
3 Hari kemudian.
Setelah menjalani sesi pertama terapi nya gadis cantik itu kembali lagi ke ruang perawatan nya.
"Sean...
Aku kapan sih pulang nya? Mau pulang...
Gak betah disini..." rengek Ainsley pada pria tampan yang sedang mengupaskan kulit apel untuk nya.
"Gak betah disini? Atau gak betah terapi? Hm?" tanya Sean sembari tanpa menatap gadis cantik dan terus memperhatikan apel nya.
"Ga betah disini..." jawab gadis itu lirih saat isi kepala nya mudah tertebak.
"Udah! Jangan minta aneh-aneh...
Nanti kalau udah sembuh baru pulang! Makan apel nya." ucap Sean sembari menyodorkan apel yang sudah ia kupas dan potong untuk kekasih nya.
"Nanti pergi nya lama?" tanya Ainsley lesu sembari menerima apel manis dari kekasihnya.
"Nanti malam sudah selesai sih...
Kau mau ikut saja? Hm?" tanya Sean pada Ainsley, ia sudah memberitau jika siang ini ia akan kembali ke perusahaan dan mengurus semua pekerjaan yang ia tinggal karna menghabiskan waktu dengan menjaga gadis kesayangan nya.
Gadis cantik itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan menatap sang kekasih.
"Masih takut...
Kalau balik nya sore gak bisa? Harus malam yah?" tanya Ainsley pada kekasihnya.
"Bukan gak bisa...
Tapi kalau sore belum selesai, aku kesana saja sudah siang...
Nanti aku usahain biar cepat selesai yah..." jawab Sean dengan lembut sembari mengelus rambut panjang gadis itu.
Gadis itu pun mulai meletakkan apel yang berada di tangan nya ke atas piring dan mulai semakin mendekat pada kekasih tampan nya, tangan kecil itu pun mulai memeluk pria yang saat ini menjadi sandaran ternyaman untuk nya.
"Kalau kau pergi aku juga takut..." ucap gadis itu sembari memeluk tubuh sang kekasih.
"Takut kenapa? Jangan keluar ruangan dulu..." tanya Sean sembari membalas pelukan dan mengelus rambut panjang kekasih kesayangan nya.
"Bukan...
Aku takut nanti Sean diambil orang...
Nanti kalau ada wanita yang lebih cantik lewat aku ditinggal terus nanti pas balik nya udah bawa anak..." jawab Ainsley polos sembari mengatakan ketakutan nya.
"Astaga Ainsley! Dapat dari mana sih imajinasi mu? Ha?!" tanya Sean yang tak menyangka pikiran pacar nya melambung terlalu jauh.
__ADS_1
"Dari perawat yang tadi ngumpul-ngumpul...
Dia bilang pacar nya ngaku kerja tapi malah selingkuh terus waktu mau nikah ketahuan uda punya anak..." jawab polos gadis itu, ia seperti anak kucing yang takut di tinggal sang induk.
Sean pun memutar isi kepala nya kapan ia pacar nya bisa mendengar perkataan seperti itu. Saat memori nya terputar ketika ia mengangkat telpon cukup lama dan meninggalkan gadis cantik bersama perawat wanita lain nya.
"Husshh...
Jangan di dengerin! Dari perawat mana yang kau dengar? Mereka bukan nya kerja malah gosip!" dengus pria tampan itu kesal.
"Tapi kan seru dengerin gosip...
Jadi banyak tau nya..." jawab gadis itu polos sembari mengangkat wajah nya menatap ke arah pria tampan di hadapan nya.
"Tau yang gak baik, iya kan?" tanya Sean sembari mencubit hidung mancung itu.
Ia begitu gemas melihat wajah cantik dari kekasihnya, gadis itu kini mulai banyak berbicara dan mulai bersikap normal lagi walaupun ia masih sangat takut dengan orang asing.
Hummpphh...
Tanpa sadar pria itu pun langsung mencium bibir merah muda di hadapan nya. Ia tak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat wajah menggemaskan itu yang sangat takut jika dirinya akan selingkuh.
Setelah mel*mat cukup lama pria itu pun mulai melepaskan ciuman nya ketika ia merasa pacar nya sudah seperti kehabisan nafas.
"Susah nafas Sean..." ucap Ainsley lirih saat ia masih terengah-engah mengatur nafasnya.
"Kau tidak takut?" tanya Sean pada Ainsley saat ia merasa gadis itu sudah tak begitu lagi takut akan sentuhan nya, tak seperti saat ia baru kembali dari LN kemarin.
"Sama aku, tidak takut?" tanya Sean sembari menatap gadis itu.
"Takut juga sih..." cicit Ainsley yang tiba-tiba mengingat betapa mengerikan jika pria tampan itu sedang marah.
"Pfftt..." melihat wajah menggemaskan itu, terlihat begitu polos dan tak bisa menyembunyikan apapun membuat Sean tertawa.
"Gemasnya..." ucap Sean sembari mulai menangkup wajah cantik itu dengan kedua telapak tangan nya dan menghujani dengan kecupan bertubi.
Ainsley hanya diam saja dan membiarkan kekasihnya terus memberi hujan kecupan gemas di wajah nya, pria itu sudah berhasil mengambil seluruh hati nya.
Psikis gadis itu mulai membaik karna yang ia butuhkan memang hanya seseorang yang tetap bersamanya, yang menangkap nya saat ia hampir terjatuh ke dalam lembah kehancuran, dan memeluk nya ia merasa sendiri.
......................
Fanny pun mulai menjenguk putri nya lagi, ia sudah memundurkan waktu konser untuk pertunjukan piano gadis manis itu.
Dan lagi ia bertengkar dengan suaminya. Rasa kesal dan marah memenuhi dirinya, dan yang terlintas di pikiran nya adalah gadis cantik yang selalu memberikan senyuman untuk nya dari kecil hingga sekarang.
Sebaik apapun putrinya berusaha, ia tetap akan menganggap jika gadis itu adalah pembawa petaka di hidup nya, walaupun ia tau jika gadis cantik itu tak mengerti apapun.
Brak!!!
__ADS_1
Suara pintu yang terbuka dengan kasar tentunya langsung mengejutkan Ainsley yang sedang membaca beberapa buku pelajaran. Ia sengaja belajar terlebih dahulu agar saat kembali ke kampus dapat mengejar semua ketertinggalan nya.
"Mamah?" ucap nya lirih dengan mata berbinar.
Sepolos itu memang yang ada di pikiran nya, hingga ia merasa senang saat sang ibu mendatanginya, tak ada rasa benci yang ada hanya agar harapan sosok ibu yang ia impikan bisa menyayanginya.
"Gak usah senyum-senyum! Senang iya? Senang kalau lihat Mamah nya susah?!" cerca Fanny saat mendekati putrinya, membuat senyum manis di wajah gadis itu langsung redup.
"Maaf Mah..." ucap Ainsley lirih, senyuman nya jatuh dan harapan jika sang ibu bisa menyayangi nya juga hilang.
"Kalau punya otak itu di pakai! Gak usah nyusahin orang tua!" cerca Fanny lagi sembari membodohkan dan mendorong kepala putrinya dengan jari telunjuk lentik miliknya.
"Maaf Mah...
Ainsley salah..." jawab gadis itu lirih dan mulai menunduk sembari menautkan jemarinya.
"Dari lahir sampai mau mati pun tetap menyusahkan!" ucap Fanny ketus pada putrinya.
Gadis itu yang sebelumnya mulai baik-baik saja pun mulai jatuh lagi psikis nya ketika ia mendengar ucapan sang ibu, air mata nya mulai turun.
"Nangis? Cengeng sekali sih? Sia-sia sudah besarkan! Tidak berguna!" ucap Fanny mendengus kesal saat mendengar suara lirih tangisan gadis cantik itu.
"Mah...
Kenapa sih, Mamah gak pernah tanya alasan Ainsley dulu...
Kenapa terus nyalahin Ainsley Mah?" tanya gadis itu dengan susah payah karna tangis nya yang tertahan, ia ingin sekali mengungkapkan semua pertanyaan tersimpan di hatinya pada sang ibu.
"Memang kau yang salah kok! Kenapa perlu alasan!" jawab sang ibu tanpa merasa iba sedikit pun.
"Enggak! Ainsley gak salah Mah! Dulu Mamah juga bilang Ainsley yang salah waktu Ainsley di pukulin! Tapi Sean bilang Ainsley gak salah kalau membalas orang yang jahat sama Ainsley!" jawab gadis itu dengan lelehan air mata.
Ia ingat betul bagaimana waktu ia berada di sekolah menengah dan mendapatkan sikap yang tak pantas dari teman-teman nya.
Karna sikapnya yang sering sendiri akibat didikan sang ibu yang tak memperbolehkannya berteman membuat teman sekelasnya merasa jika ia sombong dan mulai menindasnya secara verbal dan non verbal dan saat gadis cantik itu mulai melawan ia malah tak sengaja mendorong teman yang menganggu nya hingga terbentur lemari saat teman sekelas nya yang jahat itu membawanya ke gudang sekolah untuk menakutinya.
Akibat nya Fanny di panggil dan semua anak yang membuli gadis cantik itu juga di panggil orang tuanya. Walaupun putrinya sendirinya yang menjadi korban namun ia tak membela dan malah ingin menutup kasus itu. Yang ada dipikiran nya hanya tak boleh membuat masalah yang akan merusak nama keluarga nya.
Plak!!
"Udah berani melawan yah?! Mentang-mentang sudah punya pacar langsung pintar membantah!" maki Fanny saat ia menampar pipi putih itu. Tak peduli jika putrinya baru saja hampir bunuh diri karna depresi ia sudah menambah lagi tekanan pada gadis malang itu.
Ainsley terdiam sesaat sembari memegang pipinya, bulir bening nya sekali lagi jatuh saat sang ibu memperlakukan nya bahkan lebih buruk dari rakun si hewan peliharaan yang di rawat ibunya di kediaman Belen.
...**************...
Jangan lupa like dan komen yah😘😘😘
Komenan dan like kalian lah yang membuat othor semangat😍😍
__ADS_1
Happy Reading♥️