Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (I Miss them)


__ADS_3

Keesokkan hari nya.


Rumah sakit.


Celine masih menatap ke arah pria ya g terlihat masih terlelap itu, ia bingung mengapa sang kaka masih belum bangun walaupun dokter sudah menjelaskan jika pria itu membutuhkan istirahat karna kelelahan.


"Kak? Maaf..."


"Celine gak tau kalau kakak sakit..." ucap nya lirih sembari menggenggam erat tangan pria itu dan berharap agar iris yang terkena cahaya menjadi hijau itu segera bangun.


Ia tak pulang sama sekali ke apart nya, memikirkan bayi-bayi nya? Gadis yang masih penuh dengan sikap kenakan itu tentu nya memiliki rasa keibuan yang minim.


Yang ada di pikiran nya hanya memikirkan pria yang ia cintai segera bangun.


Tangan kekar itu perlahan bergerak, refleks gadis itu pun langsung melihat ke arah sang kakak yang mulai bangun dan menatap nya dengan sayup dan mata yan masih setengah terbuka.


"Kak? Kakak? Kakak udah bangun?" tanya gadis itu lirih menatap ke arah pria yang mulai menampilkan iris hijau nya walau hanya segaris dengan mata yang mulai terbuka.


Pandangan yang masih mengabur membuat pria itu taj dapat melihat dengan jelas, namun ia bisa melihat perlahan jika wajah gadis nya saat ini tengah mengalihkan bulir bening dari mata biru itu.


"Kamu kenapa?" tanya Steve lirih yang memaksa membuka mata nya saat ia melihat air mata gadis nya.


"Kak? Kakak udah bangun? Maaf..." ucap gadis itu lirih.


Ia tak bisa melakukan apapun ataupun membantu apapun, sehingga hanya air mata yang bisa ia keluarkan.


"Kamu kenapa? Hm?" tanya pria itu yang sudah semakin jelas melihat wajah gadis nya.


Tangan nya beranjak naik, mengusap air mata yang mengalir itu.


...


Para dokter pun datang, setelah melakukan pemeriksaan dan memberikan vitamin pada Steve sang dokter pun lebih memilih mengatakan keadaan nya pada yang bersangkutan.


"Kak?" panggil Celine lirih memotong pembicaraan.


Sang dokter pun mengangguk kecil dan beranjak keluar meninggalkan pasangan itu sendiri satu sama lain.


"Udah nangis nya, kamu nangis terus..." ucap Steve pada gadis nya dan menatap ke arah mata biru yang terus berkaca itu.


"Kakak sakit..." jawab Celine lirih.


"Tapi kan sekarang udah engga, kamu ada pulang ke apart? Lihat anak kita?" tanya Steve pada gadis nya.


Celine menggeleng pelan, mana mungkin ia bisa pergi meninggalkan sang kakak dalam kondisi seperti itu.


"Kamu gak kangen mereka?" tanya Steve lagi dengan nada yang masih lembut.


"Aku mau nya kakak..." jawab Celine lirih.


Steve tak mengatakan apapun lagi dan masih dian dan hanya menatap ke arah gadis nya, ia tersenyum tipis dan tak menyalahkan nya sama sekali.


"Kamu mau kakak kasih tau sesuatu?" tanya Steve pada gadis nya.


"Apa kak?" Celine menatap dengan bingung.


"Cara buat bikin kakak sembuh? Kamu mau tau?" tanya pria itu tersenyum.


Setelah tidur dengan cukup dan makan dengan cukup serta kebutuhan vitamin dan protein yang di cukupi selama menjalani perawatan dan tubuh nya yang memang mudah untuk sembuh dan pulih membuat stamina nya sudah kembali lagi.


Celine mengangguk, ia menatap sang kakak dan sangat takut pria itu sampai jatuh sakit lagi.


"Sini kamu dekat kakak," ucap nya tersenyum kecil.


Gadis itu menurut dengan muda, tangan yang hangat dan besar itu menyentuh pipi gadis nya dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu ada sama kakak aja, kakak itu udah bisa sembuh, apalagi kalau kamu obati kakak seperti dulu lagi." ucap nya tersenyum pada gadis nya.


"Kayak dulu kak? Tapi kan kakak dulu bohongi Celine, kakak bilang itu hukuman, kakak bilang itu untuk obati kalau kakak sakit, kakak bilang itu cara nunjukkin kasih sayang." ucap Celine yang ingat ia merasa terbohongi dulu dan tiba-tiba tau dirinya tengah hamil.


"Tapi yang kakak bilang juga gak salah Celine, kamu tau sendiri kan? Dulu kakak itu jarang sakit tapi sekarang? Semenjak kamu gak mau lagi kakak jadi sakit." ucap nya yang menyambungkan dengan keadaan yang ada sehingga memperkuat ucapan nya.


Gadis itu diam sejenak, "Dokter bilang kakak kan kelelahan..." ucap Celine lirih.


Pria itu tersenyum, ia mengecup kening gadis nya, "Kalau kamu gak mau kakak kelelahan kamu cuma perlu sama kakak te-"


"Kak?" potong gadis itu segera.


"Celine mau masuk jurusan manajemen bisnis aja kak," sambung nya pada pria tampan itu.


"Kenapa?" tanya Steve yang langsung teralihkan dan mengernyit.


"Celine mau bantuin kakak, kalau Celine bisa kerja juga kakak gak perlu sampai begini..." ucap nya lirih.


"Celine? Kakak masih bisa hidupin kamu walaupun kamu gak kerja, kamu belanja sebanyak apapun kakak juga masih bisa penuhi, kalau kakak lelah karna kerja itu bukan salah kamu, itu resiko dari tanggung jawab kakak..." ucap nya pada gadis nya.


"Maaf kak..." ucap Celine lirih.


"Minta maaf untuk? Kamu kan gak salah apapun?" tanya Steve pada gadis nya, "Sudah, jangan nangis lagi, kamu ingat kan? Sebentar lagi pernikahan kita." ucap nya yang memberikan semangat.


Gadis itu mengangguk dengan ucapan sang kakak.


Steve tersenyum, "Sekarang kamu mau nurut sama kakak kan?" tanya Steve pada gadis nya.


Celine mengangguk dan tak lama kemudian bibir hangat itu sudah menyapu nya dengan lembut.


Ia tak menolak sampai tangan pria itu membuka kancing kemeja nya perlahan satu persatu.


"Kak..."


"Kamu bisa minum yang biasa kakak kasih dulu, jangan telat minum nya." ucap Steve berbisik pada gadis nya, "Gak akan hamil..." sambung nya lirih.


Mendapatkan energi nya kembali saat ini sekaligus sudah lama tak menyentuh tubuh gadis nya membuat nya merasakan hasrat yang membeludak.


Pekerjaan nya sudah menumpuk begitu lama sehingga membuat nya bahkan lupa dan tak bisa memeluk gadis itu walau hanya untuk tidur malam.


Dan karna kini ia memiliki waktu yang cukup tentu nya ia ingin langsung melahap apa yang ada di depan nya.


Ungh!


Gadis itu tersentak saat tubuh nya di balik dan kini berada di atas ranjang pasien pria itu.


Steve tersenyum, suara kaget gadis nya membuat dirinya semakin bersemangat walaupun ia baru saja pulih.


"Kakak baru sembuh kenapa kuat sih?" tanya Celine saat merasakan tenaga sang kakak yang mampu membalik tubuh nya dengan mudah.


"Kalau lihat kamu kakak jadi kuat, mau ya?" tanya nya lagi sembari melanjutkan membuka kancing ketiga kemeja gadis nya.


"Kak..." gadis itu mencegah lirih dan menatap ke arah pria nya.


"Kamu kan tau kalau kita bentar lagi nikah? Ini tuh latihan cara jadi istri yang baik, kamu mau kan jadi istri yang baik buat kakak?" tanya Steve pada gadis nya.


Jika ia tak bisa lagi mengatakan tentang kebohongan seperti hukuman atau mengobati sakit nya tentu ia bisa membawa nama istri untuk membuat gadis itu menurut.


"Tapi kan kita belum nikah kak," jawab Celine mengernyit.


"Ini kan latihan pranikah sayang..." jawab pria itu tersenyum dan kembali mel*mat bibir gadis nya.


Gadis itu tak lagi mengatakan penolakan, bahkan mulai menikmati ciuman kakak nya yang membuat diri nya mulai merasa panas.


......................

__ADS_1


Dua bulan kemudian.


Situasi semakin membaik, Steve mulai berhasil menghindari organisasi gelap yang menginginkan nya dan membuat gadis nya memiliki ikatan ibu dan anak yang semakin kuat dengan putra-putra nya.


Dan kini hanya tinggal menunggu beberapa hari untuk memiliki hubungan yang resmi dan menjadikan gadis itu milik nya seutuhnya.


"Kak? Ken senyum lagi sama aku!" ucap Celine yang langsung tertawa menatap putra nya yang tertawa melihat nya.


"Iya, imut kan? Seperti Mommy nya..." ucap Steve sembari memeluk pinggang gadis itu dari belakang.


Celine tersenyum sampai ia mengingat seseorang yang mulai ia rindukan.


"Mama sama Papa nanti gak datang yah kak? Waktu kita nikah?" tanya gadis itu lirih.


Steve diam sejenak, ia tak mau menemui orang tua nya sekarang, dan hal itu terjadi karena ia yang takut kedua orang tua nya itu ingin memisahkan nya lagi.


"Sekarang cuma ada kamu, kakak sama anak-anak kita..." ucap nya pada gadis itu lirih.


Gadis itu diam sejenak, dan berbalik menatap sang kakak, "Kakak kenapa sih bisa suka Celine? Celine tuh heran?" tanya nya yang bingung sembari memegang kedua sisi pipi sang kakak.


Ia tau dan memperhatikan beberapa kenalan sang kakak saat ikut jika ada dinas di luar kota, begitu banyak wanita yang lebih cantik dari nya namun sang kakak hanya tetap memilih nya.


"Karna kamu itu Celine nya kakak, dan Celine kakak itu cuma kamu." ucap nya yang tersenyum melihat wajah gadis nya yang saat ini tengah sama seperti wajah bayi-bayi nya.


"Kamu kenapa bisa suka nya sama kakak?" tanya Steve pada gadis nya.


"Celine kan cuma punya nya kakak," jawab gadis dengan jujur.


Jangan kan mengenal pria lain, berteman saja ia tak bisa saat memiliki kakak yang super posesif itu.


Steve hanya tertawa, ia pun segera mengangkat tubuh gadis nya dan membawa nya ke kamar.


"Jaga mereka," ucap nya sekilas pada pengasuh nya yang masih berada di sana untuk menjaga putra-putra nya sedangkan ia membawa gadis itu ke kamar nya.


"Kak? Mau ngapain? Masih jam tujuh kak? Celine belum mau tidur," jawab gadis itu lirih pada sang kakak.


"Kamu mau latih kamu biar nanti kalau jadi istri itu udah pinter," jawab nya dengan gemas sembari mencium pipi gadis nya.


"Ih! Kakak! Latihan kakak bikin Celine pegel semua! Gak ada beda nya juga sama yang dulu!" ucap gadis itu langsung.


"Makanya latihan, sampai kamu gak pegel lagi." jawab Steve tertawa.


"Terus? Sampai Celine pingsan gitu?" tanya nya pada pria itu.


"Tapi enak kan?" jawab Steve tertawa sembari menurunkan gadis itu ke ranjang dengan perlahan.


Celine tak menjawab, ia hanya memalingkan wajah nya yang memerah.


......................


Prancis.


Mansion Evans.


Mike semakin tak bisa menemukan jejak putra nya walau ia sudah berusaha, sementara Freya yang sudah semakin sakit karna merindukan putri kesayangan nya.


"Aku kangen mereka..."


"Kira-kira anak mereka masih hidup gak yah Pa? Kalau masih hidup pasti sekarang udah ada, Mama mau lihat..." ucap nya lirih yang menyesal membuat putri nya pergi menjauh.


Dan saat ini yang ia inginkan hanya kembali nya putri dan juga putra tiri nya.


"Kamu sehat dulu biar mereka bisa pulang, kalau kamu sakit terus gimana mereka mau pulang?" tanya Mike pada sang istri.


"Tapi Mamah kangen Celine Pah..." jawab Freya lirih.

__ADS_1


__ADS_2