
Mansion Evans.
Kedua pasangan suami istri itu tampak gelisah dan cemas saat tau putri yang mereka sayangi dan berusaha mereka sembunyikan kini telah hilang.
"Sekarang gimana? Celine masih kecil..." ucap Freya yang menangis dan sangat mengetahui jika putri nya tak akan siap menjadi seorang ibu.
"Tenang aja! Mau bawa kabur anak gadis sampai mana dia?! Dia tidak akan tahan!" ucap Mike yang merasa begitu marah dan kesal pada putra nya sendiri.
Tanpa ia ketahui, akan ada hari panjang dan cukup lama lagi untuk membuat nya kembali menemui putra dan putri yang begitu ia sayangi.
Freya tak mengatakan apapun kecuali hanya tangisan lirih yang terdengar dari nya. Ibu mana yang mau putri nya menjalani hidup tak jelas?
Perasaan nya begitu khawatir, khawatir akan segala hal yang mungkin bisa terjadi pada putri kecil kesayangan nya yang polos itu.
......................
Apart.
Sepanjang malam hanya menangis dan bahkan belum menyentuh sama sekali makanan yang di berikan pada nya.
"Celine? Makan yah? Kalau kamu nangis terus nanti anak kamu juga bakalan sedih..." ucap pria itu pada gadis yang masih terisak karna bingung akan situasi nya dan bahkan belum bisa menerima nya.
"Kalau dia tau Celine bakalan sedih kenapa harus datang? Celine kan gak minta dia datang..." jawab nya yang masih menangis.
"Iya, tapi kan sekarang sudah ada..." ucap Steve yang masih berusaha membujuk gadis itu.
"Kak?" panggil nya lirih.
"Kenapa? Kamu mau apa?" tanya Steve sembari menghapus air mata yang jatuh di pipi sembab serta mata yang membengkak karna tangis itu.
"Kakak kenapa tega sih sama Celine? Kalau tau Celine bakalan hamil kenapa kakak masih lakuin?" tanya nya lirih dengan menatap mata pria itu.
"Kalau tau yang sering kita lakuin bakalan buat Celine hamil, Celine gak mau kak..." sambung nya lirih dengan tangis nya.
Steve diam tak mengatakan apapun, memanfaatkan kepolosan adik tiri nya memang membuat nya memiliki kesenangan tersendiri karna semakin melihat gemas tingkah imut itu.
Namun kini semua terbalik ketika gadis itu sudah mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan.
"Celine? Jangan nangis terus..."
"Tanpa ke Julliard pun atau ke Itali semua yang kamu mau bakalan kakak turuti, kamu minta apa aja juga bakalan kakak turuti. Tapi sekarang bukan kamu aja yang harus kakak jaga, ada yang lain..." ucap nya pada gadis itu sembari menghapus lembut air mata yang jatuh meleleh di pipi adik nya.
"Tapi Celine mau nya Julliard, Celine mau ke Itali..." jawab gadis itu yang kukuh.
"Kak? Anak nya bisa di hilangin aja gak? Kalau nanti Celine udah ke Itali, udah jadi pemain piano nanti baru ada lagi kak..." ucap nya pada pria itu.
"Maksud kamu?" Steve dapat menangkap keinginan gadis itu yang ingin mengugurkan kandungan nya namun ia memilih kembali bertanya ulang guna memastikan.
"Celine mau ke Itali kak, bukan hamil..." jawab nya lirih pada pria yang membuat nya memiliki benih yang tumbuh di dalam perut nya.
"Kakak tidak akan setuju! Kamu mau minta apa aja bakal kakak turuti, tapi yang tidak akan kakak turuti yang akan buat anak kamu, anak kita bakalan celaka!" ucap nya dengan penuh penyekapan pada gadis itu.
Celine tersentak, ia semakin menangis dan merasa marah sekaligus kesal.
"Terus kenapa kakak buat Celine hamil?! Kalau Celine gak hamil kan pasti gak akan begini!" ucap gadis itu berteriak dengan suara serak karna tangis nya.
Pria itu kembali bungkam, apa yang harus ia katakan lagi saat memang kesalahan lebih banyak di tangan nya karna membuat gadis yang tak tau apa-apa itu bahkan sampai mengandung.
"Kamu makan, jangan buat kakak marah." ucap nya sembari meninggalkan makanan nya dan keluar dari kamar tersebut.
Pukul 01.45 am
Pria tampan itu tak bisa tidur sama sekali berbeda dengan gadis yang sudah kelelahan karna menangis itu.
Wajah yang masih sembab karna tangis nya membuat nya tak bisa mengatakan apapun. Ia bahkan masih belum bisa menikahi gadis itu karna masih di bawa umur dewasa yang di tentukan.
Sedangkan untuk pernikahan anak di bawah umur membutuhkan izin orang tua agar dapat terlaksana, dan ia tau hal tersebut akan sangat mustahil kedua orang tua nya menyetujui hal tersebut.
"Maaf, udah buat kamu sedih..." ucap nya lirih sembari mencium puncak kepala gadis itu.
Ia melihat ke arah makanan yang ia antar masih penuh dan belum tersentuh sama sekali. Tangan nya beranjak mengambil makanan yang telah dingin itu dan meletakkan nya di tempat lain.
...
Keesokkan hari nya.
Gadis itu hanya diam tak mengatakan apapun, ia sudah merengek sepanjang malam agar sang kakak mau menghilangkan bayi-bayi di perut nya yang bahkan kehadiran nya tak ia inginkan, lebih tepat nya nya belum ia inginkan di waktu yang tak tepat ini.
"Kamu sarapan dulu, kalau kamu mau tetap lanjut sekolah kakak bakal buat home schooling buat kamu kalau nanti perut kamu sudah besar." ucap Steve sembari memberikan makanan kesukaan gadis itu.
"Terus Celine bisa masuk Julliard? Celine gak akan punya kualifikasi buat apapun kak? Celine juga gak bisa pergi ke Itali padahal itu udah Celine nanti dari lama." ucap nya pada sang kakak.
"Semua yang kamu mau, kebutuhan kamu bakal kakak penuhi, tapi kakak cuma minta supaya kamu gak nyakitin anak kamu, anak kakak juga." ucap nya pada gadis itu.
Celine diam sejenak, pikiran yang masih sangat kenakanan dan belum dewasa sama sekali tentu nya tak mau mengurus sesuatu yang akan merepotkan nya.
"Bukan cuma satu tapi di dalam perut kamu itu ada empat, kamu tega mau nyingkirin mereka?" tanya Steve lagi pada gadis itu tanpa tau ucapan nya semakin membuat gadis manja itu takut akan kehamilan.
"E...empat? Banyak banget kak..." ucap nya tersentak, "Perut Celine bisa meledak nanti, kalau Celine gak kuat gimana kak?" tanya nya takut mendengar jika ia akan membawa empat bayi sekaligus dalam tubuh nya.
"Kakak yang bakal urusin kamu, perut kamu juga gak akan meledak..." ucap Steve sembari mengusap rambut pirang kecoklatan yang panjang nan halus itu.
Celine masih terdiam dengan takut mendengar nya, ia tak mengatakan apapun lagi namun semakin membuat nya ingin menghilangkan makhluk tak berdosa di perut nya.
....
"Kakak mau pergi?" tanya gadis itu sembari terus memegang tangan pria yang telah begitu rapi dan tampan itu.
"Iya, kakak udah sewa pelayan buat jagain dan urus kamu selama kakak pergi kerja, jadi kamu bisa suruh dia apapun nanti," ucap Steve dengan nada lembut pada gadis itu dan mencium kening nya sekilas.
Celine diam dan membiarkan sang kakak pergi, kaki nya yang putih itu beranjak turun dari ranjang nya mencari sesuatu yang bisa ia pukul ke perut rata nya.
"Apa yah? Buku ini bisa gak sih?" gumam nya lirih melihat buku tebal milik sang kakak.
"Tapi kalau aku pukul ini nanti bakalan sakit gak? Takut..." cicit nya yang juga tak memiliki keberanian untuk mengalami rasa sakit.
__ADS_1
"Ma..maaf..." ucap nya lirih sembari memegang perut nya yang masih rata, "A...aku takut kalau kalian ada, la...lagi pula aku juga tidak tau cara mengurus kalian nanti..." ucap nya lirih sembari mulai memukuli perut nya sendiri dengan buku tebal yang berada di tangan nya.
Gadis yang masih tak dewasa itu dari segi umur dan usia tentu nya masih berpikiran pendek dan sifat egois dan kekanakan nya tentu terlihat dengan jelas.
Sementara itu.
Setelah sampai di basement dan melihat mobil nya pria itu tak bisa membuka nya sama sekali saat ia ingat jika ia tak membawa kunci yang harus nya ia bawa.
"Astaga..." ucap nya lirih yang mau tak mau harus kembali ke apart nya lagi.
Pintu lift yang terbuka membuat pria yang memakai jas berwarna abu itu keluar, langkah kaki nya yang cepat terdengar memenuhi lorong dari apart mewah itu.
Ia membuka pintu apart nya, mendengar suara yang bagi nya ganjil dan mulai memeriksa nya.
Bugh!
Bugh!
"Apa yang di lakukan anak itu?" gumam nya lirih dan mulai memeriksa.
Deg!
Mata nya membulat dan langsung menangkap tangan mungil yang memukul perut rata itu.
"Apa ini?!" bentak nya seketika.
Celine mematung memandang pria yang kembali begitu cepat tanpa ia sadari.
"Ka..kakak..." gumam nya lirih menatap pria itu.
"Kamu sedang apa?! Ha?!" tanya Steve yang kembali membentak gadis cantik itu.
"Celine gak mau hamil kak! Celine mau nya bayi pergi aja! Lagi pula kan juga belum lahir! Mamah Papa kalau tau pasti bakalan marah juga!" ucap nya yang langsung menangis.
Gadis itu bahkan tak tau jika kedua orang tua nya sudah lebih mengetahui tentang kehamilan nya bahkan sebelum dirinya sendiri.
"Jadi kamu mau bunuh anak kamu?!" tanya Steve yang seakan tengah membentak gadis itu.
Celine membeku, nyali nya ciut melihat sang kakak yang tak pernah memarahi nya kini malah membentak nya.
"Mereka kan belum lahir kak!" ucap Celine lagi.
"Belum lahir juga bukan berarti tidak hidup! Mereka itu juga hidup! Dan kamu mau bunuh mereka sebelum mereka lihat dunia?!" tanya Steve lagi pada gadis yang semakin menangis itu.
"Celine mau ke Itali, bukan mau mereka..." tangis nya lirih pada sang kakak.
Deg!
Steve tersentak, apapun yang ia katakan gadis itu tetap tak menginginkan anak yang hadir di waktu yang tak tepat itu.
"Kamu mau gugurin kandungan kamu?" tanya Steve sembari menatap gadis yang tengah kembali terisak itu.
Satu anggukan lirih dan pelan menjadi jawaban atas pertanyaan yang menjadi acuan itu.
"Beneran kak?" tanya Celine lirih tanpa sadar.
"Hm, tapi kakak bakal tinggalin kamu, terserah kamu buat apa. Kakak gak akan peduli lagi sama kamu." ucap nya yang memberikan ancaman terakhir pada gadis itu.
"Tapi kakak bilang kalau kakak sayang Celine? Cinta sama Celine? Tapi kenapa mau ninggalin Celine?" tanya nya lirih menatap sang kakak.
"Kakak cinta sama kamu tapi kamu sendiri aja gak cinta sama kakak," ucap nya yang semakin menggertak gadis itu.
"Celine cinta kok sama kakak..." sambung nya lirih menatap pria yang lebih tinggi dari nya itu.
"Tapi kamu mau bunuh anak kita kan?" tanya Steve yang langsung membuat gadis itu bungkam.
Mungkin egois untuk memaksa gadis yang masih berada di bawah umur itu mempertahankan kandungan yang bahkan tak ia minta sama sekali.
Namun ia sungguh tak mau membunuh ke empat anak-anak nya apa lagi hasil dari hubungan dengan gadis yang sangat ia cintai.
"Sekarang kamu pilih, mau gugurin kandungan kamu dan pergi ke Itali tapi kakak bakal tinggalin kamu atau kamu pertahanin kandungan itu dan kakak gak akan pernah tinggalin kamu." ucap nya sekali lagi.
Biasa nya pria akan mengancam kekasih nya untuk mengugurkan kandungan nya agar tetao bersama namun tidak dengan diri nya yang mengancam akan meninggalkan jika gadis itu mengugurkan kandungan nya.
Celine diam sejenak, ia menangis namun yakin jika sang kakak tak akan meninggalkan nya bahkan dengan apapun yang akan ia pilih.
"Celine tetep mau gugurin kak..." ucap nya lirih.
Steve tersentak, gadis itu tetap keras kepala bahkan setelah ancaman jika ia yang akan pergi?
"Apa bagus nya sih? Julliard atau Itali itu?" tanya nya pada gadis yang menangis segugukan itu.
"Itu impian Celine kak..." jawab nya lirih sembari memegang tangan sang kakak.
Steve memamgguk kecil mendengar nya, ia menepis tangan kecil itu dan beranjak memundur.
"Dua hari lagi kakak bakal bawa kamu ke dokter, pemulihan nya biasa nya cepat jadi kamu bisa pergi ke Itali setelah itu." ucap nya dengan mata yang dingin menatap gadis itu.
"Ka...kakak..."
"Na...nanti kakak pulang nya jam berapa?" tanya Celine tanpa sadar.
"Bukan urusan kamu," ucap Steve memandang dingin gadis itu.
Celine terdiam, pria yang bisa memperlakukan nya dengan lembut dan hangat itu kini seperti jarum yang di putar berlawan arah dengan paksa.
...
Steve menanggalkan gadis itu dengan perasaan bersalah sekaligus marah.
Ia merasa bersalah karna bersikap dingin namun ia juga tak bisa menerima mendengar gadis nya yang ingin mengugurkan anak-anak mereka.
"Kamu yakin akan bisa bertahan tanpa aku?" gumam nya yang tau gadis itu tak akan mampu mengurus diri nya sendiri.
Ia pun akan segera memulangkan pengurus rumah nya di jam kerja agar gadis itu sendirian dan sadar jika ternyata ia tak bisa apa-apa selama ini.
__ADS_1
...
Pukul 10.45 pm
Gadis itu menunggu sang kakak yang tak kunjung kembali sedangkan ia saat ini sudah berada di rumah apart mewah itu sendirian.
"Kakak masih marah? Kakak kan sayang Celine? Gak mungkin tinggalin Celine..." gumam nya lirih dan terus menunggu.
Sedangkan pria yang tengah menginap di hotel itu terus memantau pergerakan gadis kecil kesayangan nya itu dari cctv yang pasang di segala sudut apart.
"Jam berapa ini? Dia belum tidur?" gumam nya yang merasa khawatir sampai lupa jika ia sedang marah.
Pria itu terus memantau nya, semua yang di lakukan gadis itu secara terus menerus.
......................
Keesokkan hari nya.
Tak ada tanda-tanda jika sang kakak telah kembali ke apart, gadis itu tampak lesu, ia merasa kehilangan seperti sebelum nya.
Ia bisa saja memanggil sang ibu dan minta untuk di jemput karna di berikan ponsel namun tentu nya ia takut untuk demikian karna takut jika ia melakukan nya maka ia tak bisa menemui sang kakak lagi.
"Laper..." gumam nya yang melihat hari yang mulai malam dan pengurus rumah yang sudah pulang.
Kaki kecil nya beranjak mengarah ke arah dapur, melihat telur dan daging yang harus nya bisa panggang dan makan bersama roti.
Ia pun memasukkan roti nya ke dalam alat pemanggang, "Cara pakai nya gimana?" gumam nya lirih yang tak tau.
"Panggang di kompor aja deh," ucap nya lirih yang beranjak ke kompor listrik itu.
Dan sekali lagi ia pun tak tau cara menggunakan nya karna biasanya ia selaku di manja dan di layani dengan baik.
"Cara nya pakai nya ini gimana?" tanya nya lirih dengan bingung.
Gadis itu terdiam, ia pun mulai beranjak untuk membuat minum saja.
Dan kali ini ia bahkan tak tau cara membedakan teh yang ia sukai karena sang kakak lah yang selalu membuat nya.
"Yang mawar yang mana?" gumam nya lirih.
Ia pernah membuat teh mawar untuk sang kakak namun itu pun di bantu oleh pelayan sehingga semua bahan yang ia butuhkan sudah di sediakan dan di persiapkan.
Prang!
Auch!
Gadis itu tersentak, ia menjatuhkan teh nya dan gelas berisi air panas yang menyiprat ke kaki nya.
Gadis itu diam, ia kembali membuka kulkas dan melihat makanan jadi yang bisa ia makan.
Walaupun tadi nya ia sudah makan dengan makanan yang di buat pelayan namun memiliki 4 anak di dalam tubuh nya tentu membuat nya harus memiliki asupan yang berkali lipat juga hingga membuat nya kembali merasa lapar.
Mata nya melihat ke arah wortel yang tak ia sukai, walaupun ia tidak menyukai nya namun sang kakak menyukai semua jenis sayuran dan membeli untuk diri nya sendiri karna tau gadis kesayangan nya tak akan mau.
"Lapar banget..." ucap nya lirih yang memegang perut nya dan mulai mengambil makanan yang tak ia sukai.
Mata nya mulai mengeluarkan cairan putih bening nya, walaupun ia tak suka dengan wortel namun ia tetap memakan nya karna merasa begitu lapar dan tak bisa membuat makanan apapun.
Wortel dan roti tawar lah yang terus ia makan secara bergantian, jangan kan berpikiran untuk memesan makanan.
Cara nya saja ia juga tak tau sama sekali, kali ini sadar jika ia tak bisa melakukan apapun tanpa seseorang di sisi nya.
"Kak, Celine kangen..." ucap nya lirih saat memakan makanan yang tak sesuai di lidah nya itu.
Sementara itu, pria yang melihat semua nya dari cctv ingin langsung menyusul dan menatap dengan khawatir namun jika ia melakukan nya gadis itu tak akan merasa bersalah sama sekali karna ingin mengugurkan kandungan di perut nya.
......................
Keesokkan hari nya.
Apart.
Mata biru itu berbinar melihat pria yang menghilang tanpa kabar selama dua hari.
"Kakak?" tanya nya yang langsung ingin mendekat.
"Kamu udah siapan? Kita mau pergi ke rumah sakit." ucap Steve yang memandang gadis itu dengan mata dingin walaupun ia sudah sangat khawatir.
"Kak..." Celine tersentak dan tak terbiasa dengan sikap dingin pria itu.
"Ada apa? Kan ini yang kamu mau." ucap Steve sembari melihat mata memelas itu.
"Kakak gak bisa ngerti Celine? Itu kan impian Celine kak?" tanya gadis itu lirih.
"Kakak kan sudah kasih kamu pilihan, kamu mau kakak atau impian kamu." ucap nya sekali lagi pada gadis itu.
"Tapi Celine gak bisa kalau gak ada kakak..." ucap nya lirih yang sudah begitu sangat bergantung di segala hal pada pria yang juga tanpa ia sadari membuat nya tak tau apapun dan tak bisa melakukan apa-apa.
"Tapi kamu sudah pilih kan?" tanya Steve lagi yang menatap gadis itu dengan dingin dan tajam, "Jangan nangis, kan kamu yang mau gugurin kandungan kamu." ucap nya dengan tanpa ekspresi walaupun tak tega melihat air mata gadis itu.
Ia tak tahan melihat air mata yang ingin di usap nya segera, namun ia juga tak ingin gadis itu tau agar bisa memberikan sedikit hukuman.
Tubuh nya berbalik meninggalkan gadis itu, namun langkah nya terhenti saat ia merasa sesuatu memeluk nya.
Pluk
"Kak..."
"Jangan tinggalin Celine, Celine gak bisa kalau gak ada kakak..." ucap nya lirih.
Ia yang sudah terlanjur begitu mencintai pria itu tanpa ia sadari dan juga sifat ketergantungan yang begitu kuat apa lagi dirinya yang sekaam tak bisa melakukan apapun jika tak bersama pria yang tak ia sadari membuat nya tak bisa apa-apa.
Gadis itu tak tau, namun yang ia tau saat ini adalah membiarkan mimpi baru sempat ingin ia kejar menghilang dan pergi.
Membiarkan masa remaja nya hilang dan terbuang begitu saja ketika ia memilih untuk mempertahankan anak yang tak ia inginkan agar tetap membuat pria itu berada di sisi nya.
__ADS_1