
Tubuh gadis itu lunglai tergantung dengan kain yang di gulung melingkari leher nya.
dr. Canly pun yang ingin segera menurunkan gadis itu terhenti saat ia melihat reaksi tiba-tiba dari pria yang awal nya kukuh merasa tak salah sama sekali.
"Pelayan!" teriak wanita paruh baya berkaca mata itu sembari berlari keluar dengan tergesa-gesa dan memanggil pelayan serta pengawal yang tak jauh dari kamar tersebut.
Ia pun dengan cepat meminta para pengawal menurunkan Ainsley segera sebelum semua nya terlambat.
"Tuan! Tenanglah...
Bernafas dengan pelan..." ucap dr. Canly pada Sean.
Sean mulai tak dapat menarik napas nya lagi, saat ini semua bayangan tentang mayat ibu nya berputar dan di kepala dan mata nya berulang kali.
"Di-dia janji tak akan meninggalkan ku..." gumam nya dengan menarik napas yang tersendat.
dr. Canly tak tau untuk siapa kalimat tersebut, entah untuk Ainsley ataupun untuk orang lain.
Karna di konsultasi singkat nya dengan Sean, pria itu tak pernah mengatakan apa yang ia takutkan ataupun trauma nya.
Namun kini semua nya terlihat jelas, rasa sakit, takut, gelisah dan amarah yang berbaur menjadi satu di mata pria itu.
Emosi meledak yang membuat tubuh nya membeku dan di lilit gelombang hitam yang menekan nya dan membuat nya tak bisa bernapas.
dr. Canly pun membuka ampul bius dan menyuntikan ke pria itu, karna serangan panik yang bisa membahayakan nyawa Sean.
Ia pun dengan cepat langsung bergegas ke Ainsley.
Gadis yang sudah pucat dengan tanda garis biru dan keunguan yang melingkar di leher nya.
"Masih bernapas..." gumam nya dengan lega saat memeriksa nadi dan napas gadis itu.
Ia pun dengan cepat bangun dan segera melakukan perawatan untuk kedua orang yang tak sadarkan diri itu.
......................
Sementara itu.
Pria yang di ikat di kursi dengan wajah yang dan tubuh yang tecabik akan silet yang menari di atas kulit nya.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya Richard dingin menatap pengkhianat di mansion nya yang berani berusaha mencuri data dari pembuatan racun nya.
"Untuk apa aku beri tau, aku akan di bunuh juga kan?" tanya dengan suara melemah dan tawa mengejek.
"Kuliti dia lalu siram dengan perasan jeruk lemon," perintah pria itu dingin sembari menyandarkan punggung nya ke kursi yang ia duduki.
Suara teriakan menggema di ruangan gelap dengan sedikit pencahayaan itu, pisau dan kulit yang terdengar seperti koyakan pakaian dan amis darah yang tercium jelas sana.
Pria itu menjerit kesakitan saat pisau tajam para bawahan mafia kejam itu menguliti nya, tak hanya itu perasan lemon pun langsung di berikan di atas daging terbuka yang berlumuran darah tersebut.
"Kau pikir kau akan menang terus?! Orang seperti mu harus ke neraka!" teriak nya yang terus mengutuk pria yang memberikan perintah kejam itu.
__ADS_1
Richard tak menjawab menjawab ia hanya merapikan sejenak kemeja putih nya.
"Jauhkan sedikit aku tak mau terkena noda darah," ucap nya dingin dan kembali menatap pria itu.
"Aku sudah memberi tau nya tentang gadis itu! Dasar penguntit gila! Orang sialan! Dasar manusia kejam!" teriak nya penuh rasa sakit saat tubuh nya yang tak berkulit itu di berikan perasan lemon.
"O'Prey?" tanya nya lagi menatap dengan tatapan penuh amarah.
Pria pengkhianat itu mengetahui dan mencari tau tentang Richard yang mulai tertarik dan bahkan mengoleksi semua foto dan video seorang gadis yang diambil diam-diam.
"Iblis!" jawab pria itu dengan tatapan amarah.
"Bunuh dia," perintah Richard sembari melangkahkan kaki nya keluar.
....
"Dia ingin pulau yang kita ambil kemarin," ucap Richard pada Liam.
Ia tau organisasi O'prey menginginkan pulau yang sama karna pulai tersebut memiliki ladang opium yang besar dan memiliki lab tentang obat-obatan terlarang tersebut.
"Mungkin saja dia akan menggunakan nona Ainsley karna yang di bocorkan Leon," ucap Liam sembari mengingatkan tentang mata-mata yang menjadi pengawal di mansion tersebut.
"Aku tak pernah membuat wanita menjadi kelemahan ku," ucap Richard pada Liam.
"Tapi dia bisa saja mencoba nya, karna baru kali ini tuan tertarik dengan wanita." jawab Liam mengingatkan.
"Benar tuan, sejauh ini dia masih bersama putra ketiga Sation grup," jawab Liam membenarkan.
"Apa dua tahun cukup untuk melenyapkan semua organisasi O'prey dan menginvasi mereka?" tanya Richard membuang napas kasar.
Ia tau Organisasi dunia bawah yang cukup besar dan bahkan ada di setiap negara membutuhkan banyak waktu untuk memiliki seutuh nya dan membunuh pimpinan nya berbeda dengan organisasi kecil ataupun perusahaan ilegal lain nya.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin tuan," jawab Liam pada atasan nya.
......................
Mansion Sean.
Mata pria itu mulai terbuka, tubuh nya bergetar hebat begitu ia bangun, keringat yang masih jatuh menetes di dahi nya saat semua mimpi buruk nya terulang.
"Ainsley?" gumam nya yang langsung bangun dan mencari keberadaan gadis itu.
Ia langsung berlari membuka semua kamar guna mencari keberadaan gadis nya.
Langkah nya kembali membatu dan melihat gadis yang tengah tertidur dengan wajah pucat dan bekas memar di sepanjang leher nya.
Tangan nya beranjak ingin menyentuh namun terhenti, saat ia ingat gadis itu tergantung lunglai di depan mata nya.
"Kenapa? Hm? Kenapa kau juga begitu?" tanya nya dengan suara gemetar menatap gadis yang masih tak sadarkan diri tersebut.
__ADS_1
Ia bingung, kepala nya seperti tak dapat memikirkan apapun lagi, hati nya terasa tergelitik dan sesak secara bersamaan.
Ia tak dapat mengerti emosi nya saat ini namun buliran bening di mata perlahan terjatuh saat tak dapat lagi tertahan di pelupuk mata nya.
Ia berbalik dan mulai keluar tanpa sempat mengelus gadis itu, ia takut.
Takut jika gadis itu tak lagi bangun seperti seseorang yang dulu berjanji akan menemani nya hingga dewasa.
Takut jika wajah pucat itu tak lagi memiliki hangat di tubuh nya.
Takut akan perasaan yang belum siap untuk tak lagi melihat senyum dari wajah cantik itu.
"Tuan?" ucap dr. Canly yang bergegas menemui Sean saat mendengar kabar jika pria itu terbangun lebih dulu.
"Jangan ada yang menemui ku," ucap Sean sembari melewati wanita berkaca mata yang memandang khawatir tersebut.
Ia tau saat ini pria di hadapan nya sedang di hadapkan dengan masalah tersulit karna perperangan traumatis nya di masa lalu.
dr. Canly diam karna ia menyadari jika pria itu butuh waktu untuk menenangkan diri nya sendiri.
Metode bunuh diri yang sama seperti kematian ibu nya memberi pukulan yang begitu besar pada pria itu, hal ini berbeda saat ia melihat gadis itu sekarat dalam pelukan nya saat ia dulu memberi hukuman dengan kejam.
Karna dulu ia masih dapat mengukur hukuman nya agar tidak benar-benar membunuh gadis cantik itu ataupun menghilangkan nyawa nya.
Namun saat Ainsley mulai melukai diri nya dan bahkan menggantung diri nya membuat Sean mulai kembali merasakan perasaan dejavu ketika ia kehilangan sang ibu untuk selama nya.
Brak!
Prang!
Suara yang berhamburan dan luluh lantah terdengar hingga keluar membuat semua pelayan tak ada yang berani mendekat ataupun memasuki kamar tersebut.
Sean terduduk, ia meremas rambut nya dengan tangan yang terluka karna memukul serpihan cermin dan semua yang ada di hadapan nya.
Frustasi, ketakutan, kesedihan, perasaan sunyi dan hampa yang ia rasakan bersamaan benar-benar menghancurkan nya kali ini.
Pikiran nya tak mampu menyimpan dua memori buruk yang sama secara bersamaan.
Kau sebenci itu dengan ku?
Padahal kau dulu janji tak akan pergi...
Kenapa?
Karna aku memukul mu?
Karna aku menghukum mu?
Aku mencintai mu...
Aku takut...
__ADS_1
Maaf, kumohon jangan menghilang...