Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Tak asing


__ADS_3

2 Minggu kemudian.


"Kita mau kemana?" tanya gadis itu saat melihat tangan nya di tarik oleh pria tampan tersebut.


"Pakai ini," ucap Richard sembari melemparkan helm pada gadis itu.


"Kau mau naik motor kan? Jadi kau mau mencoba nya dengan ku?" ajak pria itu pada gadis di depan nya.


"Motor? Mau!" jawab Calesta setelah memutar mata nya dan menatap ke arah pria yang membawa nya.


Udara kencang yang mengarah ke wajah nya membuat nya merasakan sesuatu yang lain, pengalaman yang lain.


"Setelah ini kita mau kemana?" tanya gadis itu sembari meminum minuman nya ketika Richard berhenti.


"Kau mau ke tempat ku?" ajak pria itu sembari menatap gadis yang tengah menoleh ke kanan dan ke kiri menatap tempat di mana ia berada.


"Tapi apa yang mau ku lakukan di sana?" tanya gadis itu tanpa menoleh.


"Kelinci, aku punya banyak anak kelinci. Kau tak mau lihat?" tanya pria itu memancing menggunakan apa yang di sukai gadis di depan nya.


"Kelinci?" tanya Calesta yang langsung tertarik dan menoleh ke arah pria itu.


"Eh? Me-memang nya aku suka kelinci?" ucap nya yang langsung berdalih karna tak ingin langsung menunjukkan ketertarikan nya.


Richard tersenyum, "Kau tak mau? Aku punya banyak anak kelinci yang imut seperti boneka,"


"Mau lihat..." ucap nya yang tak tahan dengan godaan sesuatu yang imut.


Pria itu tertawa melihat wajah menggemaskan tersebut, ia memang berencana membawa gadis itu ke mansion baru nya.


......................


Mansion Zinchanko.


Mata gadis itu berbinar menatap semua hewan kecil menggemaskan di depan nya, ujung jemari nya mengelus dan mengusap bulu halus yang tak membuat nya jenuh tersebut.


"Kau mau minum teh dulu?" tanya Richard saat melihat gadis yang masih sangat antusias mengelus gemas anak kelinci di depan nya.


"Mau! Teh nya di sini saja," ucap gadis itu tanpa menoleh.


Richard pun memberi tanda agar pelayan nya mendekat dan menuangkan teh di dekat gadis itu, lalu ia pergi keluar sebentar.


Pelayan itu datang dan menuangkan teh bunga yang harum dan segar tersebut ke gelas yang ia bawa, hingga.


Hap!


Satu anak kelinci yang lain lompat dan menggelantung menaiki tangan nya hingga membuat nya terkejut dan melakukan kesalahan.


Byur!


Akh!


Gadis itu menjerit seketika air panas yang tumpah menyiram bahu nya membuat gadis itu meringis seketika.


Richard yang baru ingin datang setelah mengecek kuda nya agar ia bisa mengajak gadis itu berkuda langsung berlari saat mendengar suara teriakan gadis itu.


"Ma-maaf nona!" ucap pelayan tersebut langsung bersujud ketakutan, ia adalah pelayan yang diambil dari mansion yang berada di Prancis.


Karna Richard membawa sebagian pelayan nya yang berada di Prancis ke mansion baru nya untuk mengajari pelayan baru tentang aturan tak tertulis yang tak boleh di langgar.


"Kenapa bisa tumpah? Perih sekali," ucap Calesta meringis sakit sembari mengibaskan pakaian nya yang basah.


"Kenapa ini? Dia menumpahkan teh pada mu?" tanya Richard yang mendatangi gadis itu.


"Iya..." jawab Calesta lirih.


Pria itu berbalik ia menatap tajam ke arah pelayan tersebut tangan nya memanggil seseorang yang siap membawa pelayan tersebut.


"Rebus dia," perintah nya tanpa memperdulikan tangisan mohon ampun pelayan tersebut.


"Tidak tuan! Maafkan saya!" ucap memohon tersedu sembari menumpahkan sisa teh yang berada teko kecil itu ke diri nya.


Calesta terkejut melihat pelayan tersebut menumpahkan air yang bagi nya panas hingga membuat nya menjerit ke seluruh tubuh dari pelayan itu.


"Kalau tau salah itu lebih bagus, tapi berani sekali kau membuat kesalahan," ucap pria itu dingin yang seakan tak peduli, "Bawa dia."


Calesta masih diam memproses apa yang ia lihat dan ia dengar, "Paman..." panggil nya lirih.


"Kenapa? Nanti kita panggil dokter, atau kau tidak suka hukuman ku pada nya?" tanya pria itu sembari menatap wajah gadis yang cukup terkejut tersebut.


"Di-dia tidak sengaja menumpahkan nya, jadi bukan salah nya..." ucap gadis itu lirih, ia terkejut mendengar perintah yang bagi nya tak berperikemanusiaan itu hanya karna menumpahkan minuman.


"Oh? Kulit mu sampai merah begini bukan kesalahan nya?" tanya pria itu dengan mata yang berubah menjadi tajam.


"Bu-bukan itu kesalahan nya, tapi paman tidak sungguhan kan? Dia juga sudah minta maaf..." ucap gadis itu lagi.


"Dia harus di jadikan contoh agar yang lain tidak melakukan kesalahan yang sama, atau kau mau dia di kuliti saja?" tanya pria itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Maaf nona...


Saya salah, saya mohon ampun..." ucap pelayan tersebut yang terus bersujud dan bersimpuh pada Calesta.


"Bawa dia," ucap Richard tak peduli dan kedua pengawal yang berada di dekat pelayan itu mulai membawa nya.


Calesta terperanjat, pria itu tak peduli dan tetap tak mengubah keputusan nya, ia tak tau apakah pelayan tersebut akan benar-benar mati atau hanya di gertak saja.


"Paman..." panggil nya lirih sembari memegang kelingking pria itu yang masuk dalam genggaman tangan kecil nya.


Richard kali ini melihat ke arah wajah gadis itu lagi, "Iya, sekarang kita panggil dokter nya." jawab pria itu sembari mengelus puncak kepala gadis di depan nya.


"Bukan! Bukan itu! Paman tidak sungguhan kan? Pelayan nya kasihan, kan yang kena teh panas nya aku! Kenapa paman yang marah?" ucap nya yang mulai merasa takut, "Jangan...


Kasihan.. " sambung nya lagi sembari memegang dengan erat kelingking pria tersebut.


Richard diam, ia melihat ekspresi yang meminta nya jangan melakukan apapun, ekspresi yang mulai hampir sama saat gadis itu ketakutan pada nya dulu.


"Aku hanya menggertak nya, dia cuma akan di pecat saja." jawab pria itu tersenyum.


"Benarkah! Paman tidak bohong? Dia tidak akan di rebus atau di kuliti?" tanya gadis itu yang mulai berbinar.


"Tentu saja, kan aku hanya menggertak." ucap pria itu yang mengatakan kebohongan.


Ia mengatakan pelayan itu akan di pecat agar gadis cantik itu tak bertanya keberadaan orang yang sudah mati.


"Iya sih, walaupun paman aneh juga tidak mungkin membunuh orang lain cuma karna masalah kecil," jawab gadis itu mengangguk-anggukan kepala nya.

__ADS_1


Ia yang tak memiliki ingatan dan memori apapun tentang masa lalu nya tentu saja tak dapat ingat betapa kejam nya manusia di depan nya saat ini.


Pria yang membuat nya menggores pergelangan nya karna pemicu stress yang semakin di timbulkan pria itu dulu.


Richard tersenyum, ia tak tau apa yang terjadi namun ia bisa memastikan jika gadis itu tak pura-pura kehilangan ingatan di lihat dari sikap nya yang mempercayai ucapan kebohongan yang baru ia lontarkan.


Ia pun membawa gadis itu untuk mengganti pakaian sekaligus memerintahkan Liam untuk memanggil dokter.


...


"Benarkan? Tidak apa-apa, cuma perih di awal saja habis itu merah nya juga sudah hilang." ucap gadis itu setelah merah di bahu nya tak terlihat lagi.


Richard diam ia memperhatikan tubuh kecil mungil yang terbungkus dengan kemeja longgar nya.


"Kau tidak pakai celana nya? Terlalu besar?" tanya pria itu pada gadis yang menurut nya sangat menggemaskan sekaligus sangat menggairahkan di saat yang bersamaan.


"Iya, jadi cuma pakai kemeja nya saja. Kemeja nya harum!" jawab gadis itu dengan senyuman nya.


"Ini apa?" tanya Richard sembari memegang salep yang di berikan dokter yang memeriksa gadis itu barusan.


"Salep untuk luka bakar, tapi karna sudah tidak merah abis di kompres barusan jadi tidak perlu ku pakai lagi." jawab gadis itu sembari melihat ke seluruh ruangan tersebut.


"Seharusnya kau pakai," ucap pria itu mendekat.


"Ini kamar paman?" tanya Calesta yang tak mengetahui jika pria itu berjalan ke arah nya.


"Eh?" gadis itu terkejut saat tubuh nya tiba-tiba terangkat dan di dudukkan di pinggir ranjang.


"Iya, ini kamar ku." ucap nya sembari membuka kancing kemeja yang di gunakan gadis itu.


"Eh?! Paman mau apa?!" tanya gadis itu tersentak saat kancing kemeja nya di buka.


"Pakai ini, kenapa tidak kau pakai?" tanya Richard enteng sembari menepis tangan kecil tersebut.


"Tidak perlu! Aku bis-"


Hush!


Pria itu langsung mengisyaratkan agar gadis itu diam dan tak menolak nya, "Ini masih merah! Tadi kau bilang apa?" tanya pria itu menyindir karna gadis mengatakan sudah tak apa-apa.


"Tunggu? Kau tidak pakai bra?" tanya Richard mengernyit saat ia melihat kemeja yang terbuka memperlihat sedikit keindahan yang bersembunyi di balik kemeja tersebut.


"Kan tadi kena teh jadi ku buka juga biar sekalian di cuci," jawab Calesta pada pria itu tanpa melihat ke arah nya.


Pria itu mulai mengoleskan obat salep yang untuk luka bakar ringan tersebut ke bahu yang memerah walaupun sudah tak begitu merah lagi dan rasa sakit nya sudah tak begitu ada lagi.


Setelah mengoleskan dengan lembut pria itu melihat ke arah wajah gadis itu. Calesta juga baru melihat ke arah pria itu hingga pandangan mata yang menatap dan terkunci sejenak.


Humph!


Calesta lagi-lagi terkejut pada pria itu yang tiba-tiba mencium nya dengan agresif dan mel*mat bibir nya dengan habis.


Gadis itu mendorong dada bidang pria yang mel*mat habis bibir nya. Semakin ia berusaha mendorong semakin pria itu menahan tengkuk dan memeluk nya erat yang semakin membuat gadis itu sulit melepaskan ciuman nya.


Richard menarik bibir bawah gadis sebelum melepaskan nya, ia pun beranjak menurunkan ciuman nya ke leher jenjang gadis itu dan mengesap nya tubuh nya perlahan menindih dan menidurkan gadis itu ke atas ranjang yang empuk dan nyaman tersebut.


Tangan pria itu mulai mengelus paha yang lembut tersebut dan semakin naik hingga membuat gadis itu tersentak.


"Paman, aku tidak mau..." ucap nya sembari berusaha menepis tangan yang mengelus paha nya dan berusaha mendorong pria yang menciumi leher nya.


"Kau yakin? Kau tak mau mencoba nya?" tanya Richard sembari mulai menangkup kedua tangan gadis itu dan menahan dengan satu tangan kekar nya lalu meletakkan di atas kepala gadis itu.


"Iya, aku tidak mau!" jawab Calesta sekali lagi dan beranjak ingin bangun.


"Bagaimana kalau setelah ini, biarkan aku mencium mu setelah itu kau putuskan lagi." ucap pria itu yang membuat gadis itu berpikir.


"Tapi aku takut nan- Humph!" ucapan nya terpotong saat ia merasakan bibir pria itu kembali mel*mat nya.


Tangan Richard mulai meraba masuk ke balik kemeja yang terbuka tersebut dan menyentuh puncak kecil gadis itu hingga membuat Calesta tersentak.


Ia tak memelintir melainkan mengusap nya dengan lembut sembari sesekali mencubit pelan hingga membuat tubuh kecil terkejut.


Tangan pria itu mulai bergantian membuat seluruh tubuh gadis terkena kejutan listrik berbeda.


Ia melepaskan ciuman nya, dan menuruni hingga ke dada gadis itu.


Hidung mancung yang memberikan napas hangat yang melewati leher hingga ke dada nya membuat indra perasa di atas kulit Calesta menjadi lebih sensitif.


Umh!


Gadis itu tersentak saat kini pria itu mulai seperti bayi yang lahap di atas tubuh nya, tangan kekar yang terus mengunci kedua tangan nya keatas membuat pergerakan gadis itu terbatas.


Namun tangan yang tadi nya menangkup sesuatu yang bulat itu kini beranjak turun mencari sesuatu yang mulai terasa lembab dan basah.


Engh!


Gadis itu terpekik hingga membuat nya seperti busur panah saat ia merasakan sesuatu yang berusaha menyelinap ke dalam tubuh nya.


Richard mulai melepaskan kungkungan tangan gadis itu membuka semua kancing kemeja yang tersisa sekaligus mengeluarkan jemari nya yang sempat tersimpan dengan nayaman itu lalu menatap sejenak ke arah tubuh yang memiliki banyak bekas merah dari kecupan basah yang ia tinggalkan.


"Kau terluka?" tanya Richard sembari menatap ke arah bekas luka yang dulu yang pernah di tanyakan Sean pada nya.


"Sudah lama," jawab Calesta sembari memalingkan wajah nya.


Richard diam tak membalas nam mulai menurunkan ciuman nya ke luka di tubuh gadis itu.


Hingga semakin turun ke titik di tempat yang sama dengan yang membuat jemari nya basah.


"Paman, jangan di sit- eungh...


si-situ..." ucap nya yang tak jelas karna suara nya dan tak lagi menolak nya.


Ia tak merasa yakin jika ingin melakukan hubungan dalam itu dengan pria yang bersama nya saat ini, maka dari itu beberapa hari yang sebelum nya ia selalu menolak.


Namun kini?


Tubuh nya sudah terbakar dengan gelombang listrik yang di ciptakan pria itu sehingga membutuhkan pemadaman segera.


Bibir nya mulai tak dapat menahan suara nya, ia merasakan sesuatu yang menggelitik sekaligus menusuk nya.


"Pa-paman jangan di gigit," ucap nya lirih dengan sembari menaikkan kepala nya melihat sesuatu yang tengah memakan nya.


Gadis itu semakin hilang kendali ia merasakan sesuatu yang menyengat dan hampir meledak sama seperti saat ia berada di hotel beberapa minggu lalu.


"Paman berhenti jangan di situ, a-aku mau..." ucap nya tak jelas, ia tak ingin melakukan hal yang sama seperti sebelum nya.

__ADS_1


Ia mengira apa yang ia keluarkan sama seperti ketika ia buang air sehingga ia tak ingin Richard melakukan yang sama seperti apa yang di lakukan Sean, yaitu menghisap nya sampai habis.


Ungh!


Ia tak dapat menahan nya, bukan nya berhenti Richard semakin membuat gadis itu hilang kendali.


Calesta kembali mengatur napas nya, ia menatap ke arah pria yang tengah mengusap bibir nya yang basah setelah meneguk cairan yang bagi pria itu memiliki rasa khas yang yang ia sukai.


Kenapa mereka melakukan nya? Apa yang mereka sukai dari itu?


Batin gadis itu heran sembari tetap mengatur napas nya yang terengah-engah.


"Mau lanjut?" tanya Richard sembari menyentuh gadis itu.


Calesta diam ia tak menjawab ataupun menolak, tubuh nya menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman.


"Berarti kau tidak menolak kan?" tanya Richard yang mulai membuka seluruh pakaian nya.


Ia kembali mengulang apa yang ia lakukan untuk membuat listrik yang sama lagi dan menjalankan puncak aksi nya.


Gadis itu tanpa sengaja mencakar lengan yang tengah bergerak bebas tersebut, "Pa-paman pelan sedikit..." ucap nya saat ia terhentak-hentak dengan kuat.


Richard memang tak begitu menghiraukan nya ia mencium bibir dan leher gadis itu karna ini memang gaya nya dalam melakukan hubungan.


Walaupun gadis itu merasakan sesuatu yang tak nyaman karna gaya kasar yang berbeda dengan saat ia melakukan nya di hotel namun tetap saja tubuh nya masih bisa menikmati hal itu.


Ia melihat gadis itu kembali melengkung, Richard pun membalik posisi dan mendudukkan gadis itu di atas pangkuan nya sedangkan ia juga duduk dan bersandar di kepala ranjang.


"Kau mau yang pelan kan? Kalau begitu kau yang buat tempo nya," ucap pria itu dengan suara berat.


"Tapi aku masih baru - Ungh!" gadis itu lagi-lagi tak di beri kesempatan untuk menjawab walau ia yang di atas namun pria itu masih bisa bergerak dari bawah.


"Pa-paman bilang aku yang..." ucap nya terputus sembari mencengkram bahu pria itu.


"Aku hanya membantu mu bergerak," jawab pria itu sembari memelankan gerakan nya dan mulai mengatur gerakan di tubuh kecil gadis itu.


Suara erangan yang lebih mengarah ke jeritan kecil yang di keluarkan gadis itu beradu menjadi satu, Richard semakin kehilangan kontrol pada tubuh mungil yang semakin tenggelam dalam pelukan dan kungkungan nya.


Pukul 03.00 Am.


Malam mulai larut gadis itu tertidur dengan melewatkan makan malam nya, bahkan mungkin sudah berada di pukul tiga dini hari.


Richard tersenyum setelah melakukan nya ia belum merasa mengantuk namun memandangi wajah gadis itu.


Ia tak bisa menahan diri nya untuk melakukan hal tersebut hingga membuat nya hilang kendali dalam mengatur stamina nya.


Usapan lembut yang membuat gadis itu perlahan terbangun, "Paman..." panggil nya lirih menatap wajah pria yang tengah mengelus kepala nya.


"Kau bangun? Kenapa?" tanya Richard saat melihat mata yang terbuka tersebut.


"Aku belum makan malam..." ucap nya yang terbangun karna merasa lapar setelah menghabiskan stamina nya begitu banyak.


Tubuh nya terasa pegal dan sakit di bagian inti yang mulai terasa jelas.


"Lapar? Ayo kita makan malam, aku lupa sampai lupa," ucap pria itu tertawa yang lupa jika gadis nya belum makan malam sama sekali.


Auch!


Ringis gadis itu saat ia merasakan sakit di bagian inti nya.


"Sakit?" tanya Richard seakan tak merasa tau perbuatan nya.


"Sakit lah! Paman kasar sekali!" jawab gadis itu mendengus kesal.


Richard tersenyum ia membuka selimut gadis itu dan memeriksa nya, "Paman! Jangan lagi! Masih sakit!" ucap gadis itu menolak sembari menutup kaki nya rapat.


"Tenang saja, aku cuma lihat." jawab Richard memeriksa.


Ia menatap sejenak ke dan kemudian kembali menutup nya.


"Nanti akan ku bawakan obat nya, memang sedikit bengkak." ucap nya sembari memakai mantel tidur nya dan memanggil pelayan untuk membuat makanan di dini hari itu.


"Bukan sedikit! Pasti sudah bengkak!" jawab gadis itu menggerutu karna ia tak tau tak mungkin hanya sedikit, walaupun memberikan sensasi yang berbeda namun sensasi yang bernada itu terasa seakan meremukkan tubuh kecil nya.


Perbedaan antara Sean dan Richard terlihat dari cara mendengarkan kedua pria itu.


Sean yang menyukai cara yang sama namun masih bisa menurut sesuai keinginan yang di inginkan gadis cantik itu dan Richard yang memiliki cara nya sendiri yang tak ingin mendengarkan pasangan ranjang nya hingga pasangan nya memang harus mengalah dalam urusan dewasa tersebut.


"Tapi kau suka kan?" tanya pria tersenyum.


"Tapi sakit! Kalau begini terus bisa hancur aku!" jawab gadis segera.


Richard tak bisa membantah memang ia yang tak bisa menahan hasrat nya, "Lain kali aku akan sedikit lembut,"


Calesta mengernyit, "Lain kali? Berarti bakal ada yang kedua kali nya? Tidak! Aku tolak! Aku tidak percaya tidak percaya paman!" jawab segera.


"Kau mau mandi dulu? Selagi menunggu makanan mu?" tanya Richard mengalihkan pembicaraan.


Ia tanpa menunggu jawaban gadis itu langsung menggendong nya dan membawa nya ke bathup.


"Lain kali akan ku buat suara mu habis jadi tidak punya waktu mengeluh lagi," gumam Richard saat menggendong gadis itu.


"Paman bilang apa?" tanya Calesta mengernyit.


"Kau cantik!" jawab Richard tersenyum sembari membuka lilitan selimut gadis itu.


Calesta diam sejenak, ia merasa tak asing dengan suasana mandi bersama yang ia rasakan saat ini.


Karna tak ada satupun ingatan yang tertinggal membuat nya juga lupa semua kenangan manis nya bersama mantan kekasih nya saat ia menjadi Ainsley dahulu.


"Paman? Paman kenal Ainsley? Dulu paman bilang akan jawab kalau kita sudah tidur bersama kan?" tanya gadis itu.


"Hm, aku kenal." jawab Richard sembari mengusap punggung gadis itu dengan lembut.


"Paman dulu punya hubungan seperti apa dengan Ainsley?" tanya Calesta lagi.


"Entahlah, hubungan dekat sekaligus jauh." jawab Richard sembari mencium pundak gadis itu.


Calesta diam ia merasakan suasana yang tak asing tentang mandi bersama dan perlakukan lembut yang di ingat tubuh nya.


Tak ada satupun memori yang tertinggal di kepala nya tentang kenangan manis bersama kekasih pertama nya dulu dan hanya ingatan tubuh saja hingga membuat nya hampir keliru.


Ini seperti tidak asing?


Apa dulu dia juga yang melakukan ini?

__ADS_1


Aku tidak ingat apapun....


__ADS_2