Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
I'll do!


__ADS_3

Mansion Zinchanko.


Pria itu melihat ke arah video yang ia buat dulunya, saat pertama kali menculik gadis cantik itu.


Mata yang memperlihatkan rasa takut dan sedih serta ingin memberontak terlihat jelas di wajah gadis yang tengah terikat tersebut.


"Aku ingin bertemu dengan nya lagi..." gumam pria itu merasa bosan dan ingin bersama gadis yang tengah menangis di video yang ia buat.


Ia meletakkan kepala nya diatas bantal empuk dan menatap ke arah langit-langit kamar tersebut, membuang nafas dengan berat dan helaan yang tak bersemangat.


"Kenapa aku jadi kacau hanya karna 'Mainan'?" gumam nya yang berusaha tidur walaupun di balik kelopak mata nya seperti putaran film yang terus menerus menunjukkan wajah gadis cantik itu.


......................


Rumah Sakit.


Sean menatap ke arah kekasih nya yang diam saja sejak mulai tenang, tak ada ekspresi dan kata-kata yang keluar dari nya.


Luka nya sendiri sudah di obati tadi siang, dokter dan perawat yang datang cukup terkejut melihat lantai yang bersimbah darah dan dua orang yang sudah memiliki pakaian dengan corak merah menyala itu.


Gadis itu hanya terus duduk dengan mata kosong seperti hanya raga yang tersisa tanpa jiwa yang menempati nya lagi.


"Minum susu nya, kau suka rasa pisang kan?" ucap Sean karna ia tau gadis nya tak bisa makan sedikit pun.


Bukan karna masalah pencernaan namun karna masalah psikologis gadis itu yang menolak untuk makan, setiap kali ia mencoba memasukkan makanan ke perut nya maka akan di muntahkan begitu tertelan.


Ainsley menatap minuman yang dulu ia sukai, namun rasa nya kini semua hambar. Bahkan apa yang ia rasakan di lidah nya tak membuat nya bangun ataupun hidup.


"Ainsley? Kenapa? Hm?" tanya Sean pada gadis itu sembari menangkup tangan kecil Ainsley dan membawa nya ke sofa.


Ia meletakkan kekasih nya dalam pangkuan nya, tak ada penolakan ataupun protes hanya diam dan mengikuti gerak yang ia buat bagaikan boneka tali tanpa jiwa.


Ainsley mulai bergeming mata nya menatap ke arah pria tampan itu dan mulai menatap luka di dahi nya yang sudah di obati dan menurunkan pandangan pada perban di balik pakaian yang di kenakan pria itu.


"Aku baik-baik saja..." ucap Sean tersenyum sembari menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga.


Pria itu pun membuka ipad nya dan menunjukkan rumah yang tengah dalam pembangunan namun sudah memiliki design nya.


"Ini rumah kita, kau pernah bilang tidak mau yang terlalu besar kan? Tetangga dan lingkungan nya aku juga sudah lihat langsung mereka semua baik." ucap pria itu menatap gadis nya yang tengah memperhatikan gambar yang ia tunjukkan.

__ADS_1


Ainsley tetap diam namun jemari nya menunjuk ke arah laut yang terfoto di belakang rumah yang di bangun kekasih nya.


Sean tersenyum ia mengecup pipi gadis itu dan memperbesar tangkapan pantai yang terambil kamera, "Ini juga tak jauh dari pantai, kau suka ombak dan pasir kan?"


Ainsley menatap dan mengandarkan mata nya ke arah wajah yang tersenyum lembut ke arah nya. Mata jernih namun yakin serta garis wajah tajam yang seperti di ukir oleh pisau.


Gadis itu tetap diam tak menunjukkan ekspresi apapun namun ia mulai bergerak dan menyandarkan kepala nya ke lengkung leher kekasih nya lalu memejamkan mata nya perlahan.


"Kau mengantuk? Sudah mau tidur?" tanya Sean ia merasa kekasih nya ingin tertidur.


Tak ada jawaban dan pria itu pun tak lagi bertanya, ia hanya mengelus punggung gadis nya dengan lembut dan membiarkan sang empu tertidur dalam pelukan nya.


...


Skip.


8 Hari kemudian.


"Dia belum ada perkembangan? Ini sudah hampir dua minggu? Kenapa masih belum bicara sama sekali?!" tanya Sean pada dr. Canly selaku psikiater dari gadis nya.


Dr. Canly menghela nafas untuk kasus seperti pasien nya saat ini memerlukan waktu pemulihan yang cukup lama karna ia juga mengalami trauma berat.


"Semua butuh proses, tapi ada yang ingin saya sampaikan pada tuan." ucap nya memberanikan diri.


"Apa?" tanya Sean pada wanita paruh baya berkaca mata di depan nya.


"Apa tuan Sean tidak ingin mengikuti terapi juga? Saya mengatakan ini bukan karna anda bermasalah namun ini juga untuk mempercepat pemulihan nona Ainsley." ucap nya dengan hati-hati agar tak menyinggung pria di depan nya.


"Maksud mu aku sekarang membuat nya gila?!" tanya Sean mengernyit dan menatap tajam ke arah psikiater yang merawat kekasih nya.


"Bukan seperti itu, tapi bisakah saya bertanya?" ucap dr. Canly karna ia tau orang terdekat dan sekitar sangat mempengaruhi perkembangan mental dari pasien nya.


"Apa itu?" tanya Sean yang meredam sedikit amarah nya.


"Apa tuan mencintai nona Ainsley?" pertanyaan yang sudah jelas jawaban nya di tujukan untuk pria tampan di depan nya.


"Tentu saja," jawab Sean tanpa ragu.


"Lalu cinta apa yang sudah tuan berikan? Apa tuan mengerti cinta seperti apa yang di butuhkan nona Ainsley?" tanya dr. Canly lagi menatap pria muda di depan nya.

__ADS_1


"Tentu saja aku sudah mencintai nya! Dia butuh aku!" ucap Sean kukuh.


Walaupun ia mencintai kekasih nya namun ia tak pernah merasa bersalah atas hukuman yang sudah ia berikan karna baginya itu semua bagian dari cinta.


Dr. Canly tersenyum ia tak membantah perkataan pria di depan nya dan menanggapi dengan tenang, sikap dominasi dan obsesif yang terlihat semakin jelas di depan nya.


Bukan penyakit mental namun pria di depan nya membutuhkan konsultasi dan bimbingan agar dapat mengatur emosi nya dan menilai sesuatu berdasarkan sudut pandang luas tak hanya di dasarkan dari obsesif berlebih nya.


"Tapi mungkin sekarang nona Ainsley membutuhkan cinta yang lebih dari yang tuan bayangkan, ini demi pemulihan nona sendiri." ucap dr. Canly dengan tenang dan membujuk pria di depan nya untuk menjalani konsultasi juga.


"Tak ada yang salah dengan sikap ku! Kau seperti ini karna tak mampu menangani nya?!" tanya Sean menuduh jika dokter psikiater terbaik itu tak mampu mengobati mental kekasih nya.


"Cinta seperti apa yang di butuhkan nona Ainsley atau tangan seperti apa yang ia inginkan untuk menarik nya keluar," ucap dr. Canly dengan sirat yang tergambar samar.


"Tentu saja dia akan menggapai tangan ku," ucap Sean lirih sembari membuang wajah nya.


"Lalu kenapa nona Ainsley masih ragu? Bukankah tuan perlu tau alasan nya?" tanya dr Canly sekali lagi.


Sean tak menjawab tak hanya membuang pandangan nya dengan kesal karna ia tau yang di katakan wanita berkacama di depan nya adalah benar.


"Memang saat ini belum menunjukkan perkembangan apapun tapi serangan panik nona mulai dapat teratasi walau hanya perkembangan kecil, semua membutuhkan proses tapi banyak hal yang bisa mempengaruhi 'Proses' tersebut." sambung nya lagi agar meyakinkan pria di depan nya.


"Akan ku pikirkan," jawab Sean singkat dan berlalu ke kamar inap kekasih nya lagi.


...


Mata yang menatap kosong tanpa ekspresi serta raut yang tak menunjukkan aura nya sama sekali itu kini hanya sedang duduk menatap ke luar jendela.


"Ainsley? Mau keluar dengan ku?" tanya Sean sembari menatap gadis dan mendatangi nya.


Mata yang menatap tanpa bisa di baca namun terlihat jelas tak ada keyakinan di dalam nya.


Cinta seperti apa yang di butuhkan nona Ainsley atau tangan seperti apa yang ia inginkan untuk menarik nya keluar.


Sekelebat ucapan psikiater yang merawat kekasih nya terlintas di benak nya. Ia menatap ekspresi kosong itu dan iris yang tak menunjukkan emosi.


Apa aku melakukan kesalahan? Aku hanya mencintai nya, aku menginginkan nya. Aku ingin dia tetap bersama ku.


Apa itu kesalahan? Dimana letak salah nya?

__ADS_1


Batin menatap ke arah gadis nya, ia menunduk dan mengecup kening kekasih nya dengan lembut.


Baik, akan ku lakukan kalau itu bisa mengembalikan mu...


__ADS_2