Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
You're not okey


__ADS_3

Setelah menemui dokter yang melihat sekilas kondisi Ainsley sungguh membuat Sean terkejut.


Dokter tersebut mengatakan mungkin Ainsley mengalami kekerasan atau pelecehan yang membuat sikapnya berubah total. Takut akan orang asing dan sangat takut pada pria. Namun belum bisa di pastikan secara jelas bagaimana kondisi nya karna perlu konsultasi secara langsung.


Sean berusaha menepis kemungkinan tersebut, tak sampai seminggu gadis nya ia tinggal sudah mengalami seperti itu?


Sean pun kembali ke kamar inap Ainsley di lihat nya Ainsley yang tertidur lelap.


"Apa yang terjadi? Hm?


Maaf aku tak menjaga mu dengan benar..." ucap Sean lirih sembari mengelus rambut Ainsley perlahan.


................


Keesokkan paginya.


Sean berusaha membujuk Ainsley untuk menjalani terapi psikiater, dan Ainsley tetap kukuh tak ingin menjalani terapi.


"Aku baik-baik saja! Aku tak mau pergi!" ucap Ainsley yang kukuh pada Sean.


Sean pun memejamkan mata nya sesaat, ia sudah tak bisa menahan sikap keras kepala kekasihnya lagi.


"Kau baik-baik saja kan?!" tanya Sean kesal dan menatap tajam ke arah Ainsley.


"I-iya..." jawab Ainsley lirih ketika melihat tatapan tajam Sean membuat nya takut seketika.


"Auch!" pekik Ainsley saat Sean tiba-tiba menarik jarum infus di tangan nya.


"Sini ikut!" ucap Sean dan langsung menarik kasar tangan Ainsley.


"Sean sakit...


Aku tak mau keluar..." ucap Ainsley hampir menangis dan berusaha melepaskan tangan Sean yang sedang menariknya keluar dari ruangan nya.


"Sean...


Kita kembali saja..." mohon Ainsley lirih yang semakin takut saat Sean membawa nya keluar.


"Masuk!" titah Sean dan mendorong tubuh Ainsley masuk ke dalam mobilnya.


Sean pun langsung menancap gasnya dengan cepat.


"Sean...


Mau kemana?" tanya Ainsley lirih pada Sean.


"Kau bilang kau baik-baik saja?!" tanya Sean tanpa memandang wajah ketakutan Ainsley dan tetap melihat jalan.


"I-iya..." jawab Ainsley dengan suara gemetar.


Sean pun menuju salah satu taman hiburan yang ramai dan sedang mengadakan karnaval.


"Sean...


Aku ga mau ke sini...

__ADS_1


Terlalu ramai..." cicit Ainsley lirih pada Sean.


Sean tak peduli dan tetap menarik tangan Ainsley, ia ingin Ainsley sadar jika dirinya sedang tak baik-baik saja.


Ainsley semakin menggenggam erat tangan Sean yang membawa nya ke keramaian penuh dengan banyak pria dan juga wanita, membuat tubuh gadis itu semakin gemetar karna takut.


"Berdiri disini!" titah Sean sembari berusaha melepaskan genggaman erat tangan Ainsley.


"Sean aku takut..." ucap Ainsley sambil menangis dan menggapai tangan Sean lagi namun Sean langsung menepis dan memundurkan langkah nya.


Sontak Ainsley langsung mengikuti arah langkah Sean.


"Jangan mengikuti ku!" ucap Sean tegas pada Ainsley dan langsung membuat Ainsley menghentikan langkahnya.


"Sean...


Aku takut...


Jangan pergi..." ucap Ainsley menangis.


"Tetap berdiri di situ! Jika kau sampai mengikuti ku, aku akan benar-benar pergi dari mu." ucap Sean dan langsung berbalik menjauhi Ainsley dengan meninggalkan gadis itu di tengah-tengah keramaian.


Ainsley langsung menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya dan menutup erat matanya, tak beranjak sedikit pun dari tempat yang di tinggalkan Sean.


Tangis nya tumpah tanpa suara dengan tubuhnya yang gemetar, ia semakin takut saat beberapa kali merasakan orang-orang yang lewat dan tak sengaja menabrak kecil atau menyenggolnya.


Semua kenangan tentang pelecehan nya berputar kembali di kepalanya, ia pun mulai berjongkok sembari terus menutup mata dan telinganya.


"Sean...


Sean tak benar-benar pergi, ia mengawasi Ainsley dari tempat yang tak terlihat oleh Ainsley. Tangan nya mengepal erat melihat kekasihnya yang ketakutan dan hampir kehilangan akal sehatnya.


"Ainsley...


Kau ini kenapa?" gumam Sean saat melihat Ainsley yang menangis ketakutan.


Sean pun yang tak tahan mulai mendatangi Ainsley, ia berjongkok di depan Ainsley dan melihat kekasihnya yang terus menangis.


"Sekarang kau tau kan?


Kau tak baik-baik saja..." ucap Sean sembari menatap Ainsley.


Ainsley pun langsung membuka matanya dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi terus menunduk karna takut ketika mendengar suara Sean.


"Sean...


Aku takut..." ucap Ainsley menangis sembari menggapai tangan Sean.


Sean tak membalas perkataan Ainsley ia hanya menatap nanar ke wajah basah Ainsley yang penuh dengan air mata.


"Mau kembali?" tanya Sean lirih.


Ainsley pun segera menganggukkan kepalanya. Sean pun kemudian berdiri dan mengulurkan tangan nya agar Ainsley bisa bangun.


Ainsley pun perlahan menggapai tangan Sean agar ia bisa bangun.

__ADS_1


"Auch!" pekik Ainsley saat ia merasa kakinya kesemutan karna terlalu lama jongkok.


"Ka-kaki ku kesemutan..." ucap Ainsley lirih pada Sean.


Swingg...


Sean pun langsung mengangkat tubuh Ainsley dan menggendongnya.


"Sean...


A-aku jalan saja...


Malu dilihatin..." ucap Ainsley lirih saat Sean mengendong nya. Ia pun mulai menyembunyikan wajah nya ke dada bidang Sean.


Ia merasa nyaman jika bersama Sean walau terkadang Sean menghukum atau menyiksanya, tapi ia tetap mencintai pria itu karna setidaknya Sean memberinya perhatian yang ia butuhkan, perhatian yang tak pernah ia dapatkan oleh siapapun.


Sean sendiri pun menyadari seberapa banyak Ainsley bergantung padanya, jika saja Ainsley jatuh pada pria yang hanya ingin memanfaatkan nya, pasti gadis itu sudah hancur-hancuran sekarang. Ainsley yang terlalu polos akan sosialisasi pasti sangat mudah memanfaatkan sifat polos dan sifat lembutnya.


......................


Sementara itu.


Mansion Richard.


Richard yang merasa sedikit kehilangan karna mainan nya tak memberikan reaksi serta hilang kabar membuatnya mencari tau apa yang di lakukan mainan nya sekarang.


Siapa lagi jika bukan Ainsley gadis malang yang ia jadikan mainan barunya.


"Kau sudah mencari tau kemana dia beberapa hari ini?" tanya Richard pada Liam.


"Sudah tuan.


Nona Ainsley masuk kerumah sakit karna overdosis obat tidur dan obat penenang." jawab Liam Setelah mencari tau tentang Ainsley.


"Ckk, pantas saja dia tak menjawab semua panggilan telpon ku." ucap Richard kesal tanpa merasa bersalah padahal ia yang membuat gadis itu hampir mati dan hampir kehilangan akalnya.


"Apa menurut mu kita perlu menculiknya lagi? Aku sangat suka melihat nya memohon pada ku seperti waktu itu." ucap Richard menyeringai membayangkan wajah memelas Ainsley yang menangis di bawah kungkungan nya.


"Jika tuan mau, saya akan mengurusnya." jawab Liam yang hanya patuh pada tuannya.


"Tapi aku ingin dia datang sendiri kesini...


Kau sudah mengurus masalah undangan? Aku akan menemuinya di kampus nya saja." ucap Richard dengan senyuman yang menyimpan ide licik untuk memainkan mainan barunya.


Baginya melihat tangisan dan ketakutan Ainsley sangat menyenangkan, membuatnya semakin menyiksa dan membuat gadis itu tunduk dan patuh padanya, ia sangat ingin menjadikan Ainsley menjadi salah satu dari budak nya.


...****************...


Aduh bang Icad lu kok jahat amat si sama anak gadis orang:v


Satu mau ngelindungi satu mau ngerusak🤧


Babang Sean juga jangan berubah yah🤧 Jangan ntar malah lu yang ngerusak si Ainsley nya🤧🤧


Jangan lupa like komen vote fav rate 5 dan dukung othor yah🥰🥰❤️❤️

__ADS_1


Happy Reading❤️❤️


__ADS_2