nya.
"Richard! Coba di mansion saja!" ucap nya pada suami nya.
"Aku mau lihat sekarang, tidak sabar kalau harus pulang dulu." jawab Richard pada wanita itu.
Ainsley pun mengambil nya dan berjalan ke arah bilik ganti.
Mata pria itu mengikuti arah istri nya pergi, dan menghilang di balik bilik ganti sedangkan ia menunggu di sofa yang di sediakan di ruangan VVIP tersebut.
Pegawai mall itu pun memberikan teh dan camilan makanan ringan pada pria yang tengah menunggu itu.
Setelah beberapa saat Richard melihat ke arah jam di tangan nya, istri nya tak memanggil ataupun menelpon nya untuk mengatakan sudah mengganti pakaian membuat nya beranjak sendiri dari duduk nya dan menyusul wanita itu.
"Ainsley? Sudah?" tanya Richard sembari mengetuk pintu ganti wanita itu dari luar.
Ainsley pun tersentak, ia sedari tadi memang sudah siap namun masih memperhatikan tubuh nya yang terlihat begitu menggairahkan dari cermin.
"Buka saja pintu nya, aku bantu pakai." ucap Richard yang tak bisa masuk karna sang istri mengunci pintu nya.
"Tidak perlu! Aku pakai sendiri saja!" jawab Ainsley segera.
"Jangan membuat ku mengatakan dua kali," ucap pria itu dari luar dan terdengar serius membuat Ainsley beranjak membuka pintu nya.
Perlahan pintu bilik ganti itu pun terbuka, Richard mulai masuk dan terpana sejenak melihat tubuh istri nya.
Ia memang sudah sering melihat tubuh wanita itu namun ia tak pernah bosan dan merasa apapun yang sedang ia lihat adalah hal yang baru.
"Su-sudah kan? Kau keluar lagi aku ganti pakaian dulu," ucap Ainsley sembari mendorong pelan tubuh pria yang tengah memperhatikan nya dengan dalam.
Richard tak menjawab apapun namun tangan nya meraih kunci pintu dan,
Tak!
Mata wanita itu langsung menoleh ke arah tangan suami nya yang mengunci pintu tersebut.
"Kenapa di kunci?" tanya Ainsley mengernyit.
"Menurut mu kenapa?" Richard yang berbalik bertanya dan menyudutkan tubuh wanita itu ke dinding cermin yang memenuhi bilik ganti tersebut.
"Jangan di sini! Ini kan di lu- Humph!" ucapan nya terpotong saat pangutan pria itu memakan habis bibir nya.
Sejenak tak ada omelan atau protes yang keluar dari bibir wanita itu karna suaminya sudah membungkam nya.
Setelah mengigit dan mengisap bibir wanita itu hingga polesan lipstik yang tadi nya terlihat cerah kini memudar, Richard pun melepaskan pangutan nya.
"Kita sedang di luar, jangan aneh-aneh." ucap Ainsley saat pria itu menatap mata nya.
Tak ada jawaban untuk pertanyaan pria itu, hanya kecupan ringan di pipi dan merambat ke telinga nya.
"Richard! Dengerin aku!" ucap Ainsley sembari mendorong pelan tubuh pria itu yang kini mulai mengigit pelan telinga nya.
Bukan nya membalas pria malah menyingkirkan rambut yang tergerai itu di balik telinga wanita nya.
"Sstt..."
"Jangan berisik nanti kedengaran sampai luar," bisik nya yang menyuruh wanita itu untuk diam.
"Jangan aneh-aneh! Lihat tempat juga!" protes nya dengan nada berbisik.
Bukan nya menjawab pria itu hanya melihat wajah protes di depan nya dan mulai meraba paha wanita itu.
Mata Ainsley membulat, suami nya tak mendengarkan sama sekali dan mulai mencium lengkung leher nya.
Mengecup perlahan hingga semakin turun dan menarik lingerie yang di kenakan oleh istri nya.
Pria itu langsung menangkup gumpalan putih yang terlihat menggiurkan itu, mengigit dan mengecup nya pelan.
__ADS_1
Ainsley tak lagi bisa mendorong pria itu dan akhirnya hanya meletakkan kedua tangan kecil nya menutupi mulut nya agar tak bersuara.
Tak hanya kecupan dan lum*tan yang di layangkan oleh pria itu namun tangan nya mulai bergerak dengan nakal menyusup di balik lingerie tipis yang di kenakan oleh istri nya.
Ia mengigit gemas puncak wanita itu hingga membuat Ainsley meringis namun tangan nya yang lain menyentuh dan membelai halus tubuh indah itu.
Ungh!
Lenguh nya tertahan sembari menutup mulut nya dengan rapat dengan kedua tangan nya, Richard mengangkat wajah nya melihat sang istri yang kesulitan karena diri nya.
Tangan bergerak nakal di tubuh wanita itu sembari sesekali membuka tangan yang menutup mulut wanita itu lalu mel*mat bibir merah muda tersebut.
Humph!
Napas Ainsley tak beraturan tangan nya memegang tangan suaminya yang semakin bergerak dengan cepat.
Richard pun melepaskan ciuman nya karna ia merasa sang istri yang hampir kehabisan napas.
"Pe-pelan tangan nya..." ucap nya lirih sembari meremas jas pria itu.
Richard tak menjawab namun ia menuruti permintaan istri kesayangan nya itu, ia memelankan tempo jemari nya dan mengecup pipi wanita itu.
"Sekarang?" tanya nya dengan suara yang lebih berat, terdengar jelas jika napas pria itu tak beraturan.
Deruan napas yang terdengar tidak ringan di telinga serta hawa panas yang mulai mengelilingi kedua nya.
Tak menunggu waktu lama, pria itu membalik tubuh istri nya hingga membelakangi nya dan melihat ke arah cermin.
Ia sudah siap dengan posisi nya dan mulai menyentuh tubuh istri nya.
Ungh!
Ainsley tersentak saat pria itu mencium sebentar bagian privasi nya, ekor mata nya melirik ke arah cermin di depan nya yang menampilkan pantulan dirinya dan suami nya.
"Tahan kalau tidak mau orang lain dengar," ucap Richard yang perlahan mulai memasuki wanita itu.
Ainsley menutup mulut nya dengan rapat agar tak bersuara sedikitpun.
Pria itu perlahan bergerak, ia ingin bergerak dengan cepat namun tak ingin menimbulkan suara penyatuan nya hingga keluar.
Tangan nya menyentuh gumpalan indah wanita itu dari belakang dan memainkan nya saat ia menggerakkan dirinya dengan dalam.
Ia mengecup pundak, telinga dan lengkung leher wanita itu dari belakang, terkadang tangan nya juga menyentuh bibir wanita itu untuk menambah sensasi dalam diri nya.
Napas wanita itu tersengal-sengal tak beraturan, gerakan suaminya yang perlahan lambat pun kini semakin panas dan tak bisa di kendalikan.
Richard pun melepaskan sejenak dan membalik tubuh Ainsley hingga melihat ke arah nya, ia mengangkat satu kaki wanita itu lalu mulai kembali melakukan apa yang tadi nya tertunda.
Bibir nya langsung bertaut agar menahan suara wanita itu untuk tidak keluar, ia sengaja membalik nya.
Ia menelan sejenak membiarkan wanita itu mengambil napas saat mulai mencapai puncak nya, melepaskan tautan bibir nya dan melihat ke arah sang istri.
"Sudah? Aku gerak lagi?" ucap nya melihat wajah yang tengah menarik napas dengan dalam tersebut.
Tak ada jawaban namun setelah napas nya mulai bisa di kendalikan Ainsley melihat pria itu dan mengangguk kecil, ia ingin hal ini cepat berakhir.
Richard kembali bergerak sembari sesekali menggigit bibir wanita itu dengan gemas.
Hingga beberapa saat kemudian ia pun merasakan sengatan listrik yang mengalir dalam tubuh nya dan semakin tidak terkendali.
Pria itu melenguh di telinga istri nya, ia mencium dan mengecup pipi wanita itu sekilas.
"Terlalu banyak..." ucap nya lirih saat pria itu melepaskan diri nya.
Richard mengambil sapu tangan di dalam jas nya dan mulai mengusap vanila yang meleleh keluar dari wanita itu.
Ainsley mengatur napas nya sedang pria itu membersihkan sekilas dengan sapu tangan yang ia bawa.
"Ini pakai kembali pakaian mu," ucap Richard sembari memakaikan pakaian wanita itu.
"Lingerie nya?" tanya Ainsley yang masih mengatur napas nya.
"Pakai saja, nanti ku bayar." ucap Richard sembari terus memakai kan pakaian wanita itu dengan melapis lingerie nya.
Karna ia hanya perlu merapikan celana dan jas nya saja tak butuh waktu lama untuk diri nya.
Setelah ia dan istrinya berpakaian lengkap ia pun keluar.
Pegawai yang sedari tadi menunggu mereka hanya menatap bingung karna kedua nya keluar terlalu lama dari ruang ganti.
"Aku beli semua yang di lihat nya tadi," ucap Richard pada pegawai tersebut.
"Iya?" tanya pegawai tersebut mengulang, bukan yang di pilih melainkan yang di lihat.
"Semua yang dia lihat akan ku beli, siapkan pembayaran nya." ucap Richard lagi walaupun Ainsley sudah menarik jas nya agar tidak terlalu banyak membeli barang.
Mata pegawai tersebut melihat kedua nya, berkeringat di tengah AC yang sangat dingin.
Rambut yang basah, make up yang acak-acakan serta polesan lipstick yang kini sudah hilang.
"Hari ini cuaca panas," ucap Ainsley lirih tertawa canggung saat pegawai wanita itu melihat diri nya.
Pegawai tersebut juga tertawa canggung mendengar nya saat ia mulai mengerti apa yang terjadi.
"Baik, akan saya siapkan." ucap pegawai tersebut sembari berbalik dan mengurus pembayaran.
Duk!
"Kan! Lihat tadi!" ucap Ainsley memukul bahu pria itu.
Richard hanya tertawa kecil, "Sensasi baru." bisik nya di telinga wanita itu.
Ia tak pernah melakukan di tempat umum seperti ini, degupan jantung yang menyatu dengan hasrat nya membuat nya semakin bersemangat.
__ADS_1