
Mentari mulai meninggi, gadis itu perlahan bangun ketika ia merasakan usapan lembut di kepala nya.
"Kak?" panggil nya lirih pada pria yang sudah terlihat rapi dan duduk di tepi ranjang besar itu.
Cup,
Gadis itu memejam ketika Steve mencium dahi nya sekilas, "Sudah bangun? Ayo turun, hari kan kamu sekolah." ucap pria itu dengan senyuman lembut nya.
Gadis itu tak langsung bangun, ia malah bergumul dengan selimut nya dan menyelaraskan tubuh nya.
"Masih males kak," ucap nya lirih.
Pria itu hanya tersenyum, ia menarik selimut yang di masih di pakai gadis itu dan menggelitik pinggang ramping itu.
"Kakak! Geli!" ucap Celine sembari tertawa dan menepis tangan pria itu.
Steve tak tinggal diam, ia pun semakin menggelitik hingga membuat nya ikut naik kembali ke ranjang dan menyerang gadis itu.
Sementara itu
Freya membuka kamar putri nya, tak ada sama sekali tanda-tanda gadis itu, ia pun langsung bisa menebak kemana gadis itu saat tak ada.
Langkah nya langsung menuju ke kamar putra sambung nya, ia mengetuk beberapa kali agar mendapat jawaban.
"Steve? Celine sama kamu nak?" tanya nya dari luar.
Sedangkan pria dengan gadis remaja itu kini sudah tak lagi saling menggelitik melainkan Steve yang saat ini tengah mel*mat habis bibir gadis yang berada di bawah tubuh nya itu.
Entah sejak kapan bercanda di pagi hari berubah menjadi ciuman panas, mungkin sejak tadi malam ketika ia mulai berani menyentuh lebih dalam dan gadis cantik itu tak menolak nya sama sekali.
Tubuh nya bagai terkena ekstasi, ia semakin candu dengan tubuh kecil itu dan segala respon yang di berikan nya.
Celine mendorong pelan dada bidang pria itu, Steve pun melepaskan tautan nya.
"Bibir Celine masih sakit tau kak," adu nya ketika tadi malam pria itu mengigit bibit nya hingga luka, "Mama juga manggil tuh." sambung nya pada pria itu.
Steve berdecak dan mulai bangun, ia menarik tangan gadis itu, "Yang semalam rahasia jangan kasih tau Papa Mama dulu." bisik nya di telinga gadis itu karna tau ia belum memiliki kekuatan sendiri untuk membawa pergi gadis itu dari orang tua nya jika hubungan mereka tak di restui.
Celine mengangguk dengan wajah polos nya, gadis yang tak tau apa-apa itu menurut dengan mudah.
Steve pun membawa nya keluar sembari membuka pintu nya.
Freya melihat putri nya yang terlihat sedikit berantakan namun masih berpakaian dengan lengkap.
"Bibir kamu kenapa nak?" tanya Freya mengernyit.
"Eh? I-ini..." ucap nya kebingungan sembari melirik ke arah sang kakak.
"Dia salah makan Ma, tergigit bibir nya." jawab Steve pada ibu sambung nya yang mengatakan alasan yang cukup masuk akal.
Freya mengernyit, walaupun cukup masuk akal namun tetap saja sebagai ibu ia merasakan perasaan yang berbeda.
"Yasudah kamu siapan dulu kan mau ke sekolah," ucap nya pada putri nya.
Celine pun langsung pergi bersiap seperti yang di katakan oleh sang ibu.
Sedangkan saat ini Freya memandang canggung pada putra sambung nya itu.
"Steve? Mama boleh bilang sesuatu gak?" tanya nya lirih.
Pria itu tak menjawab, seperti biasa ia melihat dengan tatapan yang datar tanpa emosi dan wajah nya yang terkesan selalu dingin.
"Celine itu kan sudah besar, kalau dia ke kamar kamu minta di temenin tidur kamu jangan terima yah? Lagi pula kan kalian uda sama-sama dewasa, Mama udah pernah coba bilang ke Celine tapi dia anak nya keras kepala gak mau denger Mama." ucap nya pada putra sambung nya.
Setidaknya jika putri nya tak mendengar nya ia ingin putra sambung nya yang memberikan batasan pada gadis manja itu.
"Kenapa? Aku suka kalau dia tidur dengan ku," jawab pria itu yang mulai tersenyum tipis.
Deg!
Freya tersentak, ia tak pernah melihat putra nya itu bicara dengan senyuman pada nya namun kini ketika membicarakan putri nya senyuman pria itu timbul.
Senyuman yang penuh dengan jutaan arti tersembunyi.
Steve pun meninggalkan ibu tiri nya dan beranjak ke arah lain meninggalkan Freya yang terdiam.
"Tidak! Jangan pikir aneh-aneh! Dia begitu kan karna sayang dengan Celine..." ucap nya lirih berusaha meyakinkan diri nya.
......................
Internasional High School
"Celine!"
Suara remaja pria itu membuat gadis yang tengah berbicara sembari menunggu jemputan dengan teman nya langsung menoleh.
"Kenapa kamu gak balas pesan ku?" tanya Vicky dengan raut mata yang penuh penasaran.
"Iya, aku tiduran." ucap nya berdalih.
Remaja itu tak jadi marah, ia melihat lesu karna pesan nya di abaikan.
"Kamu pulang sama siapa? Mau aku anter?" tawar Vicky pada gadis itu.
Celine menggeleng, kalau sang kakak tau bisa rumit urusan nya. Melihat penolakan halus gadis itu Vicky pun mulai mengeluarkan ponsel nya.
"Kamu mau ikut ini gak?" tanya nya sembari memperlihatkan konser piano yang tentu nya langsung membuat gadis itu tertarik.
Celine mendekat ke arah teman pria nya itu, sedangkan sebuah mobil hitam mahal itu kini sudah sampai.
Steve sengaja menjemput adik nya sore ini karna ingin membawa nya membeli es krim yang di sukai setelah malam sebelum nya membuat gadis merasakan pengalaman baru.
Deg!
Mata nya mengernyit, tawa dan senyuman itu begitu terlihat tulus dan lepas ketika berbicara dengan remaja pria lain nya, tak hanya bicara dengan senang hati seperti gadis itu juga berbisik begitu juga dengan remaja pria itu.
Perasaan panas dan meluap di dada nya membuat nya menatap tajam dan menggenggam kuat stir yang ia pegang.
Ia pun lantas turun dan mendekat ke arah gadis itu, "Celine."
Satu panggilan dari suara yang ia lihat begitu membuat gadis itu terkejut setengah mati.
"Ka..Kakak..." ucap nya lirih menatap ke arah suara.
"Sedang apa? Kakak dari tadi nungguin kamu," ucap nya dengan nada dingin dan penuh dengan penekanan hingga membuat atmosfer di sekitar gadis itu berubah.
"Kakak nya Celine yah? Saya Vicky," ucap remaja itu tersenyum dan memperkenalkan diri nya.
Steve memandang tak suka dan tajam, ia pun langsung menarik tangan gadis itu dan membawa nya ke mobil.
__ADS_1
"Kak?" panggil Celine lirih ketika mobil yang ia kendarai bersama sang kakak melaju kencang dan pria itu yang mendiami nya.
"Tadi Vicky cuma bicara aja kok, kami gak ada apa-apa kak..." ucap nya lirih.
Steve pun menepikan mobil nya di jalan raya yang sunyi itu.
Greb!
Auch!
Ringis Celine ketika pria itu mencengkram lengan nya dengan kuat, "Kak, sakit..." cicit nya lirih.
Steve perlahan mengatur napas nya dan melonggarkan cengkraman nya, "Celine sayang kakak?" tanya nya pada gadis itu sembari mulai menyentuh pipi gadis itu.
Satu anggukan menjadi jawaban gadis itu, dan memegang tangan sang kakak yang menyentuh pipi nya dan juga memainkan bibir nya dengan ibu jari.
"Kakak juga sayang Celine, sayang sekali..." ucap nya lirih pada gadis itu.
Ia menarik tubuh gadis itu, melihat wajah yang terlihat takut dan bingung secara bersamaan itu di dekat nya.
Tangan nya menyentuh wajah halus gadis itu secara perlahan namun menyeluruh.
"Celine itu cuma milik kakak, punya kakak..."
"Gak ada yang boleh deketin Celine, kalau tidak..." ucap nya menggantung.
"Kak..." panggil Celine lirih yang merasa asing melihat tatapan sang kakak yang seperti haus akan diri nya.
"Kalau tidak kakak mungkin bisa gila, jadi jangan lakukan hal seperti itu..." sambung Steve sembari menjatuhkan kepala nya di bahu gadis itu.
"Celine sayang kakak juga kok, kakak itu kesayangan Celine, kalau kakak mau apa aja Celine bakal kasih..." ucap nya pada pria itu yang bingung, takut dan merasa bersalah di saat bersamaan.
Steve mengangkat kepala nya, menatap ke arah gadis itu dan tersenyum simpul setelah mendengar ucapan polos itu.
"Apapun?" tanya nya mengulang.
Satu anggukan menjadi jawaban gadis itu, "Apapun yang kakak mau," jawab nya pada pria itu.
Setelah melihat raut dan emosi pria itu membaik, gadis itu melanjutkan ucapan nya sembari memegang tangan pria itu.
"Celine kak milik kakak," jawab nya dengan senyuman cerah yang polos tanpa tau arti dari apa yang ia ucapkan.
Steve tersenyum ia mengecup dahi gadis itu dengan lembut, amarah nya mereda ia menjadi tenang sesaat namun ia masih merasa begitu cemburu.
"Tapi Celine tetap harus di hukum, kakak bilang kan gak boleh dekat dengan anak laki-laki lain selain kakak." ucap nya pada gadis itu dengan berbisik.
Celine terdiam namun ia merasakan hawa suara sang kakak yang seperti tak mungkin menyakiti nya.
"Hukuman nya yang kayak semalam kak?" tanya nya dengan tatapan polos dan benar-benar mengira hal itu adalah hukuman yang wajar seperti saat sang ibu menyuruh nya berdiri menghadap tembok ketika ia nakal.
Pria itu menunjukkan smirk nya ketika melihat tatapan polos sekaligus bingung itu.
"Iya, tapi kali ini bakal sedikit sakit." bisik pria itu dan mulai melajukan mobil nya lagi.
......................
Hotel.
Gadis itu melihat ke arah sang kakak yang tengah memesan kamar sedangkan ia hanya menunggu dengan polos nya dan mengikuti tanpa merasa curiga sama sekali.
"Ayo," ucap pria itu dengan lembut sembari menarik tangan adik nya yang masih mengenakan seragam itu.
Bruk!
Tubuh gadis itu terhempas tepat di atas ranjang empuk, ia melihat sang kakak yang beranjak mendekat ke atas tubuh nya.
Dalam satu detik kemudian tangan pria itu langsung membalik tubuh kecil yang masih ranum itu hingga membuat Celine menjadi telungkup saat ini.
Plak!
"Aduh!" ringis Celine ketika satu pukulan tepat mendarat di bok*ng nya.
"Kok di pukul kak? Kan sakit..." rengek Celine pada pria itu.
"Kakak bilang kan bakalan sakit hukuman nya," ucap pria tampan itu sembari mencium daun telinga gadis itu.
"Tapi kak aku cu-"
Plak!
Ucapan nya terputus ketika satu pukulan yang cukup kuat mendarat di bok*ng gadis itu.
"Kakak sakit..." ucap nya lagi yang merengek, saat masih kecil ia bahkan pernah membuat drama pagi dan menangis seharian hanya karna tertusuk duri mawar.
Dan kini?
Sang kakak memukul bok*ng nya dua kali tentu membuat nya langsung merengek kesakitan.
"Sekarang sudah mau dengar kakak kan?" tanya pria itu lagi pada gadis yang masih telungkup dengan cemberut itu.
Walaupun kesal Celine tetap mengangguk.
"Sekarang, kamu lepas dasi kamu." ucap Steve pada gadis itu.
"Buat apa kak?" tanya Celine dengan bingung.
"Kata nya mau lakuin apapun buat kakak? Sayang sama kakak?" tanya Steve membuat gadis itu langsung menurut.
"Tapi kakak kan lagi hukum Celine..." ucap nya lirih dengan takut.
"Karna Celine nakal, udah nurut aja..." Steve yang melihat gemas sembari mencubit hidung mancung gadis itu
Namun pria itu masih ingin bermain lebih jauh dan hari ini adalah awal dari permainan sesungguhnya sekaligus membuat gadis itu menjadi milik nya.
Celine pun dengan polos nya memberikan dasi nya pada sang kakak, pria itu tersenyum dan mengambil nya.
Pertama yang ia lakukan adalah mengikat kedua tangan gadis itu, walaupun bingung Celine tak memberontak sama sekali.
Gadis itu sedikit kebingungan ketika sang kakak mulai melucuti seragam nya setelah mengikat kedua tangan nya.
"Kak? Kok seragam Celine di lepas?" tanya gadis itu yang mulai bergerak ingin menepis tangan sang kakak.
"Sstt! Kemarin malam juga di lepas kan? Hukuman nya hampir sama, tapi karna Celine hari ini lebih nakal kakak bakal hukum nya agak sakit." ucap Steve pada gadis itu.
Selama 11 tahun ia membatasi sosial dan memanipulasi pandangan gadis itu serta pikiran nya agar hanya tau tentang diri nya dan menjadi begitu bergantung pada nya.
"Tadi Celine kan udah di pukul..." cicit gadis itu pada sang kakak.
Steve tak menjawab, ia hanya terus melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh ranum itu hingga benar-benar polos.
__ADS_1
Gadis itu mulai merasa malu ketika tubuh nya tak lagi mengenakan apapun dan di lihat oleh orang lain, kedua tangan nya yang terikat dan menyatu itu menutup ke arah dada nya karna hanya itu yang bisa ia tutupi dan merapatkan kedua kaki nya.
"Kak, Celine malu..." ucap nya lirih.
"Malu kenapa? Kan sama kakak? Celine bilang bakal lakuin apapun buat kakak?" tanya pria itu sembari mulai melepaskan pakaian yang ia pakai.
"Kakak kenapa buka baju juga? Yang di hukum kan Celine?" tanya nya dengan wajah yang polos dan tak mengerti.
Pria itu tak menjawab melainkan hanya tersenyum penuh arti.
"Sekarang buka mulut nya," perintah nya pada gadis berusia 17 tahun ketika ia menindih nya.
Wajah gadis itu memerah, tubuh yang penuh otot serta tak memakai apapun membuat nya tak bisa memandang sang kakak.
"Why?" tanya Steve tersenyum saat melihat wajah gadis itu memerah semu.
"Your body so hot," jawab gadis itu lirih tanpa sadar, "UPS!" Celine langsung menutup mulut nya dengan tangan yang terikat itu ketika menyadari apa yang ia katakan.
"Do you wanna feel it?" tanya pria itu tersenyum sembari mulai mel*mat bibir gadis itu.
Celine yang masih bingung dengan maksud perkataan sang kakak pun langsung teralihkan dengan lum*tan yang membelit lidah nya.
Tangan yang dengan usil kembali bermain di d*da gadis itu.
Celine tersentak namun tak menolak nya sama sekali, ia membiarkan hisapan lembut di bibir nya dan tangan yang dengan jahil ke seluruh bagian tubuh nya.
"Kak..." panggil nya lirih ketika ia mulai kembali aneh.
Pria itu tak menjawab melainkan memangut puncak tubuh gadis itu dan semakin turun hingga membuka kaki gadis itu.
"Kak? Ja...jangan lihat..." gumam nya lirih dengan malu ketika tau sang kakak tengah memandang diri nya hingga ke dalam.
Cup,
Gadis itu tersentak ketika mendapat kecupan tepat di bagian inti nya, sedangkan Steve tersenyum melihat gadis nya yang masih murni dan sebentar lagi kemurnian itu akan hilang oleh nya.
"Kak? Ke...kenapa di cium? Kan..." ucap nya lirih yang takut sang kakak merasa kotor.
Steve tak menjawab dan mulai menghisap apa yang ada di depan nya, gadis itu tersentak ia terkejut namun tubuh nya begitu menyukai hal tersebut.
Steve mulai bangun, ketika ia merasa tubuh gadis itu sudah siap oleh nya ia langsung ingin menyatukan nya.
"Kak? Itu mau di masukin?" tanya nya lirih dengan memandang takut dan malu.
"Celine? Celine kan lagi di hukum? Harus nurut, kata nya mau lakuin apa aja buat kakak?" tanya Steve dengan mendominasi gadis itu.
"Takut kak, nanti Celine bisa hancur..." cicit nya pada sang kakak sembari menjauhkan diri nya.
"Gak akan hancur, memang nya kakak mau hancurin Celine?" tanya Steve yang sudah semakin tak tahan mengandalkan diri nya.
"Takut..." ucap nya lirih sembari mendorong dada bidang itu dengan tangan kecil nya yang terikat.
Steve pun langsung memegang dan mengarahkan tangan gadis itu ke atas kepala nya, "Sstt, kalau takut tutup mata aja, cuma sakit sedikit aja..." bisik nya sembari mengecup pipi gadis itu.
Celine terdiam, sang kakak tak mendengarkan nya membuat nyali nya berangsur ciut.
"Kak..." panggil nya lirih dengan wajah memelas karna takut.
Pria itu memegang tangan gadis itu yang masih terikat itu sembari menutup mata Celine dengan tangan nya yang lain.
Tentu saja untuk menyatukan diri dengan gadis itu begitu sulit, tak pernah tersentuh dan tubuh ranum remaja yang masih beranjak dewasa.
Ukh!
Celine tersentak, sesuatu memasuki nya dah membuat nya merasakan rasa sakit dan perih secara bersamaan.
"Kak, Celine gak mau kak. Sakit..." rengek nya pada sang kakak.
Pria itu tak bisa mengatakan apapun, ia merasakan sesuatu yang membuat nya ingin melayang ketika berhasil membuat gadis itu menjadi milik nya.
"Sakit nya cuma sebentar, sedikit aja. Setelah itu gak sakit lagi..."
"Tahan yah, Celine kan gadis baik..." ucap nya dengan suara berat sembari mulai menggerakkan tubuh nya dengan pelan.
Gadis itu tak menjawab namun ia hanya meringis ketika sang kakak bergerak, melihat gadis itu yang tengah menahan sakit Steve pun mulai kembali memangut bibir merah muda ranum itu dan melahap nya.
Pria itu begitu terbakar oleh rasa kepemilikan, hasrat, dan cinta yang di balut dengan n*fsu, ia hampir kehilangan kendali sedangkan gadis itu mulai membaik walaupun masih meringis sesekali.
....
Mata yang terpejam sembari menunjukkan raut lelah sekaligus masih menahan sakit, rambut yang basah oleh keringat, tubuh yang penuh dengan bekas kepemilikan di balik selimut itu membuat Steve tersenyum.
Pria itu mengecup lembut dahi gadis yang tengah tidur itu lalu memeluk nya sebelum ia ikut tertidur, ia bahkan tak ingat sudah berapa kali mengeluarkan semua vanila nya di tubuh kecil gadis remaja itu.
Pukul 09.30 am
Gadis itu terbangun ketika matahari telah meninggi, ia melihat ke arah sebelah nya yang tak ada siapapun.
"Kakak?" panggil nya lirih mencari pria yang membuat seluruh tubuh nya sakit.
"Sudah bangun?" tanya Steve sembari mendekat dan mengusap kepala gadis itu, "Minum ini, abis itu makan. Semalam lupa makan malam kan?"
Steve membelikan pil kontrasepsi pada gadis itu sekaligus makanan yang di sukai nya agar gadis kesayangannya tak marah sedangkan wajah cemberut itu membuang muka pada sang kakak.
"Sakit tau kak! Kakak gak rasain kayak aku sih!" ucap nya dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf yah, Celine nakal sih kan kakak hukum Celine." ucap Steve sembari mengecup lembut dahi Celine.
"Tapi sakit, kakak jahat..." ucap nya lirih dengan menahan tangis.
"Iya, kali kakak salah. Buat Celine sakit, semalam sakit sekali?" tanya Steve lagi sembari memeluk gadis itu dalam dekapan nya.
Celine mengangguk, Steve hanya mengelus dan kembali memanjakan gadis cantik itu.
"Minum obat nya yah? Hari ini libur sekolah aja dulu, kakak tadi sudah telpon ke sekolah sama ke Mama Papa bilang kalau Celine sama kakak." ucap nya pada gadis itu yang kembali memberikan pil kontrasepsi agar gadis itu setidak nya tak hamil sebelum tamat sekolah.
Gadis itu masih cemberut namun tetap dalam dekapan sang kakak tanpa menolak nya, semanja apapun yang ia lakukan pria itu tak akan marah pada nya.
"Kakak beli es krim, Celine suka kan? Jangan marah lagi dong sama kakak, kakak kan udah minta maaf?" ucap Steve sembari mengecup pipi gadis itu dengan gemas.
"Tapi sakit..." ucap nya lirih.
"Maka nya kamu minum obat dulu, hm? Adik kakak kan gadis baik." ucap Steve lagi.
Gadis itu pun beranjak mengambil pil yang di berikan sang kakak, ia bahkan tak tau ketika dirinya telah kehilangan sesuatu yang berharga darinya.
Steve tersenyum ia mengecup bibir gadis itu ketika sudah selesai meminum pil yang ia berikan, "Thanks, my lovely..." bisik nya pada gadis itu.
Celine hanya menatap bingung, ia tak tau kenapa sang kakak berterimakasih pada nya.
__ADS_1
Gadis yang tak begitu pintar serta pergaulan sosial yang tanpa sadar di manipulasi sang kakak membuat nya memiliki teman dekat yang sedikit walaupun begitu banyak yang ingin menjadi teman nya.