
Apart Venelue'ca
Axel memutar pensil yang berada di tangan nya sembari berusaha menjernihkan pikiran nya yang ingin marah pada gadis yang makan potato chips dengan santai di atas ranjang nya namun berusaha menahan nya.
"Lily? Kotor tempat tidur aku!" ucap nya yang ingin gadis itu beranjak.
Berada di dalam rumah hanya berdua dan juga berada di dalam kamar pun hanya berdua.
"Tinggal di bersihin Axel," ucap Emily enteng sembari mengibaskan tangan nya di serpihan makanan yang jatuh ke sprei teman nya.
"Lily!" panggil Axel lagi semakin keras.
Emily hanya memincing, ia kesal karna beberapa hari yang lalu teman nya menggoda nya dan melakukan hal yang paling tidak di sukai teman nya juga.
Yaitu makan di atas tempat tidur dan meninggalkan serpihan makanan nya.
Tak lama kemudian ponsel nya berdering ia membaca pesan dari sang ibu untuk segera ke perusahaan.
Apa lagi jika bukan untuk melatih nya secara perlahan menjadi pewaris.
"Mommy kirim pesan, dia suruh aku sana." ucap Axel dan gadis itu pun langsung turun serta mendekat.
"Yah..."
"Padahal mau makan masakan Tante," ucap Emily membuang napas panjang melihat nya.
"Kau mau di sini aja? Atau aku antar pulang?" tanya Axel pada gadis itu sembari merasakan rambut panjang yang turun ke tengkuk nya karna gadis itu membungkuk melihat layar ponsel nya.
"Pulang aja deh! Nanti kapan-kapan main ke sini," jawab Emily ringan pada teman pria nya.
...
Axel berulang kali membuang napas nya karna ia memang tak begitu menyukai ikut dalam proses yang berhubungan dengan perusahaan.
Namun begitu ia tetap mengikuti nya karna tau sang ibu juga bekerja mati-matian di tempat itu. Waktu yang terasa panjang itu pun akhirnya berkahir.
"Udah selesai? Bosan? Hm?" tanya Ainsley tersenyum sembari mengacak rambut putra nya.
"Mommy kok bisa tahan sih sama mereka?" tanya nya mengernyit yang sadar beberapa tatapan yang tak bersahabat pada ibu nya.
"Kalau Mommy gak bisa tahan nanti Axel gimana?" tanya Ainsley tertawa kecil pada putra.
"Lagi pula juga kan kita masih gak akan kekurangan kalau pakai harga saham aja kan?" tanya nya lagi pada sang ibu.
Ia mulai berpikir jika lebih menyenangkan menggunakan saham saja namun tidak menduduki posisi apapun.
"Yakin?" tanya Ainsley sembari memincingkan mata nya dan senyum yang tak percaya.
"Mommy!" ucap Axel yang merasa sang ibu telah mempercayai nya.
"Terus mobil kamu yang setiap ada keluaran terbaru beli, jam tangan, pakaian, sepatu kamu juga."
"Kalau Mommy gak kerja, gak bisa tahan yang seperti itu kamu mau dapat yang ada sama kamu sekarang ini dari mana?" tanya Ainsley pada putra nya.
Axel langsung terdiam, memang benar ia menghabiskan uang yang sangat banyak untuk biaya hidup nya yang benar-benar boros dan sang ibu tak pernah memarahi nya.
"Kalau Mommy nyuruh aku hemat aku bisa hemat kok!" ucap nya mengelak.
Mau seperti apapun kelakuan nya di luar namun saat berhadapan dengan sang ibu ia selalu terus sama seperti bocah Lima tahun.
"Mommy gak akan nyuruh kamu untuk hemat, tapi Mommy akan ajari kamu untuk cari pemasukan dari pengeluaran kamu yang besar." ucap Ainsley tersenyum.
"Maksud Mommy kalau aku mau punya hidup yang begini terus harus ada usaha?" tanya nya mengernyit.
Hanya senyuman untuk jawaban tepat putra nya, ia memang memberikan hal material yang begitu sempurna untuk putra nya namun ia juga tak memberikan nya cuma-cuma karna ia mau putra nya belajar bagaimana cara mendapatkan uang untuk semua itu.
Dan jika berhasil maka tak perlu memarahi untuk biaya hidup yang boros namun putra nya akan memanajemen sendiri keuangan nya.
"Iya, tapi sekarang Axel gak perlu pikirin itu dulu. Axel sekolah yang rajin jadi anak baik terus nikmati masa muda Axel aja dulu." ucap nya sembari mencubit pipi putra nya.
Axel pun tau hal itu karna sang ibu tak pernah membatasi nya untuk apapun namun memberikan contoh gambaran nyata atas sebab akibat dari perbuatan nya.
"Axel ke toilet dulu Mom," ucap nya beranjak dari sang ibu.
Mereka memang menuju ruangan wanita itu, namun ia begitu tak sabar untuk segera pergi bahkan tak menunggu sampai di ruangan sang ibu.
__ADS_1
Pria itu mencuci wajah nya dengan membilas air, setelah itu masuk ke salah satu bilik toilet yang berada di kamar mandi tersebut.
"Kau lihat tadi wanita itu?"
"Siapa?"
"Presdir kita lah!"
"Iya, dia masih cantik yah? Masih kayak anak gadis,"
"Tapi dia tidak punya suami kan? Sudah sangat lama seperti nya,"
"Haha, kenapa kau bahas itu? Mau jadi simpanan nya?"
"Pegawai baru yang banyak yang suka dia, lumayan juga kan kalau jadi simpanan wanita begitu."
"Tapi dia tidak ada skandal apapun,"
"Halah! Mana mungkin dia gak pernah main di luar, memang nya normal wanita begitu gak pernah coba?"
"Kalau gak pernah bisa jadi janda rasa perawan kan? Haha,"
"Apa aku harus coba goda dia juga? Biasanya kan orang begitu suka kesepian? Haha!"
"Nanti kalau dia liar kau malah repot?"
"Panggil yang lain juga lah, biasa nya yang diam aja kayak gitu sih malah makin banyak yang di sembunyiin, bisa aja dia suka main sekalian banyak kan? Maka nya kayak gak tertarik sama siapapun?"
"Haha! Gila juga*!"
Percakapan yang membuat telinga remaja itu memanas mendengar nya.
Ia tau ucapan yang cenderung menghina sang ibu sedang begitu menari-nari di telinga nya, mungkin saja hal tersebut hanya di jadikan bahan candaan ataupun bicara seseorang.
Namun mendengar orang lain membicarakan fantasi kotor tentang ibu kesayangan nya tentu nya membuat darah nya meninggi.
Brak!
Beberapa orang yang sedang buang air kecil ataupun bercermin terkejut saat mendengar suara pintu yang di buka dengan keras tersebut.
Hanya ada 4 orang yang berada di sana namun ia tak tau mulut kotor mana yang membicarakan ibu nya.
Duk!
Duk!
"Aduh! Mau patah!"
Ucap salah satu pria yang di tabrak dengan keras dari belakang oleh remaja pria itu.
"Dasar! Kenapa bisa ada anak kecil di sini?" ucap salah satu pria itu yang hampir terjatuh karna salah satu kebanggaan nya terasa ingin patah.
Prang!
Tangan yang mencengkram wajah pria di depan nya dan membenturkan nya ke cermin tepat yang berada di samping nya.
"Ups! Maaf!" ucap nya yang kemudian bersikap dan berbicara seperti tak terjadi apapun dan tak sengaja.
"Bo-bocah gila ini!" ucap pria yang memegang kepala nya hingga berdarah tersebut.
"Paman kok marah? Kan aku gak sengaja?" tanya nya dengan wajah yang semakin membuat pria di depan nya naik pitam.
Ia ingin memukul balik namun remaja itu menghindari nya dan mengambil salah satu pot bunga segar untuk netralisir udara di dalam toilet dan,
Prang!
Bugh!
Suara kekacauan yang terdengar di buat oleh remaja pria berparas tampan itu.
...
Ainsley membuang napas nya lirih melihat wajah putra nya yang menunduk setelah membuat kekacauan nya luar biasa hingga membuat ke empat pegawai nya masuk rumah sakit.
"Kau ajari apa sama anak ku?" tanya Ainsley pada Liam yang juga berada di tempat itu.
__ADS_1
"Hanya cara untuk melindungi diri saja," jawab Liam berdehem sembari membuang wajah nya.
"Cara melindungi diri sampai ada leher yang patah? Itu cara buat bunuh orang," ucap Ainsley pada pria yang secara tak langsung juga mempengaruhi tumbuh kembang putra nya.
"Mereka yang salam Mom," ucap Axel lirih sembari terus menunduk seperti anak kucing yang basah pada ibu nya.
"Mereka salah apa?" tanya Ainsley membuang napas nya panjang.
"Mereka itu jelekin nama Mommy! Bilang yang enggak-enggak! Mereka itu hina Mommy!"
"Aku aja masih ngerasa belum cukup sama yang aku kasih tadi!" jawab nya langsung yang terselip emosi di dalam nya.
"Mommy bilang kan kalau ada mengajak pertengkaran dari kata-kata balas nya juga pakai kata-kata kan?" tanya nya lagi pada putra.
"Ehem!" Liam mebatukkan diri nya sejenak, "Axel kan jadi anak kuat harus nya anda bangga," gumam Liam agar wanita itu tak begitu memarahi putra nya.
Karna jujur saja ia bangga dengan didikan nya yang menjadikan remaja yang ia anggap seperti anak nya itu menjadi kuat seperti tuan nya dulu.
"Aku mau bicara sama Axel," ucap Ainsley yang memberi kode agar pria itu keluar.
Liam pun tau tau dan beranjak keluar. Ainsley bangun dari duduk nya ia pergi sejenak lalu mendekat dan duduk di samping putra nya.
"Mana tangan nya yang luka?" ucap nya sembari membuka kotak P3K untuk putra kesayangan nya.
"Mommy gak marah kok, Mommy seneng kalau Axel bela Mommy,"
"Tapi Mommy gak suka kalau lihat bertengkar seperti itu." ucap nya sembari memberikan antiseptik di tangan putra nya.
"Tapi mereka keterlaluan Mom! Mereka itu gak tau apapun tapi bicara seenak nya aja tentang Mommy!" ucap Axel lagi yang masih tak terima percakapan yang mengandung hinaan untuk sang ibu.
"Axel? Mommy itu gak mau lihat Axel luka begini? Mommy gak tidur semalam bukan untuk lihat Axel luka karna bertengkar nak," ucap nya yang pada putra nya dengan lembut.
Tak ada jawaban dari ucapan wanita itu, Ainsley mendekat dan memeluk putra nya yang bagi nya sifat kekanakan yang terkadang masih sangat melekat.
Mudah marah, mudah cemburu, dan tidak ingin mengalami kekalahan sifat yang semakin melekat di dalam diri putra nya.
"Mommy gak apa-apa," ucap nya sembari menepuk punggung yang semakin tumbuh bidang itu.
"Kalau Daddy masih ada mungkin mereka gak akan bicara begitu," ucap nya lirih ketika sang ibu memeluk nya.
"Kalau gitu Mommy cari Daddy baru boleh tidak?" tanya Ainsley dengan tawa kecil.
Ia ingin segera mengalihkan pembicaraan tentang ayah putra nya karna ia tau Axel akan langsung merubah mood nya dan terlihat tak baik-baik saja karna ketika mengingat sang ayah rasa rindu nya pun akan membuncah pecah.
"Mommy!" ucap Axel yang yang langsung mengernyit tak suka pada ucapan sang ibu.
Ainsley hanya tertawa kecil melihat wajah tak suka putra nya.
"Jadi Mommy gak boleh nikah?" tanya Ainsley pada putra nya lagi.
"Anak mana sih yang mau lihat orang tua nya nikah lagi?!" tanya nya dengan nada tak senang menjawab pertanyaan sang ibu.
Ainsley hanya tersenyum mendengar nya, ia terkadang memang membutuhkan sandaran namun yang lebih ia butuhkan adalah kebahagian putra kesayangan nya itu.
"Iya, Mommy gak nikah lagi kok." ucap nya tersenyum.
Tak lama kemudian ponsel wanita itu bergetar saat seseorang menelpon nya.
"Mommy punya pacar? Atau udah pacaran sekarang?" tanya Axel mengernyit melihat nama panggilan di ponsel sang ibu.
"Tidak, kenapa tanya begitu?" tanya Ainsley mengernyit.
"Itu paman Sean telpon Mommy," ucap nya dengan nada tak suka.
Ainsley pun menoleh dan menatap panggilan di ponsel nya.
"Bukan pacaran kok," ucap nya nya pada putra nya.
"Ayah ku itu cuma satu! Selain Daddy aku gak mau yang lain! Aku juga bisa jagain Mommy kok!" ucap nya lagi.
"Iya Axel," ucap Ainsley tersenyum melihat putra nya yang tak berubah sejak dulu.
Apalagi semenjak mengetahui mengapa sang ayah meninggal membuat nya semakin tak ingin sang ibu menikah kembali.
Seiring berjalan nya waktu ia perlahan mulai mengetahui tentang alasan sang ayah meninggal semua nya kecuali alasan sebenarnya sang ibu sampai membutuhkan donor jantung saat itu.
__ADS_1
Ainsley pun juga menutupi hal tersebut karna tak ingin putra satu-satu nya yang ia miliki tau jika ia pernah mencoba mengakhiri hidup nya dengan cara yang begitu ekstrim.
Ia tak ingin putra nya tau apapun tentang kesehatan mental yang pernah ia miliki dulu nya atau apapun yang berhubungan dengan hidup nya yang suram dahulu.