
Mansion Evans
Gadis itu kembali malam setelah berada satu harian di dalam hotel dengan sang kakak.
Pria itu tak membiarkan nya begitu saja setelah rasa sakit nya berkurang, ia kembali mengulangi apa yang ia lakukan sebelum nya ketika memandikan gadis cantik itu.
"Kak? Pegel semua..." ucap nya lirih pada sang kakak sembari memegang lengan pria itu.
"Mau kakak gendong lagi?" tawar Steve pada gadis itu.
Celine menggeleng, ia sering mendengar ucapan sang ibu untuk tak terlalu dekat dengan sang kakak dan takut jika ia akan di marahi lagi ketika sang kakak menggendong nya.
"Celine? Masih sakit?" tanya nya pada gadis itu dengan lembut.
Gadis itu terdiam beberapa saat, ia mendengar dan mendapatkan perlakuan lembut dari sang kakak namun ketika berada dalam hal lain nya pria itu tak bersikap lembut sama sekali, kecuali saat pertama melakukan nya.
"Kalau gini aja baik sama Celine! Yang tadi tuh?" sindir nya mengingatkan pada sang kakak ketika pria itu bermain di atas tubuh nya beberapa waktu sebelum nya.
"Celine? Celine sudah pulang nak?" tanya Freya yang datang dan mendekat.
"Sudah Mah," jawab gadis itu tersenyum pada sang ibu sampai melupakan perdebatan kecil nya.
Steve melirik ke arah gadis itu dengan smirk nya, ia membeli pakaian yang tertutup untuk menutupi jejak yang ia buat di tubuh kecil itu.
Freya hanya diam dan menarik napas nya,entah apa alasan putra sambung nya membawa putri kesayangan nya itu hingga sang suami mengizinkan begitu saja.
......................
Satu Minggu kemudian
Gadis itu tertawa kecil ketika berbicara dengan teman-teman nya, ia menatap ke arah teman sebaya nya yang mulai berbicara hal yang tak ia ketahui.
"Celine sih, gak pernah ikut main sama kita." celetuk teman gadis itu.
Celine hanya tersenyum mendengar nya, sang kakak tak pernah memberikan nya izin untuk keluar dengan teman-teman nya yang lain.
"Nanti kita mau ke cafe xx? Celine ikut?" tanya teman gadis itu.
Celine diam ia berpikir sejenak dan kemudian mulai menjawab, "Iya! Aku ikut!" celetuk nya dengan senyuman cerah.
...
Humph!
Suara bibir yang saling mengecup itu terdengar memenuhi mobil mewah berwarna hitam itu, Steve dengan gemas mel*mat bibir gadis remaja yang berada di atas pangkuan nya itu.
Ia memikirkan bangku mobil nya sehingga memberi posisi yang tepat untuk nya melakukan hal lebih.
"Kak?" panggil gadis itu lirih setelah tautan nya terlepas.
"Hm? Ada apa?" tanya pria itu sembari membelai rambut gadis yang masih mengenakan seragam itu.
"Kakak gak sibuk?" tanya Celine yang memalingkan pandangan nya saat ia ragu mengatakan akan pergi.
"Beberapa hari ini kakak bisa kok antar jemput Celine," ucap nya tersenyum dan menatap hangat ke gadis itu.
"Kak? Celine pergi main sama temen Celine yang lain yah kak?" tanya gadis itu dengan ragu.
Senyuman dan tatapan hangat pria itu perlahan berubah, ia tak suka jika gadis nya pergi ke tempat lain tanpa nya.
"Kenapa? Kan bisa pergi nya sama kakak?" tanya Steve yang langsung mengernyit.
"Kan beda kak..." ucap gadis dengan cemberut sembari memainkan kancing kemeja sang kakak.
"Celine tuh masih kecil, di luar itu bahaya. Ingat yang terakhir kali kan?" tanya pria itu sembari mengingatkan kejadian yang ia buat sendiri agar gadis polos itu takut untuk keluar rumah tanpa nya.
"Tapi kali ini banyak kak yang ikut, Celine mau ikut juga..." ucapnya lagi dengan nada manja namun wajah yang sedikit cemberut.
Steve menarik napas nya, ia tau jika terlalu banyak mengekang gadis itu akan membuat nya semakin memberontak di lain hari.
"Berapa orang yang ikut?" tanyanya mulai mengalah.
Mata Celine berbinar mendengarnya, "Tujuh kak! Termasuk Celine! 2 Laki-laki 5 Perempuan!" ucap nya yang mengatakan gender wanita lebih banyak.
Steve tak suka saat mendengar ada pria yang ikut dengan gadis nya namun karna mendengar lebih banyak wanita ia pun menyetujui nya.
"Kabari kakak kalau sudah sampai," ucap nya pada gadis itu.
Celine tersenyum cerah dan mengangguk semangat.
"Love you kak," ucap gadis itu sembari mengecup bibir pria itu.
Siapa lagi yang mengajari bertingkah seperti itu sekarang kalau bukan pria yang sudah terus menerus melakukan hal terlarang itu pada nya.
Steve tersenyum, tak sia-sia ia terus mengatakan kalimat yang sama hingga membuat gadis itu mengikuti nya tanpa sadar.
"Love you too, babe." balas nya sembari mengecup leher gadis itu.
"Kak? Kita di mobil..." ucap Celine lirih ketika sang kakak mulai mengecup dalam leher nya dan membuka satu persatu seragam nya.
"Di sini sunyi, kaca nya juga hitam. Jadi gak apa-apa..." jawab Steve lirih karna kini wajah nya sudah terbenam di antara bukit ranum adik nya.
"Ta..tapi kak..." ucap Celine lirih sembari mendorong kepala pria itu karna mulai merasa geli akan sapuan hangat lidah sang kakak.
Tubuh nya yang masih remaja itu tentu nya merespon rangsangan yang di berikan pada nya, apa lagi dari seseorang yang ia pikir tak akan menyakiti nya.
Ukh!
Gadis itu tersentak jari sang kakak sudah menyelinap di dalam rok nya, serta gigitan kecil membuat dada putih nya memerah.
"Kata nya cinta sama kakak? Kenapa sekarang gak mau?" tanya pria itu sembari mulai menyeruak masuk menggunakan jemari kekar nya.
"Ka..kakak..." ucap gadis itu lirih dengan wajah merah dan mata yang sayu dan semakin membuat napas pria itu naik dan turun di saat bersamaan.
"Sstt, jangan nakal. Kalau gadis yang baik itu harus nurut." ucap nya yang kini semakin sulit mengendalikan diri nya ketika sudah kecanduan dengan tubuh adik yang tak memiliki hubungan darah dengan nya itu.
Celine tanpa sadar terdiam, kepala nya mengangguk mengindahkan ucapan sang kakak hingga membuat smirk pria itu terlihat.
Steve tak lagi menyia-nyiakan kesempatan, ia melakukan pengecasan energi nya dengan cepat hingga membuat gadis itu terkulai di atas dada bidang nya.
...
Celine mengatur napas nya ketika sudah selesai melakukan hal yang membuat nya seakan ingin melayang.
Sedangkan sang kakak yang terlihat masih berenergi itu tersenyum dan mengancingkan kemeja di seragam nya satu persatu dan merapikan nya lagi.
__ADS_1
"Kak? Yang di sini lengket," ucap nya lirih sembari menunjuk ke arah bagian privasi nya.
Pria itu tertawa kecil mendengar nya, bagaimana tidak? Ia mengeluarkan semua vanila nya hingga tak lagi tertampung di tubuh mungil itu yang bahkan masih terlihat sang kecil di banding kan usia asli nya.
"Gak apa-apa, nanti kakak mandiin di rumah..." bisik nya dengan senyuman simpul yang ingin melanjutkan permainan nya.
Gadis itu mengangguk dengan wajah polos nya tak mengerti arti senyuman nakal sang kakak yang ingin memandikan nya
"Ini, minum lagi." ucap Steve yang selalu membawa pil kontrasepsi ketika bersama gadis itu.
"Ini buat apa sih kak?" tanya Celine mengernyit.
"Minum saja, itu vitamin." jawab nya berdalih, "Nanti kalau Celine sudah tamat sekolah kakak gak akan suruh Celine buat minum ini lagi." sambung nya sembari mengecup gemas pipi gadis yang terlihat bingung itu.
"Kenapa harus waktu tamat sekolah kak? Berarti kalau kuliah udah gak minum lagi?" tanya nya dengan bingung.
"Iya, sekarang kan Celine masih kecil. Masih butuh vitamin." jawab pria itu yang mengatakan kebohongan pada adik nya.
Ia tak ingin masa remaja gadis nya hancur begitu cepat jika sampai mengandung anaknya, maka dari itu ia menunggu hingga sang adik lebih dewasa lagi.
Celine hanya mengangguk mengiyakan dan mempercayai kata-kata sang kakak, ia yang jarang keluar bermain dengan teman nya dan bahkan tak memiliki media sosial tentu nya membuat nya tak tau menahu hal-hal seperti itu.
......................
2 Hari kemudian.
Kfdrty Software Company
Steve berjalan masuk ke arah bangunan besar itu, ia memiliki dan membuat aplikasi yang berpotensial hingga membuat perusahaan yang memiliki nama itu melirik nya dan ingin melakukan kerja sama.
"Baik, tapi saya ingin memiliki jaminan lagi." ucap pria itu yang mulai negosiasi dengan pemilik nya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya pria yang sudah berumur setengah abad itu selaku pemilik perusahaan besar itu pada pria di depan nya.
"Jadikan aku direktur perencaan dan pengembangan aplikasi selama dua tahun," jawab Steve tersenyum, bahkan tanpa meminta nya Presdir perusahaan itu akan merekrut nya.
Namun ia hanya perlu waktu dua tahun untuk membangun relasi, mengumpulkan kekayaan tanpa bantuan sang ayah lalu mendirikan perusahaan nya sendiri agar tetap bisa membuat gadis kesayangan nya hidup dengan nyaman.
Pria itu pun langsung menyetujui, tentu nya ia tak ingin kehilangan seseorang yang sangat memiliki potensi untuk perusahaan nya, "Tentu saja!" jawab nya tersenyum dan menjabat tangan Steve.
......................
Sementara itu.
Celine sudah menunggu cukup lama, belum ada yang datang hingga membuat nya terus berdiri sendirian dan mulai merasa tak nyaman.
"Celine?"
Suara yang langsung membuat nya menoleh ke arah remaja pria yang mendekat pada nya.
"Yang lain mana?" tanya gadis itu dan menoleh ke arah Vicky yang baru saja tiba.
"Harus nya kan aku yang tanya," jawab pria yang terlihat terengah-engah karna mencari tempat dengan berlari saat ia kira sudah terlambat.
"Belum datang," jawab nya lirih dan mengira teman-teman nya menipu nya.
Vicky melihat ke arah jam tangan nya, "Ternyata masih jam segini, belum datang lah." ucap nya yang ternyata datang tepat waktu dan bukan nya terlambat.
"Aku udah nunggu dua jam loh," ucap gadis itu dengan cemberut.
Celine langsung memeriksa ponsel nya, tak ada satu pun yang membicarakan tentang perubahan waktu di grup yang berada di chat nya.
"Kalian buat grup baru yang gak ada aku yah?" tanya nya lirih dan mulai lesu.
Sebelum nya sang kakak memakai ponsel nya, Steve yang tau jika perubahan jam temu gadis itu membuat nya menghapus pesan tersebut di ponsel adik nya sebelum memberikan nya kembali.
"Kamu ini bicara apa sih?" tanya Vicky mengernyit sembari menatap bingung.
Celine terlihat cemberut, ia merasa teman-teman nya mengasingkan diri nya.
Belum sempat ada jawaban yang lain nya pun mulai berdatangan nya.
Walaupun gadis itu awal nya cemberut dan tak enak hati namun, ia tetap bisa melanjutkan apa yang ingin di mulai nya dengan teman-teman yang memang ingin bermain dengan nya.
"Wah, seru!" ucap nya dengan mata berbinar dan melupakan sejenak rasa kesal nya ketan mengira teman-teman nya mengabaikan dan mengasingkan nya.
"Hey? Kalian mau coba ini gak?" tanya Joe pada teman-teman nya sembari mengeluarkan kaleng bir yang ia sembunyikan di tas nya dan beberapa minuman alkohol lain nya.
Semua nya bersorak dengan seru kecuali gadis polos itu yang tentu nya takut melanggar aturan seperti itu.
"Kau juga bawa ini," ucap Jessi sembari mengeluarkan rokok yang ia bawa.
Para remaja yang masih memiliki rasa ingin tau yang lebih walaupun masih belum cukup umur itu tentu nya sering melanggar aturan.
"Kan kita masih gak boleh minum itu, kita kan masih kecil..." ucap Celine dengan wajah yang polos memberi tau teman-teman nya.
"Yang gak boleh tuh kalau ketahuan, kalau enggak yah gak apa-apa." seru teman perempuan Celine yang lain.
Celine diam sejenak, kalau sang kakak tau pasti akan memarahi nya habis-habisan atau memberikan nya hukuman yang membuat nya merasa perih, sakit, dan nikmat sekaligus.
"Nih coba," ucap Jessi memberikan salah atau minuman bir pada gadis itu.
Celine diam sejenak dan mulai mengambil nya, Jessi pun tersenyum dan mulai menghidupkan rokok nya.
Walaupun para remaja itu memiliki niat yang tulus berteman namun saja pergaulan nya cukup bebas karna orang tua mereka tak begitu membatasi pergerakan anak-anak nya.
Satu kaleng bir itu habis terminum oleh gadis itu sekaligus, aroma asap rokok yang mulai menyebar dan meresap di pakaian dan tubuh nya.
"Mau coba ini juga gak?" tanya Joe sembari memberikan rokok yang baru dan juga pemantik nya.
"Udah, dia aja udah kayak mau mabuk ini." ucap Vicky sembari menepis tangan teman nya.
"Iya, aku gak mau..." ucap nya Celine menolak ketika kesadaran nya masih ada.
Suara tawa itu pun berlanjut dari sekumpulan remaja yang bersenang senang, sedangkan Celine sudah semakin kehilangan kesadaran nya.
Auch!
Ringis Celine yang tersentak walaupun ia semakin mabuk, ia tak tau jika tangan nya terkena sulutan rokok tanpa sengaja dari teman nya.
"Celine maaf!" ucap Jessi terkejut dan langsung meniup tangan gadis itu.
"Sa..kit..." ringis gadis itu hampir menangis karna tangan putih nya langsung terbakar.
Tepat waktu yang di janjikan sang kakak untuk kembali, Steve pun menjemput adik nya dari tempat bermain dengan teman-teman nya.
__ADS_1
Ia mengira sang adik sudah kesal karna di buat menunggu lebih lama dua jam namun perkiraan nya salah ketika melihat gadis itu yang sudah mabuk.
"Kalian buat dia mabuk?!" tanya Steve yang langsung mendekat dan mengambil adik nya agar tak jatuh.
"Ka...kami cuma minum sedikit kak..." cicit teman gadis itu yang lain.
Walaupun sangat tampan namun pria itu memiliki tatapan yang tajam seakan bisa membunuh seseorang ketika marah.
Steve tak menjawab, ia menggendong adik nya dan ingin beranjak pergi, namun ia melihat sesuatu di tangan sang adik yang membuat nya mengernyit.
Ia pun kembali menoleh, tatapan marah dan hawa ingin membunuh itu terlihat begitu jelas dari raut nya ketika memandang para remaja itu.
Ia pun tetap membawa gadis polos kesayangan nya itu dan meninggalkan tempat tersebut, dan tentu nya ia akan membalas siapa yang membuat tangan adik nya terbakar rokok itu.
......................
Villa.
Memiliki status sebagai putra kandung dari konglomerat tentu membuat nya dapat membeli sebuah villa sendiri.
Ia pun membawa gadis itu ketempat nya, dan menidurkan gadis yang tengah mabuk serta penuh dengan aroma asap rokok tersebut.
"Tadi apa saja yang kamu lakukan?" tanya Steve sembari membuka satu persatu pakaian gadis itu hingga polos.
"Engh?" Celine menatap bingung, wajah nya memerah, mata nya sayu dan menatap bingung.
Entah mengapa Steve merasa marah, kesal, cemburu dan khawatir di saat bersamaan.
Ia marah karna gadis itu melanggar aturan dan cemburu serta khawatir ketika melihat wajah sang adik yang begitu menggemaskan dan mungkin saja para teman nakal gadis itu sudah akan melakukan hal yang lebih jauh jika ia tak menjemput dengan cepat.
Wajah dan tubuh yang begitu terlihat gemas dan cantik itu pasti nya membaut siapapun ingin mencoba nya, sifat remaja yang ingin tau serta sedang di pengaruhi alkohol tentu nya akan dapat melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Celine masih linglung ketika ia sudah mabuk berat karna pertama kali nya meminum alkohol saat teman-teman nya membuat nya melakukan hal yang melanggar peraturan.
Tangan nya mulai di ikat ke atas, tubuh nya di balik dan dia angkat sedikit sehingga membuat nya seperti menungg*ng dan membuat bokong mulus itu terlihat dengan jelas.
Plak!
Satu pukulan kuat tepat melayang di bok*ng putih polos itu hingga membuat Celine mulai meringis.
"Engh..." gumam nya lirih yang tanpa sadar jika ia seperti tengah mend*sah kecil.
Steve semakin bergemuruh, jika saat ini sang adik tidak bersama nya maka pasti gadis itu sudah menjadi bulan-bulanan dari para pria yang ingin mencicipi nya juga.
"Kamu merokok?!" tanya nya pada gadis itu karna ia mencium aroma rokok dari tubuh adik tercinta nya itu.
"Enggak kak, Celine cuma minum yang di kaleng aja..." jawab nya dengan jujur.
Plak!
"Tapi kenapa bau rokok? Kamu bohong?!" tanya nya yang kembali memukul bok*ng gadis itu hingga memerah.
"Kak, sakit..." ucap nya lirih.
Plak!
Plak!
Pria itu memukul hingga lima kali dan membuat kulit putih adik nya memerah karna kepalan tangan nya yang lebar itu.
"Nakal kamu yah, padahal kakak sudah bilang tidak boleh minum kalau masih kecil! Tapi banyak sekali yang kamu langgar!" ucap pria itu yang merasa kesal dan marah pada adik nya.
Celine menggeliat ketika merasa perih akan pukulan sang kakak, "Maaf kak..." ucap nya lirih yang masih setengah mabuk.
Ia tak sadar jika geliatan tubuh nya itu membangunkan sang kakak hingga membuat nya mendapatkan hukuman yang lain.
Steve memejam melihat adik nya yang terlihat pasrah itu, walaupun ia merasa kesal namun ia tak bisa memukul lebih jauh karna tak ingin gadis mendapatkan luka setelah sadar dari alkohol nya.
Namun begitu bukan berarti ia benar-benar tak marah lagi, ia mulai menyatukan diri nya walau tubuh sang adik belum siap sama sekali.
Celine langsung terpekik, tangan yang terikat membuat nya tak bisa apa-apa kecuali pasrah akan hukuman yang kakak yang tengah bermain dengan kasar pada tubuh kecil nya.
...
Pagi menyinsing, gadis itu itu terbangun dengan mulai merasakan rasa perih yang luar biasa di bagian privasi nya.
Dan seperti biasa sudah ada obat yang harus ia minum setelah nya, "Ini siapa yang buat?" tanya Steve sembari memegang tangan sang adik yang sudah ia obati karna sulutan rokok tersebut.
"Kakak masih marah?" tanya nya dengan suara meringis yang masih menahan sakit.
Steve menarik napas nya dan mengecup kening adik nya dengan lembut, "Jangan nakal, kakak kan sudah bilang kalau kamu itu bisa buat kakak sampai ingin gila..." ucap nya lirih yang sekarang tak tega melihat gadis itu menahan sakit walaupun semalam itu seperti kerasukan saat menghabisi gadis itu di ranjang.
"Maaf kak," jawab Celine lirih.
"Kakak juga salah karna hukum kamu berlebihan, tapi jangan di ulangi lagi yah kesalahan kamu..." ucap Steve sembari mengecup bibir adik nya.
Celine mengangguk, dan melihat tangan nya, "Jessi kak, dia gak sengaja."
Steve diam tak menjawab lalu mengecup adik nya lagi, "Istirahat dan sarapan, hari ini kamu libur aja dulu..." ucap nya pada gadis itu.
......................
Dua Minggu kemudian.
Internasional high school.
Celine mulai bingung, teman-teman yang bermain dengan nya saat ini satu persatu terkena kasus dan juga musibah.
Jessi yang terluka karna seluruh tangan nya habis terbakar dan tak di beri tau alasan mengapa sampai bisa seperti itu serta teman-teman nya yang lain yang terkena kasus narkotika walau mereka tak pernah sampai melakukan hal yang sejauh dan seberani itu untuk memakai barang terlarang tersebut.
...
"Kak? Kakak tau gak? Teman aku yang lain pada kena masalah loh, yang main sama aku kemarin," adu Celine pada sang kakak yang menjemput nya dari sekolah dan kini tengah makan dengannya di cafe.
Steve tersenyum dengan smirk nya dan mengusap kepala gadis polos nya, "Kakak kan sudah bilang kalau Celine itu harus nurut sama kakak, cuma kakak yang tau mana yang paling baik buat Celine." ucap nya yang kembali mempengaruhi pikiran adik nya.
Celine mengangguk dengan wajah polos nya, ia bahkan tak tau siapa yang membuat teman-teman nya terseret kasus yang bahkan tak pernah di lakukan.
Steve membalas apa yang di lakukan teman-teman Celine karna telah membuat gadis nya yang polos mabuk dan bahkan sampai terkena sulutan api rokok.
...****************...
Mau lanjut atau tamat di eps ini saja? Kasih tau othor yah๐๐
Happy reading๐๐
__ADS_1