Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Thanks, son


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Kilauan dari barang-barang mahal yang membuat pantulan pesona tersendiri.


"Mommy kalau pakai ini cocok deh," ucap nya saat mengambilkan pakaian yang terlihat menggemaskan untuk ibu nya.


Duk!


Tangan kecil itu memukul punggung putra nya yang bagi nya salah memilihkan pakaian.


"Mommy udah tua kalau pakai baju model begitu," ucap nya tertawa kecil.


"Mommy masih cantik kok, makanya temen aku banyak yang mau sama Mommy." ucap nya pada sang ibu.


"Iya, karna Mommy itu Mommy nya kamu makanya bilang nya cantik. Coba kalau Mommy nya orang lain." sahut Ainsley tertawa pada putra nya.


"Yah tetep Mommy yang paling cantik!" ucap nya lagi.


"Tapi, kalau sama Emily cocok itu baju nya." ucap wanita itu setelah memperhatikan blouse beserta rok pendek yang tampak menggemaskan itu.


"Lily?" ucap Axel bertanya balik sembari melihat ke arah pakaian yang di pegang nya.


Blush!


Wajah nya kembali memerah, setiap kali ia memikirkan gadis itu maka pikiran nya akan segera tertuju ke arah lain nya.


Wanita itu tersenyum melihat wajah semu putra nya, "Yauda beli aja, kan cocok sama Emily." ucap nya pada putra nya.


"Mommy!" ucap Axel yang langsung mengeluh pada ibu nya.


"Kenapa?" tanya Ainsley tertawa yang semakin suka menggoda putra nya dan memperhatikan rona merah yang semu itu.


......................


Tiga Minggu kemudian.


Setelah luka yang benar-benar pulih wanita itu sudah kembali masuk ke perusahaan nya dan kembali bekerja seperti biasa.


"Terimakasih," ucap nya saat Liam membawakan nya teh.


"Anda akan pergi ke sana?" tanya nya dengan map yang berisi pekerjaan di dalam nya.


Ainsley diam sejenak tak menjawab dan melihat ke arah map tersebut.


Musim dingin yang mulai datang dan juga pekerjaan yang berada di luar kota serta memakan waktu yang cukup lama.


"Lima hari? Cukup lama kalau ninggalin Axel sendiri." ucap nya lirih.


Dulu walaupun ia pergi selama beberapa Minggu, wanita itu selalu membawa putra nya ikut bersama.


"Dia sudah besar, sampai kapan Anda mau memperlakukan nya seperti anak kecil?" tanya Liam yang merasa wanita di depan terlalu mengkhawatirkan putra nya.


"Dia selalu jadi anak yang manis," ucap wanita itu dengan senyuman tipis mengingat tingkah laku putra kesayangan nya.


...


Cafetaria

__ADS_1


"Kau mau ke sana?" tanya Sean sembari menatap wanita yang meminum milkshake di depan nya.


"Hm, ada apa?" tanya Ainsley sembari menatap wajah pria itu setelah mengesap susu yang bercampur dengan selai tersebut.


"Aku juga akan pergi ke sana dalam beberapa waktu ke depan," jawab pria itu "Kau kapan akan ke sana?" tanya nya lagi.


"Hari Selasa," jawab wanita singkat.


"Mau pergi bareng?" tanya pria itu dengan senyuman nya sembari menatap wajah wanita di depan nya.


"Bareng? Memang nya kau kapan mau ke sana?" tanya Ainsley mengernyit.


"Hari Rabu," jawab pria itu singkat dan tersenyum.


"Berarti beda? Aku kan satu hari lebih cepat." balas wanita itu mengatakan yang sebenarnya.


"Kan tinggal di majuin jadwal nya," jawab Sean dengan enteng.


Ainsley hanya menggeleng pelan dengan tersenyum, "Nanti aku tanya Axel." ucap nya pada pria itu.


Karna ia tau itu adalah perjalanan yang panjang dan ia yang akan bersama pria lain tentu membuat nya tak ingin putra nya merasa khawatir.


Remaja yang begitu posesif pada ibu nya karna takut di ambil orang dan tak menyayangi nya lagi.


Sean tertawa kecil mendengar nya, wanita yang terlalu menyayangi putra nya terlihat menggemaskan walaupun sudah puluhan waktu berlalu.


......................


Apart Venelue'ca


Wanita itu menatap dari pintu kamar yang sudah ia buka ke arah putra nya yang tengah asik bermain ponsel dengan wajah sumringah sampai tak menyadari kehadiran nya.


"Astaga!" Axel terperanjat ketika mendengar suara sang ibu yang tiba-tiba datang, "Mommy!"


Wanita itu tertawa melihat wajah kesal putra nya yang mengernyit.


"Anak Mommy udah punya pacar?" goda nya nya lagi dengan tersenyum sembari mendekat dan duduk di tepi ranjang remaja itu.


"Mommy nih!" ucap Axel kesal terlebih lagi di goda oleh sang ibu.


"Mommy kenapa?" tanya wanita itu dengan wajah yang tak bersalah dan pura-pura tak tau sembari tertawa.


"Gak tau! Mommy nyebelin!" ucap nya yang langsung merebahkan diri dan langsung membenamkan wajah nya ke bantal.


"Mommy nya datang kok langsung tiarap, Mommy pergi nih?" tanya wanita itu tertawa renyah.


Tak ada sahutan dari remaja tampan itu melainkan hanya tetap terus telungkup sembari menyembunyikan wajah nya di dalam bantal seperti ketika ia marah saat masih kecil.


Kebiasaan yang terus di bawa nya hingga beranjak dewasa.


"Yauda deh, lusa Mommy mau pergi aja ninggalin Axel." ucap nya dan langsung membuat remaja itu beranjak melihat wajah sang ibu.


"Mommy mau kemana?" tanya nya langsung.


"Tapi Axel marah sama Mommy, yah Mommy pergi aja." jawab nya menggoda putra nya lagi.


"Ih! Mommy! Axel ikut!" ucap nya tanpa sadar pada sang ibu.

__ADS_1


Wanita itu tertawa melihat wajah putra nya yang mulai panik.


Ia mengusap puncak kepala putra nya dengan gemas.


"Mommy bakalan ada kerja ke luar kota lusa selama 5 hari, bukan ninggalin Axel kok." ucap nya yang tak lagi menggoda putra nya.


"Kok lama Mom?" tanya remaja itu mengernyit.


"Hm, you know it." jawab wanita itu sembari mengendikkan kecil bahu nya.


Remaja itu mengerti jika pekerjaan sang ibu bukan lah hal yang mudah.


"Axel?" panggil nya lirih.


Remaja itu kembali melihat wajah sang ibu.


"Kalau Mommy pergi nya sama paman Sean Boleh?" tanya nya pada putra nya sembari memperhatikan ekspresi apa yang akan di berikan oleh remaja itu.


"Kalau Axel bilang gak boleh Mommy gak akan pergi sama paman Sean?" tanya nya sembari menatap wajah sang ibu.


Ainsley mengambil napas nya, "Kalau kamu gak boleh Mommy gak bakal pergi sama paman Sean kok." ucap nya pada putra nya.


"Kenapa?" tanya remaja itu dengan penasaran.


"Karna kamu itu yang paling penting buat Mommy bukan yang lain," ucap wanita itu tersenyum.


"Mommy juga yang paling penting buat aku," balas Axel pada sang ibu.


"Kalau Mommy mau pergi sama paman Sean gak apa-apa kok, tapi kabari Axel kalau uda sampai." ucap remaja tampan itu sembari memberikan senyuman nya.


"Axel kan pernah bilang, kalau ada yang mau Mommy lakuin, lakuin aja. Yang penting Mommy Happy, kalau Mommy Happy Axel juga Happy." sambung nya tersenyum.


"Anak Mommy manis banget sih?" tanya wanita itu dengan gemas sembari mencubit kedua pipi putra nya.


"Ih! Mommy!" dengus nya kesal ketika sang ibu mencubit nya dengan gemas.


Namun melihat wajah wanita yang selalu merawat nya sejak kecil itu tertawa membuat perasaan lega dan ikut terasa damai.


Bibir nya tersenyum, ia bahagia kalau sang ibu juga bahagia dan merasa sedih ketika wanita itu juga terlihat sedih.


"Mom?" ucap nya pada sang ibu.


"Hm?"


"Axel gak apa-apa kalau Mommy mau buat apapun, atau mau punya pacar atau mungkin nikah lagi."


"Yang Axel mau sekarang Mommy tetap masih sama Axel, lihat upacara kelulusan Axel, lihat waktu Axel selesai kuliah, lihat waktu Axel nanti sampai nikah." sambung nya lirih.


"Axel mau semua hari berharga dan hari besar Axel itu ada Mommy!" ucap nya pada sang ibu.


"Iya, Mommy juga mau kok." ucap nya pada putra nya karna ia juga menantikan melihat hal demikian.


"Mommy bakalan ada buat Axel sampai kapan pun itu, jadi kamu jangan takut..." ucap nya sembari mengusap kepala putra nya.


"Iya, makanya asal Mommy bakalan ada terus gak apa-apa kok kalau ada yang mau Mommy lakuin."


"Apapun itu asal buat Mommy happy bakalan Axel dukung," sambung nya tersenyum.

__ADS_1


"Thanks, son." ucap wanita itu tersenyum.


Sesuatu yang paling berharga yang pernah ia dapatkan dan ia miliki adalah anak yang di berikan pada nya.


__ADS_2