Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
I just wanna be Happy


__ADS_3

Deg...


Deg...


Deg...


Degupan jantung berirama yang terdengar begitu keras di rasakan gadis berparas cantik tersebut. Tergambar jelas terlihat rasa takut dan gelisah di wajah.


"Sean...


Maaf..." ucap nya lirih saat tangan nya di genggam dengan kuat hingga membuat nya meringis menahan sakit.


Pria itu tak sedikitpun membalas ucapan kekasih nya. Ia kesal, marah, dan cemburu pada saat bersamaan.


Terkurung di tempat tertutup, makan siang bersama, dan bahkan yang terakhir kali melihat gadis nya hampir jatuh ke dalam pelukan pria lain. Hati dan kepala nya memanas semakin ia memikirkan nya.


Sean pun menuju kamar nya dan menggeser lemari buku tersebut yang akan terbalik dan menuju ruangan lain yang berdiameter 5 x 5 yang cukup luas untuk sebuah ruang rahasia dengan di lengkapi tempat tidur lain dan kamar mandi serta peralatan dan design yang di gunakan untuk "Mendisplinkan" gadis nya.


Bruk!


Ia langsung menolak dan mendorong tubuh gadis itu ke lantai berwarna putih tersebut. Ruangan yang di dominasi dengan warna putih dan hitam yang di padukan menjadi satu.


"Berlutut!" ucap nya dingin saat melihat gadisnya langsung tersungkur begitu ia dorong.


Ainsley tak menjawab apapun, ia sangat teramat takut sampai tak tau harus mengatakan apa lagi, air mata dan suara tangisan lirih lah yang hanya terdengar dari nya.


Gadis itu ingin bertanya apa tepat nya kesalahan nya, namun ia sama sekali tak memiliki keberanian untuk itu.


"Ma-maaf..." ucap nya lirih dengan suara bergetar karna tangis dan takut yang menjadi satu.


"Kita pakai ini? Aku juga ingin mencoba nya." ucap Sean saat ia memilih salah satu cambuk yang baru ia pesan.


"Tajam..." gumam Ainsley lirih menatap cambuk dengan tali kecil tersebut.


Ia tau jika cambuk dengan ukuran tali yang lebih kecil itu lah yang paling menyakitkan, walaupun kecil bobot berat dan begitu berubah hingga membuat nya seperti sebilah pisau tajam begitu di kibaskan ke tubuh.


Berbeda dengan tali pinggang ataupun cambuk yang berukuran lebih besar yang akan memar dulu sebelum terluka, cambuk yang kecil bisa langsung melukai dan membuat kulit terbelah dalam satu cambukan apa lagi dengan tenaga kekasih nya yang lebih kuat dari pria lain.


Sean hanya tersenyum melihat wajah kekasih nya yang mulai pucat karna takut, tubuh gemetaran dan tangisan yang semakin meleleh membuat nya semakin merasakan suatu kepuasan lain di hati nya.


"Se..Sean...


Pa-pakai yang lain saja..." ucap Ainsley lirih dengan gemetar dan meraih tangan pria yang sedang berdiri di depan nya.


Plak!


Satu tamparan kuat melayang di pipi gadis itu, rasa sakit dan perih mulai menjalar lagi pada nya.


"Ini adalah hukuman, aku tak bilang kau boleh memilih kan? Seperti nya aku memang sudah terlalu lunak pada mu," ucap Sean setelah menampar gadis yang tengah berlutut tepat di depan nya saat ini.


"Ma-maaf..." ucap Ainsley lirih dengan suara gemetar, ia semakin takut dan tak memiliki keberanian sama sekali saat ini.


"Hitung sampai 15 kali, jangan salah hitung atau aku akan ulangi cambukan nya." ucap Sean dingin dan beranjak menarik gadis itu.


Membawa nya ke sisi lain yang memiliki gantungan seperti tempat untuk memborgol kedua tangan gadis itu ke atas.


Setelah memborgol kedua tangan kecil tersebut tempat yang seharusnya hingga membuat Ainsley berdiri dengan kedua tangan yang menggantung ke atas pria itu pun tersenyum.


Senyuman yang sangat di takuti oleh kelinci polos tersebut, bukan senyuman lembut melainkan senyuman mengerikan dengan awan hitam yang mengelilingi nya.


Senyuman Iblis...


Ctas!!!

__ADS_1


Ukh!


Ainsley tersentak dan meringis menjadi satu, rasa perih dan sakit dari cambukan yang tipis namun membuat nya terasa tajam seperti sembilah pisau tajam yang menghantam tubuh nya.


"Satu..." ucap nya lirih setelah cambukan pertama.


Blouse yang berwarna Cream dengan di padukan rok pendek yang berwarna putih tersebut mulai memberikan corak warna lain di cambukan pertama.


Sean hanya tersenyum dan mulai mencambuki lagi gadis itu lalu Ainsley tetap menghitung walaupun lidah nya mulai terasa kelu.


Ctas!!! Ctas!!! Ctas!!!


Ukh!


Ringis nya dengan tangan yang terborgol ke atas mengepal kuat saat cambukan yang terasa begitu tajam mengenai tubuh nya berulang kali, membuat kulit nya tersobek dan terbuka mengikuti alur dari tali cambuk yang mengenai tubuh nya.


Sakit Sekali...


Bagaikan sayatan di sekujur tubuh nya yang memaksa nya menahan rasa sakit yang seakan ingin di kuliti hidup-hidup.


Darah yang menetes dengan cambukan yang mengenai bagian yang sudah terluka membuat nya semakin berada di siksaan neraka yang di bangun kekasih nya.


Walaupun psikis nya sangat lemah namun jika untuk menahan rasa sakit secara fisik ia sudah sangat terlatih sejak kecil.


Hukuman yang berbeda namun dengan rasa sakit yang ia terima sejak kecil membuat nya lebih dapat bertahan lama dan kuat di bandingkan gadis lain.


Ctas!!!


Tes...tes...tes...


Darah yang dapat ia rasakan mengalir di balik blouse dan rok yang jatuh menetes ke kaki nya satu persatu membuat wajah nya pucat pasi. Ia menggigit bibir nya beberapa hingga terluka guna menahan rasa sakit yang teramat sangat tersebut.


*Aku baik-baik saja...


Aku tak apa-apa...


"14..." ucap nya lirih dengan suara yang teramat pelan.


Ctas!!!


Ukh!


Satu cambukan terakhir yang kekuatan penuh membuat nya memekik seketika dengan darah yang terciprat hingga ke wajah pria tampan itu.


"15..." ucap nya lirih hampir tak terdengar sama sekali.


Wajah nya memucat sembab dan ekspresi mata yang kosong namun menunjukkan dan berbicara tentang rasa sakit nya.


Sean menjatuhkan cambuk nya dan mendekati gadis itu lagi.


Humph...


Ia mencium bibir gadis itu dan mel*mat nya dengan pelan, tak ada balasan dari Ainsley karna ia sama sekali tak bisa mengalihkan rasa sakit di tubuh nya.


Namun pria itu tetap mencium nya seperti tak terjadi apapun dan tak melakukan apapun, setelah puas menghisap, mel*mat dan mengigit bibir gadis nya ia pun melepaskan nya.


Ia bisa merasakan darah gadis nya yang terasa manis ketika ia mencium rakus bibir gadis itu dengan luka akibat Ainsley yang sebelum nya mengigit sendiri bibir nya.


Pria itu tersenyum menatap wajah pucat yang diam tanpa ekspresi namun mata yang penuh akan perasaan takut, sedih, dan rasa sakit yang beradu menjadi satu.


Sean melepaskan borgol yang menahan tangan gadis itu dan membuat Ainsley langsung jatuh terduduk di hadapan pria nya.


Sean pun berjongkok menyamai tinggi nya dengan gadis nya yang terduduk dengan wajah pucat tersebut namun belum pingsan sama sekali karna masih bisa menahan rasa sakit yang sudah terlatih sejak kecil akibat siksaan ibu nya.

__ADS_1


"Kau akan menemui nya lagi?" tanya Sean pada gadis itu.


Ainsley memilih tak menjawab pertanyaan kekasih nya, walaupun ia bisa menggelengkan kepala nya namun ia tak mau.


Pria yang ia panggil paman memberi nya rasa nyaman yang tak bisa di berikan pria lain termasuk kekasih nya.


Rasa nyaman yang harus nya sudah ia dapatkan sejak kecil dan menjadi hak nya namun tak pernah ia rasakan.


Ayah...


Layak nya anak gadis lain yang ingin memiliki sosok pahlawan dalam hidup nya namun tak pernah ada sekalipun untuk nya. Sosok yang hilang mengabur namun sedikit ia rasakan pada pria yang ia panggil "Paman"


Ia tak tau apakah "Paman" nya akan menganggap sama ataupun tulus atau tidak namun ia merasakan perasaan seperti itu. Bukan cinta karna ia tau semua cinta nya sudah di berikan untuk pria yang baru saja menyiksa nya namun perasaan nyaman karna ia butuh sosok "Ayah" dalam hidup nya sekali saja.


Plak!


Satu tamparan kuat melayang lagi di pipi gadis itu. Amarah pria tampan itu semakin memuncak saat gadis nya bahkan tak mau lagi mengindahkan ucapan nya demi pria lain, tidak seperti dulu lagi.


"Aku mau diri mu sekarang juga! Aku akan mengambil saat ini!" ucap Sean geram melihat reaksi gadis nya yang tak menjawab pertanyaan nya.


"Ja-jangan sekarang Sean..." ucap Ainsley lirih, tubuh nya terasa sakit yang teramat sangat dan ia berfikir tak bis memberikan kesucian nya di saat seperti ini.


"Kau bisa bicara sekarang? Tadi kau bahkan tak menjawab pertanyaan ku!" decak Sean semakin emosi melihat gadis itu menolak nya.


"Kita akhiri saja hubungan kita," ancam pria itu dan langsung membuat Ainsley terkejut. Ia pun beranjak bangun segera.


Greb!


Ainsley langsung meraih tangan pria itu dan menatap nya dengan mata penuh kesedihan.


"A-aku mau...


Jangan pergi..." ucap nya lirih dengan air mata yang mulai terjatuh.


Humph!


Pria itu menyeringai dan langsung menyambar bibir pucat tersebut, ia mel*mat dengan agresif sedangkan gadis itu semakin menjatuhkan bulir bening dari mata sayu nya.


Ini cinta kan?


Aku akan bahagia kalau seperti ini kan?


Ku mohon...


Hentikan rasa sakit ku, aku hanya ingin seperti "Mereka" mereka yang bisa merasakan semua nya...


Keluarga...


Papah...


Mamah...


Kekasih...


Teman...


Aku juga ingin merasakan nya...


Benar...


Aku sudah bahagia saat ini, ini kan kebahagian ku?


Aku salah makanya aku di hukum, aku nakal makanya di marahi, aku pantas mendapatkan nya...

__ADS_1


Jadi aku baik-baik saja...


...****************...


__ADS_2