
Ruangan putih yang terasa hampa, tak ada jalan keluar, lantai, atap ataupun ujung dari tempat pria itu berpijak.
Ia tampak bingung, seperti anak ayam yang tersesat saat semua pandangan nya hanya melihat ruangan hampa yang berwarna putih itu.
Namun hal itu tak membuat derap langkah nya terhenti, kaki nya berjalan tanpa arah hingga ia berhenti.
Wanita yang berdiri di ujung tempat itu namun membelakangi nya, tak mengatakan sepatah kata pun.
Ia pun ingin mendekat sejenak dan meraih nya, namun sayang, langkah nya seperti memiliki batu pijakan yang membuat nya tak bisa bergerak sama sekali.
Suara nya terkunci tak bisa keluar hingga membuat nya heran.
Ia hanya menatap wanita itu, ia tak mengenal nya namun juga merasa sangat dekat seperti sudah saling tau satu sama lain.
Setelah ia memandang punggung wanita yang memiliki tinggi sekitar dagu nya, memakai gaun putih yang indah dengan rambut yang di gerai dan aroma Melati serta bunga Lily yang menyatu.
Wanita itu berbalik melihat nya, aroma yang tak hanya bersalah dari tubuh nya namun berasal dari rangkaian bunga di tangan nya.
Melati dan Lily biru yang di rangkai dengan cantik, tak ada suara ataupun mengatakan apapun wanita itu hanya tersenyum ke arah nya.
Sedangkan pria itu mengernyit melihat nya, wajah asing yang seperti baru pertama kali ia temui namun ia juga sudah merasa dekat tanpa sadar.
"Kau bahkan tidak tau kan kalau aku terluka?" tanya wanita itu yang kini membuka suara.
Ia berjalan mendekat, seketika serbuk berkilau dari Lily biru pun mengenai pria yang masih diam dan hanya melihat nya.
Ia tak pernah melihat bunga seperti itu, bunga yang seperti tumbuh hanya di tempat khayalan negri dongeng.
"Kau membunuh ku lagi," sambung nya dengan tertawa tipis.
"Dulu dan sekarang, yang berbeda hanya sekarang kau tidak menggunakan tangan mu untuk membunuh ku." ucap nya sembari perlahan memberikan bunga Lily biru yang indah itu.
"Kita pernah bertemu?" tanya pria itu saat suara nya kembali terbuka seperti ia kini dapat di izinkan untuk bicara.
Wanita itu hanya tersenyum melihat nya, satu tetes cairan putih bening jatuh di ujung mata nya yang jernih.
Deg!
Pria itu tersentak melihat nya, untuk sejenak ia melihat wanita itu sebagai wanita yang ia kenali.
"Ainsley?" panggil nya lirih.
"Bagaimana rasa nya? Sakit kan? Tidak di cintai sampai akhir, membangun harapan yang kosong?" tanya wanita itu tersenyum namun menjatuhkan bulir bening nya.
"Ainsley? Itu kau? Kenapa berbeda?" tanya nya lagi dengan menatap menyeluruh.
Mau di lihat seperti apapun, wanita di depan bukan lah wanita yang ia kenali. Wajah yang berbeda namun hati nya mengatakan jika mereka adalah wanita yang sama.
"Padahal ku kira kalau kau tau apa yang ku rasakan dulu, hidup ku akan berbeda."
"Tapi tetap sama..."
"Kau mencintai ku atau tidak, pada akhirnya tetap sama..."
Langkah yang seakan hilang tak terkunci lagi langsung memeluk tubuh wanita di depan nya, walau pun wajah nya asing namun tetap saja perasaan nya begitu dekat.
Wanita itu diam tak bergeming, tak membalas sedikitpun pelukan yang di berikan pada nya.
"Dulu ataupun sekarang kita punya hidup dan cinta masing-masing..."
"Tidak! Dulu ataupun sekarang bahkan di masa yang akan datang aku tetap mencintai mu!" ucap pria itu sembari melepaskan pelukan nya.
Wanita itu hanya memberikan senyuman menyimpan arti saat mendengar nya.
Wajah yang perlahan asing itu kini mulai berubah menjadi wajah yang ia kenali.
"Karna aku sudah mengambil semua penderitaan di hidup ku dulu maupun sekarang aku tidak ingin menderita lagi."
"Dan kalau kita bertemu lagi, cintai aku dengan begitu aku juga akan mencintai mu..."
Tangan yang lembut dan dingin yang menyentuh pipi nya, pria itu tersenyum. Ia memegang tangan yang menyentuh nya dan mencium tangan wanita itu.
"Tidak perlu mengingat apapun di mas lalu dan di masa sekarang, cukup temukan aku lagi di masa depan." ucap wanita itu tersenyum saat pria di depan nya mengecup punggung tangan nya.
"Bagaimana kau bisa mengatakan mencintai ku lalu meninggalkan ku?" tanya pria itu seakan melemah seperti kehilangan daya pada wanita di depan nya.
"Lalu bagaimana kau bisa membunuh ku demi wanita lain?" tanya wanita itu tersenyum.
"Apa maksud mu? Aku tidak melakukan nya!" sanggah pria itu segera.
Tak ada jawaban lagi namun wanita cantik itu hanya memberikan senyuman di wajah nya.
Seperti buih di laut yang dapat hilang kapan saja pria itu memilih tak menunggu jawaban dan tetap memeluk tubuh wanita itu.
Tubuh yang perlahan menghilang seperti asap dan debu, pelukan yang semakin longgar dan hampa ketika semua nya menghilang menyatu dengan udara.
"Kali ini aku tidak bisa mencintai mu, aku memiliki seseorang sama seperti mu dulu, maka nya aku akan mencintai mu jika kita bertemu lagi..."
Ucap nya sebelum benar-benar menghilang, pria itu terlihat kehilangan arah, ia menatap ke segala arah.
Mencari ujung yang bahkan tak pernah memiliki ujung, tangan nya hanya menyentuh ke arah bunga Lily biru yang membuat nya terus memeluk nya.
πΈπΈπΈ
Richard POV
Aku masih bingung apa yang dia katakan dan apa yang di maksud nya.
Tapi aku seperti terjebak di sini, tempat yang menutup dan mengurung ku.
Seluruh pandangan ku hanya melihat ke ruang putih yang hampa sampai aku mulai semua layar besar yang mengurung ku.
__ADS_1
Wanita yang tadi berbicara pada ku terlihat di sana, tatapan nya berbinar menatap punggung pria yang seperti tak peduli pada nya.
Seperti melihat film dengan layar lebar yang terlihat seperti dokumenter kehidupan seseorang.
Deg!
Wanita itu terbunuh, aku melihat nya.
Benda tajam itu menembus jantung nya, padahal terlihat kalau dia sangat mencintai pria itu.
Aku tidak tau, tapi aku merasa bersalah melihat nya.
Semua nya mulai berganti, kini layar itu tak lagi menampilkan orang-orang yang tidak ku kenali.
Aku melihat diri ku dan wanita yang ku kenali, kalau ku lihat sekarang seperti nya aku tau kenapa dia tidak bisa mencintai ku.
Tapi dia juga pernah terlihat bahagia saat dengan ku, walaupun begitu aku tak bisa menahan senyuman ku saat melihat nya.
Aku ingin meraih nya lagi dan memeluk tubuh, rasa nya belum selesai untuk melihat nya dan merasakan nya.
Aku merindukan nya lagi...
Semua nya perlahan menghilang, tempat kosong yang tak berdasar itu pun perlahan tiada.
Seperti kegelapan yang datang dan menelan ku perlahan lalu membuat ku hilang.
Apa ini yang di sebut dengan karma?
Apapun itu kalau aku masih bisa menemui nya...
Bagi ku ini karma yang manis...
πΌπΌ
πΌπΌ
πΌπΌ
......................
Clarinda tak bisa tenang sama sekali, sedangkan cucu kecil kesayangan nya sudah tertidur dalam dekapan nya.
Ia melihat ke arah cucu nya, jujur saja ia merasa takut jika pria kecil itu kehilangan kedua orang tua nya.
Wanita itu sesekali mengusap dan mencium kepala Axel dengan lembut, sedangkan ia tengah memohon dalam hati nya agar operasi yang di lakukan tidak sia-sia.
Tak hanya dirinya, pria yang selalu bersama dengan suami dari putri angkat nya pun terlihat tak tenang hingga pintu putih berwarna tak jernih itu terbuka.
Pria yang memakai pakaian biru anti kontaminan dan masih memakai masker pun keluar.
dr. Terry melihat raut risau dan menunggu kabar dari nya.
"Operasi nya berhasil tapi nona Ainsley harus sadar terlebih dahulu untuk melihat perkembangan nya." ucap nya pada Liam dan juga Clarinda.
...
Axel mulai kebingungan, ia tak melihat sang ayah sejak hari di mana pria itu memakai pakaian yang sama dengan ibu nya.
"Grandma? Daddy mana? Daddy belum balik dari langit? Daddy kok gak bawa handphone? Axel gak bisa telpon Daddy..." tanya nya dengan tatapan polos melihat ke arah Clarinda.
Wanita itu tampak bingung bagaimana menjawab nya, apa yang harus ia bilang?
Mengatakan kalau sang ayah sudah tiada?
Atau membawa nya menemui jasad yang kosong?
"Axel? Mau main sama paman Liam?" tanya Clarinda mengalihkan perhatian anak kecil menggemaskan itu.
Axel menggeleng mendengar nya, ia ingin bersama dengan sang ayah dan menunggu ibu nya bangun bersama.
"Axel mau sama Daddy, mau nunggu Mommy bangun baleng Daddy..." ucap nya pada sang nenek.
"Daddy lagi pergi, nunggu Mommy bangun nya sama Grandma aja mau?" tanya Clarinda pada pria kecil itu.
"Gak mau..."
"Axel mau sama Daddy, Daddy ke mana sih? Kenapa belum balik dari langit? Di langit lagi macet? Banyak lampu melah nya yah?" tanya nya dengan tatapan polos yang berpikir dengan dunia yang di bangun oleh kepala kecil nya.
Clarinda diam tak menjawab pertanyaan cucu kesayangan nya yang polos. Ia hanya mengusap kepala anak kecil itu dan kemudian memeluk nya.
"Axel yang sabar yah nak..." ucap nya sembari memeluk pria kecil itu.
"Axel sabal kok tungguin Daddy pulang bawa adik sama Mommy bangun, tapi kan Axel kangen Daddy..." ucap nya saat Clarinda melepaskan pelukan nya.
Wanita itu tak bisa mengatakan apapun atas permintaan anak yang tak tau apapun itu.
Axel melihat ke arah ponsel nya, panggilan untuk sang ayah tak terjawab sama sekali.
"Kan benel, Daddy gak angkat telpon Axel..." ucap nya lirih.
"Daddy lagi sibuk sayang, sabar yah..." ucap Clarinda pada Axel sembari mengusap kepala nya.
Wajah lesu anak menggemaskan itu pun terlihat, ia seperti kehilangan semangat nya ketika ia tak bisa menemui kedua orang tua nya.
...
Axel yang tengah menunggu di samping sang ibu, ia pun menggunakan pakaian steril saat memasuki ruangan tersebut.
"Mom? Kapan bangun nya? Bangun dong, Axel kan kangen..."
"Mommy gak kangen Axel?"
__ADS_1
"Daddy juga gak balik-balik, lama benget balik nya dari langit..."
Wajah menggemaskan itu terlihat tak bersemangat, ibu yang ia sayangi tak kunjung bangun dan sang ayah yang masih belum kembali dari menjemput adik nya.
"Mom? Daddy kalau malam tidul nya di mana? Di awan yah Mom? Di langit ada hotel nya gak Mom? Kok Axel gak pelnah lihat?" celoteh nya pada sang ibu.
"Mommy..."
"Bangun, kata nya Mommy bental lagi bangun? Nanti bial buat cake untuk Axel, untuk Daddy sama adik Axel Mom..." ucap nya sembari menggoyangkan tangan sang ibu.
Pip...pip...pip...
Pria kecil itu tersentak saat mendengar suara yang bermunculan keluar dari mesin di dekat ibu nya.
Ingatan tentang hari di mana sang ibu memburuk pun datang dan membuat nya takut.
"Mommy kenapa? Maaf Mom..." ucap nya lirih yang mulai menangis.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, para pria yang mengenakan jas putih pun datang dan segera mengerumuni dan memeriksa kondisi wanita itu.
"Axel gak ngapa-ngapain Mommy..." ucap nya takut dan mulai menangis.
"Axel cuma pegang tangan Mommy aja, Huhu..." tangis nya sembari mengakui apa saja yang baru ia lakukan.
Clarinda yang baru datang pun langsung memeluk tubuh kecil yang menangis gemetar itu.
"Axel cuma pegang tangan Mommy..."
"Maaf, Huhu..."
Tangis nya yang semakin menjadi karna mengira kali ini adalah kesalahan nya lagi.
"Iya sayang, gak apa-apa..." ucap Clarinda sembari memeluk tubuh kecil yang gemetar itu.
Clarinda pun menggendong Axel keluar dan membiarkan para dokter melakukan pekerjaan mereka.
Langkah nya terhenti, Liam yang terlihat dengan raut wajah tidak terlihat baik-baik saja itu memandang ke arah ruangan istri tuan nya.
"Dia tidak boleh mati, Tidak boleh!" gumam nya sembari melihat para dokter.
"Paman? Axel gak apa-apain Mommy..."
"Axel cuma pegang tangan Mommy aja, Huhu..."
Adu bocah kecil nya pada pria yang ia anggap seperti paman nya saat melihat Liam.
"Axel janji gak pegang tangan Mommy lagi..." ucap nya dengan tangis nya saat berada di gendongan sang nenek.
"Mommy Axel bakalan bangun kok, jangan nangis lagi yah..." ucap pria itu yang menarik napas nya dan mengatur ekspresi nya.
"Tapi kalau Mommy gak bangun nanti waktu Daddy balik sama adik Axel, Daddy sedih lagi..." tangis nya yang masih dengan polos menunggu sang ayah kembali.
Deg!
Pria itu tersentak, ia lupa sejenak jika anak kecil itu adalah pengecualian yang sama sekali tak tau tentang kepergian sang ayah.
Ia tak bisa mengatakan apapun, dan membiarkan anak kecil itu menangis dengan pilu.
π·π·π·
Ainsley POV
Rasa nya aku sudah lama beristirahat, atau ku rasa belum cukup?
Seperti mimpi siang di musim panas...
Hujan yang datang di musim semi dan memberikan udara yang dingin pada ku tapi dengan semua bunga yang bermekaran.
Kaki ku melangkah dengan sendiri nya mencari jalan nya sendiri yang aku pun tak tau akan kemana.
Setiap langkah aku berjalan aku seperti melupakan sesuatu, seperti nya aku merasa ada yang tertinggal.
Tapi aku tidak tau apa itu...
Aku seperti baru menemui seseorang, tapi aku juga tidak ingat siapa dia.
Benar-benar mimpi di musim panas yang membuat ku seketika lupa saat bangun.
Tapi apa aku harus bangun?
Aku merasa sendiri...
Tapi bukan nya dari dulu aku sendiri?
Setidak nya aku beristirahat di sini.
Tapi aku tau, di bandingkan tertidur di musim panas lebih baik aku bangun di musim semi dan melihat semua bunga yang basah akan tetesan hujan di depan ku.
Aroma yang datang ketika rintik itu telah selesai turun.
Aku siapa?
Dan aku sedang di mana saat ini pun membuat ku bingung.
Aku tidak ingat apa yang ku tinggalkan barusan...
Dan aku pun tidak ingat apa yang sedang menunggu ku...
Rasanya aneh...
Kehilangan diri ku tapi aku malah merasa baik-baik saja...
__ADS_1
Apa aku harus kembali?